Kamis, 05 November 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (8, Habis)

Cerita Home Stay

Di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung. Berada di tempat orang lain, kita dituntut beradaptasi, menghormati, menjunjung tinggi nilai, kebiasaan, dan adat tempat tersebut. Begitulah peribahasa mengajarkan kita harus menyesuaikan diri di “daerah kekuasaan orang lain.”

Peribahasa yang sudah kita kenal sejak pendidikan dasar ini (benar-benar) saya aplikasikan saat saya melakukan home stay (tinggal) di rumah salah seorang teman Korea saya, Kim Dong-Sun.

Home stay adalah kegiatan terakhir dari rangkaian program Youth Camp for Asia’s Future 2009 yang saya ikuti. Tujuannya adalah untuk merasakan pengalaman dan berinteraksi secara langsung tentang kehidupan orang Korea secara lebih dekat.

Bersyukur saya ditempatkan bersama keluarga yang sangat baik. Kim Dong-Sun adalah teman saya yang juga merupakan partisipan dalam program Youth Camp for Asia’s Future 2009. Ayahnya, Kim In-Ho, adalah seorang insinyur dan ibunya bernama Lee Myung-Suk. Kim Dong-Sun adalah anak semata wayang dari pasangan tersebut.

Keluarga yang saya tinggali bisa dibilang adalah keluarga yang kaya raya. Bukan tanpa alasan saya mengatakan hal tersebut karena terlihat dari penampilan luarnya. Rumah mereka adalah apartemen dan berada di kawasan yang elit, memiliki perabotan rumah yang serba high-tech dan mahal, kendaraan yang mewah, dll. Saya sangat bersyukur bisa ditempatkan bersama keluarga yang plus-plus (sangat baik dan kaya pula).

Tamu adalah raja
Orang korea begitu memanjakan tamu. Itulah kesan pertama saat saya berada di rumah Kim Dong-Sun. Saya seakan dianggap keluarga mereka sendiri, bukan sebagai orang asing.

Selama tinggal di rumahnya banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat tentang adat-kebiasaan orang Korea. Salah satunya adalah adat ketika makan. Seperti orang yang lebih tua belum memulai untuk makan, orang yang lebih muda harus menunggu.

Orang yang lebih muda pun jangan berhenti makan sebelum orang yang lebih tua berhenti makan. Dan kalo perlu, kita makan sebanyak-banyaknya makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah. Meskpiun terlihat maruk, tapi orang Korea justru sangat senang.

Kita juga jangan kagok kalo ingin bersendawa. Malah dengan bersendawa berarti kita sangat menerima dan menganggap makanan yang dimakan adalah enak. Mereka biasanya akan merespon seperti ini, “Masissjyo?” “Enak kan?”

Hal yang sangat mengejutkan dan tabu bagi saya adalah ketika malam hari akan tidur. Orang tua Kim Dong-Sun menyuruh saya tidur di kamar mereka. Bagaimana tidak tabu, tidur di kamar orang yang punya rumah dan orang yang punya rumah sendiri tidur di kamar tamu. Bayangkan kawan! Saya sangat kaget saat Ayahnya, Kim In-Ho, menyuruh saya segera ke kamarnya untuk tidur.

Posisi dilematis saya alami saat itu. Menolak tidak enak, takutnya dianggap tidak menghargai tuan rumah. Menerima permintaan juga tidak enak karena menurut saya hal tersebut kelewatan.

Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, “Apa begini yah kalo setiap tamu yang nginep di rumah orang Korea?” Akhirnya terpaksa dengan rasa tidak enak demi menghargai tuan rumah, saya pun tidur di kamar sang tuan rumah. Sebuah peristiwa yang sangat aneh dan langka terjadi.

Tidak sampai di situ, saya juga diberi fasilitas “anggaplah rumah sendiri”. Saya bebas mengakses internet, masak, makan, menelepon semaunya. Termasuk menelepon orang tua saya di Indonesia. Kebetulan sebelum home stay saya belum menelepon ke Indonesia. “Gwenchana Yogi. Bumonimhante jonhwahaseyo!” “Tenang, gak-apa Yogi. Teleponlah orang tuamu sana!” ucap Kim Dong-Sun.

Saat kegiatan home stay berakhir keluarga Kim memberikan kenang-kenangan dan hadiah untuk saya dan orang tua saya di Indonesia. Saya pun tak mau kalah, saya memberi mereka kenang-kenangan berupa sebuah wayang golek yaitu cepot. Tidak disangka mereka sangat senang dengan cepot. “Gwiwoyo!” “Lucu!” ucap Ibu Lee Myung-Suk.

Perpisahan, sebuah kata yang sangat tak enak untuk didengar. Begitu pula sama tak enaknya saat dialami. Tinggal bersama keluarga Kim Dong-Sun meskipun singkat telah memberikan pelajaran yang banyak bagi saya. Terutama dalam hal bagaimana menjamu tamu dengan baik. Salah satu keluarga yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya.

Petualangan dua minggu saya di negara kelahiran gelandang MU Park Ji-Sung ini adalah rezeki yang luar biasa besar diberikan Allah kepada saya. Semua biaya (pesawat pergi-pulang, hotel bintang lima, resort, akomodasi, transportasi, dll) selama di sana ditanggung pemerintah Korea. Demi mempromosikan Korea ke seluruh penjuru dunia, biaya yang dikeluarkan sangat besar sekali pun dilakoni pemerintah.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani bermimpi dan tak segan untuk belajar dari bangsa lain yang maju. Korea Selatan telah melakukan semua itu. Saya optimis, ke depan cahaya kemajuan bersinar menerangi bumi Indonesia. Amin!

Selasa, 03 November 2009

Catatan Perjalan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (7)

Aa dan Teteh di Korea

Kata “aa” dan “teteh” sudah tak asing lagi bagi orang Sunda. Kedua kata panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kakak dalam anggota keluarga atau orang yang lebih tua. Kata “aa” diperuntukkan untuk laki-laki dan “teteh” untuk perempuan.

Satu hal yang menarik dari bahasa Korea berbicara mengenai kata panggilan ini adalah beragam. Kata panggilan di Korea berbeda-beda tergantung dari siapa yang memanggil dan siapa yang dipanggil.

Yang dimaksud dengan “siapa yang memanggil” adalah apakah dia itu “laki-laki atau perempuan”. Berawal dari sini, kata panggilan akan berbeda. Inilah satu sisi keunikan dari bahasa Korea. Penggunaannya pun jangan sampai tertukar karena akan menimbulkan keanehan bahkan kelucuan.

Kalo sang pemanggil adalah seorang (adik) laki-laki, untuk memanggil kakak laki-laki harus menggunakan kata “hyong”. Masih dari sang pemanggil adalah laki-laki, untuk memanggil kakak perempuan adalah “nuna”.

Nah, kalo pihak dari sang pemanggil adalah seorang adik perempuan beda lagi aturannya. Untuk memanggil kakak laki-laki menggunakan kata “oppa”. Sedangkan untuk memanggil kakak perempuan menggunakan kata “onni”.

Kata “hyong, oppa, nuna, dan onni” pun seperti kata “aa dan teteh” di Sunda. Penggunaannya tidak hanya untuk anggota keluarga saja, tetapi juga bisa digunakan untuk bukan anggota keluarga.

Saya ada cerita tentang penggunaan kata panggilan ini di Korea. Ketika teman saya orang Indonesia (laki-laki) sedang berbelanja di pasar Namdaemun (pasar terkenal kebersihannya di Seoul). Saat itu teman saya berbelanja sebuah pakaian dan pedagangnya adalah seorang abang-abang (Akang).

Tanpa ragu teman saya menanyakan harga pakaian seperti ini, "Oppa, igo olma yeyo?" "Kang...ini harganya berapa?". Reaksi si pedagang tadi bukannya menjawab pertanyaan, tapi melihat teman saya dengan sinis dan mencibir.

Anda tahu kenapa si pedagang sampai hati sinis dan mencibir teman saya? Tahu kan alasannya? Tepat, teman saya salah menggunakan kata panggilan. Seharusnya teman saya menggunakan kata “hyong” bukannya “oppa”. Seperti penjelasan di atas, “oppa” adalah panggilan dari seorang perempuan kepada laki-laki yang lebih tua. Jelas si pedagang begitu sinis dan mencibir teman saya. Dianggapnya teman saya itu adalah seorang “hombreng alias bencong”. Nah lho!

Saya hanya bisa berkata, berhati-hatilah menggunakan kata “aa dan teteh”nya orang Korea. Penggunaannya tertukar, maka jenis kelamin Anda akan dipertanyakan oleh orang Korea.

*Ket. Photo: Saya dan teman Korea saya Kim Su-Sy saat acara pakaian tradisional negara.

Senin, 02 November 2009

Catatan Perjalan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (6)

Pelepas penat itu bernama “Hangang”

Kalo kata sejarah, suatu peradaban yang makmur itu adalah peradaban yang lokasinya berada dekat sungai. Logis memang, suatu masyarakat yang hidup dekat sungai bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan mudah karena kebutuhan hidup yang pokok (air) sangat mudah diperoleh. Kalo air udah gampang didapat makan, minum, mandi, dan nyuci gak jadi pikiran. Waktu SMA, guru sejarah kita selalu mencontohkan peradaban Sungai Nil, Hindus, Kuning, Eufrat, Tigris, dll.

Dari mukadimah tadi, sangat beralasan masyarakat kota Seoul begitu bangga tanah yang ditinggalinya mempunyai sungai yang panjang dan lebar. Tidak cukup dengan bangga, mereka sangat menjaga dan merawat sungai yang mempunyai panjang 68,75 km ini. Tidak lain sungai yang dimaksud adalah Sungai Han.

Nama Han sendiri berasal dari kata "Hangaram" (baca: Hang Garam) yang berarti panjang, luas serta lebar (han), dan "garam" berarti "sungai" dalam bahasa Korea kuno. Kalo sekarang orang Korea menyebut sungai terpanjang di Korea ini yakni “Hangang” (baca: Hang Gang).

Karena keberadaan sungai ini, Korea juga mendapat julukan “Miracle of the Han river.” Sungai yang membelah jantung kota Seoul ini airnya bisa dikatakan lumayan bersih (menurut saya lho) dan gak tercium bau yang kurang sedap. Juga gak ada sampah yang terlihat “berenang” di atas permukaan sungai. Overall, kondisi sungai yang melewati 12 distrik di kota Seoul ini oke punya. Salah satu tempat yang sayang kalo dikecualikan untuk dikunjugi saat berada di Korea.

Anehnya, teman saya orang Korea gak sependapat, “Mwo? Kkekkeutheyo? Anniyo Yogi ssi! Hankangeun dorowoyo!” “Apa? Bersih? Tidak Yogi! Sungai Han kotor!” Sungai Han yang saya anggap bersih mereka anggap kotor. Gimana jadinya kalo mereka datang ke Indonesia terus lihat sungai kita (ciliwung misalnya)?

Fasilitas memanjakan
Masyarakat kota Seoul sering datang ke bantaran Sungai Han untuk sekedar melepas stress, membaca buku, menulis, melukis, berolahraga, atau kalo orang yang lagi kasmaran suka dijadiin tempat apel (romantis abis dah).

Area wisata sungai ini memiliki 12 tempat olah raga, area sepeda (biking trails), area hiking, dan 169 fasilitas olah raga. Dan tentu saja juga memiliki taman-taman keluarga, dimana masuk dan semua fasilitasnya tanpa dipungut biaya, alias gratis (catet: gratisss)!

Pilihan yang tepat menurut saya masyarakat kota Seoul memanfaatkan keberadaan sungai ini untuk penghilang rasa penat. Di samping bisa melihat pemandangan sungai, kita juga menghindari sejenak dari kebisingan dan polusi udara jalan raya. Pohon, rumput, bunga tumbuh dengan manisnya menjadi penambah keindahan.

Baik siang maupun malam apalagi akhir pekan banyak masyarakat menikmati keindahan sungai. Disediakan juga jasa angkutan kapal (ferry) untuk berkeliling melihat keindahan sungai. Ada 2 macam tiket untuk naik ferry yakni one way course dan round trip course. Harga tiket one way course untuk dewasa adalah 9000 won (sekitar 90.000 rupiah), durasi 1 jam dengan panjang lintasan 15,5 km.
Lapar atau haus? Gak usah khawatir, banyak warung penjual makanan dan minuman tersedia. Meskipun banyak warung, yang saya salut adalah kebersihan lingkungan sepanjang area sangat terjaga. Apa yah resepnya? Kesadaran dan kerja sama yang apik antara pemerintah dan masyarakat adalah salah satu kuncinya.

*Ket. Photo: Saya saat di bantaran sungai Han.

Minggu, 01 November 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (5)

Transportasi Idaman

Salah satu ukuran sebuah negara dikatakan maju adalah mempunyai fasilitas public transportation-nya yang bagus dan unggul. Ukuran transportasi yang unggul dan bagus itu seperti apa sih? Apakah yang aman, nyaman, bersih, cepat, dan murah? Pastinya kriteria yang telah saya sebutkan sudah cukup mewakili sekaligus idaman kita semua selaku warga negara pengguna kendaraan umum.

Bagaimana dengan di Seoul? Di Korea bisa dibilang semua kriteria yang kita idam-idamkan tadi sudah terpenuhi. Meskipun belum sempurna 100%, tapi sudah jauh banget lebih baik dibanding ama Jakarta. Jakarta saya jadikan perbandingan karena ibu kota negara.

Secara umum bus, taksi, kereta api bawah tanah (subway), kereta api listrik, dan lainnya dapat dikategorikan sebagai kendaraan umum di Korea. Ketika saya di sana, saya jajal tuh semua jenis transportasi. Apalagi pas hari pertama datang ke Korea, hal yang pertama saya cari adalah kereta bawah tanah. Saya penasaran gimana sih rasanya naik kereta di bawah tanah sedalam kurang-lebih 5 tingkat ke bawah dan setiap tingkatnya ada yang 3, 4, ampe 5 meter (setiap tingkat ada jalur relnya masing-masing).

Berbasis IT
Kali ini saya bakal jelasin bus dan kereta bawah tanah sebagai sampel transportasi Korea berdasarkan kriteria di atas. Aman, selama saya naik bus dan subway alhamdulillah dompet saya gak beralih tempat ke orang lain tanpa seizin saya (baca: dicopet). Katanya sih copet jarang ada di Korea.

Nyaman dan bersih, kendaraan di Korea semuanya ber-AC dan bersih. Nah, bus di Korea sama kayak bus way di Jakarta, turun-naik penumpang hanya boleh di halte bus. Jadi, gak ada istilah ngetem cari penumpang.

Cepat, kalo pergi ke kantor dan sekolah bisa dijamin gak bakal telat (kalo bangunnya gak telat juga). Apalagi kereta, tepat waktu dan sesuai jadwal. Naik subway dari satu stasiun ke stasiun lain rata-rata waktu perjalanan adalah satu-dua menitan.

Oh iyah, di jalanan Korea jarang terjadi macet. Kalo ada macet pun sebab-musababnya gara-gara ada sesuatu yang tidak diinginkan (kecelakaan) atau perbaikan jalan. Hal ini dikarenakan volume kendaraan diisi kendaraan roda empat atau lebih. So, keberadaan kendaraan roda dua (sepeda motor) jarang bahkan sulit kita temui di Korea (hanya sekitar 2%). Kalo ada orang yang pake motor, itu pun pegawai makanan cepat saji yang sedang mengirimkan pesanan.

Murah, ongkos kendaraan bisa dibilang ekonomis. Kalo Anda pakai kartu (transportasi) maka untuk 10 km pertama hanya 900 won (sekitar 9000 rupiah). Kalo gak pake kartu, bayar dengan uang 1000 won dan hanya ditambah 100 won untuk setiap penambahan jarak 5 km.

Pemakaian kartu kendaraan yang bernama T-money ini sangat praktis. Kalo kita punya kartu ini, gak usah repot-repot ngeluarin uang dari dompet. Kalo depositnya abis tinggal diisi ulang lagi di toko terdekat. Pemakaiannya tinggal ditempel di mesin bayar yang ada di sebelah sopir dan di dalam stasiun kalo subway.

Gimana kalo belum punya tuh kartu? Bayar secara tunai juga bisa, namun yang mesti diperhatikan bayar ongkos secara langsung harus dengan uang pas. Kalo kita ngasih lebih pun gak bakal dikasih kembalian. Loh, kok gitu sih? Soalnya, di Korea gak ada kondektur dan sopir tugasnya cuman nyetir. Uang kita langsung dimasukkan ke dalam mesin. Maka dari itu, bawalah selalu uang pas saat naik kendaraan umum di Korea.

*Ket. Photo: Bus Korea yang futuristik.

Minggu, 06 September 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (4)

Istana Gyeongbok

Jika suatu saat nanti Anda pergi ke Korea terutama Seoul, tempat yang jangan sampai terlewat untuk dikunjungi adalah Istana Gyeongbok atau dalam bahasa Korea, Gyeongbok gung. Ke Korea tapi gak ke Istana Gyeongbok ibaratnya kayak ke Mekkah tapi gak ke Madinah katanya. Uluh...segitunya yah!?

Emang ada apa sih di Istana Gyeongbok? Namanya juga Istana Gyeongbok, yah pasti ada istana bukan mall. Meskipun cuman istana, tapi di sana kita bisa melihat bagaimana istana khas Korea secara langsung. Berkunjung ke istana yang berada di sebelah utara Seoul ini kita akan serasa dibawa ke kondisi kehidupan masyarakat Korea abad ke-14. Djadoel (Djaman doeloe) gituu!

Sebelum masuk Istana kita akan melihat bangunan besar yakni pintu gerbang komplek istana. Di pintu gerbang ini ternyata ada penjaganya lho! Penjaga istana memakai pakaian khas layaknya penjaga istana zaman kerajaan dahulu. Kita juga bisa berphoto bareng ama tuh penjaga. Pengen nyoba pakaian penjaga istana? Bisa, soalnya ada penyewaan pakaian penjaga istana juga di luar gerbang, tapi mesti bayar. Pengen yang gratisan aja! Hihihi..

Setelah melewati pintu gerbang, kita akan melihat sebuah bangunan di depan kita. Bangunan itu bernama Keunjeong-jeon yaitu bangunan utama. Bangunan tersebut adalah singgasana raja di mana tempat raja melakukan tugas-tugas kenegaraan, ngasih perintah, dan menerima tamu-tamu dari luar.

Sempat Hancur
Istana yang mempunyai arti pancaran kegembiraan ini dibangun pada masa dinasti Chosun (Josoen) ketika dinasti Yi memindahkan ibu kota kerajaan ke Seoul. Istana Gyeongbok dijadikan sebagai istana utama kerajaan Chosun saat kekuasaan berada di tangan Raja Taejo, (tahun ke-4 masa pemerintahannya, 1394).

Kondisi istana sempat hancur lebur karena sengaja dihancurkan oleh Jepang saat menginvasi Korea tahun 1592-1598. Kondisi tersebut dibiarkan selama 250 tahun. Nah, tahun 1865 baru deh orang Korea kembali membangun Istana Gyeongbok seperti aslinya (renovasi). Namun, saat invasi Jepang datang lagi ke Korea tahun 1910 sebagian besar dari 200 bangunan istana dihancurkan kembali oleh imperialis Jepang, hingga tersisa hanya beberapa bangunan. Yah..begitulah efek destruktif penjajahan.

Kalo ngomongin sejarah emang gak ada habisnya. Sebenarnya saya masih mau ceritain sejarah Istana Gyeongbok dan jelasin beberapa bangunannya, tapi kalo diceritain semuanya durasinya bisa kayak film India. So, sampai di sini aja yah tentang Istana Gyeongboknya.
Oh iyah mau ngasih saran nih. Kalo nanti Anda ke Korea pas musim panas (kayak saya kemarin), siapkanlah kacamata hitam, payung, atau topi untuk dipakai saat kelilling melihat-lihat istana. Cuaca musim panas di Korea yang gak bisa diajak kompromi adalah alasannya (panas bangeeett!).

*Ket. Photo: Saya di Istana Gyeongbok.

Sabtu, 05 September 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (3)

Si Asam-Asam Pedas

Berkunjung ke luar negeri, belum afdol rasanya jika belum merasakan makanan khas negara tersebut. Belum dapat taste-nya kalo kata sebuah iklan. Meskipun pernah merasakan makanan Korea di Indonesia, tetapi rasaya beda banget kalo makan di negara asalnya. Buatan asli emang selalu lebih punya greget.

Kali ini kayaknya saya bakal kayak Bondan Winarso, menjelaskan makanan kuliner, tapi tanpa ada embel-embel “Ma’nyos!” he..he.. Dari sekian makanan Korea yang ada, yang paling terkenal adalah kimchi. Bisa dibilang kimchi adalah makanan wajib yang harus ada dalam setiap jamuan makanan orang Korea.

Kimchi adalah makanan yang difermentasikan. Bahan dasarnya terdiri dari sawi atau lobak. Sawi dan lobak tersebut dibersihkan terlebih dahulu (ya iyalah masa gak dibersihin), selanjutnya dibaluri garam dan bumbu cabe yang sudah disiapkan. Setelah itu disimpan dalam guci dan dikubur di dalam tanah selama beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Proses pembuatannya persis seperti dalam drama Jewel in the palace: Dae Jang-Geum. Kalo yang pernah nonton tuh drama pasti tahu.

Bagaimana dengan rasanya? Em...pertama kali saya makan kimchi saya berkata seperti ini, “Yang bener aja..! Orang Korea makan makanan kaya gini tiap hari?” Bisa Anda tebak kesan pertama makan kimchi. “Ada juga ternyata makanan kaya gini!?”

Bukannya apa-apa, rasanya yang super asam-asam pedas begitu meresap saat gigitan pertama (udah mulai nih saya berlaga kayak Pak Bondan). Silahkan kapan-kapan coba dan mungkin Anda juga akan berkata sama seperti saya, “Yang bener aja..! Orang Korea makan makanan kaya gini tiap hari?” dengan improvisasi kata-kata sendiri mungkin.

Kimchi biasanya dihidangkan bersama nasi, sup, dan saus. Saus yang terkenal adalah saus “jang”. Saya tidak tahu kenapa sausnya bernama “jang”. Apakah karena orang yang pertama buat adalah pria atau orang Korea turunan Sunda (Ujang maksudnya)? Entah apalah itu saya tidak tahu. Orang Korea juga sering menggunakan bumbu seperti daun bawang dan bawang putih dalam setiap makanan.

Katanya nih, saat musim panas sebagian orang Korea (tidak semua loh) keringatnya beraroma kimchi. Biasanya sering tercium dari tubuh kaum pria. Konon karena saking seringnya makan kimchi. Betulkah itu? Saat saya di sana, saya bisa katakan kabar itu benar adanya. Bayangkan saudara-saudara gimana aroma asam-asam pedas tercium dari tubuh seorang manusia? Ho..ho..

Jumat, 28 Agustus 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (2)

Masjid Raya Seoul

Salah satu unsur dari tujuh budaya universal adalah sistem religi atau kepercayaan. Berbicara mengenai religi (agama), terbersit dalam pikiran adalah apa sih mayoritas agama atau kepercayaan yang dianut orang Korea? Menurut kabar dan data nih, mayoritas orang Korea adalah menganut kepercayaan Confuissisme.

Nah, gimana dengan Islam di Korea? Apa ada orang Islam di sana? Jawabannya tentu ada donk..., hanya saja jumlahnya sedikit. Agama Islam memang menjadi minoritas di Korea. Orang Korea yang beragama Islam diperkirakan sebanyak 45.000 jiwa. Kalo ada orang Islam, masjidnya juga ada donk? So pasti... Don’t worry! Alhamdulillah...

Kurang-lebih sebanyak 7 masjid ada di negara berjuluk setenang pagi ini. Keberadaanya tersebar di berbagai kota. Nah, kali ini saya hanya bakal ngejelasin salah satu masjid yang terbesar dan tertua di Korea. Adalah Masjid Raya Seoul satu-satunya masjid yang ada di ibu kota Korea, Seoul. Masjid yang dibangun sekitar tahun 1976 ini terletak di daerah Itaewon, Seoul.

Itaewon terkenal dengan pusat komunitas muslim di Korea. Tak heran, kita gampang nyari orang Indonesia di sana. Makanan khas Indonesia kayak nasi goreng dan yang halal banyak dijual di daerah ini. Hanya saja harganya yang cukup mahal. Wajar aja, nyari makanan halal di Korea susahnya minta ampun, jadi sekali ada tentu harganya selangit.

Saat hari jumat, Masjid Raya Seoul banyak dikunjungi untuk shalat jumat. Orang yang datang ke masjid berasal dari Seoul dan sekitarnya. Apalagi saat bulan Ramadhan, banyak orang yang ngabuburit di masjid ini. Menurut kenalan saya, orang Indonesia yang kerja di KBS (Korean Broadcasting System) Korea, masjid ini selalu ramai saat sahur dan buka puasa. Kebiasaan orang mengaji dan i’tikaf di masjid seperti di Indonesia ternyata masih bisa ditemui di sana.

Alhamdulillah, kita yang tinggal di Indonesia notabene negara terbanyak penduduk muslimnya sepatutnya bersyukur karena keberadaan masjid begitu pabalatak (banyak). Jaraknya pun dekat dan bisa didatengi dengan hanya berjalan kaki. Tinggal gimana kita bisa mensyukuri hal tersebut dengan selalu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah (terutama pria). Jangan kalah sama muslim di Korea yang jumlah masjidnya sedikit (di Ibu kotanya hanya ada satu) bahkan harus menempuh perjalanan satu jam, tetap semangat beribadah pergi ke masjid. Hayya alasholah....!