Jumat, 21 Desember 2007

Resensi Film Sejarah

"LEBIH BAIK DIASINGKAN DARIPADA MENYERAH PADA KEMUNAFIKAN."SOE HOK GIE
Gie (2005) adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza. Gie mengisahkan seorang tokoh bernama Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam.

Film ini diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya Gie sendiri, namun ditambahkan beberapa tokoh fiktif agar ceritanya lebih dramatis. Menurut Riri Riza, hingga Desember 2005, 350.000 orang telah menonton film ini. Pada Festival Film Indonesia 2005, Gie memenangkan tiga penghargaan, masing-masing dalam kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Nicholas Saputra), dan Penata Sinematografi Terbaik (Yudi Datau).
Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang tidak begitu kaya dan berdomisili di Jakarta. Sejak remaja, Hok Gie sudah mengembangkan minat terhadap konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Semangat pejuangnya, setiakawannya, dan hatinya yang dipenuhi kepedulian sejati akan orang lain dan tanah airnya membaur di dalam diri Hok Gie kecil dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Hok Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya "Untuk apa semua perlawanan ini?". Pertanyaan ini dengan kalem dijawab Soe dengan penjelasan akan kesadarannya bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Semboyan Soe Hok Gie yang mengesankan berbunyi, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."

Masa remaja dan kuliah Hok Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI. Soe dan teman-temannya bersikeras bahwa mereka tidak memihak golongan manapun. Meskipun Hok Gie menghormati Sukarno sebagai founding father negara Indonesia, Hok Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak. Hok Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Soe juga sangat membenci bagaimana banyak mahasiswa berkedudukan senat janji-janji manisnya hanya omong kosong belaka yang mengedoki usaha mereka memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi. Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Hok Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Soe untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh-musuh Hok Gie bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.

Tan Tjin Han, teman kecil Hok Gie, sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Soe Hok Gie, namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam usia berkepala dua, kedua lelaki dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Hok Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Hok Gie mendesak Tan untuk menanggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut.

Hok Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta. Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai.

Kamis, 13 Desember 2007

Gumilar Say

RECTOR SPEECH
As one of the oldest universities in Indonesia, the University of Indonesia (UI) has pride its reputation which is established by its outstanding learning in 12 faculties, one graduate school and qualified graduates who have been very influential in the country’s history. Since its establishment in 1950, UI has continued to grow and flourish. Today UI remains a dynamic centre of excellence for research and learning, attracting more than 30.000 Indonesian and international students. Most international students come from Korea, Japan, China, ASEAN countries, Taiwan, Turkey, India, Canada, USA, Australia and other countries. As one of Indonesia’s leading universities, students are at the centre of the latest knowledge and method, taught by staff at the forefront of their disciplines.

As part of international community, UI has actively cooperated with other international universities and instititutions in the areas of teaching, research, consultations and exchange of students and staff. It also has a strong link with embassies and industry.

This prospectus (which is also available in electronic form at http://www.ui.edu) describes the range of taught programmes offered at UI and the areas of research which we can offer supervision, admission procedures, and living in UI and Indonesia. It also provides contact details and the address of the faculty’s website if you need further information or would like to discuss your study with a member or staff.

I hope you will find the programme you are looking for, be it degree programmes or short courses. If you would like to apply, please refer to the application procedures section which explains the application in more detail. If you need more information, please contact our International Office staff. We look forward to hearing from you. Sampai jumpa.


Prof.Dr. der Soz. Drs Gumilar Rusliwa Somantri
Rector,
University of Indonesia

Taken from: http://www.ui.edu/

Catatan Seorang Ketua MPK

AKHIR DARI SEBUAH PENGABDIAN
"Akhirnya berakhir sudah masa jabatanku dalam dunia organisasi. Dunia yang telah memberikan kontribusi yang besar terhadap kepribadian dan skill diri ini." Gie








Liputan acara serah terima jabatan MPK SMA Al Muttaqin. Kamis, tanggal 7 Desember 2007 di Aula SMA Al Muttaqin.


Pidato Gie saat sertijab MPK



Penandatanganan serah terima jabatan Ketua MPK



Serah terima jabatan dari Ketua MPK lama (Gie) ke Ketua MPK baru (Uphenk)



Pemberian cendera mata dari Kepala SMA Al Muttaqin Bapak Dedi Sugandi, S.Pd



Pemberian cendera mata dari siswa diwakili oleh adik kelas Muhammad Haikal






Thanks to all my friend in MPK 2006/2007

Tak terasa waktu telah mengantarkan kita pada sebuah titik akhir pengabdian. Satu kali puasa dan satu kali lebaran telah kita lewati bersama. Banyak hal yang telah kita lewati. Baik itu suka maupun duka. Setahun itu pula kita telah mengukir sejarah bagi SMA Al Muttaqin. Meskipun kita tidak mengukir sejarah yang tidak begitu besar, akan tetapi itulah perjuanagan terbaik kita bagi almamater tercinta. Banyak pengalaman yang telah kita dapatkan di sini. Semoga hal tersebut menjadi bekal bagi kita menyongsong masa depan yang lebih berat dan kompleks nantinya. Terima kasih teman, kalian memang tim yang terbaik yang pernah Gie punya. Kalian bekerja dengan penuh proporsional. Totalitas kalian dalam bekekerja layak dapatkan acungan jempol. Bangga punya anggota seperti kalian. Mohon maaf apabila ketika Gie jadi leader kalian banyak ucapan, perbuatan yang kurang berkenan di hati. Mohon maaf yah! Perjuangan kita belum berakhir teman. Masih panjang dan berliku. Semangat dan fighting!!!ALLAHU AKBAR!!!!!!!ALLAHU AKBAR!!!!






Rabu, 05 Desember 2007

Tahukah Anda.....?????

DO YOU KNOW?????
****Menurut beberapa survei, yahoo
adalah website yang paling sering dikunjungi diseantero Internet. Anda mungkin sudah tahu tentang hal itu, tetapi masih ada hal yang tersisa. Tahukah anda apa arti kata “Yahoo”?

Yahoo, ternyata singkatan. Menurut informasi resmi dari perusahaan tersebut, Yahoo adalah singkatan dari “Yet Hierarchical Officious Oracle” yang berarti “Suatu tempat bertanya segala tahu yang disusun bertingkat dan hirarkis”.

Memang susah menjelaskannya, baik dalam bahasa Indonesia ataupun b. Inggris




****Berapa lamakah waktu yang diperlukan untuk menghitung dari 1 sampai dengan 1 triliyun (1.000.000.000.000)?

Sekiranya tiap 1 satuan diperlukan waktu 1 detik, maka diperlukan waktu 1 triliun detik, atau sama dengan 16,67 milyar menit, atau sama dengan 277,78 juta jam, atau sama dengan 11,5 juta hari, atau sama dengan 31.709,19 tahun (tiga puluh satu ribu tujuh ratus sembilan puluh tahun).

Jadi Anda bisa membayangkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghitung semua uang yang dikorupsi oleh para pejabat dan konglomerat Indonesia, yang tingkat korupsinya merupakan yang tertinggi di dunia.

Minggu, 02 Desember 2007

Berkenalan dengan Jagoan Matematika

JAGOAN MATEMATIK ASAL TASIK

Ketika Gie sedang browsing di internet tepatnya di google (biasa lah kalo search di internet kalo gak yahoo ya google). Gie iseng-iseng nulis nama sendiri Yogi Achmad Fajar. Trus klik search. Muncul deh hasil pencarian. Alhamdulillah nama Gie ada juga di internet. Yah karena ada blog Gie jadi otomatis kalo di search engine ketemu.

Tapi ada nama Yogi lain yang menjadi perhatian Gie di hasil pencarian itu. Namanya persis seperti Gie hanya berbeda nama belakangnya saja, Yogi Ahmad Erlangga. Bener kan hanya beda belakangnya saja. Kalo Gie Fajar kalo satu lagi Erlangga. Trus, Gie baca deh artikel tentang orang yang satu ini. Yang bikin bangga ternyata Dia tuh ahli matematika yang sudah menyelesaikan kuliah S3 di Belanda. Lebih membanggakan lagi Dia sama-sama orang Tasik (sekampung nih). Gie jadi bangga punya nama Yogi. Gie jadi termotivasi karena nama Yogi juga ada yang bisa berprestasi. Berikut tulisan Gie mengenai Yogi Ahmad Erlangga. (Yogi nyeritain Yogi. He,,,,he,,,,)

Bicara matematika, kebanyakan dari kita memandang bahwa pelajaran yang satu ini merupakan momok khususnya bagi para pelajar. Hal ini karena matematika identik dengan soal-soal yang sulit. Akan tetapi hal itu tidak ada dalam kamus Yogi Ahmad Erlangga. Mahasiswa asal Indonesia yang telah meyelesaikan studi doktornya di Universitas Teknologi Delft, Belanda. Yogi yang lahir di Tasikmalaya 33 tahun silam ini keranjingan matematika.

Bagaimana tidak, Yogi yang telah berhasil memecahkan rumus matematika berdasarkan “Persamaan Helmholtz”. Keberhasilan Yogi memecahkan rumus Persamaan Helmholtz adalah tonggak penting bagi ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi. Hasil temuannya dapat diterapkan dalam sejumlah bidang. Salah satunya, bisa digunakan untuk mempercepat pencarian sumber-sumber minyak bumi.

Ia mampu memecahkan Persamaan Helmholtz yang rumit, setelah mendalaminya selama empat tahun. Dengan riset yang menghabiskan dana hampir Rp. 6 milyar itu, Ia berhasil mengembangkan metode perhitungan lebih cepat. Jika berbicara mengenai perjalanan jagoan matematik asal Tasik ini, memang bisa dibilang mulus. Diawali dengan studi S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia dikenal brilyan sejak masih kuliah di ITB. Yogi lulus cum laude sarjana teknik penerbangan.

Ketika menempuh program master di Universitas Delft pun, Ia lulus cum laude. Sayang, saat menempuh ujian dokor, Ia tak bisa mengukir prestasi yang sama. Yogi lulus doktor matematika terapan dengan predikat sangat memuaskan. Toh, itu tidak membuatnya kecewa.
Yang pasti, Yogi kini mendapat banyak pinangan dari perusahaan dalam dan luar negeri. Antara lain perusahaan minyak Shell International. Lembaga Aplikasi Penelitian dan Industri ITB pun memintanya untuk bekerja sama.

Sebuah perjalanan anak bangsa yang berprestasi di kancah Internasional. Yogi Ahmad Erlangga yang merupakan anak daerah, bisa mengukir prestasi yang sangat membanggakan. Yogi yang mempunyai cita-cita menjadi seorang peneliti ini, telah memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia ilmu pengetahuan.

Minggu, 25 November 2007

LPJ MPK

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
MAJELIS PERMUSYAWARATAN KELAS (MPK)
SMA AL MUTTAQIN
MASA JIHAD 2006-2007

PANDANGAN UMUM
KETUA MPK SMA AL MUTTAQIN TASIKMALAYA
MASA JIHAD 2006-2007
Bissmilah hirahmanirrahim...
Assalamualaikum Wr. Wb.!
Yang terhormat Kepala SMA Al Muttaqin…
Yang terhormat Para Wakasek SMA Al Muttaqin…
Yang terhormat Para Guru SMA Al Muttaqin…
Yang terhormat Mantan Presiden OSIS SMA Al Muttaqin masa jihad 2006-2007 beserta seluruh jajarannya…
Yang terhormat perwakilan eskul SMA Al Muttaqin…
Yang terhormat seluruh siswa dan siswi SMA Al Muttaqin…
Yang Saya cintai pengurus MPK masa jihad 2006-2007

Alhamdulillahirobbila’alamin, puji dan syukur Kita limpahkan kepada Allah SWT. Dzat yang Maha Dasyat. Allah yang tidak pernah lelah mengurus mahluknya, yang tidak pernah tidur, tidak beranak, dan tidak juga diperanakkan. Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang selalu memberikan kasih sayang terhadap umatnya. Jadikanlah Kami hamba yang senantiasa bersyukur Ya Allah.

Shalawat serta salam tercurah limpah kepada kekasih kita semua. Sosok pemimpin yang penuh dengan keteladanan. Sosok seorang sahabat yang bersahabat. Sosok seseorang Rasul yang selalu memikirkan umatnya. Uswah Hasanah Habibana Wanabiyana Muhammad Saw. Kepada para keluarganya, sahabatnya, serta kita sebagai umatnya yang selalu dicintainya.

Hari demi hari, minggu demi minngu, dan bulan demi bulan. Tak terasa waktu mengantarkan kita pada suatu titik akhir dalam suatu perjalanan. Perjalananan tentang sebuah cita, harapan dan cipta dari sebuah organisasi siswa yang bernama Majelis Permusyawaratan Siswa yang akrab disebut MPK. Selama satu kali puasa serta satu kali lebaran ini banyak hal yang telah dilewati. Baik itu suka maupun duka. Hal tersebut tentunya telah memberikan kesan yang mendalam bagi setiap pengurus MPK. Dalam moment yang bersejarah ini, izinkanlah Kami menyampaikan laporan pertanggungjawaban selama satu tahun ke belakang. Hal ini merupakan suatu keniscayaan bagi Kami untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah diperbuat di MPK SMA Al Muttaqin kepada seluruh siswa dan siswi SMA Al Muttaqin dan tentunya terhadap Sang Khaliq Allah SWT.

GAMBARAN UMUM
MPK SMA AL MUTTAQIN 2006-2007
ANTARA SMA AL MUTTAQIN DAN KINERJA
Sebelumnya, alangkah baiknya kita menengok terlebih dahulu sekolah yang menaungi organisasi siswa ini yaitu SMA Al Muttaqin. SMA Al Muttaqin merupakan sebuah fenomena. Sebuah sekolah yang memiliki motto creating a culture of excellene. Program beserta sistem yang diterapkan sangat concern terhadap nilai-nilai keislaman serta mempunyai pendekatan yang mengasah anak didiknya untuk melejitkan potensi dan bakat masing-masing yang dimiliki. Tidak hanya hard skill yang dikembangkan akan tetapi soft skill yang kadang dilupakan untuk diasah.

Para staf pengajar SMA Al Muttaqin sebagian besar berlatar belakang dari universitas terkemuka, seperti ITB, IPB, UNPAD, UNEJ, UIN, dan UNSIL. Serta dahulunya aktif sebagai seorang aktifis kampus ketika kuliahnya. Seperti aktifis dakwah kampus, BEM, senat mahasiswa, himpunan mahasiswa, BEM Fakultas, pers mahasiswa, dll. Tak heran jika semua itu berimbas kepada konstalasi pendidikan di SMA Al Muttaqin. Banyak ide-ide segar yang senantiasa muncul demi kemajuan sekolah. Ditunjang dengan usia guru-guru yang relatif muda membuat hubungan guru dengan siswa terasa layaknya seorang sahabat.

Sebagai sekolah yang dianggap besar. SMA Al Muttaqin telah mengukir berbagai prestasi. Meskipun umurnya baru seumur jagung dan jika dianalogikan seorang anak yang masih menyusui dan sedang belajar berbicara. Akan tetapi SMA Al Muttaqin seperti bayi ajaib yang bisa berjalan bahkan berlari. Peran MPK di sini bisa dibilang sebagai salah satu perangkat dalam rangka memberikan masukan kepada pihak sekolah. Masukan tersebut bisa berupa saran, kritik, dan ide atau gagasan yang segar bagi kemajuan sekolah.

Majelis Permusyawaran Kelas atau yang akrab disebut MPK adalah sebuah organisasi siswa yang formal di SMA Al Muttaqin. Merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan perwakilan dari setiap kelas. Mempunyai salah satu tugas sebagai wadah aspirasi seluruh siswa. Serta memonitoring kinerja OSIS masa jihad 2006-2007.

VISI DAN MISI
MPK SMA Al Muttaqin masa jihad 2006-2007 dilantik pada tanggal 25 November 2006 di aula SMA Al Muttaqin. Pelantikan dilaksanakan pada saat rapat komite sekolah dan dilantik oleh Ketua Komite Sekolah yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Dedih. Serta dihadiri oleh Kepala dan guru-guru SMA Al Muttaqin serta seluruh orang tua siswa.

Visi dari MPK itu sendiri yaitu:
"Menjadi wadah aspirasi siswa yang profesional dan menjadi organisasi yang mampu berperan aktif memajukan SMA Al Muttaqin."
Adapun Misi dari MPK yaitu:
1. Menjalin kerja sama dengan seluruh siswa dan siswi SMA Al Muttaqin.
2. Menjalin hubungan yang baik dengan pihak sekolah.
3. Membangun kekuatan kekeluargaan yang baik dengan OSIS dan pihak sekolah.
4. Menyuarakan aspirasi siswa SMA Al Muttaqin.
5. Mewujudkan harmonisasi hubungan kelembagaan antar OSIS, eskul, dan pihak sekolah.

KEPENGURUASAN
Kepengurusan MPK ditentukan dengan pemilu MPK yang diikuti oleh seluruh siswa dan siswi SMA Al Muttaqin. Pengurus MPK berjumlah 9 orang dengan rincian:
Ketua : Yogi Achmad Fajar (XII. Social)
Wakil Ketua : Lucky Taufik Ramadhan (XI. Exact)
Sekretaris : Alfiah Aulia (XI. Exact)
Bendahara : Azka Annisa (XI. Exact)
Anggota : - Hanna Mustari (XII. Social)
- Cici Pratiwi (XI. Exact)
- Fariz Fadhillah (XI. Social)
- Wini Anggraeni (XI. Ecaxt)
- Nur Isya (XI. Social)

Pijakan Pertama
Langkah awal kinerja MPK masa jihad 2006-2007 adalah merumuskan program kerja bersama OSIS. MPK SMA Al Muttaqin bersama OSIS mengadakan rapat kerja (raker) yang dilaksanakan tanggal 26-28 Desember 2006 yang bertempat di Cianjur, Jawa Barat di rumah saudara Gilang dan di vila puncak. Di sana MPK merumuskan beberapa program dan ikut serta dalam perumusan program kerja OSIS masa jihad 2006-2007.

Program kerja MPK SMA Al Muttaqin terbilang cukup sedikit, akan tetapi tidak mengendorkan semangat dari setiap pengurus MPK untuk tetap loyal dalam menjalankan tugas. Program MPK sendiri lebih menitikberatkan terhadap menyuarakan aspirasi siswa SMA Al Muttaqin. Ditambah juga monitoring kinerja OSIS SMA Al Muttaqin.

Program kerja MPK masa jihad 2006-2007:
1. Mengadakan rapat triwulanan bersama pihak sekolah dalam rangka menyuarakan aspirasi siswa dan evaluasi program dan sistem sekolah.
2. Mengadakan rapat rutin kepengurusan MPK membahas konstalasi dunia pendidikan di SMA Al Muttaqin dan kinerja OSIS masa jihad 2006-2007.
3. Mengontrol dan mengevaluasi kinerja OSIS SMA Al Muttaqin masa jihad 2006-2007.
4. Ikut serta membantu OSIS dalam hal perwujudan program kerja OSIS seperti ASC, LAC, MOPD, LDKS dan program kerja yang lainnya yang dianggap perlu dibantu.
5. Mengadakan sidang umum MPK.
6. Menerima LPJ OSIS masa jihad 2006-2007.
7. Mendemisionerkan OSIS masa jihad 2006-2007.

Realisasi
Sesuai dengan program kerja yang disebutkan di atas. Maka perlu diadakannya realisasi kinerja di lapangan. MPK mewujudkan program kerja ke dalam realisasi kinerja di lapangan dengan rincian sebagai berikut.
1. Pada tanggal 6 Januari 2007 pengurus MPK melakukan rapat internal kali pertama dengan agenda rapat membahas soal program kerja OSIS masa jihad 2006-2007. Sesaat setelah melaksanakan rapat kerja di puncak, Jawa Barat.
2. Pada tanggal 13 Januari 2007 diadakan rapat MPK dengan OSIS. MPK mengundang pengurus OSIS yang terdiri dari Presiden dan seluruh mentri dari setiap departement untuk membahas dan meminta penjelasan mengenai program kerja yang telah dirancang dan dibuat saat rapat kerja di puncak, Jawa Barat. Serta diadakan tanya jawab dari MPK kepada pengurus OSIS atas program yang dibuat.
3. Menindaklanjuti dari rapat tanggal 13 Januari 2007. Maka keesokan harinya 14 Januari 2007 kembali, MPK mengundang OSIS untuk menghadiri rapat dengan agenda rapat pengesahan program kerja OSIS masa jihad 2006-2007. Serta dikeluarkannya SK. Ketua MPK Nomor: 001/SK/A/MPK/01/07 tentang Program kerja OSIS SMA Al Muttaqin masa jihad 2006-2007.
4. 17 Januari 2007 MPK kembali mengadakan rapat internal yang dihadiri oleh seluruh pengurus MPK. Dengan agenda pembuatan strukutur MPK serta membahas pengadministrasian MPK.
5. Persiapan untuk mengadakan rapat dengan pihak sekolah, MPK merapatkan barisan dengan mengadakan rapat persiapan. Maka pada tanggal 7 Februari 2007 MPK mengdakan rapat persiapan. Membahas apa yang akan disampaikan kepada pihak sekolah
6. Tepatnya tanggal 17 Februari 2007. Untuk kali pertama MPK rapat bersama dengan pihak sekolah. Materi yang dibahas adalah tentang sekolah dengan tujuan menyuarakan aspirasi siswa dan mengetahui program kerja yang sedang diolah sekoalah. Rapat dihadiri oleh seluruh pengurus MPK dan dihadiri oleh Bapak Ilam Maolani, M.Pd perwakilan dari pimpinan sekolah dan Bapak Asep Solihin, S.T dari perwakilan guru. Dengan keputusan dan hasil rapat pihak sekolah menerima aspirasi dari siswa yang diwakili MPK, penyampaian program sekolah, serta saran dan kritik terhadap sekolah.
7. Ikut serta membantu OSIS dalam kepanitiaan ASC 3 (Al Muttaqin Science Challenge) se Jawa Barat pada tanggal 13-15 Maret 2007
8. 20 Maret 2007 rapat internal MPK persiapan rapat dengan pihak sekolah. Menetapkan tanggal pertemuan dengan pihak sekolah.
9. Untuk kali kedua MPK berkesempatan mengadakan rapat dengan pihak sekolah yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak Ilam Maolani, M.Pd selaku wakasek kurikulum, Bapak In in Kadarsolihin, S.S selaku wakasek kesiswaan, dan Ibu Diana Arianti, S.Pd selaku wakasek Humas dan Sarana. Dilaksanakan tanggal 19 Mei 2007. Jalannya rapat mendiskusikan masalah-masalah baru dan menanyakan realisasi dari aspirasi siswa yang disampaikan saat rapat terdahulu. Secara garis besar rapat membicarakan mengenai; kurangnya fasilitas sekolah (loker), mess, kedisiplinan, permintaan adanya guru BP, bea siswa, PSB (Penerimaan Siswa Baru) yang selektif, sistem sekolah, dll. Alhamdulillah pihak sekolah mendengarkan aspirasi dari MPK dengan memenuhi permintaan dari MPK meskipun tidak semuanya yang diinginkan dipenuhi.
10. Membantu OSIS dalam acara sarasehan pelajar.
11. Dalam rangka meninjau kinerja OSIS perlu diadakannya rapat peninjaun kinerja OSIS. Serta ditambah dengan pembahasan persiapan MOPD siswa baru angkatan V tahun ajaran 2007-2008. Rapat tersebut dilaksanakan pada tanggal 26 Mei 2007. Menghasilkan keputusan bahwa Ketua MOPD 2007 yaitu saudara Ilham Gemilang yang notabene adalah Menteri Dep. Litbang.
12. Bekerjasama dengan OSIS dalam pelaksanaan MOPD 2007.
13. Bekerjasama dengan OSIS dalam pelaksanaan LDKS 2007.
14. Ikut serta dalam pelaksanaan kepanitiaan LAC 3.
15. Mengadakan sidang umum MPK dalam rangka menyelenggaraakan pemilihan kepengurusan KPK (Komisi Pemilihan Kampus).
16. Menerima LPJ OSIS masa jihad 2006-2007.
17. Mendemisionerkan OSIS masa jihad 2006-2007.
Evaluasi Kegiatan
Kinerja MPK selama kurun waktu satu tahun berdasarkan visi dan misinya serta programn kerja yang dibuat alhamdulillah telah berusaha memberikan yang terbaik dari pengurus MPK demi kemajuan SMA Al Muttaqin seperti yang dilansir di Visi MPK. Realisasi misi pun berbanding lurus dengan realisasi kegiatan dan program kerja yang mendukung terhadap misi tersebut. Hal tersebut tak luput dari dukungan OSIS, dan pihak sekolah sendiri yang bahu membahu dengan kesadaran bersama untuk maju bersama menggapai ridho Allah SWT. Patut disyukuri pula bahwa semua program yang direncanakan bisa terlaksana dan tidak ada program yang tidak terlaksana selama MPK menjalankan tugasnya. Semua terlaksana sesuai dengan planing dan ketentuan yang telah disepakati.

Kendala
Kami sadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Begitu pun dengan kami. Ada pula berbagai kendala yang kami hadapi dalam melaksanakan amanat ini. Seperti kurangnya aspirasi dari siswa sehingga kami mesti turun ke lapangan untuk mencari tahu aspirasi apa yang dimiliki siswa. Kemudian, aspirasi siswa yang kami sampaikan terkadang belum bisa direalisasikan. Itulah beberapa kendala yang kami alami ketika menjadi pengurus MPK.

Rekomendasi
Berdasarkan pengalaman MPK 2006-2007 dalam mengarungi perjalanan keorganisasian. Maka kami memiliki rekomendasi untuk kepengurusan MPK yang akan datang:
1. Bangun komunikasi internal dan komunikasi eksternal yang lebih baik.
2. Gunakanlah konsep thinking out of the box dalam setiap ide atau gagasan untuk memajukan MPK dan SMA Al Muttaqin.
3. Bangun komunikasi yang lebih intens dengan seluruh siswa dan guru di SMA Al Muttaqin.
4. Lebih ditingkatkan lagi semangat kekeluargaan dan persaudaraan antar sesama pengurus.
5. Untuk pembayaran kas disarankan untuk tepat dalam hal pembayarannya.

Penutup
Alhamdulillah akhirnya kami tengah berada di ujung kepengurusan. Selanjutanya, kami sadari tak ada gading yang tak retak. Dalam kesempatan ini, MPK masa jihad 2006-2007 meminta maaf atas kekhilafan dan kesalahan.
Terima kasih kami haturkan kepada pihak sekolah yang senantiasa mensuport, membimbing, dan menolong kami dalam setiap kesulitan
Teima kasih teruntuk Kepala SMA AMQ, Bapak Dedi Sugandi yang telah mau menerima aspirasi dari kami.
Terima kasih teruntuk Para Wakasek
Terima kasih teruntuk Pembina kesiswaan Bapak In in Kadarsolihin yang telah membimbing kami dan menularkan ide-ide cerdasnya kepada kami.
Terima kasih teruntuk semua guru di SMA Al Muttaqin.
Terima kasih teruntuk Presiden OSIS Agus Nurul Komarudin beserta seluruh jajarannya yang menjadi partner yang solid dan proporsional.
Terima kasih teruntuk seluruh siswa dan siswi SMA Al Muttaqin yang tlah sudi berbagi cerita dan aspirasinya.
Terima kasih teruntuk seluruh pengurus MPK yang kami cintai dan kami banggakan.
Dan terima kasih pula untuk semua pihak yang tidak bisa kami sebutykan satu per satu.
Semoga dalam setahun kinerja kami bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi kemashlahatan umat. Amin…Berat rasanya mengucapkan ini, kepada seluruh para pegiat dan aktivis kampus SMA Al Muttaqin. Saya mohon pamit dari dunia organisasi dan kepemimpinan ini. Dunia di mana telah memberikan kontribusi yang besar bagi kepribadian, dan skill saya dalam menjalani hidup di masyarakat kelak. Saya bersyukur bisa bersekolah di SMA Al Muttaqin ini. Saya ijin pamit dan tiadalah maksud kami melakukan semua ini, melainkan untuk kebaikan semua….
Untuk siswa dan siswi SMA Al Muttaqin….
Untuk almamaterku tercinta dan tersayang SMA Al Muttaqin "full day school and moving class system"
Wassalamualaikum wr. wb.
Tasikmalaya, 26 Nopember 2007
Ketua MPK SMA Al Muttaqin



Yogi Achmad Fajar

Kamis, 22 November 2007

An Essay About Primordialisme

BELENGGU BANGSA YANG BERNAMA PRIMORDIALISME FANATIK
Sebuah pengalaman di sekolah penulis ketika akan diadakannya pelatihan kepemimpinan atau yang akrab disebut Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). Kebetulan penulis menjabat sebagai Ketua MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) di sekolah. Penulis bekerja sama dengan Ketua OSIS untuk mengadakan pelatihan tersebut. Seperti diketahui, LDKS ini adalah sarana dan syarat bagi para calon pengurus OSIS dan MPK. Jalan cerita, kami pun membentuk panitia dan menetapkan persyaratan-persyaratan bagi para peserta.

Ada hal yang tidak kami kira sebelumnya, sesuatu hal yang semestinya tidak harus terjadi. Seluruh siswa kelas XI memprotes kepada kami kelas XII yang notabene adalah panitia LDKS. Protes tersebut dilatarbelakangi atas kebijakan panitia LDKS yang menyatukan kelas X dan XI dalam pelatihan tersebut. Mereka beralasan tidak seharusnya kelas X disatukan dengan kelas XI. Mereka merasa tidak pantas dan gengsi jika mesti berbaur dengan adik kelasnya. Pun mereka berasumsi telah mendapat pengalaman dari masa jabatan OSIS dan MPK sebelumnya. Mereka merasa tidak perlu mengikuti lagi LDKS dengan adik kelasnya.

Penulis dan teman-teman panitia merasa kaget akan protes yang dilayangkan. Sungguh hal tersebut di luar dugaan kami selaku panita. Padahal niat kami selaku panitia adalah baik, untuk menjalin rasa kebersamaan antar calon pengurus OSIS dan MPK nantinya. Dengan tidak memandang kelas, senior atau junior, berpengalaman atau belum. Semua setting tersebut tidak lain untuk membentuk jiwa kebersamaan dan kekompakkan.

Melihat kejadian tersebut, penulis bisa menyimpulkan satu hal. Bahwa ini adalah salah satu bentuk dari primordialisme. Bisa dibilang ini merupakan bentuk primordialisme yang paling kecil. Artinya ruang lingkupnya adalah kecil (antar kelas). Membangga-banggakan dan mengangung-agungkan kelasnya seperti yang dilakukan kelas XI.

Kelas XI rasanya telah salah menempatkan rasa cinta terhadap kelasnya. Sense of belonging mereka terlalu berlebihan sehingga mereka terlalu fanatik terhadap kelasnya. Dilihat dari kaca mata penulis, mereka serasa membangga-banggakan dan mengagung-agungkan akan jati diri ke-XI-nya. Sampai-sampai gengsi dan tidak mau berbaur bersama adik kelasnya untuk mengikuti pelatihan.

Berkaca dari peristiwa tersebut, penulis tergerak untuk mengkaji mengenai salah satu faham yang hadir di tengah masyarakat Indonesia ini. Faham yang bisa diartikan kurang lebih suatu rasa di mana seseorang cinta dan bangga terhadap daerah kelahiran atau asalnya. Dengan kata lain semangat kedaerahan yang menjadi inti dari primordialisme ini.

Primordialisme muncul dalam diri setiap orang. Karena sangat manusiawi sekali dan tidak akan terlepas dari rasa tersebut. Primordialisme yang tinggi biasanya muncul kepada seseorang yang tengah melakukan suatu perantauan ke kota besar. Contohnya, seseorang merantau dari Sumatra ke Jakarta. Seseorang tersebut pastinya akan tetap memiliki rasa cinta terhadap daerahnya meskipun sudah berada di Jakarta. Salah satu faktornya adalah adanya semangat seperti ini, meskipun jauh-jauh dari desa, tetapi bisa menaklukkan ibu kota. Apalagi jika seseorang yang tengah merantau tersebut sukses dan berhasil di ibu kota. Primordialisme pun semakin tertanam dalam diri. Seakan menampik pribahasa kacang lupa akan kulitnya. Pastinya mereka tidak melupakan daerah kelahirannya. Bahkan akan semakin bangga dan ingin menunjukkan bahwa putra daerah pun bisa maju dan berhasil.

Ragam cara orang mengejawantahkan sikap dari primordialisme itu sendiri. Contoh nyata seperti halnya di kalangan mahasiswa. Apalagi jika berada di kampus yang terdiri dari banyak mahasiswa dari berbagai daerah. Penulis mengambil sample adanya himpunan-himpunan mahasiswa daerah. Ini mengindikasikan bahwasannya benar, semangat kedaerahan telah terpatri di dalam setiap mahasiswa yang berasal dari daerah.

Program kerjanya pun lebih fokus terhadap daerahnya. Berkaca kepada pengalaman penulis. OSIS sekolah penulis pernah diajak kerja sama oleh HIMALAYA Jakarta. Sebuah himpunan mahasiswa yang berakronim Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya. Himpunan yang beranggotakan mahasiswa asal Tasikmalaya yang sedang kuliah di Jakarta ini menggaet OSIS sekolah penulis mengadakan suatu acara. Inti dari acara itu sendiri tidak lain untuk membangun semangat pengabdian dan kecintaan terhadap daerah kelahiran. Sampai-sampai mengundang salah satu pejabat Indonesia yang berasal dari Tasikmalaya, yaitu Agum Gumelar.

Jika berbicara mengenai primordialisme. Memang bisa dibilang sesuatu yang mesti kita sikapi dengan penuh kehati-hatian dan kedewasaan. Karena, hal ini menyangkut soal egosentris dari latar belakang yang berbeda. Seperti yang dilansir sebelumnya, primordialisme hadir dalam diri setiap manusia. Primordialisme pastinya tertanam pada setiap orang dari berbagai daerah. Mereka tentunya sangat mencintai dan bangga akan daerahnya. Intinya, di Indonesia sedikit saja salah penempatan dari kebanggaan terhadap daerahnya bisa memicu sebuah konflik.

Republik Indonesia sendiri adalah sebuah negara yang memiliki masyarakat majemuk. Masyarakat yang menurut J.S. Furnivall (1967) adalah masyarakat yang terdiri dari atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam satu kesatuan politik. Indonesia sendiri dikategorikan masyarakat majemuk karena memiliki struktur yang beranekaragam. Hal ini secara horizontal ditandai dengan adanya keanekaragaman suku bangsa, agama, ras, dan antar golongan.

Konsekuensi dari prularisme yang berada dalam tatatan sosial masyarakat Indonesia tersebut jelas menimbulkan keinginan show up atau menonjolkan diri. Baik pemikiran, ide, ataupun kepentingan yang pada dasarnya mementingkan suatu komunitasnya sendiri (daerah). Jelas, dalam teori kenegaraan dan semangat nasionalisme ini merupakan signal yang kurang baik. Bagaimana suatu negara bisa maju, jika masyarakatnya hanya mementingkan daerahnya masing-masing.

Kembali, hal ini sangat memicu timbulnya adanya sebuah konflik. Konflik yang pastinya menimbulkan hal yang destruktif bagi persatuan dan kesatuan negara. Primordialisme yang berlebihan atau fanatik acap kali yang membuat tatanan persatuan terkikis. Terlalu mengagung-agungkan daerah/suku sehingga memandang daerah/suku lain rendah. Menganggap daerahnya lah yang paling baik. Bisa kita bayangkan jika setiap daerah menganut primordilisme secara fanatik. Orang Batak akan bangga dengan Bataknya, orang Jawa akan bangga dengan wong jowonya, orang Sunda akan bangga dengan sundanya, dst. Sampai-sampai melecehkan atau merendahkan suku yang lain. Jika itu terjadi, kapan Indonesia bisa maju? Sedangkan masyarakatnya sendiri sibuk dengan kepentingan-kepentingan pribadi daerahnya. Sampai-sampai mengesampingkan kepentingan bersama (negara).

Bisa kita bayangkan pula jika semangat fanatik dalam primordialisme muncul dalam pemilihan presiden. Misalnya, presiden terpilih adalah berasal dari Kalimantan. Maka orang non-Kalimantan tidak akan menerima presiden tersebut, karena bukan berasal dari daerahnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan menekan habis-habisan terhadap kinerja presiden dan bersikap radikal. Selalu menganggap salah dan salah, tidak ada benarnya dalam roda pemerintahan. Semua itu dilatarbelakangi karena tadi. Presiden tersebut bukan berasal dari daerahnya.

Primordialisme fanatik mengajak orang untuk bagaimana caranya agar daerahnya tetap eksis. Sebuah doktrin untuk mau tidak mau daerahnya yang mesti muncul dan terdepan. Ego yang memang sangat tidak baik bagi membina suatu persatuan bernegara. Bagaimana negara bisa sukses di mata dunia (eksternal), di internalnya pun belum sukses. Sibuk sikut sana, sikut sini. Padahal jika setiap daerah/suku adalah keluarga.

Hal ini tentunya bisa menjadi bumbu perpecahan bagi suatu negara jika setiap elemen masyarakat tidak bersikap dewasa dan proporsional. Maka tidak heran, jika banyaknya gerakan separatis yang muncul di Indonesia. Primordialisme fanatik menjadi salah satu faktor pendukung. Di samping rasa tidak puas terhadap sebuah kebijakan atau kondisi negara. GAM, RMS, dan OPM menjadi pelajaran yang berharga bagi Indonesia. Keteledoran dari bangsa Indonesia ini sejatinya menjadi tamparan yang besar. Slogan Bhineka Tunggal Ika pun seakan menjadi sesuatu yang tidak terimplikasikan di lapangan. Esensi dari Bhineka Tunggal Ika itu sendiri tidak lagi relevan.

Teringat akan konsep yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian mengenai ESQ. Sebuah training kecerdasan yang menggabungkan IQ, SQ, dan EQ. Dalam paparannya Ary Ginanjar mengatakan bahwa manusia memiliki tujuh belenggu kehidupan. Ketujuh belenggu tersebut adalah sudut pandang, pembanding, pengalaman, literatur, kepentingan, dan prinsip hidup. Semua itu merupakan belenggu yang selama ini membuat seseorang ataupun diri kita selalu konflik, bermusuhan, tidak dewasa, menganggap orang lain salah, dll.

Titik Tuhan atau God Spot dalam istilah ESQ tidak akan tercapai dalam zero mind process selama belenggu-belenggu tersebut belum bisa diatasi dan dihapus. Sangkut paut terhadap primordilisme memang sangat berkorelasi. Karena sebagian dari tujuh belenggu tersebut yang menjadi titik tolak adanya semangat primordialisme.

Belenggu-belenggu tersebut dalam teori sosiologi merupakan sebab-sebab timbulnya sebuah konflik. Perbedaan yang menjadi sorotan utama di sini. Perbedaan, rasanya bukan lagi hal yang dianggap tabu di kalangan masyarakat Indonesia. Berbeda suku, logat bahasa, agama, dll. Sayangnya, di Indonesia mayoritas masyarakat selalu memandang sebagai suatu permusuhan. Belum ada kedewasaan yang muncul dari setiap masyarakat. Meskipun tidak semua masyarakat bersikap seperti itu.

Padahal jika kita renungkan dan pikirkan baik-baik. Perbedaan adalah suatu rahmat yang diberikan Sang Pencipta. Keindahan bisa hadir karena suatu perbedaan. Tubuh kita saja terdiri dari banyak perbedaan. Mulai dari Kepala, tangan, kaki, dll. Bisa dibayangkan, jika tubuh kita hanya terdiri dari satu elemen. Keindahan dipastikan tidak akan muncul.

Ada kalanya kita sebagai manusia mesti memandang segala sesuatu tidak dengan sudut pandang perbedaan. Berbeda ide menjadi musuh, berbeda jalan menjadi lawan. Sedikit saja berbeda acap kali perbedaan tersebut dibesar-besarkan. Inilah yang salah dari cara kita dalam mensikapi sebuah dinamika kehidupan. Kesamaan yang rasanya jarang kita cari. Kesamaan pula yang jelas-jelas ada di depan kita tetapi seakan tidak dihiraukan begitu saja. Seakan tertutup oleh belenggu kehidupan yang disebutkan sebelumnya, merasa enggan untuk bersatu.

Historis Indonesia sendiri tidak luput dari suatu segmentasi yang acap kali membuat struktur tatanan kemasyarakatannya bisa dibilang agak labil. Gagasan nasional yang digembor-gemborkan para pejuang pun sempat mengalami krisis. Bayang-bayang disintegrasi seakan menjadi momok bagi para elite politik pada saat itu. Indonesia mesti menelan pil pahit ketika Timor Timur melakukan sebuah manuver atas wilayahnya. Manuver yang membuat rantai nasional mengalami kelemahan. Peristiwa tersebut menjadi sebuah isyarat mengenai otokrasi atau perpecahan yang menjadi mimpi buruk apabila terjadi. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Disintegrasi Pakistan pada 1971 dan Uni Sovyet pada 1991 menjadi contoh nyata bahwa negara besar dan multikultural dapat bubar di bawah tekanan perubahan politik yang cepat dan mendasar.

Indonesia memang ditakdirkan untuk menjadi sebuah bangsa yang besar. Dengan lebih dari 13.000 pulau yang terbentang dari sabang sampi merauke sepanjang lebih dari 5.000 km dan melintasi tiga zona waktu. Tidak salah jika semua itu menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Di balik semua itu, tentunya banyak hal yang dihadapi bangsa Indonesia. Bangsa yang besar, tentunya menghadapi permasalahan yang besar pula. Termasuk menyinggung soal hubungan keanekaragaman dan kesolidan penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa.

Sikap toleransi dan empati sosial bisa memberikan sebuah titik terang kaitannya dengan keanekaragaman masyarakat Indonesia. Keanekaragaman kebudayaan, serta aspek kemasyarakatan lainnya. Pengenalan keanekaragaman budaya ini sebaiknya dilakukan sejak dini dan dikembangkan melalui bidang pendidikan. Pendidikan yang menekankan pluralitas dan multikulturalitas merupakan modal sosial budaya kita yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Harapan yang muncul, dengan pendidikan semacam itu pada akhirnya masyarakat mampu menghargai secara tulus, komunikatif, terbuka, dan tidak saling curiga. Keterbukaan merupakan nilai penting. Jika tidak ada keterbukaan, apapun yang berbeda akan selalu dicurigai dan dianggap musuh.

Perhatian kepada etika normatif pun menjadi sesuatu yang mesti dijalankan. Masyarakat sosial dengan segala aktifitasnya mau tidak mau mesti mematuhi segala norma-norma yang ada. Dengan konsekuensi apabila melenceng dari norma, menanggung sendiri sanksi dari masing-masing norma. Kesadaran untuk menjalin hubungan yang baik antarsesama tanpa memandang perbedaan latar belakang bisa terlaksana. Dan semua itu tidak hanya mimpi, jika semangat nasionalisme secara komprehensif dan kontinu tertanam dalam diri setiap pribadi.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting. Sikap mau menerima, memahami dan mendalami budaya etnis atau suku lain merupakan cara yang tepat dalam mentolerisasi sebuah konflik. Kita jangan menutup diri terhadap budaya lain yang akibatnya justru akan semakin memperdalam jurang pemisah antargolongan dalam masyarakat.

Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mesti melalui proses yang cukup menguji keeksistensian jati diri bangsa. Konsensus bagi kemajuan bangsa yang besar seperti Indonesia akan menuai hasil yang terbaik. Dan itu besar harapannya bagi masyarakat. Kasus seperti ini tidak bisa ditempuh dengan stalemate yang dengan sendirinya menghilang. Tetapi diperlukan sebuah usaha dan iktikad yang baik dan kedewasaan dari setiap insan sosial masyarakat.