Jika motor dan mobil yang rusak dibawa ke bengkel. Maka lokomotif kereta yang rusak dibawa ke Balai Yasa.
Penjajahan tidak selamanya menghasilkan sebuah kesengsaraan dan kerugian. Beberapa warisan kolonial di Indonesia bahkan sangat bermanfaat kehadirannya. Balai Yasa adalah salah satu warisan kolonial Belanda di Indonesia yang keberadaannya sangat dibutuhkan. Balai Yasa merupakan sebuah tempat memperbaiki lokomotif kereta api yang ada di Yogyakarta. ”Bisa dibilang rumah sakitnya lokomotif,” ucap Amirudin, staf pelaksana Bagian Umum Balai Yasa.
Memiliki sekitar 470 lebih teknisi menjadikan Balai Yasa salah satu bengkel lokomotif terbesar di pulau Jawa. Berdiri di atas tanah seluas 12,88 hektar dan memiliki luas bangunan 4.37 hektar ini, Balai Yasa telah banyak memperbaiki lokomotif rusak yang beroperasi di pulau Jawa.
Layanan lokomotif
Balai Yasa berdiri tahun 1914 dengan nama Central Werkplaats dengan tugas pokoknya melaksanakan perbaikan lokomotif, gerbong, dan kereta. Balai Yasa sempat diambil alih oleh Jepang tahun 1942. Lalu diambil alih pemerintah Indonesia setelah proklamasi pada 28 Septemper 1945 dengan nama Balai Karya. Berubah nama menjadi Balai Yasa tahun 1959 dengan tugas pokok melaksanakan layanan untuk lokomotif terutama perbaikan.
Diakui Amirudin, layanan yang sering dikerjakan adalah perbaikan lokomotif. ”Mayoritas di sini kita memperbaiki lokomotif yang rusak,” terangnya. Amirudin menambahkan kerusakan yang terjadi kebanyakan akibat umur lokomotif yang sudah tua. Hal ini dikarenakan lokomotif yang beroperasi di Indonesia mayoritas produk-produk lama. ”Bahkan sudah ada yang gak layak pakai lagi,” aku Amirudin.
Kerusakan akibat ulah manusia seperti kecelakaan bukan tidak ada. ”Bisa juga kecelakaan kereta dan ulah manusia seperti bonek,” ungkap Wawik, staf bagian Kelangsungan Kerja (KK) Balai Yasa. Namun presentasinya lebih kecil. ”Cuman gak banyak,” tambahnya.
Lingkup dan alur kerja Balai Yasa bisa dikategorikan kompleks. Terlihat dari banyaknya layanan yang diberikan untuk lokomotif. “Tidak hanya perbaikan lokomotif, tapi pemaksimalan kerja lokomotif juga kita lakukan seperti modifikasi,” kata Wawik. Pemeriksaaan berkala, pengetesan, dan pencucian lokomotif adalah layanan lain yang ada di Bala Yasa.
Selama empat tahun sekali Balai Yasa melakukan pemeriksaan akhir terhadap semua lokomotif yang beredar di pulau Jawa. Ini dimaksudkan untuk mengevaluasi secara besar-besaran terhadap kualitas lokomotif. “Selain itu kita juga ada program yang dua tahunan. Namanya SPA singkatan dari Semi Pemerikasaan Akhir sebagai persiapan untuk yang empat tahunan,” imbuh Wawik.
Mengusung motto keselamatan dan kelayakan, Balai Yasa peduli terhadap keselamatan para pegawainya. Keselamatan memang hal yang sangat dijaga di Balai Yasa. Pasalnya, barang-barang yang dikerjakan tidak sembarangan. Ditambah alat-alatnya pun tergolong berat dan berbahaya. Risiko kecelakaan saat bekerja sangat rentan terjadi. Sehingga para teknisi dilindungi dengan perlengkapan keselamatan kerja. Helm industri dan seragam yang memenuhi standar keselamatan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Ketat
Tidak semua orang bisa memasuki kawasan Balai Yasa yang berada sebelah timur stasiun Lempuyangan ini. Jika hanya ingin melihat-lihat dan tidak ada urusan yang penting, jangan harap bisa diizinkan masuk. “Kalau tidak ada kepentingan seperti magang, penelitian, dan reportase kami tidak mengizinkan untuk masuk,” tutur Amirudin. Alasan keselamatan dan kelancaran produktivitas kerja di Balai Yasa menjadi pertimbangannya.
Balai Yasa memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan magang. Menurut Amirudin, mahasiswa jurusan teknik kerap magang dan mengadakan penelitian di Balai Yasa. Fasilitas perpustakaan yang dimiliki Balai Yasa ikut memperkaya dan mempermudah referensi terutama tentang perkeretaapian. Tidak hanya mahasiswa, masinis dan teknisi pun sering mengadakan pelatihan seperti workshop.
Lokasinya yang representatif tergolong jauh dari perumahan warga tidak menimbulkan keluhan warga. Suara-suara mesin, bangkai lokomotif, dan limbah mesin tidak menjadi masalah. Bagaimanapun, bengkel warisan Belanda ini telah turut menjaga kualitas moda transportasi khususnya kereta api sehingga layak beroperasi.
Rabu, 26 Mei 2010
Selasa, 25 Mei 2010
Balada Bis Jogja
“Kampus…Kampus.….Sarjito…Sarjito..,” teriakan keras itu adalah suara kenek bis jalur 7. Bis yang telah lama saya tunggu. Suaranya panjang dan tentunya dengan logat jawa yang amat kental. Melegakkan memang, tapi agak menjengkelkan. Menanti bis di bawah terik matahari yang sedang menujukkan merahnya bukanlah pekerjaan menyenangkan. Bis jalur 7 atau nama lainnya bis Aspada ini memang rata-rata waktu kedatangnya lama. Atau hanya di sebrang pom bensin Jakal KM.5 saja tempat saya menanti bis jalur 7 kedatangannya lama?
Tangan saya yang sedikit basah bercucuran keringat melambai pertanda menyambut sahutan kenek. ”Yo...kiri...yo...,” teriak si kenek memberi tahu supir ada penumpang naik. Saya sering berpikir, rasanya daya tahan suara penyanyi kalah oleh seorang kenek. Bagaimana tidak, setiap hari, tikungan, perempatan terus beteriak mempersuasi orang naik bis. Dengan tidak mengurangi rasa sama beratnya pekerjaan, tanpa kenek supir bakal kewalahan. Namun, ada juga kenek yang pelit perihal suara. Hanya menujukkan jari ke arah calon penumpang dan menggerak-gerakannya sebagai bahasa tubuh untuk menggaet penumpang.
Tidak di dalam bis tidak di luar, satu kata: panas. Sabtu itu memang tidak bedanya dengan hari-hari biasanya di Jogja. Di dalam bis, saya duduk di depan persis sebelah supir. Kepulan asap rokok yang tebal dari supir seakan menyambut kedatangan saya. Sebuah sambutan yang kurang ramah. Kapan Jogja ada perda melarang merokok di kendaraan umum? Tanya saya dalam hati. Habis panas, sesak pun datang.
Penumpang bis memang tidak seramai biasanya pada hari sabtu. Maklum, kebanyakan orang libur kerja dan kuliah. Tidak banyak saya menemukan berbagai lapisan sosial individu di dalam bis. Berkisar antara mahasiswa, ibu-ibu, pelajar, dan pedagang yang menikmati jasa angkutan ini. Saat asik mengamati para penumpang lainnya, kenek menghampiri saya menagih ongkos. Bunyi gemerincing recehan dari tangan si kenek tanda saya harus bayar. “Masih 2.500 kan, Mas?” tanya saya sambil tesenyum.
Fenomena menarik terjadi saat bis berada di perempatan Magister Manajamen (MM) UGM. Bak pertandingan sepak bola, pergantian “pemain” dilakukan. Supir dan kenek turun dari bis. Beberapa detik, saya dan penumpang lain tidak mempunyai seorang supir. Kami layaknya kumpulan anak ayam kecil kehilangan induknya, bingung dan diam saja. Beberapa detik itu pula saya lega karena kepulan asap rokok tebal dari sang supir tadi akhirnya lenyap dari hadapan muka. Namun hanya sesaat, supir dan kenek pengganti naik. Dan asap rokok dari supir pun kembali menemani perjalanan di bis. Benar adanya, data yang mengatakan angka konsumsi rokok di Indonesia sangat tinggi.
Terlepas dari semua itu, supir pengganti terlihat lebih supel dari sebelumnya. Wajahnya yang murah senyum menjadi alasanya. Untuk membuktikannya saya mulai bertanya dengan pertanyaan ringan. “Setiap di perempatan MM UGM, gantian toh Mas?” tanya saya penasaran. “Iyo Mas. Di situ kita gantian. Bisa istirahat, makan dan minum,” jawabnya. Perkiraan saya benar, supir tersebut adalah orang yang enak untuk diajak ngobrol. Bahkan pria sedikit beruban itu balik bertanya, “Mau ke mana Mas?”
Sang supir itu bernama Juarno (47). Juarno mengawali pekerjaan sebagai supir bis sejak tahun 1990. Bapak tiga anak ini menghidupi keluarganya dengan mengandalkan hanya dengan pekerjaan ini. “Yah kalo dibilang cukup sih gak mas. Daripada gak punya pekerjaan,” ungkapnya. Setiap hari Juarno bekerja dari jam 5 subuh sampai jam 6 sore dengan penghasilan kurang-lebih lima puluh sampai tujuh puluh ribu per hari. “Gak tentu juga. Kadang lebih malah bisa kurang,” tambahnya.
Juarno selaku supir pun ikut merasakan panasnya hawa bis. Handuk putih kusam di atas pundaknya ia usapkan di wajahnya yang kebanjiran keringat. Seakan handuk kecil menjadi barang wajib yang harus dibawa seorang supir dalam tugasnya. Seragam biru laut yang ia kenakkan dihiasi keringat. Seragam biru laut itu pun terlihat lusuh dan kotor. Sebuah seragam supir dan kenek bis Aspada. “Sebenarnya memakai seragam ini diajurkan. Tapi ada juga supir dan kenek yang gak mau pake,” kata Juarno. Melihat Juarno dan keneknya yang memakai seragam biru laut yang sama-sama kotor dan lusuh, setidaknya mereka orang yang taat aturan perusahaan.
Bis jalur 7 yang saya naiki ditemukan berbagai kekurangan. Masih ada bangku yang reyot dan tidak nyaman untuk diduduki. Alas yang sobek sehingga busanya terlihat jelas. Dari segi kenyamanan, jarak kursi yang satu dengan yang lain bagi saya kurang lebar dan representatif. Dengan kata lain ruang penumpang untuk duduk sempit. Sehingga dengkul kaki selalu mencium bangku penumpang depan. Hal tersebut diakui Juarno, “Kebanyakan bis Aspada memang bis lama,” katanya.
Melihat fasilitas bis di Jogja khususnya, Indonesia umumnya memang masih jauh dari yang namanya ideal. Memang sudah ada Trans Jakarta dan Trans Jogja yang menjadi prototipe transportasi iedal di Indonesia, tapi sayangnya hanya itu saja. Di Jogja saja, selain Trans Jogja bis umumnya belum ideal. Padahal salah satu indikator sebuah negara dikatakan maju adalah mempunyai public transportation¬-nya yang unggul.
Saat bis sudah berada di depan Perpustakan Pusat UGM, supir memberhentikan bis setelah tanda bunyi koin yang dipantulkan berkali-kali oleh kenek ke besi. Tek...tek..tek... Bunyi koin lima ratus rupiah berwarna kuning emas terdengar lumayan nyaring. Menyusul bunyi tersebut, Beberapa penumpang pun trurun dari bis. “Kiri dulu!” saran kenek untuk mendahulukan kaki kiri kepada para penumpang yang turun. Patut diapresiasi apa yang dilakukan kenek. Sepintas hal yang kecil, tapi saran dari kenek membantu keselamatan penumpang. Dengan kaki kiri sebagai pijakan, meminimalisasi orang agar tidak terjatuh saat turun dari bis. Tek...tek...tek... Bunyi koin kembali berbunyi. Kali ini meminta supir melaju kembali.
Tangan saya yang sedikit basah bercucuran keringat melambai pertanda menyambut sahutan kenek. ”Yo...kiri...yo...,” teriak si kenek memberi tahu supir ada penumpang naik. Saya sering berpikir, rasanya daya tahan suara penyanyi kalah oleh seorang kenek. Bagaimana tidak, setiap hari, tikungan, perempatan terus beteriak mempersuasi orang naik bis. Dengan tidak mengurangi rasa sama beratnya pekerjaan, tanpa kenek supir bakal kewalahan. Namun, ada juga kenek yang pelit perihal suara. Hanya menujukkan jari ke arah calon penumpang dan menggerak-gerakannya sebagai bahasa tubuh untuk menggaet penumpang.
Tidak di dalam bis tidak di luar, satu kata: panas. Sabtu itu memang tidak bedanya dengan hari-hari biasanya di Jogja. Di dalam bis, saya duduk di depan persis sebelah supir. Kepulan asap rokok yang tebal dari supir seakan menyambut kedatangan saya. Sebuah sambutan yang kurang ramah. Kapan Jogja ada perda melarang merokok di kendaraan umum? Tanya saya dalam hati. Habis panas, sesak pun datang.
Penumpang bis memang tidak seramai biasanya pada hari sabtu. Maklum, kebanyakan orang libur kerja dan kuliah. Tidak banyak saya menemukan berbagai lapisan sosial individu di dalam bis. Berkisar antara mahasiswa, ibu-ibu, pelajar, dan pedagang yang menikmati jasa angkutan ini. Saat asik mengamati para penumpang lainnya, kenek menghampiri saya menagih ongkos. Bunyi gemerincing recehan dari tangan si kenek tanda saya harus bayar. “Masih 2.500 kan, Mas?” tanya saya sambil tesenyum.
Fenomena menarik terjadi saat bis berada di perempatan Magister Manajamen (MM) UGM. Bak pertandingan sepak bola, pergantian “pemain” dilakukan. Supir dan kenek turun dari bis. Beberapa detik, saya dan penumpang lain tidak mempunyai seorang supir. Kami layaknya kumpulan anak ayam kecil kehilangan induknya, bingung dan diam saja. Beberapa detik itu pula saya lega karena kepulan asap rokok tebal dari sang supir tadi akhirnya lenyap dari hadapan muka. Namun hanya sesaat, supir dan kenek pengganti naik. Dan asap rokok dari supir pun kembali menemani perjalanan di bis. Benar adanya, data yang mengatakan angka konsumsi rokok di Indonesia sangat tinggi.
Terlepas dari semua itu, supir pengganti terlihat lebih supel dari sebelumnya. Wajahnya yang murah senyum menjadi alasanya. Untuk membuktikannya saya mulai bertanya dengan pertanyaan ringan. “Setiap di perempatan MM UGM, gantian toh Mas?” tanya saya penasaran. “Iyo Mas. Di situ kita gantian. Bisa istirahat, makan dan minum,” jawabnya. Perkiraan saya benar, supir tersebut adalah orang yang enak untuk diajak ngobrol. Bahkan pria sedikit beruban itu balik bertanya, “Mau ke mana Mas?”
Sang supir itu bernama Juarno (47). Juarno mengawali pekerjaan sebagai supir bis sejak tahun 1990. Bapak tiga anak ini menghidupi keluarganya dengan mengandalkan hanya dengan pekerjaan ini. “Yah kalo dibilang cukup sih gak mas. Daripada gak punya pekerjaan,” ungkapnya. Setiap hari Juarno bekerja dari jam 5 subuh sampai jam 6 sore dengan penghasilan kurang-lebih lima puluh sampai tujuh puluh ribu per hari. “Gak tentu juga. Kadang lebih malah bisa kurang,” tambahnya.
Juarno selaku supir pun ikut merasakan panasnya hawa bis. Handuk putih kusam di atas pundaknya ia usapkan di wajahnya yang kebanjiran keringat. Seakan handuk kecil menjadi barang wajib yang harus dibawa seorang supir dalam tugasnya. Seragam biru laut yang ia kenakkan dihiasi keringat. Seragam biru laut itu pun terlihat lusuh dan kotor. Sebuah seragam supir dan kenek bis Aspada. “Sebenarnya memakai seragam ini diajurkan. Tapi ada juga supir dan kenek yang gak mau pake,” kata Juarno. Melihat Juarno dan keneknya yang memakai seragam biru laut yang sama-sama kotor dan lusuh, setidaknya mereka orang yang taat aturan perusahaan.
Bis jalur 7 yang saya naiki ditemukan berbagai kekurangan. Masih ada bangku yang reyot dan tidak nyaman untuk diduduki. Alas yang sobek sehingga busanya terlihat jelas. Dari segi kenyamanan, jarak kursi yang satu dengan yang lain bagi saya kurang lebar dan representatif. Dengan kata lain ruang penumpang untuk duduk sempit. Sehingga dengkul kaki selalu mencium bangku penumpang depan. Hal tersebut diakui Juarno, “Kebanyakan bis Aspada memang bis lama,” katanya.
Melihat fasilitas bis di Jogja khususnya, Indonesia umumnya memang masih jauh dari yang namanya ideal. Memang sudah ada Trans Jakarta dan Trans Jogja yang menjadi prototipe transportasi iedal di Indonesia, tapi sayangnya hanya itu saja. Di Jogja saja, selain Trans Jogja bis umumnya belum ideal. Padahal salah satu indikator sebuah negara dikatakan maju adalah mempunyai public transportation¬-nya yang unggul.
Saat bis sudah berada di depan Perpustakan Pusat UGM, supir memberhentikan bis setelah tanda bunyi koin yang dipantulkan berkali-kali oleh kenek ke besi. Tek...tek..tek... Bunyi koin lima ratus rupiah berwarna kuning emas terdengar lumayan nyaring. Menyusul bunyi tersebut, Beberapa penumpang pun trurun dari bis. “Kiri dulu!” saran kenek untuk mendahulukan kaki kiri kepada para penumpang yang turun. Patut diapresiasi apa yang dilakukan kenek. Sepintas hal yang kecil, tapi saran dari kenek membantu keselamatan penumpang. Dengan kaki kiri sebagai pijakan, meminimalisasi orang agar tidak terjatuh saat turun dari bis. Tek...tek...tek... Bunyi koin kembali berbunyi. Kali ini meminta supir melaju kembali.
Sisi Lain Lampu Merah
Kedapatan lampu merah di perempatan—apalagi waktunya yang lama—tidaklah mengenakkan. Setidaknya itulah mayoritas orang rasakan. Untuk sebagian orang yang sedang diburu waktu, lampu merah adalah musuh. Terlepas dari semua itu, sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan saat lampu merah menghadang laju kendaraan kita. Saya sendiri kerap mematikan mesin kendaraan motor. Alasannya sederhana, di samping menghemat bahan bakar yang mahal, juga untuk mengurangi polusi udara. Setidaknya untuk beberapa menit. Hitung-hitung ikut berkontribusi stop global warming. Jika ada SMS yang masuk, lampu merah juga bisa menjadi timming tepat untuk membalas karena waktunya relatif lama. Apalagi jika SMS tersebut sangat penting utuk dibalas. Mengamati plat nomor kendaraan lain adalah kerjaan yang tidak luput saya lakukan saat lampu merah. Sebelum tinggal di Jogja untuk kuliah, pengetahuan saya tentang nomor kendaraan dan asal kotanya bisa dibilang ”miskin”. Hanya plat nomor kendaraan Z, B, D, A lah yang saya tahu dari mana asal kotanya. Setelah tinggal di Jogja, pengetahuan tentang plat nomor pun meningkat. Ini dikarenakan begitu beragamnya plat nomor yang ada. Sehingga tidak hanya didominasi oleh plat AB selaku tuan rumah, tetapi plat nomor kendaraan luar Jogja pun ikut meramaikan wajah lalu lintas Jogja.
Dengan melihat banyaknya plat nomor kendaraan begitu majemuk berkeliaran di Jogja, hal ini semakin memperkuat Jogja sebagai kota yang multikultur. Ada yang bilang juga sebagai miniatur Indonesia. Tidak berlebihan karena banyak orang dari berbagai latar belakang, kota, etnis, dan suku tinggal bersama. Bahkan ada orang yang pernah berkata, “Merasakan hidup dengan multikultur yang tinggi, datanglah ke Jogja!” Ucapan persuasif yang kerap orang bilang untuk menggambarkan bagaimana corak kehidupan plural di tanah bekas kerajaan Mataram ini. Banyak beredarnya kampus dan UGM sebagai kampus ternama Indonesia di Jogja menjadi daya tarik orang luar daerah untuk menjadikan Jogja tujuan untuk menimba ilmu (kuliah). Berawal dari lampu merah, ke-plural-an yang menghiasi ranah kehidupan Jogja terlihat. Kembali menyadarkan kita bahwa betapa kayanya budaya dan suku di Indonesia. Tentunya tidak sampai di situ. Menjaga keutuhan keberagaman inilah yang harus kita lakoni. Lampu merah, tidak sekedar menghadang laju kendaraan kita untuk kelancaran lalu lintas. Dari sana, banyak hal yang bisa kita dapat.
Dengan melihat banyaknya plat nomor kendaraan begitu majemuk berkeliaran di Jogja, hal ini semakin memperkuat Jogja sebagai kota yang multikultur. Ada yang bilang juga sebagai miniatur Indonesia. Tidak berlebihan karena banyak orang dari berbagai latar belakang, kota, etnis, dan suku tinggal bersama. Bahkan ada orang yang pernah berkata, “Merasakan hidup dengan multikultur yang tinggi, datanglah ke Jogja!” Ucapan persuasif yang kerap orang bilang untuk menggambarkan bagaimana corak kehidupan plural di tanah bekas kerajaan Mataram ini. Banyak beredarnya kampus dan UGM sebagai kampus ternama Indonesia di Jogja menjadi daya tarik orang luar daerah untuk menjadikan Jogja tujuan untuk menimba ilmu (kuliah). Berawal dari lampu merah, ke-plural-an yang menghiasi ranah kehidupan Jogja terlihat. Kembali menyadarkan kita bahwa betapa kayanya budaya dan suku di Indonesia. Tentunya tidak sampai di situ. Menjaga keutuhan keberagaman inilah yang harus kita lakoni. Lampu merah, tidak sekedar menghadang laju kendaraan kita untuk kelancaran lalu lintas. Dari sana, banyak hal yang bisa kita dapat.
Kamis, 05 November 2009
Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (8, Habis)
Cerita Home Stay
Di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung. Berada di tempat orang lain, kita dituntut beradaptasi, menghormati, menjunjung tinggi nilai, kebiasaan, dan adat tempat tersebut. Begitulah peribahasa mengajarkan kita harus menyesuaikan diri di “daerah kekuasaan orang lain.”
Peribahasa yang sudah kita kenal sejak pendidikan dasar ini (benar-benar) saya aplikasikan saat saya melakukan home stay (tinggal) di rumah salah seorang teman Korea saya, Kim Dong-Sun.
Home stay adalah kegiatan terakhir dari rangkaian program Youth Camp for Asia’s Future 2009 yang saya ikuti. Tujuannya adalah untuk merasakan pengalaman dan berinteraksi secara langsung tentang kehidupan orang Korea secara lebih dekat.
Bersyukur saya ditempatkan bersama keluarga yang sangat baik. Kim Dong-Sun adalah teman saya yang juga merupakan partisipan dalam program Youth Camp for Asia’s Future 2009. Ayahnya, Kim In-Ho, adalah seorang insinyur dan ibunya bernama Lee Myung-Suk. Kim Dong-Sun adalah anak semata wayang dari pasangan tersebut.
Keluarga yang saya tinggali bisa dibilang adalah keluarga yang kaya raya. Bukan tanpa alasan saya mengatakan hal tersebut karena terlihat dari penampilan luarnya. Rumah mereka adalah apartemen dan berada di kawasan yang elit, memiliki perabotan rumah yang serba high-tech dan mahal, kendaraan yang mewah, dll. Saya sangat bersyukur bisa ditempatkan bersama keluarga yang plus-plus (sangat baik dan kaya pula).
Tamu adalah raja
Orang korea begitu memanjakan tamu. Itulah kesan pertama saat saya berada di rumah Kim Dong-Sun. Saya seakan dianggap keluarga mereka sendiri, bukan sebagai orang asing.
Selama tinggal di rumahnya banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat tentang adat-kebiasaan orang Korea. Salah satunya adalah adat ketika makan. Seperti orang yang lebih tua belum memulai untuk makan, orang yang lebih muda harus menunggu.
Orang yang lebih muda pun jangan berhenti makan sebelum orang yang lebih tua berhenti makan. Dan kalo perlu, kita makan sebanyak-banyaknya makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah. Meskpiun terlihat maruk, tapi orang Korea justru sangat senang.
Kita juga jangan kagok kalo ingin bersendawa. Malah dengan bersendawa berarti kita sangat menerima dan menganggap makanan yang dimakan adalah enak. Mereka biasanya akan merespon seperti ini, “Masissjyo?” “Enak kan?”
Hal yang sangat mengejutkan dan tabu bagi saya adalah ketika malam hari akan tidur. Orang tua Kim Dong-Sun menyuruh saya tidur di kamar mereka. Bagaimana tidak tabu, tidur di kamar orang yang punya rumah dan orang yang punya rumah sendiri tidur di kamar tamu. Bayangkan kawan! Saya sangat kaget saat Ayahnya, Kim In-Ho, menyuruh saya segera ke kamarnya untuk tidur.
Posisi dilematis saya alami saat itu. Menolak tidak enak, takutnya dianggap tidak menghargai tuan rumah. Menerima permintaan juga tidak enak karena menurut saya hal tersebut kelewatan.
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, “Apa begini yah kalo setiap tamu yang nginep di rumah orang Korea?” Akhirnya terpaksa dengan rasa tidak enak demi menghargai tuan rumah, saya pun tidur di kamar sang tuan rumah. Sebuah peristiwa yang sangat aneh dan langka terjadi.
Tidak sampai di situ, saya juga diberi fasilitas “anggaplah rumah sendiri”. Saya bebas mengakses internet, masak, makan, menelepon semaunya. Termasuk menelepon orang tua saya di Indonesia. Kebetulan sebelum home stay saya belum menelepon ke Indonesia. “Gwenchana Yogi. Bumonimhante jonhwahaseyo!” “Tenang, gak-apa Yogi. Teleponlah orang tuamu sana!” ucap Kim Dong-Sun.
Saat kegiatan home stay berakhir keluarga Kim memberikan kenang-kenangan dan hadiah untuk saya dan orang tua saya di Indonesia. Saya pun tak mau kalah, saya memberi mereka kenang-kenangan berupa sebuah wayang golek yaitu cepot. Tidak disangka mereka sangat senang dengan cepot. “Gwiwoyo!” “Lucu!” ucap Ibu Lee Myung-Suk.
Perpisahan, sebuah kata yang sangat tak enak untuk didengar. Begitu pula sama tak enaknya saat dialami. Tinggal bersama keluarga Kim Dong-Sun meskipun singkat telah memberikan pelajaran yang banyak bagi saya. Terutama dalam hal bagaimana menjamu tamu dengan baik. Salah satu keluarga yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya.
Petualangan dua minggu saya di negara kelahiran gelandang MU Park Ji-Sung ini adalah rezeki yang luar biasa besar diberikan Allah kepada saya. Semua biaya (pesawat pergi-pulang, hotel bintang lima, resort, akomodasi, transportasi, dll) selama di sana ditanggung pemerintah Korea. Demi mempromosikan Korea ke seluruh penjuru dunia, biaya yang dikeluarkan sangat besar sekali pun dilakoni pemerintah.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani bermimpi dan tak segan untuk belajar dari bangsa lain yang maju. Korea Selatan telah melakukan semua itu. Saya optimis, ke depan cahaya kemajuan bersinar menerangi bumi Indonesia. Amin!
Di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung. Berada di tempat orang lain, kita dituntut beradaptasi, menghormati, menjunjung tinggi nilai, kebiasaan, dan adat tempat tersebut. Begitulah peribahasa mengajarkan kita harus menyesuaikan diri di “daerah kekuasaan orang lain.”
Peribahasa yang sudah kita kenal sejak pendidikan dasar ini (benar-benar) saya aplikasikan saat saya melakukan home stay (tinggal) di rumah salah seorang teman Korea saya, Kim Dong-Sun.
Home stay adalah kegiatan terakhir dari rangkaian program Youth Camp for Asia’s Future 2009 yang saya ikuti. Tujuannya adalah untuk merasakan pengalaman dan berinteraksi secara langsung tentang kehidupan orang Korea secara lebih dekat.
Bersyukur saya ditempatkan bersama keluarga yang sangat baik. Kim Dong-Sun adalah teman saya yang juga merupakan partisipan dalam program Youth Camp for Asia’s Future 2009. Ayahnya, Kim In-Ho, adalah seorang insinyur dan ibunya bernama Lee Myung-Suk. Kim Dong-Sun adalah anak semata wayang dari pasangan tersebut.
Keluarga yang saya tinggali bisa dibilang adalah keluarga yang kaya raya. Bukan tanpa alasan saya mengatakan hal tersebut karena terlihat dari penampilan luarnya. Rumah mereka adalah apartemen dan berada di kawasan yang elit, memiliki perabotan rumah yang serba high-tech dan mahal, kendaraan yang mewah, dll. Saya sangat bersyukur bisa ditempatkan bersama keluarga yang plus-plus (sangat baik dan kaya pula).
Tamu adalah raja
Orang korea begitu memanjakan tamu. Itulah kesan pertama saat saya berada di rumah Kim Dong-Sun. Saya seakan dianggap keluarga mereka sendiri, bukan sebagai orang asing.
Selama tinggal di rumahnya banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat tentang adat-kebiasaan orang Korea. Salah satunya adalah adat ketika makan. Seperti orang yang lebih tua belum memulai untuk makan, orang yang lebih muda harus menunggu.
Orang yang lebih muda pun jangan berhenti makan sebelum orang yang lebih tua berhenti makan. Dan kalo perlu, kita makan sebanyak-banyaknya makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah. Meskpiun terlihat maruk, tapi orang Korea justru sangat senang.
Kita juga jangan kagok kalo ingin bersendawa. Malah dengan bersendawa berarti kita sangat menerima dan menganggap makanan yang dimakan adalah enak. Mereka biasanya akan merespon seperti ini, “Masissjyo?” “Enak kan?”
Hal yang sangat mengejutkan dan tabu bagi saya adalah ketika malam hari akan tidur. Orang tua Kim Dong-Sun menyuruh saya tidur di kamar mereka. Bagaimana tidak tabu, tidur di kamar orang yang punya rumah dan orang yang punya rumah sendiri tidur di kamar tamu. Bayangkan kawan! Saya sangat kaget saat Ayahnya, Kim In-Ho, menyuruh saya segera ke kamarnya untuk tidur.
Posisi dilematis saya alami saat itu. Menolak tidak enak, takutnya dianggap tidak menghargai tuan rumah. Menerima permintaan juga tidak enak karena menurut saya hal tersebut kelewatan.
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, “Apa begini yah kalo setiap tamu yang nginep di rumah orang Korea?” Akhirnya terpaksa dengan rasa tidak enak demi menghargai tuan rumah, saya pun tidur di kamar sang tuan rumah. Sebuah peristiwa yang sangat aneh dan langka terjadi.
Tidak sampai di situ, saya juga diberi fasilitas “anggaplah rumah sendiri”. Saya bebas mengakses internet, masak, makan, menelepon semaunya. Termasuk menelepon orang tua saya di Indonesia. Kebetulan sebelum home stay saya belum menelepon ke Indonesia. “Gwenchana Yogi. Bumonimhante jonhwahaseyo!” “Tenang, gak-apa Yogi. Teleponlah orang tuamu sana!” ucap Kim Dong-Sun.
Saat kegiatan home stay berakhir keluarga Kim memberikan kenang-kenangan dan hadiah untuk saya dan orang tua saya di Indonesia. Saya pun tak mau kalah, saya memberi mereka kenang-kenangan berupa sebuah wayang golek yaitu cepot. Tidak disangka mereka sangat senang dengan cepot. “Gwiwoyo!” “Lucu!” ucap Ibu Lee Myung-Suk.
Perpisahan, sebuah kata yang sangat tak enak untuk didengar. Begitu pula sama tak enaknya saat dialami. Tinggal bersama keluarga Kim Dong-Sun meskipun singkat telah memberikan pelajaran yang banyak bagi saya. Terutama dalam hal bagaimana menjamu tamu dengan baik. Salah satu keluarga yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya.
Petualangan dua minggu saya di negara kelahiran gelandang MU Park Ji-Sung ini adalah rezeki yang luar biasa besar diberikan Allah kepada saya. Semua biaya (pesawat pergi-pulang, hotel bintang lima, resort, akomodasi, transportasi, dll) selama di sana ditanggung pemerintah Korea. Demi mempromosikan Korea ke seluruh penjuru dunia, biaya yang dikeluarkan sangat besar sekali pun dilakoni pemerintah.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani bermimpi dan tak segan untuk belajar dari bangsa lain yang maju. Korea Selatan telah melakukan semua itu. Saya optimis, ke depan cahaya kemajuan bersinar menerangi bumi Indonesia. Amin!
Selasa, 03 November 2009
Catatan Perjalan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (7)
Kata “aa” dan “teteh” sudah tak asing lagi bagi orang Sunda. Kedua kata panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kakak dalam anggota keluarga atau orang yang lebih tua. Kata “aa” diperuntukkan untuk laki-laki dan “teteh” untuk perempuan.
Satu hal yang menarik dari bahasa Korea berbicara mengenai kata panggilan ini adalah beragam. Kata panggilan di Korea berbeda-beda tergantung dari siapa yang memanggil dan siapa yang dipanggil.
Yang dimaksud dengan “siapa yang memanggil” adalah apakah dia itu “laki-laki atau perempuan”. Berawal dari sini, kata panggilan akan berbeda. Inilah satu sisi keunikan dari bahasa Korea. Penggunaannya pun jangan sampai tertukar karena akan menimbulkan keanehan bahkan kelucuan.
Kalo sang pemanggil adalah seorang (adik) laki-laki, untuk memanggil kakak laki-laki harus menggunakan kata “hyong”. Masih dari sang pemanggil adalah laki-laki, untuk memanggil kakak perempuan adalah “nuna”.
Nah, kalo pihak dari sang pemanggil adalah seorang adik perempuan beda lagi aturannya. Untuk memanggil kakak laki-laki menggunakan kata “oppa”. Sedangkan untuk memanggil kakak perempuan menggunakan kata “onni”.
Kata “hyong, oppa, nuna, dan onni” pun seperti kata “aa dan teteh” di Sunda. Penggunaannya tidak hanya untuk anggota keluarga saja, tetapi juga bisa digunakan untuk bukan anggota keluarga.
Saya ada cerita tentang penggunaan kata panggilan ini di Korea. Ketika teman saya orang Indonesia (laki-laki) sedang berbelanja di pasar Namdaemun (pasar terkenal kebersihannya di Seoul). Saat itu teman saya berbelanja sebuah pakaian dan pedagangnya adalah seorang abang-abang (Akang).
Tanpa ragu teman saya menanyakan harga pakaian seperti ini, "Oppa, igo olma yeyo?" "Kang...ini harganya berapa?". Reaksi si pedagang tadi bukannya menjawab pertanyaan, tapi melihat teman saya dengan sinis dan mencibir.
Anda tahu kenapa si pedagang sampai hati sinis dan mencibir teman saya? Tahu kan alasannya? Tepat, teman saya salah menggunakan kata panggilan. Seharusnya teman saya menggunakan kata “hyong” bukannya “oppa”. Seperti penjelasan di atas, “oppa” adalah panggilan dari seorang perempuan kepada laki-laki yang lebih tua. Jelas si pedagang begitu sinis dan mencibir teman saya. Dianggapnya teman saya itu adalah seorang “hombreng alias bencong”. Nah lho!
Saya hanya bisa berkata, berhati-hatilah menggunakan kata “aa dan teteh”nya orang Korea. Penggunaannya tertukar, maka jenis kelamin Anda akan dipertanyakan oleh orang Korea.
*Ket. Photo: Saya dan teman Korea saya Kim Su-Sy saat acara pakaian tradisional negara.
Senin, 02 November 2009
Catatan Perjalan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (6)
Kalo kata sejarah, suatu peradaban yang makmur itu adalah peradaban yang lokasinya berada dekat sungai. Logis memang, suatu masyarakat yang hidup dekat sungai bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan mudah karena kebutuhan hidup yang pokok (air) sangat mudah diperoleh. Kalo air udah gampang didapat makan, minum, mandi, dan nyuci gak jadi pikiran. Waktu SMA, guru sejarah kita selalu mencontohkan peradaban Sungai Nil, Hindus, Kuning, Eufrat, Tigris, dll.
Dari mukadimah tadi, sangat beralasan masyarakat kota Seoul begitu bangga tanah yang ditinggalinya mempunyai sungai yang panjang dan lebar. Tidak cukup dengan bangga, mereka sangat menjaga dan merawat sungai yang mempunyai panjang 68,75 km ini. Tidak lain sungai yang dimaksud adalah Sungai Han.
Nama Han sendiri berasal dari kata "Hangaram" (baca: Hang Garam) yang berarti panjang, luas serta lebar (han), dan "garam" berarti "sungai" dalam bahasa Korea kuno. Kalo sekarang orang Korea menyebut sungai terpanjang di Korea ini yakni “Hangang” (baca: Hang Gang).
Karena keberadaan sungai ini, Korea juga mendapat julukan “Miracle of the Han river.” Sungai yang membelah jantung kota Seoul ini airnya bisa dikatakan lumayan bersih (menurut saya lho) dan gak tercium bau yang kurang sedap. Juga gak ada sampah yang terlihat “berenang” di atas permukaan sungai. Overall, kondisi sungai yang melewati 12 distrik di kota Seoul ini oke punya. Salah satu tempat yang sayang kalo dikecualikan untuk dikunjugi saat berada di Korea.
Anehnya, teman saya orang Korea gak sependapat, “Mwo? Kkekkeutheyo? Anniyo Yogi ssi! Hankangeun dorowoyo!” “Apa? Bersih? Tidak Yogi! Sungai Han kotor!” Sungai Han yang saya anggap bersih mereka anggap kotor. Gimana jadinya kalo mereka datang ke Indonesia terus lihat sungai kita (ciliwung misalnya)?
Fasilitas memanjakan
Masyarakat kota Seoul sering datang ke bantaran Sungai Han untuk sekedar melepas stress, membaca buku, menulis, melukis, berolahraga, atau kalo orang yang lagi kasmaran suka dijadiin tempat apel (romantis abis dah).
Area wisata sungai ini memiliki 12 tempat olah raga, area sepeda (biking trails), area hiking, dan 169 fasilitas olah raga. Dan tentu saja juga memiliki taman-taman keluarga, dimana masuk dan semua fasilitasnya tanpa dipungut biaya, alias gratis (catet: gratisss)!
Pilihan yang tepat menurut saya masyarakat kota Seoul memanfaatkan keberadaan sungai ini untuk penghilang rasa penat. Di samping bisa melihat pemandangan sungai, kita juga menghindari sejenak dari kebisingan dan polusi udara jalan raya. Pohon, rumput, bunga tumbuh dengan manisnya menjadi penambah keindahan.
Baik siang maupun malam apalagi akhir pekan banyak masyarakat menikmati keindahan sungai. Disediakan juga jasa angkutan kapal (ferry) untuk berkeliling melihat keindahan sungai. Ada 2 macam tiket untuk naik ferry yakni one way course dan round trip course. Harga tiket one way course untuk dewasa adalah 9000 won (sekitar 90.000 rupiah), durasi 1 jam dengan panjang lintasan 15,5 km.
*Ket. Photo: Saya saat di bantaran sungai Han.
Minggu, 01 November 2009
Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (5)
Transportasi IdamanSalah satu ukuran sebuah negara dikatakan maju adalah mempunyai fasilitas public transportation-nya yang bagus dan unggul. Ukuran transportasi yang unggul dan bagus itu seperti apa sih? Apakah yang aman, nyaman, bersih, cepat, dan murah? Pastinya kriteria yang telah saya sebutkan sudah cukup mewakili sekaligus idaman kita semua selaku warga negara pengguna kendaraan umum.
Bagaimana dengan di Seoul? Di Korea bisa dibilang semua kriteria yang kita idam-idamkan tadi sudah terpenuhi. Meskipun belum sempurna 100%, tapi sudah jauh banget lebih baik dibanding ama Jakarta. Jakarta saya jadikan perbandingan karena ibu kota negara.
Secara umum bus, taksi, kereta api bawah tanah (subway), kereta api listrik, dan lainnya dapat dikategorikan sebagai kendaraan umum di Korea. Ketika saya di sana, saya jajal tuh semua jenis transportasi. Apalagi pas hari pertama datang ke Korea, hal yang pertama saya cari adalah kereta bawah tanah. Saya penasaran gimana sih rasanya naik kereta di bawah tanah sedalam kurang-lebih 5 tingkat ke bawah dan setiap tingkatnya ada yang 3, 4, ampe 5 meter (setiap tingkat ada jalur relnya masing-masing).
Berbasis IT
Kali ini saya bakal jelasin bus dan kereta bawah tanah sebagai sampel transportasi Korea berdasarkan kriteria di atas. Aman, selama saya naik bus dan subway alhamdulillah dompet saya gak beralih tempat ke orang lain tanpa seizin saya (baca: dicopet). Katanya sih copet jarang ada di Korea.
Nyaman dan bersih, kendaraan di Korea semuanya ber-AC dan bersih. Nah, bus di Korea sama kayak bus way di Jakarta, turun-naik penumpang hanya boleh di halte bus. Jadi, gak ada istilah ngetem cari penumpang.
Cepat, kalo pergi ke kantor dan sekolah bisa dijamin gak bakal telat (kalo bangunnya gak telat juga). Apalagi kereta, tepat waktu dan sesuai jadwal. Naik subway dari satu stasiun ke stasiun lain rata-rata waktu perjalanan adalah satu-dua menitan.
Oh iyah, di jalanan Korea jarang terjadi macet. Kalo ada macet pun sebab-musababnya gara-gara ada sesuatu yang tidak diinginkan (kecelakaan) atau perbaikan jalan. Hal ini dikarenakan volume kendaraan diisi kendaraan roda empat atau lebih. So, keberadaan kendaraan roda dua (sepeda motor) jarang bahkan sulit kita temui di Korea (hanya sekitar 2%). Kalo ada orang yang pake motor, itu pun pegawai makanan cepat saji yang sedang mengirimkan pesanan.
Murah, ongkos kendaraan bisa dibilang ekonomis. Kalo Anda pakai kartu (transportasi) maka untuk 10 km pertama hanya 900 won (sekitar 9000 rupiah). Kalo gak pake kartu, bayar dengan uang 1000 won dan hanya ditambah 100 won untuk setiap penambahan jarak 5 km.
Pemakaian kartu kendaraan yang bernama T-money ini sangat praktis. Kalo kita punya kartu ini, gak usah repot-repot ngeluarin uang dari dompet. Kalo depositnya abis tinggal diisi ulang lagi di toko terdekat. Pemakaiannya tinggal ditempel di mesin bayar yang ada di sebelah sopir dan di dalam stasiun kalo subway.
Gimana kalo belum punya tuh kartu? Bayar secara tunai juga bisa, namun yang mesti diperhatikan bayar ongkos secara langsung harus dengan uang pas. Kalo kita ngasih lebih pun gak bakal dikasih kembalian. Loh, kok gitu sih? Soalnya, di Korea gak ada kondektur dan sopir tugasnya cuman nyetir. Uang kita langsung dimasukkan ke dalam mesin. Maka dari itu, bawalah selalu uang pas saat naik kendaraan umum di Korea.
*Ket. Photo: Bus Korea yang futuristik.
Langganan:
Postingan (Atom)