Minggu, 26 April 2009
Setelah Kejadian Itu
Ah, ke mana saja saya ini? Sudah lama tidak berkontemplasi untuk sekedar mengeluarkan sebuah sampah yang ada di otak untuk dimuat di blog ini. Kawan, sudah pernah saya bilang, kan? lebih baik menulis jadi sampah daripada tidak menulis jadi sampah di pikiran. Yah, mudah-mudahan saja tidak sekedar menjadi sampah yang dibuang begitu saja. Harapannya, meskipun tetap menjadi sampah bisa didaur ulang dan berguna untuk kawan-kawan semua. Kawan pasti bisa, jelas karena saya yakin Kawan adalah orang-orang yang cerdas, makannya berkunjung ke blog saya ini. Betul kan? Anggungkan kepala Kawan jika saya benar! Terima kasih!
Ini berawal dari peristiwa awal bulan April lalu yang membuat saya sempat vakum untuk memposting sebuah tulisan di blog ini. Sudah Kawan ketahui bahwa saya mengikuti sebuah lomba blog selama empat bulan terakhir ini. Saya ikut lomba blog yang bertajuk Black Blog Competition yang diikuti oleh 441 peserta se-Indonesia. Jika belum tahu, Kawan sudah tahu sekarang, kan? Barusan saya beritahu. Hi..hi.. Aduh..maaf yah saya jadi sedikit bercanda. Biar hidup sedikit lebih enjoy gitu.
Begini, pengumuman hasil lomba tanggal 13 April lalu menyatakan bahwa nama saya Yogi Achmad Fajar tidak terpampang sebagai juara 3, 2, ataupun 1. Saya sempat melihat-lihat hasil pengumuman sampai 20 kali, tetapi tetap saja hasilnya sama, bukan nama saya yang tercantum sebagai juara. Inilah kelakuan orang yang berharap ada keajaiban dengan melihat berkali-kali sampai namanya ada sebagai juara, padahal sesuatu yang tidak mungkin terjadi—Don’t try this at home! Sedihkah saya? Pertama, saya akui, IYA. Itulah salah satu faktor yang membuat saya sempat tidak menulis di blog sampai akhirnya saya menulis lagi sekarang ini. Dipikir-pikir untuk apa saya melakukan hal kekanak-kanakan membiarkan potensi menulis saya terabaikan—terlepas dari ada-tidaknya inspirasi dalam menulis. Seharusnya saya tetap fight mengahadapi kenyataan. Mungkin ini pelajaran bahwa saya harus mengasah lagi kemampuan menulis saya, banyak bertanya, dan berlatih. Terlontarlah sebuah kalimat dari saya waktu itu, “Saya bukannya TIDAK MENANG, tetapi BELUM MENANG.”
Pemenang adalah orang yang tidak pernah menyerah dan selalu bangkit tatkala ia mengalami jatuh. Pemenang adalah orang yang menjadikan kekalahan sebagai pelajaran yang berharga untuk meraih kemenangan yang tertunda. Pemenang adalah tidak pernah berkata TIDAK MENANG, tetapi selalu berkata BELUM MENANG ketika menghadapi kekalahan. Itulah pemenang sejati.
Lantas, apa yang saya lakukan saat vakum menulis itu—akibat pernah down. Tentunya saya masih membuka blog dan hanya melihat apakah ada komentar pada shout mix atau kolom komentar tulisan. Salah satu kegiatan yang membuat saya bersemangat menulis lagi di blog adalah chatting dengan juara 1 lomba blog yang saya ikuti, namanya Ariel—nama panggilannya. Secara sengaja dan niat, saya melihat blognya(www.ikomumm.blogspot.com). Saya menganalisis bagaimanakah tampilan blog dan isi blog sang Jawara itu. Pelajaran untuk kita semua, belajarlah dari orang yang menjadi juara, supaya bisa termotivasi.
Saat itu kebetulan icon YMnya berstatus online, dengan tidak berpikir dua kali saya langsung chatting dengan Ariel. Alhamdulillah, Ariel orangnya baik dan bersedia menularkan ilmunya kepada saya, terutama tentang desain grafis. Saya akui, dia HEBAT dan TOP BGT tentang desain grafis dan lay out. Terlihat dari desain blognya yang cool. Sebuah skill yang belum saya maksimalkan. Sungguh mengasyikan chatting dengan Ariel.
Banyak ilmu yang saya dapat dari Ariel demi kemajuan blog saya. Kami berdua pun saling menganalisis tentang mengapa Ariel bisa menang dalam lomba blog itu. Tidak luput pula kami saling mengomentari blog satu sama lain. Ariel sempat sedikit merendah bahwa tulisan saya jauh lebih bagus daripada dia. Bahkan, dia ingin belajar menulis yang baik seperti saya. Saya jadi bersyukur saat itu. Saya baru sadar bahwa ada orang yang mengapresiasi tulisan saya dengan komentar yang bagus seperti Ariel. Thanks Riel! Tulisan saya belum seberapa, Kamu malah yang jauh lebih ahli dalam urusan blog daripada saya. Setelah kurang lebih satu jam chatting dengan Ariel, akhirnya saya mengetahui apa-apa yang harus saya koreksi dan tambahkan dalam blog saya bila ada lomba lagi. Harapannya, tentu saja memenangi lomba. Sekali lagi, arigato, gomawoyo, thanks, nuhun Riel atas sarannya.
Soal Alamat Blog
Begitulah Kawan, saat tidak ngeblog, alhamdulillah masih bisa melakukan aktivitas yang menurut saya masih bisa menambah ilmu seperti chatting dengan Ariel. Sebuah refleksi bagi blog saya yang alamatnya(www.gie-insanmuttaqin.blogspot.com) ingin saya ganti. Sedikit berbicara mengenai alamat blog saya ini yang sudah berumur 1 tahun 6 bulan ini. Ibarat bayi, lagi lutu-lutunya dan masih nenen. Begitupun blog saya ini, masih kurang pengalaman dan masih butuh “nenen” banyak berbagai ilmu.
Alamat blog saya yang saya namai ketika awal membuat blog, terasa berat bagi saya. Bukan tanpa alasan, setelah nick name saya (baca: gie) selanjutnya ada terusan insanmuttaqin. Inilah yang saya anggap berat. Jika diartikan adalah “gie orang yang bertakwa”. Kesan pertama adalah adanya ketakutan dalam diri saya, nantinya muncul asumsi pengunjung yang mengunjungi blog saya ini bahwa saya adalah orang yang SOK ALIM. Kedua, jika asumsi itu memang ada dalam beberapa benak pengunjung (mudah-mudahan tidak ada), maka sangat keliru. Saya tidak bermaksud utuk SOK, SOMBONG, atau apalah itu. Saya juga masih perlu banyak belajar tentang agama dan masih jauh dari ranah ketakwan yang paripurna. Masih banyak melakukan dosa, dosa, dosa, dan dosa. Bermaksud klarifikasi—bisa dikatakan demikan—dalam kesempatan ini saya ingin menceritakan sejarah proses penamaan alamat blog saya. Singkat saja, SMA saya dulu SMA Al Muttaqin. Jadi, untuk menunjukkan saya anak SMA itu maka saya kasih embel-embel insanmuttaqin. Begitu!
InsyaAllah, jika saya punya rezeki, saya akan ganti alamat blog saya ini dan berganti domainnya menjadi .com tanpa ada embel-mbel blogspot-nya juga. Doakan saya yah Kawan!
Jumat, 07 Maret 2008
Curhat (4)
Husnudon Kepada Allah SWT
Tidak selamanya apa yang kita impi-impikan dan cita-citakan sesuai dengan harapan kita. Tak jarang, kita mendapatkan hasil yang bisa dibilang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Bahkan acap kali lebih buruk dari yang kita bayangkan.
Sebelumnya telah kita bahas mengenai mimpi dan harapan. Yang menjadi tanda tanya besar? Apakah kita siap dengan segala kemungkinan yang ada? Baik itu kemungkinan baik ataupun buruk yang akan menimpa mimpi kita tersebut?
Apakah kita siap apabila mimpi dan cita-cita yang selama ini dimiliki terwujud? Begitu indahnya apabila semua yang kita idam-idamkan terwujud. Bak mendapat durian runtuh, hati ini tak dapat tergambarkan. Kesiapan kita apabila dalam kondisi ini tak lain adalah siap untuk bersyukur.
Lalu, bagaimana jika keadaan yang terjadi sebaliknya? Mimpi yang kita miliki ternyata tidak terwujud? Inilah kondisi yang kurang mengenakkan bahkan menyakitkan. Apalagi jika impian tersebut telah menjadi “label” orang tersebut. Artinya, orang tersebut memilki ambisi yang besar terhadap mimpinya sehingga mimpinya menjadi ciri dari orang tersebut.
Tarolah seorang siswa tingkat akhir sekolah menengah atas. Dia berkeinginan kuliah di universitas yang diidam-idamkan. Akan tetapi dia mesti menelan pil pahit ketika dia belum bisa mewujudkan mimpinya karena masalah administrasi.
Nasi telah menjadi bubur. Harapan untuk masuk perguruan tinggi favorit sirna melalui jalur PMDK. Memang, masih ada jalur lain yakni SPMB. Akan tetapi SPMB merupakan “peluru” terakhir dan peluang yang dimiliki bisa dibilang fifty fifty.
Berdasarkan contoh masalah di atas, sebagai seorang manusia biasa, sulit rasanya untuk menerima kondisi ini. Rasa sedih pastinya menghiasi relung hati yang paling dalam. Tidak semudah mengembalikkan telapak tangan nrimo kenyataan yang ada.
Namun, sebagai seorang insan Tuhan kita harus belajar ilmu ikhlas dan membaca hikmah di balik semua itu. Apalagi bagi seorang muslim, seorang muslim mesti senantiasa berbaik sangka kepada Sang Khaliq (Husnudon).
Ilmu ikhlas, ilmu yang sulit untuk didefinisikan bahkan dipraktikan. Ilmu yang tidak bisa kita pelajari di sekolah. Perlu proses yang panjang dan intens untuk meraihnya. Sulit memang jika berbicara mengenai ilmu ikhlas.
Allah SWT tidak semata-mata memberikan keputusan kepada umatnya tanpa ada hikmah di balik semua itu. Pasti ada hikmah yang besar bagi kita dalam setiap alur kehidupan dan peristiwa yang kita alami.
Bisa jadi suatu perkara menurut kita baik belum tentu menurut Allah baik bagi kita. Bisa jadi pula suatu perkara menurut kita buruk belum tentu menurut Allah buruk bagi kita.
Intinya, positif thinking langkah yang kita tempuh mengahadapi semua itu. Al Ilmu, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui. Sedangkan kita tidak tahu apa-apa. Allah Maha Mengetahui apa yang baik bagi kita dan apa yang buruk bagi kita.
Rabu, 27 Februari 2008
Curhat (3)
Curhat lagi!!!
Well, Untuk kesekian kalinya diri ini mencoba mencurahkan segala unek-unek yang ada dalam pikiran ini ke dalam sebuah tulisan. Tapi bentar, Gie mo bilang sesuatu. Tulisan ini pake bahasa yang bisa dibilang agak gaul dikit. Bahasa anak remaja gitu deh. Gaya tulisan ketika Gie pertama kali bisa nulis artikel.
And Gie nyoba lagi buat nulis gaya tulisan ini setelah 2 tahun cenderung serius gaya tulisannya. Habisnya, terbawa arus konstalasi media massa en sering tuker pikiran ama sahabat jurnalis senior. Jadi, agak gimana gitu. Tapi asik juga bisa nulis dengan gaya tulisan ini lagi.
Ok deh kita mulai curhatan Gie. Rasanya kalo ditanya siapa orang yang paling dag dig dug derrr saat ini? Mungkin Gie bisa jawab seluruh siswa kelas XII SMA/SMK/MA atau sederajat se Indonesia.
Kenapa eh kenapa? Coz, mereka bakal ngehadapin dua “hajatan” besar. UN dan masuk perguruan tinggi, kaya PMDK, UM, UTUL, USM, en SPMB (bagi yang mo ngelanjutin kuliah). Sebuah ujian yang menguji eksistensi siswa.
Bak diujung tanduk, siswa kelas XII SMA merupakan masa transisi dan masa pen entuan. Mimpi, di kelas XII banyak mimpi bermunculan dan sejuta ambisi. Ada yang pengen kuliah ke sini lah, kuliah ke situ lah, kuliah ke sono lah. Pokonya sejuta impian.
Gak beda jauh ama di sekolah Gie. Temen-temen Gie di kelas XII punya banyak mimpi. Terutama sahabat-sahabat Gie yang berjumlah dua belas orang. Sebutlah Goez, Beer, Ham, Zie, Zai, Aby, Dew, Hanoi, Pupu, Vick, Qimy, dan Hore. Mereka punya impian yang berbeda-beda.
Kaya Beer, sahabat Gie di kelas XII Exact. Juara pertama olimpiade fisika se kota Tasik ini punya cita-cita masuk Teknik Perminyakan ITB. Ada juga Goez, mantan Presiden OSIS SMA AMQ 2006-2007 ini punya impian masuk Ilmu Kelautan UNDIP.
Hal senada juga menimmpa Gie, banyak mimpi yang dimiliki. Bahkan Gie ampe nulis 27 impian di blog ini. Diantaranya bisa masuk Psikologi UI dan bisa membuka rumah konseling bagi anak-anak. Amin Ya Allah!
Gak bisa kita pungkiri, setiap orang mempunyai mimpi. Mimpi, mimpi, dan mimpi. Orang bijak berkata, “Orang yang besar memiliki mimpi yang besar.”
But wait, ada dua kategori pemimpi. First, pemimpi yang jika telah bermimpi doi langsung bangun dan mewujudkan mimpinya. Inilah pemimpi ideal dan calon pemimpin. Doi langsung real action di lapangan. Satu lagi, pemimpi yang hanya sekedar mimpi tanpa ada realisasinya di lapangan. So, doi just dream tanpa usaha.
Tahu akan hal ini, Gie ngerasa was-was. Was-was dalam artian Gie takut termasuk kategori kedua, just dreamer. Naudzubillah!!! Tapi InsyaAllah dengan “DUIT” yakni Doa Usaha Ikhtiar dan Tawakal semuanya bisa terwujud.
Motivasi dari diri sendiri dan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Jangan salah, pengaruh yang signifikan bisa kita rasakan. Alhamdulillah, di sekolah para Guru terus memotivasi anak didiknya agar optimis dan percaya diri dalam menghadapi segala ujian. Thank you so much my beloved teachers.
Gie sadari untuk menggapai mimpi tersebut kita mesti perih, sakit, dan kerja keras. Dan tidak lupa berdoa kepada Allah SWT. Coz, orang yang berusaha dan tidak berdoa, doi adalah orang yang sombong. Dan orang yang berdoa tapi tidak berusaha, doi adalah orang yang malas.
Intinya kita memang mesti menempatkan ikhtiar, doa, dan tawakal dengan seimbang. Tentunya dengan cara yang proporsional.
Last, Gie akhiri goresan tinta ini dengan sebuah ayat dalam Al Quran. Yakni surat Ar-Rad ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Sabtu, 26 Januari 2008
Curhat (2)
Saya pernah ditanya oleh Guru Agama ketika proses KBM berjalan di kelas. Guru saya bertanya kepada saya dan teman-teman sekelas. “Gie, seandainya kamu diberi tahu bahwa umur kamu tinggal 1 bulan lagi, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Guru saya.
Begitu kagetnya ketika mendengar pertanyaan itu. Mungkin hal senada juga dirasakan teman-teman saya yang kedapatan pertanyaan yang sama. “Em….Saya akan beribadah terus menerus Pak dan bertaubat atas segala dosa yang pernah diperbuat”, jawab saya.
Jawaban yang bervariatif pun muncul dari teman-teman saya. “Saya akan meminta maaf kepada semua orang yang pernah saya sakiti Pak”, ucap Pupu. Ada pula yang menjawab akan meminta kepada orang yang meminjamkan uang untuk menganggap lunas hutang yang belum dibayar.
Guru saya pun menjawab jika hal itu terjadi, ada hal terpenting ketika kita menghadapi maut, yaitu membaca syahadat. “Baca lah syahadat dalam menghadapi syakaratul maut nanti, insyaAllah dijamin masuk surga”, ucap Pak Ilam.
Namun hal tersebut tidak semudah mengembalikkan tangan. Semua itu tergantung amal-amalan semasa hidup. Apabila banyak melakukan ama shaleh, tentunya akan mudah mengucapkan syahadat. Akan tetapi jika yang banyak adalah maksiat, tentunya akan kebalikkannya.
Kontan kami sekelas termenung dan ter-ngiang akan pertanyaan tadi. Betapa hidup kita ini hanya sebentar dan tidak akan abadi. Bak seseorang menjalani sebuah perjalanan dan sedang berhenti sejenak di persinggahan tempat istirahat. Itulah anolgi kehidupan. Tidak akan lama, seseorang tersebut akan terus melanjutkan perjalanan.
Pantas saja Imam Al-Ghazali mengatakan hal yang paling dekat dengan diri kita adalah sebuah kematian. Semua yang hidup pasti akan mengalamai kematian. Hal tersebut tidak bisa kita tawar.
Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kita dalam mensikapi kematian? Pertanyaan yang sederhana, akan tetapi sulit untuk dijawab bahkan untuk dipahami esensinya.
Seseorang yang beriman akan mensikapinya dengan proporsional. Kematian tidak akan ditakutinya akan tetapi terus diingat bahkan ditunggu-tunggu. Karena apa? Saking kuat keimanannya sehingga ingin berjumpa dengan Rabbnya. Subhanallah!!
Seorang ulama pernah berpesan. Kematian tidak usah kita takuti dan hindari, toh kita akan mati juga pada akhirnya. Yang terpenting adalah bagaimana mengerjakan amal sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat kelak.
Selasa, 22 Januari 2008
Curhat
Dalam kesempatan ini saya menyampaikan curahan hati (curhat). Curahan hati seorang siswa yang notabene adalah insan yang tengah mencari ilmu dan “berpetualang” mencari arti hidup dari pembelajaran yang ternyata tidak terpaku dalam sebuah ruangan yang lazim disebut kelas. Masih banyak “kelas” lain yang kebanyakan orang belum diikuti mata pelajarannya.
Katakan saja saya adalah seorang pelajar yang beruntung. Beruntung dalam artian diberi kekuatan dan kesempatan untuk mengekspresikan segala unek-unek dalam pikiran melalui sebuah goresan tulisan. Buah pikiran saya acap kali dituangkan secara gamblang, bebas, murni, orisinil, kritis namun terkadang agak blak-blakkan.
Aktif berkiprah menulis sejak menginjak sebuah masa di mana kata orang banyak masa-masa yang paling indah (SMA). Entah apa yang mendasari ada jargon yang berbunyi seperti itu. Mungkin “darah muda” yang menggebu-gebu mengenai percintaan yang pastinya menjadi sorotan. Tapi di sini kita tidak akan membahas mengenai itu.
Bersyukur saya dibimbing oleh seorang guru yang begitu concern membimbing dalam hal tulis-menulis. Kebetulan guru pembimbing saya itu adalah seorang jurnalis. Di bawah bimbingannya alhamdulillah saya bisa menulis banyak hal. Meskipun tulisan saya masih jauh dari kesempurnaan. Satu hal yang saya yakini, hal tersebut adalah sebuah proses.
Dengan seringnya berlatih, belajar dan belajar tanpa henti. InsyaAllah segala sesuatu akan mencapai sebuah kesempurnaan dan keberhasilan. Akan tetapi waktu terus berlanjut sampai saya menginjak kelas 3. Di mana ketakutan saya muncul. Ketakutan di mana apabila kebiasaan dam hobi saya (menulis) sedikit demi sedikit menurun produktivitasnya.
Terbukti dengan jarangnya saya menghasilkan sebuah tulisan. Baik tulisan yang dimuat di media ataupun tidak. Dengan alasan, sibuknya aktifitas saya di kelas 3 dalam persiapan menghadapi UN dan SPMB.
Akan tetapi setelah dipikir-pikir dan direnungkan, alasan itu tidak realistis dan terkesan agak naif. Begitu mudahnya kita menyalahkan status kita sebagai kelas 3 untuk berhenti menulis. Toh kita masih bisa memanage waktu. Misalnya di waktu senggang, kita manfaatkan untuk menulis.
Kenapa bangsa kita belum bisa maju? Ternyata salah satu faktornya adalah budaya baca dan menulis masih dianggap tabu dan jarang orang melakukannya.
Tidak seperti negara-negara maju seperti Jepang. Di Jepang orang begitu “lahap” membaca buku dan mengembangkan budaya menulis. Bahkan ada survei yang mengatakan rata-rata orang Jepang dalam sehari membaca lebih dari 5 buku yang berbeda.
Artikel, opini, berita, essay, dan masih banyak lagi berbagai jenis tulisan. Diary pun bisa menjadi ajang yang baik dalam hal menulis. Bahkan dari sebuah diary atau catatan harian pun bisa menghasilkan uang. Seperti Radhitya Dika yang menjadikan diary dalam blognya sebuah buku, bahkan sampai 3 buku dihasilkan (Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, dan Radhitya Makan Kakus).