Bagai Air Mengalir
Tidak terasa sejauh ini sudah 15 buah tulisan yang telah saya garap untuk lomba Black Blog Competition yang diselenggarakan Djarum Black. Tidak menyangka bisa nembus sampai angka 10 tulisan lebih dalam kurun waktu satu bulan.
Sejak memantapkan niat dan mendaftar di http://www.autoblackthrough.com/blogcompetition sempat muncul pertanyaan apakah saya mampu untuk memenuhi target dari pihak panitia membuat artikel minimal 20 yang di dalamnya harus ada minimal 2 keywords seperti Autoblackthrough, Autoblackthrough goes to campus, Blackinnovationawards. Setelah dijalani dengan enjoy dan niatnya untuk mengekspresikan unek-unek lewat tulisan dan memberikan yang terbaik, alhamdulillah ide dan tulisan selalu ada.
Bagi saya ini kesempatan untuk lebih getol memposting tulisan di blog. Eksistensi diri untuk menulis perlu dijaga. Sayang bila sudah punya jalur dalam bidang menulis tidak dimaksimalkan. Lomba blog seperti Black Blog Competition yang sedang saya ikuti ini adalah salah satu cara menstimulus orang untuk rajin menulis dan eksis dalam menulis.
Terkadang, orang jika berada dalam kondisi dikejar deadline seperti para jurnalis, maka dengan segenap usaha segala kemampuannya akan keluar dan ide-ide selalu muncul. Singkatnya, orang yang terjepit biasanya akan selalu ada jalan keluarnya.
Saya teringat konsep Mestakung (Semesta Mendukung) yang dicetuskan Prof. Yohanes Surya. Menurutnya. ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan, terjepit, atau berada dalam tuntutan target maka alam semesta ini akan memberikan dukungan terhadapnya sadar atau tidak sadar.
Jika dicontohkan, seperti orang yang sedang dikejar seekor anjing. Ketika orang yang dikejar anjing itu berhadapan dengan sebuah tebing yang tingginya lebih tinggi dari badanya berada di depannya, maka dengan rasa terjepit dan tertekan karena dikejar anjing orang tersebut bisa melewati tebing yang tingginya lebih dari tinggi badannya itu. Karena rasa terjepit dan berada dalam kondisi kritis itulah mestakung muncul.
Hal senadapun dialami saat menulis. Mestakung bisa dialami saat-saat kritis, contohnya jurnalis seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Bagaimanapun, menulis adalah pekerjaan yang siapa saja bisa melakukannya. Menulis itu bagaikan air yang mengalir dari hulu sungai sampai hilir. Setelah dituliskan kata pertama, maka akan mengalir kata-kata selanjutnya di belakang. Sehingga menjadi sebuah padanan kalimat, dari kalimat menjadi paragraf, dari paragraf menjadi artikel. Selanjutnya bisa menjadi sebuah buku.
Lets write! Write anything you want! Feel and enjoy it!
Rabu, 25 Februari 2009
Senin, 23 Februari 2009
Pendengar Yang Baik
Pendengar Yang BaikTahukah mengapa Tuhan memberikan dua telinga dan satu mulut untuk masing-masing kita? Pernahkah kita bertanya mengapa? Karena, kita diharuskan banyak mendengar daripada banyak bicara.
Kita terbiasa ingin selalu berbicara dan tidak mau ketika berbicara dipotong oleh orang. Kita terbiasa ingin selalu “muncul” dengan komentar-komentar kita. Entah itu saat kumpul bersama teman, saudara, di kelas, forum, atau sebuah seminar.
Namun, ada saatnya bagi kita untuk menahan dan mengerem hasrat untuk berbicara. Berbicara itu penting, tapi saat dibutuhkan saja. Berbicara seperlunya dan sesuai kadar. Berbicara kelewatan adalah hal yang harus dihindari. Karena, salah-salah bisa menjerumus kepada gosip, cacian, hinaan, fitnah, dan adu domba. Terkadang, mendengar—sikap yang jarang dilakukan—adalah pilihan tepat dalam bersikap saat momen-momen tertentu. Sehingga hal-hal yang mubazir yang bisa keluar lewat omongan (seperti gosip) dan pepatah tong kosong nyaring bunyinya bisa kita hindari.
Memang, tidak semudah membalikan telapak tangan untuk menjadi pendengar. Mendengar adalah pekerjaan yang pasif. Memerlukan kesabaran dan keikhlasan. Tidak mudah untuk menerima sebuah omongan. Apalagi lawan berbicara adalah lebih muda dari kita. Namun, mendengar jauh lebih memberikan pelajaran. Dengan mendengar kita menjadi tahu omongan orang lain. Mendengar membuat kita tahu orang seperti apa yang sedang kita ajak bicara. Pribadi seseorang salah satunya bisa diketahui lewat omongan yang dia keluarkan.
Yang paling utama adalah dapatnya pengetahuan, informasi, dan tambahan referensi dari kegiatan mendengar. Mendapat kosa kata yang baru dari orang lain misalnya. Mendengarkan politikus berbicara akan mendapat kosa kata dan informasi yang baru tentang politik. Mendengarkan seniman berbicara akan mendapat kosa kata dan pengetahuan baru tentang seni. Begitulah, mari menjadi pendengar yang baik!
Keep Blogging! Keep Black In News on my blog! Always think black for Blackinnovationawards.
Promosi Ala Sekolah
Promosi Ala Sekolah
Sabtu siang (21/2) HP berdering membangunkan tidur siang saya yang pulas. Mata sedikit berkaca-kaca mengangkat HP. "Halo, Assalamualaikum!" sapa saya. "Gie, lagi di mana? kuliah tidak? Bisa minta komentar buat SMA AMQ untuk famplet!" suara seseorang yang membangunkan tidur saya via telepon. Rupanya itu guru SMA saya. Meminta saya memberikan komentar sebagai alumni atas almamater dulu.
"Oke..oke Pak, nanti saya SMSkan!" jawab saya sambil masih mengantuk dan mungkin masih diantara alam mimpi dan alam nyata. Selanjutnya, bingung! Mau berkomentar apa. Saya merasa belum pantas memberikan komentar terhadap almamater. Saya belum jadi orang. Masih belum matang. Masih mentah. Masih menjadi mahasiswa yang bergantung pada uang kiriman dan beasiswa. Mau menolak tidak enak, tapi saya mesti bersyukur. Guru SMA saya masih menganggap saya. Meskpiun saya belum jadi "orang".
Akhirnya saya mengirimkan SMS komentar terhadap almamater setelah berpikir sejenak memilih padanan kata yang tepat. " Di tengah penetrasi budaya global yang sedikit banyak berpengaruh terhadap ahlak setiap insan, SMA AMQ adalah jawaban dari kekhawatiran zaman. Perpaduan apik antara sains dan agama menjadi chemistry tersendiri. Tidak hanya sekedar sekolah. Tapi lebih dari itu." Itulah komentar yang saya berikan untuk almamater. Ternyata bisa juga membuat komentar yang lumayan "berat".
Komentar dari alumni memang salah satu cara menarik calon siswa baru. Promosi dengan mencantumkan komentar alumni di samping program unggulan sekolah adalah efektif. Seperti halnya buku, buku yang bagus dan best seller dipastikan ada dan banyak komentar dan pujian yang dilayangkan.
Tak terasa sebentar lagi PSB (Penerimaan Siswa Baru). Promosi sekolah memang harus gencar saat ini. Tidak hanyas sekolah, iklan-iklan di televisi seperti Djarum Black dan Djarum Black Slimz sangat gencar ditayangkan demi menarik konsumen.
Sabtu siang (21/2) HP berdering membangunkan tidur siang saya yang pulas. Mata sedikit berkaca-kaca mengangkat HP. "Halo, Assalamualaikum!" sapa saya. "Gie, lagi di mana? kuliah tidak? Bisa minta komentar buat SMA AMQ untuk famplet!" suara seseorang yang membangunkan tidur saya via telepon. Rupanya itu guru SMA saya. Meminta saya memberikan komentar sebagai alumni atas almamater dulu.
"Oke..oke Pak, nanti saya SMSkan!" jawab saya sambil masih mengantuk dan mungkin masih diantara alam mimpi dan alam nyata. Selanjutnya, bingung! Mau berkomentar apa. Saya merasa belum pantas memberikan komentar terhadap almamater. Saya belum jadi orang. Masih belum matang. Masih mentah. Masih menjadi mahasiswa yang bergantung pada uang kiriman dan beasiswa. Mau menolak tidak enak, tapi saya mesti bersyukur. Guru SMA saya masih menganggap saya. Meskpiun saya belum jadi "orang".
Akhirnya saya mengirimkan SMS komentar terhadap almamater setelah berpikir sejenak memilih padanan kata yang tepat. " Di tengah penetrasi budaya global yang sedikit banyak berpengaruh terhadap ahlak setiap insan, SMA AMQ adalah jawaban dari kekhawatiran zaman. Perpaduan apik antara sains dan agama menjadi chemistry tersendiri. Tidak hanya sekedar sekolah. Tapi lebih dari itu." Itulah komentar yang saya berikan untuk almamater. Ternyata bisa juga membuat komentar yang lumayan "berat".
Komentar dari alumni memang salah satu cara menarik calon siswa baru. Promosi dengan mencantumkan komentar alumni di samping program unggulan sekolah adalah efektif. Seperti halnya buku, buku yang bagus dan best seller dipastikan ada dan banyak komentar dan pujian yang dilayangkan.
Tak terasa sebentar lagi PSB (Penerimaan Siswa Baru). Promosi sekolah memang harus gencar saat ini. Tidak hanyas sekolah, iklan-iklan di televisi seperti Djarum Black dan Djarum Black Slimz sangat gencar ditayangkan demi menarik konsumen.
Minggu, 22 Februari 2009
Andai Aku Jadi Dokter
ANDAI AKU JADI DOKTER“BUKAN DOKTER BIASA”
Hanya berandai-andai saja, tidak mungkin saya jadi dokter. Jurusan ketika SMA saja social yang tidak berurusan dengan kimia, fisika, dan biologi. Tulisan ini hanya sebuah harapan masukan dan saran dari seorang manusia biasa untuk para calon dokter dan bagi yang sudah jadi dokter. Moga-moga saja ada—minimal satu—dari calon atau yang sudah jadi dokter mampir ke blog saya membaca tulisan ini. Semoga! Isi tulisan sedikit think black menurut istilah Djarum Black atau dalam istilah saya, thinking out of the box.
Menjadi seorang dokter adalah keinginan banyak orang. Dokter adalah profesi yang mulia. Tentunya dengan menjungjung tinggi profesionalisme dan kode etik kedokteran. Melihat begitu banyak yang tertarik ingin menjadi dokter, akan sangat menarik bila saya mencoba setidaknya mempunyai pola pikir seperti mereka. Meskipun latar belakang saya dari social yang notabene non exact, tidak ada salahnya bila saya mencoba meng-exact-kan diri berandai-andai menjadi seorang dokter.
Dokter merupakan seseorang yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Untuk menjadi dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dan mempunyai gelar dalam bidang kedokteran. Pendidikan dokter di Indonesia membutuhkan 10 semester untuk menjadi dokter, 7 semester untuk mendapatkan gelar sarjana ditambah 3 semester koskap (clerkship) di Rumah Sakit. Proses yang lama untuk meraih gelar dokter dan tentunya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Dokter di mata saya adalah seorang penolong sejati. Penolong sejati asumsi saya adalah rela menolong orang yang ditolongnya dengan segala kondisi apapun bahkan dengan segala keterbatasan yang ada. Analogi singkat ini mungkin bisa menggambarkan secara umum bahwa dokter adalah mesti memiliki jiwa sosial yang tinggi di samping pengetahuan exact sebagai fondasi fundamental keilmuan dokter.
Andaikata saya menjadi dokter, setidaknya mesti memiliki beberapa kompetensi yang mendukung aplikasi keilmuan kedokteran saya di masyarakat nanti. Kompetensi tersebut adalah: berkomunikasi tertulis, berfikir analitis, ilmu pengetahuan, bekerja dalam tim, menguasai teknologi, bekerja mandiri, berfikir logis, dan berkomunikasi lisan. Kedelapan kompetensi tersebut wajib saya miliki sebagai seorang dokter.
Hal yang utama, saya akan jadikan semua pasien (tanpa pandang bulu) layaknya seorang raja dan saya sendiri sebagai tabibnya. Dokter yang menganggap dirinya tabib dan pasien sebagai raja akan memicu sebuah profesionalisme dalam menjalankan profesi seorang ahli medis. Perlindungan kepada pasien akan menjadi prioritas yang utama. Pelayanan mutu kesehatan tidak akan menjadi hal yang dinomorsekiankan.
Keluhan tentang mahalnya biaya kesehatan dewasa ini, membuat saya berkeinginan mendirikan sebuah balai pengobatan atau sebut saja rumah sakit kecil-kecilan yang memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau bahkan gratis tatkala menjadi seorang dokter. Hal ini untuk membuktikan bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya untuk orang-orang yang berduit saja, melainkan orang-orang yang kurang mampu dalam hal finansial pun berhak mendapatkan layanan kesehatan yang sepadan.
Saya pun tidak akan merasa puas dengan pengetahuan dokter yang telah dimiliki. Saya akan terus belajar, belajar dan belajar mencari ilmu tentang kedokteran bahkan sampai ke luar negeri. Sering mengadakan sebuah peneltian ilmiah merupakan salah satu cara untuk menambah dan mengasah keahlian sebagai seorang dokter. Ini penting, karena ilmu pengetahuan akan terus maju seiring dengan perkembangan zaman. Berbagai penyakit baru pun banyak bermunculan dan tugas utama dokter untuk menangani semua itu.
Saya percaya, kualitas kedokteran Indonesia tidak akan dipandang sebelah mata apabila semua komponen tersebut dijalankan dengan proporsional. Mal praktek tidak akan kita temukan lagi. Tidak akan kita temukan keluhan-keluhan pelayanan medis yang acak marut. Tidak akan ada lagi birokrasi yang berbelit-belit dalam hal pelayanan medis. Tidak ada slogan yang menyatakan hanya orang-orang kaya yang bisa sehat.
Sebagai seorang anak bangsa, kontribusi saya sebagai seorang dokter tidak terbatas pada hal yang berhubungan dengan medis saja. Terlalu sempit tatkala sebagai seorang anak bangsa jika hanya bertumpu pada satu bidang yang digeluti. Masih banyak bidang lain yang memungkinkan memberikan sesuatu yang lebih bagi bangsa ini di samping sebagai dokter.
Sejarah mencatat dalam hal pergerakan nasional Indonesia. Peran pelajar yang mewarnai lika-liku perjalanan Kemerdekaan Indonesia sebagian diantaranya adalah mahasiswa FK (Fakultas Kedokteran) dan seorang dokter. Tentu masih ingat dr. Soetomo, dr. Wahidin, dkk., membentuk Boedi Oetomo yang tidak lain adalah sebagai bentuk cikal bakal kebulatan tekad dan nurani menentang nurani penindasan.
Tahun 1942 ketika menentang penindasan Jepang di Base Camp Asrama Prapatan 10 tak luput dari mahasiswa FK. Juga peristiwa yang tak kalah penting pada tanggal 16 Agustus 1945. Hari bersejarah tersebut dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok, dengan rapat dilaksanakan di Ruang Praktikum Mikrobiologi, Cikini. Tujuannya tidak lain untuk mempercepat usaha proklamasi yang akhirnya berlangsung esok harinya.
Dunia medis dan kedokteran ternyata tidak sesempit daun kelor. Pengabdian serta peran serta profesi dokter begitu luas serta berpengaruh secara signifikan terhadap kemajuan bangsa. Buka mata, buka hati. Setiap kita memiliki peran yang besar bagi kemajuan bangsa.
Keep Blogging! Keep Black In News on my blog!
Sabtu, 21 Februari 2009
Pelampiasan Positif
PELAMPIASAN POSITIFMelihat acara Black In News di televisi, pasti ada berita tentang Autoblackthrough. Sebuah ajang modifikasi mobil terbesar yang ada di Indonesia. Ajang yang banyak diikuti para modifikator Indonesia.
Saya pernah berkomentar yang intinya kurang mendukung bagi mereka penggila modifikasi. "Adalah hal yang buang-buang duit, mending duitnya untuk yang lain." Itu komentar saya waktu dulu. Namun, pikiran saya terlalu sempit waktu itu. Ini masalah hobi, selera dan kesenangan. Bagaimanapun, jika sudah menyentuh ranah hobi seseorang tidak bisa diganggu gugat. Seperti hobi memancing misalnya. Buat apa lama-lama memancing ikan, kenapa tidak langsung saja beli dan makan. Ini bukan masalah dapat ikan dan memakannya, tetapi seni memancing dan menunggu ikan hingga kena kail adalah inti dari memancing. Itu yang saya tahu dari beberapa orang yang hobi mancing. Bahkan untuk sebuah hobi bisa mengeluarkan kocek hingga berpuluh-puluh juta.
Jika itu bisa membuat senang dan terpenuhi hasrat akan hobinya dan mampu secara finansial, its never mind. Selama itu masih positif dan memberikan manfaat dan prestise, seperti mengikuti Djarum Black Motodify bagi modifikator motor dan Autoblackthrough bagi modifikator mobil adalah pilihan yang benar daripada budget yang digunakan untuk hal yang negatif.
Jumat, 20 Februari 2009
Budaya Baca
MENYIKAPI MINIMNYA BUDAYA BACABerbicara mengenai Sumber Daya Manusia (SDM), parameter yang bisa mengukur tinggi rendahnya hal yang satu ini bisa kita tengok dari sektor pendidikan. Pendidikan yang mempunyai sistem yang handal dan proporsional memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan SDM.
Selain pendidikan, ternyata faktor yang tidak kalah penting adalah mengenai budaya baca. Hal yang satu ini tidak bisa kita abaikan begitu saja. Karena, dengan membaca artinya memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu.
Membaca membuat sesorang menjadi tahu akan sesuatu hal, mendapat banyak pengetahuan, banyak referensi, dan selangkah lebih maju. Satu hal lagi, mungkin akan sangat banyak orang yang mengikuti Blackinnovationawards. Karena, membaca juga menjadi jalan datangnya inspirasi dan kreatifitas.
Buku merupakan salah satu cara untuk bisa mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan membaca buku, kita menjadi lebih tahu akan sesuatu hal. Mengutip perkataan duta baca Indonesia, Tantowi Yahya, bahwasannya, orang yang tidak pernah baca buku dekat dengan ketidaktahuan. Orang yang tidak banyak tahu dekat dengan kebodohan. Dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan.
Maka tidak heran, jika banyaknya kemiskinan di suatu negara salah satu penyebab yang paling fundamental adalah lemahnya minat baca yang tindak lanjutnya adalah mempengaruhi kualitas SDM.
Budaya baca adalah yang menjadi jalan sukses bagi negara-negara maju sekarang. Black In News, di negara Amerika, Jepang, Korea, dan negara maju lainnya rata-rata membaca buku sehari sampai tiga buku. Maka tak heran bila di negara-negara tersebut selalu muncul berbagai kemajuan, keahlian, dan kreatifitas yang tinggi.
Sayangnya di negara kita tercinta, fakta yang ada dalam kehidupan masyarakat tidak menggambarkan minat baca yang tinggi. Berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja, bahkan dewasa pun tak luput dari minimnya terhadap budaya membaca.
Beberapa faktor bisa menggambarkan atas kondisi yang terjadi. Salah satunya kemajuan teknologi yang merebak dewasa ini membuat seseorang malas untuk sekedar membaca buku, koran atau jurnal-jurnal. Mereka lebih senang bermain PS, nonton sinteron dan tontonan lain yang tidak mendidik
Sebenarnya faktor yang paling berpengaruh adalah budaya dari masyarakat itu sendiri. Tidak bermaksud menyalahkan. Lingkungan terdekat dalam hal ini keluarga misalnya, masih banyak orang tua tidak memberikan contoh membudayakan membaca kepada anak-anaknya.
Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu. Anak-anak terbiasa didongengi secara lisan. Sehingga tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis serta tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan.
Beberapa solusi setidaknya sedikit banyak bisa mengubah minimnya minat baca. Salah satunya merubah kebiasaan dan menjauhi rasa enggan untuk membuka sebuah buku untuk dibaca.
Hal yang lebih penting dari semua itu adalah kesadaran akan pentingnya buku sebagai kebutuhan. Dengan menganggap buku sebagai barang yang sangat bermanfaat dan memberikan sesuatu yang berarti bagi kehidupan. Seseorang pasti akan berkorban apapun demi terpenuhi kebutuhannya.
Kamis, 19 Februari 2009
Ajang Bercermin
Tidak ada habisnya bila mengulas pemilu 2009. Banyak hal yang bisa dibicarakan, diperdebatkan, dikupas, dan dianalisis segala seluk beluknya. Momen tepat bagi para pengamat politik, dosen dan mahasiswa ilmu politik untuk melihat pemilu sebagai referensi dan bahan kajian yang nyata.
Pesta demokrasi, ungkapan yang akrab dengan pemilu. Sebuah pesta? Apakah bisa dikatakan pesta jika kondisi bangsa saat ini belum bisa dikatakan sejahtera? Apakah pantas bagi kita masih tetap berpesta? Tepatnya, momen pemilu mesti kita anggap sebagai ajang koreksi diri atau bercermin terutama para politisi yang berkompetisi di panggung perpolitikan.
Sudah bukan Black In News yang baru lagi bagi kita semua, indikasi akan banyaknya masyarakat yang akan golput alias tidak memilih atau tidak menggunakan hak pilihnya. Bukan tanpa alasan, karena mereka sudah muak, bosan, antipati, dan kecewa dengan tingkah laku dan kinerja anggota dewan di senayan sana empat tahun terakhir.
Bagaimana tidak, fakta berbicara banyak kebobrokan merajalela di kursi dewan seperti korupsi, suap, skandal seks, narkoba, dan perbuatan hina lainnya yang dilakukan anggota dewan. Ironisnya, mereka semua adalah yang dulu menjanjikan angin surga dan janji-janji manis saat kampanye pemilu 2004. Adalah wajar dan memang sangat wajar bila masyarakat tidak terpengaruh dengan janji-janji palsu para caleg saat ini. Mereka merasa dikhianati dan dibohongi. Rakyat hanya alat untuk mendapat sebuah kursi.
Rakyat Indonesia semakin kreatif dan cerdas. Kreatif terbukti dengan diadakannya Blackinnovationawards sebagai apresiasi bagi insan yang kreatif. Cerdas tebukti dengan mereka tidak lagi gampang dibohongi. Sekarang zamannya informasi. Segala informasi berkenaan dengan apapun, termasuk background para politisi bisa diketahui. Seiring dengan globalisasi, masyarakat pun semakin melek dan cerdas dalam bersikap.
Alangkah baiknya jika pemilu ini dijadikan benar-benar suatu masa di mana seluruh elemen masyarakat terutama pemerintah dan yang mau lagi jadi pemerintah untuk evaluasi diri. Evaluasi diri dan berkaca pada diri sendiri. Niatan apakah gerangan? Apakah atas nama rakyat? Mensejahterakan rakyat? Syukur-syukur seperti itu. Alangkah sialnya nasib bangsa, jika mereka (para caleg dan capres) hanya memikirkan kepentingan kelompok bahkan pribadi demi sesuatu yang bernama kekuasaan. Kapan bisa maju bangsa ini jika masih seperti itu?
Langganan:
Postingan (Atom)