Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 November 2008

MENEMUKAN KEMBALI JATI DIRI MAHASISWA

Pengantar
Perjalanan historis telah mengantarkan kita pada sebuah perspektif perubahan yang memberikan sinyal secercah harapan dari semangat kemajuan dan kebebasan atas tirani penjajah. Perubahan yang senantiasa dinantikan menjadi realitet dari mimpi yang diidam-idamkan masyarakat pribumi saat itu. Berawal dari mimpi itulah, para pejuang tak kenal lelah memberikan sebuah penetrasi yang tak henti-hentinya dengan berbekal spirit optimisme yang terpatri dalam hati sanubari. Hasil pun berbuah manis dan ekuivalen dengan usaha dan kerja keras yang begitu besar. Pikiran, tenaga, harta dan darah pun menjadi kontribusi yang tak pelak menjadi harga mati.

Kita tidak bisa memungkiri, dalam setiap episode perjuangan bangsa Indonesia tidak akan terlepas dari sosok pemuda. Pemuda sebagai seorang kaum terpelajar—mahasiswa—yang notabene akrab dengan idealismenya yang acap kali bertentangan dengan elite eksekutif dalam hal ini pemerintah. Tidak semata-semata menentang tanpa ada alasan yang relevan. Ironisnya, semua itu dilakukan sebagai bentuk perhatian mereka terhadap kondisi bangsa. Kita tentu masih ingat ketika persiapan kemerdekaan Indonesia, golongan muda dan golongan tua berselisih pendapat mengenai proklamasi kemerdekaan. Sehingga menyeret golongan muda dan golongan tua kedalam konflik intern. Golongan muda yang dimotori oleh Adam Malik dan rekan pemuda lainnya, menginginkan agar proklamasi kemerdekaan segera diproklamasikan. Di sisi lain, golongan tua yaitu Soekarno, Hatta dan rekan yang lainnya justru terkesan menunda-nunda kemerdekaan. Dengan dalih proklamasi kemerdekaan RI mesti dilakukan pada momen yang tepat.

Konflik tersebut berlanjut dengan dibawanya Soekarno, Hatta, dan golongan tua lainnya ke Rengasdengklok oleh golongan muda. Dibawanya golongan tua oleh golongan muda ke Rengasdengklok untuk segera merumuskan kemerdekaan RI. Setelah dirumuskan, maka pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamasikanlah kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan Hatta. Sejak itulah RI memproklamasikan kemerdekaannya.

Konflik antara golongan muda dan golongan tua tersebut menghasilkan suatu konflik yang konstruktif. Di mana dengan adanya konflik dari kedua belah pihak tersebut menghasilkan sesuatu yang mengubah nasib bangsa Indonesia. Bisa kita bayangkan, jika golongan muda tidak memberikan “tekanan” kepada golongan tua untuk untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI. Mungkin kemerdekaan RI diproklamasikan tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 atau mungkin akan ditunda-ditunda.

Mahasiswa sebagai agent of change
Jiwa yang menggebu-gebu menjadi denyut nadi dalam setiap langkah hidup pemuda. “Darah muda” yang mengalir menjadi bensin bahan bakar utama pergerakan kepemudaan Indonesia. Pemuda sendiri memiliki tempat strategis yang tidak bisa dianggap sebelah mata oleh siapapun bahkan oleh pemuda itu sendiri. Sejatinya modal tersebut menjadi manifestasi atas kepercayaan bagi pemuda menemukan perannya yang penting dalam dinamika tatanan kehidupan sosial, politik, dan budaya.

Di tengah keterpurukan bangsa yang sedang acak marut ini, sejumlah pemuda memberikan andil yang besar terhadap kemajuan bangsa. Hal ini dibuktikan dengan berbagai prestasi yang gemilang yang telah ditoreh. Baik itu dalam bidang politik, pendidikan, olahraga, serta bidang yang lainnya. Bidang poltik misalnya. Panggung poltik Indonesia saat ini dihiasi dengan pemuda yang turut aktif memberikan gagasan yang segar bagi bangsa. Keikutsertaan pemuda terjun ke dalam politik praktis mengindikasikan bahwa pemuda juga bisa berkarya, berdedikasi, serta berkontribusi. Rasa bertanggung jawab dan semangat sense of belonging yang besar terhadap bangsa menjadi motif tersendiri di balik semua itu. Akseptabilitas politik pemuda pun menjadi sesuatu yang tidak semestinya diperdebatkan.

Adapun opini publik dewasa ini mencuat mengenai peran pemuda yang terjun ke dunia politik merupakan sebuah trend baru yang hanya sepintas dan tidak akan betahan lama adalah keliru. Opini tersebut akan terbantahkan dengan sendirinya tatkala kita kembali menengok sejarah. Isu kepemimpinan yang menjadi tolak ukur bagi peran pemuda saat ini dalam konteks kenegaraan menjadi sesuatu yang realistis. Fakta berbicara ketika dominasi pemuda relatif mewarnai jagat panggung politik masa lalu. Budi Utomo yang menjadi benih kebangkitan nasional tidak lain dimotori oleh mahasiswa yang notabene adalah pemuda. Tahun 1942 ketika menentang penindasan Jepang di Base Camp Asrama Prapatan 10 tak luput dari peran mahasiswa. The founding fathers negara kita pun seperti Soerkarno dan Hatta saat diambil sumpahnya sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia saat berumur relatif muda yakni 44 dan 43 tahun. Soeharto menjadi Presiden pun tergolong muda yakni saat berumur 46 tahun.

Satu lagi sebuah peristiwa yang begitu fenomenal dan menjadi catatan tak terlupakan adalah reformasi pada tahun 1998. Puluhan ribu mahasiswa bahkan lebih limpah ruah turun ke jalan dengan tujuan yang sama bertekad menjatuhkan rezim orde baru. Rezim yang telah berkuasa 32 tahun, 7 bulan, 3 minggu ini pun akhirnya tumbang. “Saya menyatakan berhenti”, adalah ucapan yang terlontar dari mulut Bapak Pembangunan ketika mengumumkan pengunduran dirinya sebagai penguasa orde baru. Pernyataan tersebut adalah misi utama yang memang dari awal diperjuangkan oleh mahasiswa. Meskipun semua itu mesti dibayar mahal dengan adanya mahasiswa yang ditembak mati oleh pasukan keamanan pada saat perjuangan para mahasiswa dalam rentetan kronologi reformasi.

Sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Adalah pernyataan dari Benedict Anderson seorang Indonesianist. Pernyataan Ben merupakan optimisme eksistensi pemuda dalam alur dan tatanan kenegaraan Indonesia. Sehingga keberadaan pemuda dari awal perjuangan bangsa hingga sekarang dan seterusnya akan menghiasi dinamika konstalasi kepemimpinan. Titik awal dari semua itu adalah sebuah kesadaran yang mesti selalu dijaga keutuhannya.

Pemuda (baca: mahasiswa) dalam kaitannya dengan perubahan memang layak menyandang peran agent of change. Peran yang sudah seharusnya tertanam dalam lubuk hati paling dalam seluruh pemuda Indonesia. Sudah cukup hanya berkomentar, mengeluh, dan mengkritik tanpa ada real action di lapangan. Pemuda mesti bangkit dan tidak ada lagi kata malas dalam menjalani kehidupan yang sayang untuk dilewatkan tanpa makna. Eksistensi pun menjadi wacana yang penting setiap alur perjuangan.

Tantangan Mahasiswa
Seiring dengan peran pemuda dalam isu kepemimpinan, tak pelak menemui berbagai halang rintang. Globalisasi yang tengah menyelimuti tatanan kehidupan di berbagai aspek masyarakat adalah salah satu tantangan kongkret bagi para pemuda. Eksistensi dan idealisme akan dipertaruhkan. Sejuah mana akan bertahan, sejauh mana akan kokoh dalam kemurnian yang berlandaskan semangat kebangsaan.

Tidak semudah mengembalikan telapak tangan pemuda melawati berbagai proses idealisme yang acap kali menemui berbagai hambatan. Idealisme sejatinya memberikan keunggulan. Namun, di sisi lain idealisme bisa menjadi sebuah bumerang yang justru menyerang balik tatanan pribadi. Hati sanubarilah yang dapat menjawab akan semua itu. Kejujuran adalah salah satu kunci pokok dan tolak ukur yang valid. Kejujuran terhadap sikap, kenyataan, dan kondisi sosial yang ada di sekitar.

Belajar dari analogi idealisme seorang siswa SMA yang memiliki mimpi rasanya patut kita tengok. Seperti yang diketahui, masa SMA yakni masa remaja merupakan sebuah masa penuh dengan harapan dan cita. Berbagai keinginan muncul dan terkadang irasional. Dokter, ilmuan, psikolog, salah satu contoh dari banyaknya keinginan—menjadi sesuatu—seorang siswa SMA. Namun semua itu bohong besar tatkala tidak sesuai apa yang diinginkan dengan usaha yang telah dilakukan. Adalah bohong besar bercita-cita menjadi seorang dokter tetapi pelajaran biologi, kimia, matematika tidak ditekuni dan digemari. Dari fenomena tersebut kita melihat sebuah idealisme yang tidak kontras dengan kejujuran hari sanubari.

Begitu pun idealisme yang kaitannya mengenai semangat kepemimpinan dalam konteks kebangsaan. Pemikiran-pemikiran yang kritis namun tetap etis belum sepenuhnya berjalan efekif tatkala sisi emosional masih menolak dalam diri. Emosi terkadang bisa membuyarkan mana yang benar dan mana yang salah. Hasrat akan nafsu menjadi sebuah tantangan tersendiri. Tidak sedikit pejabat yang korupsi dan melakukan sebuah tindakan penyelewengan saat ini, dulunya adalah seorang aktivis mahasiswa di kampus. Seorang aktivis yang begitu getol dalam menyuarakan keadilan dan kritik atas pemerintah yang menjabat saat itu. Namun sangat ironis, mereka sekarang menjadi pejabat yang tidak sesuai dengan apa yang diperjuangkan dulu ketika menjadi mahasiswa. Korupsi, suap, mark up, dan kebobrokan yang lainnya adalah contoh nyata.

Seseorang yang tengah duduk di bangku yang bernama kekuasaan memang rawan terhadap tindakan yang tidak terpuji. Praktek-praktek yang bisa menyeret ke ranah hukum berpeluang sangat besar. Ujian sesungguhnya dari pemuda terhadap konsistensi terhadap perjuangan dan idealisme mereka yang berlandaskan kepentingan rakyat dan bangsa.

Muncul pertanyaan yang besar. Akankah ke-idealisme-an tentang perjuangan pemuda (mahasiswa) bisa tetap terjaga sampai kapanpun bahkan ketika mendapatkan kedudukan di level eksekutif ataupun legislatif? Semua ini hanya bisa dijawab dengan meluruskan niat dan mengingat kembali apa niatan awal.

Tidak akan pernah habis untuk dibahas jika berbicara tentang kepemudaan di Indonesia. Pemuda dengan semangat keberaniannya menjadi salah satu modal utama. Tidak hanya itu, rasa tidak apatis terhadap kondisi sosial ekonomi di masyarakat yang masih belum menyentuh level sejahtera menjadi bahan pemikiran dan mesti mencari solusi atas semua itu. Tidak ingin membuat anak cucunya nanti merasakan kesulitan hari ini. Tidak ingin anak cucunya di masa depan menyalahkan diri mereka atas warisan yang diberikan bukan sesuatu yang membanggakan melainkan keterpurukan. Tidak ingin semua itu terjadi. Berpikir jauh ke depan mengenai kondisi bangsa sepuluh, dua puluh, bahkan seratus tahun ke depan menjadi bahan pemikiran pemuda.

Kamis, 22 November 2007

An Essay About Primordialisme

BELENGGU BANGSA YANG BERNAMA PRIMORDIALISME FANATIK
Sebuah pengalaman di sekolah penulis ketika akan diadakannya pelatihan kepemimpinan atau yang akrab disebut Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). Kebetulan penulis menjabat sebagai Ketua MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) di sekolah. Penulis bekerja sama dengan Ketua OSIS untuk mengadakan pelatihan tersebut. Seperti diketahui, LDKS ini adalah sarana dan syarat bagi para calon pengurus OSIS dan MPK. Jalan cerita, kami pun membentuk panitia dan menetapkan persyaratan-persyaratan bagi para peserta.

Ada hal yang tidak kami kira sebelumnya, sesuatu hal yang semestinya tidak harus terjadi. Seluruh siswa kelas XI memprotes kepada kami kelas XII yang notabene adalah panitia LDKS. Protes tersebut dilatarbelakangi atas kebijakan panitia LDKS yang menyatukan kelas X dan XI dalam pelatihan tersebut. Mereka beralasan tidak seharusnya kelas X disatukan dengan kelas XI. Mereka merasa tidak pantas dan gengsi jika mesti berbaur dengan adik kelasnya. Pun mereka berasumsi telah mendapat pengalaman dari masa jabatan OSIS dan MPK sebelumnya. Mereka merasa tidak perlu mengikuti lagi LDKS dengan adik kelasnya.

Penulis dan teman-teman panitia merasa kaget akan protes yang dilayangkan. Sungguh hal tersebut di luar dugaan kami selaku panita. Padahal niat kami selaku panitia adalah baik, untuk menjalin rasa kebersamaan antar calon pengurus OSIS dan MPK nantinya. Dengan tidak memandang kelas, senior atau junior, berpengalaman atau belum. Semua setting tersebut tidak lain untuk membentuk jiwa kebersamaan dan kekompakkan.

Melihat kejadian tersebut, penulis bisa menyimpulkan satu hal. Bahwa ini adalah salah satu bentuk dari primordialisme. Bisa dibilang ini merupakan bentuk primordialisme yang paling kecil. Artinya ruang lingkupnya adalah kecil (antar kelas). Membangga-banggakan dan mengangung-agungkan kelasnya seperti yang dilakukan kelas XI.

Kelas XI rasanya telah salah menempatkan rasa cinta terhadap kelasnya. Sense of belonging mereka terlalu berlebihan sehingga mereka terlalu fanatik terhadap kelasnya. Dilihat dari kaca mata penulis, mereka serasa membangga-banggakan dan mengagung-agungkan akan jati diri ke-XI-nya. Sampai-sampai gengsi dan tidak mau berbaur bersama adik kelasnya untuk mengikuti pelatihan.

Berkaca dari peristiwa tersebut, penulis tergerak untuk mengkaji mengenai salah satu faham yang hadir di tengah masyarakat Indonesia ini. Faham yang bisa diartikan kurang lebih suatu rasa di mana seseorang cinta dan bangga terhadap daerah kelahiran atau asalnya. Dengan kata lain semangat kedaerahan yang menjadi inti dari primordialisme ini.

Primordialisme muncul dalam diri setiap orang. Karena sangat manusiawi sekali dan tidak akan terlepas dari rasa tersebut. Primordialisme yang tinggi biasanya muncul kepada seseorang yang tengah melakukan suatu perantauan ke kota besar. Contohnya, seseorang merantau dari Sumatra ke Jakarta. Seseorang tersebut pastinya akan tetap memiliki rasa cinta terhadap daerahnya meskipun sudah berada di Jakarta. Salah satu faktornya adalah adanya semangat seperti ini, meskipun jauh-jauh dari desa, tetapi bisa menaklukkan ibu kota. Apalagi jika seseorang yang tengah merantau tersebut sukses dan berhasil di ibu kota. Primordialisme pun semakin tertanam dalam diri. Seakan menampik pribahasa kacang lupa akan kulitnya. Pastinya mereka tidak melupakan daerah kelahirannya. Bahkan akan semakin bangga dan ingin menunjukkan bahwa putra daerah pun bisa maju dan berhasil.

Ragam cara orang mengejawantahkan sikap dari primordialisme itu sendiri. Contoh nyata seperti halnya di kalangan mahasiswa. Apalagi jika berada di kampus yang terdiri dari banyak mahasiswa dari berbagai daerah. Penulis mengambil sample adanya himpunan-himpunan mahasiswa daerah. Ini mengindikasikan bahwasannya benar, semangat kedaerahan telah terpatri di dalam setiap mahasiswa yang berasal dari daerah.

Program kerjanya pun lebih fokus terhadap daerahnya. Berkaca kepada pengalaman penulis. OSIS sekolah penulis pernah diajak kerja sama oleh HIMALAYA Jakarta. Sebuah himpunan mahasiswa yang berakronim Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya. Himpunan yang beranggotakan mahasiswa asal Tasikmalaya yang sedang kuliah di Jakarta ini menggaet OSIS sekolah penulis mengadakan suatu acara. Inti dari acara itu sendiri tidak lain untuk membangun semangat pengabdian dan kecintaan terhadap daerah kelahiran. Sampai-sampai mengundang salah satu pejabat Indonesia yang berasal dari Tasikmalaya, yaitu Agum Gumelar.

Jika berbicara mengenai primordialisme. Memang bisa dibilang sesuatu yang mesti kita sikapi dengan penuh kehati-hatian dan kedewasaan. Karena, hal ini menyangkut soal egosentris dari latar belakang yang berbeda. Seperti yang dilansir sebelumnya, primordialisme hadir dalam diri setiap manusia. Primordialisme pastinya tertanam pada setiap orang dari berbagai daerah. Mereka tentunya sangat mencintai dan bangga akan daerahnya. Intinya, di Indonesia sedikit saja salah penempatan dari kebanggaan terhadap daerahnya bisa memicu sebuah konflik.

Republik Indonesia sendiri adalah sebuah negara yang memiliki masyarakat majemuk. Masyarakat yang menurut J.S. Furnivall (1967) adalah masyarakat yang terdiri dari atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam satu kesatuan politik. Indonesia sendiri dikategorikan masyarakat majemuk karena memiliki struktur yang beranekaragam. Hal ini secara horizontal ditandai dengan adanya keanekaragaman suku bangsa, agama, ras, dan antar golongan.

Konsekuensi dari prularisme yang berada dalam tatatan sosial masyarakat Indonesia tersebut jelas menimbulkan keinginan show up atau menonjolkan diri. Baik pemikiran, ide, ataupun kepentingan yang pada dasarnya mementingkan suatu komunitasnya sendiri (daerah). Jelas, dalam teori kenegaraan dan semangat nasionalisme ini merupakan signal yang kurang baik. Bagaimana suatu negara bisa maju, jika masyarakatnya hanya mementingkan daerahnya masing-masing.

Kembali, hal ini sangat memicu timbulnya adanya sebuah konflik. Konflik yang pastinya menimbulkan hal yang destruktif bagi persatuan dan kesatuan negara. Primordialisme yang berlebihan atau fanatik acap kali yang membuat tatanan persatuan terkikis. Terlalu mengagung-agungkan daerah/suku sehingga memandang daerah/suku lain rendah. Menganggap daerahnya lah yang paling baik. Bisa kita bayangkan jika setiap daerah menganut primordilisme secara fanatik. Orang Batak akan bangga dengan Bataknya, orang Jawa akan bangga dengan wong jowonya, orang Sunda akan bangga dengan sundanya, dst. Sampai-sampai melecehkan atau merendahkan suku yang lain. Jika itu terjadi, kapan Indonesia bisa maju? Sedangkan masyarakatnya sendiri sibuk dengan kepentingan-kepentingan pribadi daerahnya. Sampai-sampai mengesampingkan kepentingan bersama (negara).

Bisa kita bayangkan pula jika semangat fanatik dalam primordialisme muncul dalam pemilihan presiden. Misalnya, presiden terpilih adalah berasal dari Kalimantan. Maka orang non-Kalimantan tidak akan menerima presiden tersebut, karena bukan berasal dari daerahnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan menekan habis-habisan terhadap kinerja presiden dan bersikap radikal. Selalu menganggap salah dan salah, tidak ada benarnya dalam roda pemerintahan. Semua itu dilatarbelakangi karena tadi. Presiden tersebut bukan berasal dari daerahnya.

Primordialisme fanatik mengajak orang untuk bagaimana caranya agar daerahnya tetap eksis. Sebuah doktrin untuk mau tidak mau daerahnya yang mesti muncul dan terdepan. Ego yang memang sangat tidak baik bagi membina suatu persatuan bernegara. Bagaimana negara bisa sukses di mata dunia (eksternal), di internalnya pun belum sukses. Sibuk sikut sana, sikut sini. Padahal jika setiap daerah/suku adalah keluarga.

Hal ini tentunya bisa menjadi bumbu perpecahan bagi suatu negara jika setiap elemen masyarakat tidak bersikap dewasa dan proporsional. Maka tidak heran, jika banyaknya gerakan separatis yang muncul di Indonesia. Primordialisme fanatik menjadi salah satu faktor pendukung. Di samping rasa tidak puas terhadap sebuah kebijakan atau kondisi negara. GAM, RMS, dan OPM menjadi pelajaran yang berharga bagi Indonesia. Keteledoran dari bangsa Indonesia ini sejatinya menjadi tamparan yang besar. Slogan Bhineka Tunggal Ika pun seakan menjadi sesuatu yang tidak terimplikasikan di lapangan. Esensi dari Bhineka Tunggal Ika itu sendiri tidak lagi relevan.

Teringat akan konsep yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian mengenai ESQ. Sebuah training kecerdasan yang menggabungkan IQ, SQ, dan EQ. Dalam paparannya Ary Ginanjar mengatakan bahwa manusia memiliki tujuh belenggu kehidupan. Ketujuh belenggu tersebut adalah sudut pandang, pembanding, pengalaman, literatur, kepentingan, dan prinsip hidup. Semua itu merupakan belenggu yang selama ini membuat seseorang ataupun diri kita selalu konflik, bermusuhan, tidak dewasa, menganggap orang lain salah, dll.

Titik Tuhan atau God Spot dalam istilah ESQ tidak akan tercapai dalam zero mind process selama belenggu-belenggu tersebut belum bisa diatasi dan dihapus. Sangkut paut terhadap primordilisme memang sangat berkorelasi. Karena sebagian dari tujuh belenggu tersebut yang menjadi titik tolak adanya semangat primordialisme.

Belenggu-belenggu tersebut dalam teori sosiologi merupakan sebab-sebab timbulnya sebuah konflik. Perbedaan yang menjadi sorotan utama di sini. Perbedaan, rasanya bukan lagi hal yang dianggap tabu di kalangan masyarakat Indonesia. Berbeda suku, logat bahasa, agama, dll. Sayangnya, di Indonesia mayoritas masyarakat selalu memandang sebagai suatu permusuhan. Belum ada kedewasaan yang muncul dari setiap masyarakat. Meskipun tidak semua masyarakat bersikap seperti itu.

Padahal jika kita renungkan dan pikirkan baik-baik. Perbedaan adalah suatu rahmat yang diberikan Sang Pencipta. Keindahan bisa hadir karena suatu perbedaan. Tubuh kita saja terdiri dari banyak perbedaan. Mulai dari Kepala, tangan, kaki, dll. Bisa dibayangkan, jika tubuh kita hanya terdiri dari satu elemen. Keindahan dipastikan tidak akan muncul.

Ada kalanya kita sebagai manusia mesti memandang segala sesuatu tidak dengan sudut pandang perbedaan. Berbeda ide menjadi musuh, berbeda jalan menjadi lawan. Sedikit saja berbeda acap kali perbedaan tersebut dibesar-besarkan. Inilah yang salah dari cara kita dalam mensikapi sebuah dinamika kehidupan. Kesamaan yang rasanya jarang kita cari. Kesamaan pula yang jelas-jelas ada di depan kita tetapi seakan tidak dihiraukan begitu saja. Seakan tertutup oleh belenggu kehidupan yang disebutkan sebelumnya, merasa enggan untuk bersatu.

Historis Indonesia sendiri tidak luput dari suatu segmentasi yang acap kali membuat struktur tatanan kemasyarakatannya bisa dibilang agak labil. Gagasan nasional yang digembor-gemborkan para pejuang pun sempat mengalami krisis. Bayang-bayang disintegrasi seakan menjadi momok bagi para elite politik pada saat itu. Indonesia mesti menelan pil pahit ketika Timor Timur melakukan sebuah manuver atas wilayahnya. Manuver yang membuat rantai nasional mengalami kelemahan. Peristiwa tersebut menjadi sebuah isyarat mengenai otokrasi atau perpecahan yang menjadi mimpi buruk apabila terjadi. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Disintegrasi Pakistan pada 1971 dan Uni Sovyet pada 1991 menjadi contoh nyata bahwa negara besar dan multikultural dapat bubar di bawah tekanan perubahan politik yang cepat dan mendasar.

Indonesia memang ditakdirkan untuk menjadi sebuah bangsa yang besar. Dengan lebih dari 13.000 pulau yang terbentang dari sabang sampi merauke sepanjang lebih dari 5.000 km dan melintasi tiga zona waktu. Tidak salah jika semua itu menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Di balik semua itu, tentunya banyak hal yang dihadapi bangsa Indonesia. Bangsa yang besar, tentunya menghadapi permasalahan yang besar pula. Termasuk menyinggung soal hubungan keanekaragaman dan kesolidan penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa.

Sikap toleransi dan empati sosial bisa memberikan sebuah titik terang kaitannya dengan keanekaragaman masyarakat Indonesia. Keanekaragaman kebudayaan, serta aspek kemasyarakatan lainnya. Pengenalan keanekaragaman budaya ini sebaiknya dilakukan sejak dini dan dikembangkan melalui bidang pendidikan. Pendidikan yang menekankan pluralitas dan multikulturalitas merupakan modal sosial budaya kita yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Harapan yang muncul, dengan pendidikan semacam itu pada akhirnya masyarakat mampu menghargai secara tulus, komunikatif, terbuka, dan tidak saling curiga. Keterbukaan merupakan nilai penting. Jika tidak ada keterbukaan, apapun yang berbeda akan selalu dicurigai dan dianggap musuh.

Perhatian kepada etika normatif pun menjadi sesuatu yang mesti dijalankan. Masyarakat sosial dengan segala aktifitasnya mau tidak mau mesti mematuhi segala norma-norma yang ada. Dengan konsekuensi apabila melenceng dari norma, menanggung sendiri sanksi dari masing-masing norma. Kesadaran untuk menjalin hubungan yang baik antarsesama tanpa memandang perbedaan latar belakang bisa terlaksana. Dan semua itu tidak hanya mimpi, jika semangat nasionalisme secara komprehensif dan kontinu tertanam dalam diri setiap pribadi.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting. Sikap mau menerima, memahami dan mendalami budaya etnis atau suku lain merupakan cara yang tepat dalam mentolerisasi sebuah konflik. Kita jangan menutup diri terhadap budaya lain yang akibatnya justru akan semakin memperdalam jurang pemisah antargolongan dalam masyarakat.

Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mesti melalui proses yang cukup menguji keeksistensian jati diri bangsa. Konsensus bagi kemajuan bangsa yang besar seperti Indonesia akan menuai hasil yang terbaik. Dan itu besar harapannya bagi masyarakat. Kasus seperti ini tidak bisa ditempuh dengan stalemate yang dengan sendirinya menghilang. Tetapi diperlukan sebuah usaha dan iktikad yang baik dan kedewasaan dari setiap insan sosial masyarakat.

Selasa, 30 Oktober 2007

Demi Waktu

Waktu Oh Waktu.......
Waktu merupakan sesuatu yang krusial dalam hidup ini. Detik demi detik kita jalani hidup ini. Setiap detik yang kita lalui tidak akan pernah kembali. Itulah waktu, saking pentingnya waktu ada pribahasa yang mengatakan time is money.
Yah, waktu amat berharga dalam hidup ini. Orang yang sukses akan me-manage waktunya dengan baik. Mereka tidak akan menyia-siakan waktu satu detik pun untuk hal yang tidak penting.

Ada hal yang menarik, dalam waktu 24 jam. Ada orang yang bisa menyelesaikan satu buku. Dalam waktu 24 jam, ada orang yang mempu membuat 100 produktivitas, 250, 500, 750, bahkan 1000 produktivitas. Namun, dalam 24 jam ada juga orang yang mengurus dirinya sendiri saja tidak bisa.

Remaja, usia di mana seseorang sedang mencari jati dirinya. Usia di mana kata orang merupakan masa yang paling indah dan menyenangkan. Remaja yang secara psikologis, merupakan suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Usia ini merupakan usia yang agak kabur.

Karena berada pada masa peralihan antara anak-anak dan masa dewasa. Bahkan seorang Psikolog mengibaratkan: terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil untuk taplak meja. Unik memang masa remaja. Di satu sisi bukan anak-anak lagi, di sisi lain belum pantas juga disebut dewasa.

Tapi hal tersebut jangan dijadikan alasan untuk tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Jikalau memang asumsi yang mengatakan masa remaja merupakan masa yang paling indah, jadikan masa remaja tersebut lebih indah dengan mengisi hal yang kreatif, inovatif, dan prestatif.

Penyesalan memang tidak akan pernah datang awal-awal, penyesalan pasti datang di akhir. Kita tidak bisa tawar menawar lagi mengenai hal yang satu ini. Untuk itu, hindari hal tersebut dengan tindakan preventif.

Teringat akan sajak Sean Covey yang menggugah kita akan seberapa pentingnya waktu dan memaknainya. Berikut petikannya.
Untuk tahu nilai satu tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kenaikan.
Untuk tahu nilai satu bulan, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Untuk tahu nilai satu minggu, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Untuk tahu nilai satu hari, tanyakan pada buruh harian yang punya enam anak untuk diberi makan.
Untuk tahu nilai satu jam, tanyakan pada kekasih yang menanti saat bertemu.
Untuk tahu nilai satu menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
Untuk tahu nilai satu detik, tanyakan pada orang yang selamat dari kecelakaan.
Untuk tahu nilai satu milidetik, tanyakan pada peraih medali emas olimpiade.


Dari sajak 7 Habits yang diutarakan Sean Covey kita bisa renungkan akan waktu. Betapa pentingnya kita me-manage waktu dengan baik. Hadist juga menerangkan akan pentingnya waktu. Sabda Rasulullah Saw: Ingat lima perkara sebelum lima perkara. Lima perkara tersebut; sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.

Kamis, 13 September 2007

Beware of Globalization Era

Era globalisasi sudah di depan mata. Lebih cepat kemajuan peradaban dunia, lebih maju juga segala macam yang menghiasi kehidupan manusia. Mulai dari pergaulan antarsesama manusia, cara berpakaian, sikap hidup, dll. Dari era globalisasi tersebut kita bisa mendapat dua input. Baik itu input yang positif maupun yang negatif.

Melihat fakta yang ada di lapangan, bahwa era globalisasi di samping menghasilkan banyak input positif juga menghasilkan input yang negatif. Oleh karena itu, dalam era globalisasi kita membutuhkan proses penyaringan untuk menyaring hal-hal yang dianggap buruk.

Tapi pada kenyataannya proses penyaringan tersebut tidak didukung oleh sumber daya manusia yang menghadapi era globalisasi itu. Justru mayoritas masyarakat tidak memperhatikan hal yang bersifat penyaringan tersebut khususnya remaja.

Media massa merupakan salah satu objek yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam era globalisasi. Karena itu, media merupakan salah satu kekuatan raksasa yang mesti diperhitungkan.

Media juga ditempatkan menjadi salah satu variable determinan. Maksudnya media dijadikan salah satu kepentingan yang tidak bisa ditunda-tunda sebagai faktor kuat yang berperan dalam era globalisasi.

Bisa dikata zaman sekarang merupakan zaman edan atau yang lebih tepat masyarakat sekarang banyak yang edan. Bagaimana tidak, kita bisa melihat fenomena yang ada pada masyarakat. Pergaulan antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya sudah tidak memperhatikan norma-norma yang ada.

Contohnya saja remaja, remaja zaman sekarang sudah terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau barat yang tidak memperhatikan norma-norma yang ada khusunya norma agama. Meskipun tidak semua remaja seperti itu tapi sangatlah fatal jika hal tersebut tidak ditangani.
Free sex, berpakaian serba minim bagi wanita, penyalahgunaan narkoba, merupakan salah satu sikap yang ditiru oleh remaja sekarang dalam era globalisasi ini. Memang dalam menangani hal tersebut tidak semudah mengembalikkan telapak tangan. Mesti melalui proses yang cukup lama.

Peran orang tua juga sangat penting dalam menghadapi fenomena ini. Orang tua mesti mengarahkan dan membimbing anak-anaknya agar terhindar dan jauh dari hal-hal yang negatif
Faktor lingkungan juga amat mempengaruhi dalam sikap dan prilaku remaja. Jika lingkungannya positif, refresentatif, kreatif, dan prestatif tentu bakal menjadikan pribadi remaja yang poisitif pula.

Tapi jika lingkungannya negatif, jauh dari norma-norma dan tidak karuan, jelas bakal menjadikan pribadi remaja yang negatif pula. Berbagai survey pun dilakukan dalam rangka mengetahui sejauh mana para remaja sekarang terbawa oleh arus negatif globalisasi. Hasil survey pun tidak bisa dielakkan.

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Wonosobo ketika tahun 2000 melaporkan sepertiga remaja putri telah hamil di luar nikah. Bahkan ada salah satu survey yang mengatakan 42% remaja menyatakan pernah berhubungan seks dan 52% di antaranya masih aktif menjalaninya. Survey tersebut melibatkan 117 remaja berusia sekitar 13-20 tahun.

Bahkan seksolog kondang Dr. Boyke Dian Nugraha pernah memperkirakan, bahwa sekitar 20-25% remaja Indonesia pernah melakukan hubungan seks pranikah. Jikalau kita telaah bersama-sama bahwa kepuasaan nafsu hanyalah sebentar. Efeknyalah yang dirasakan seumur-umur. Selain seks bebas, narkoba juga menjadi momok bagi para remaja. Narkoba juga merupakan penyakit remaja yang merusak secara dahsyat. Seperti yang kita ketahui bahwa remaja sekarang merupakan pemimpin masa depan. Bagaimana nasib suatu bangsa jika tunas-tunas bangsanya, calon-calon pemimpin masa depan terjerumus ke dalam “virus” yang mematikan.