Senin, 02 November 2009

Catatan Perjalan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (6)

Pelepas penat itu bernama “Hangang”

Kalo kata sejarah, suatu peradaban yang makmur itu adalah peradaban yang lokasinya berada dekat sungai. Logis memang, suatu masyarakat yang hidup dekat sungai bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan mudah karena kebutuhan hidup yang pokok (air) sangat mudah diperoleh. Kalo air udah gampang didapat makan, minum, mandi, dan nyuci gak jadi pikiran. Waktu SMA, guru sejarah kita selalu mencontohkan peradaban Sungai Nil, Hindus, Kuning, Eufrat, Tigris, dll.

Dari mukadimah tadi, sangat beralasan masyarakat kota Seoul begitu bangga tanah yang ditinggalinya mempunyai sungai yang panjang dan lebar. Tidak cukup dengan bangga, mereka sangat menjaga dan merawat sungai yang mempunyai panjang 68,75 km ini. Tidak lain sungai yang dimaksud adalah Sungai Han.

Nama Han sendiri berasal dari kata "Hangaram" (baca: Hang Garam) yang berarti panjang, luas serta lebar (han), dan "garam" berarti "sungai" dalam bahasa Korea kuno. Kalo sekarang orang Korea menyebut sungai terpanjang di Korea ini yakni “Hangang” (baca: Hang Gang).

Karena keberadaan sungai ini, Korea juga mendapat julukan “Miracle of the Han river.” Sungai yang membelah jantung kota Seoul ini airnya bisa dikatakan lumayan bersih (menurut saya lho) dan gak tercium bau yang kurang sedap. Juga gak ada sampah yang terlihat “berenang” di atas permukaan sungai. Overall, kondisi sungai yang melewati 12 distrik di kota Seoul ini oke punya. Salah satu tempat yang sayang kalo dikecualikan untuk dikunjugi saat berada di Korea.

Anehnya, teman saya orang Korea gak sependapat, “Mwo? Kkekkeutheyo? Anniyo Yogi ssi! Hankangeun dorowoyo!” “Apa? Bersih? Tidak Yogi! Sungai Han kotor!” Sungai Han yang saya anggap bersih mereka anggap kotor. Gimana jadinya kalo mereka datang ke Indonesia terus lihat sungai kita (ciliwung misalnya)?

Fasilitas memanjakan
Masyarakat kota Seoul sering datang ke bantaran Sungai Han untuk sekedar melepas stress, membaca buku, menulis, melukis, berolahraga, atau kalo orang yang lagi kasmaran suka dijadiin tempat apel (romantis abis dah).

Area wisata sungai ini memiliki 12 tempat olah raga, area sepeda (biking trails), area hiking, dan 169 fasilitas olah raga. Dan tentu saja juga memiliki taman-taman keluarga, dimana masuk dan semua fasilitasnya tanpa dipungut biaya, alias gratis (catet: gratisss)!

Pilihan yang tepat menurut saya masyarakat kota Seoul memanfaatkan keberadaan sungai ini untuk penghilang rasa penat. Di samping bisa melihat pemandangan sungai, kita juga menghindari sejenak dari kebisingan dan polusi udara jalan raya. Pohon, rumput, bunga tumbuh dengan manisnya menjadi penambah keindahan.

Baik siang maupun malam apalagi akhir pekan banyak masyarakat menikmati keindahan sungai. Disediakan juga jasa angkutan kapal (ferry) untuk berkeliling melihat keindahan sungai. Ada 2 macam tiket untuk naik ferry yakni one way course dan round trip course. Harga tiket one way course untuk dewasa adalah 9000 won (sekitar 90.000 rupiah), durasi 1 jam dengan panjang lintasan 15,5 km.
Lapar atau haus? Gak usah khawatir, banyak warung penjual makanan dan minuman tersedia. Meskipun banyak warung, yang saya salut adalah kebersihan lingkungan sepanjang area sangat terjaga. Apa yah resepnya? Kesadaran dan kerja sama yang apik antara pemerintah dan masyarakat adalah salah satu kuncinya.

*Ket. Photo: Saya saat di bantaran sungai Han.

Minggu, 01 November 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (5)

Transportasi Idaman

Salah satu ukuran sebuah negara dikatakan maju adalah mempunyai fasilitas public transportation-nya yang bagus dan unggul. Ukuran transportasi yang unggul dan bagus itu seperti apa sih? Apakah yang aman, nyaman, bersih, cepat, dan murah? Pastinya kriteria yang telah saya sebutkan sudah cukup mewakili sekaligus idaman kita semua selaku warga negara pengguna kendaraan umum.

Bagaimana dengan di Seoul? Di Korea bisa dibilang semua kriteria yang kita idam-idamkan tadi sudah terpenuhi. Meskipun belum sempurna 100%, tapi sudah jauh banget lebih baik dibanding ama Jakarta. Jakarta saya jadikan perbandingan karena ibu kota negara.

Secara umum bus, taksi, kereta api bawah tanah (subway), kereta api listrik, dan lainnya dapat dikategorikan sebagai kendaraan umum di Korea. Ketika saya di sana, saya jajal tuh semua jenis transportasi. Apalagi pas hari pertama datang ke Korea, hal yang pertama saya cari adalah kereta bawah tanah. Saya penasaran gimana sih rasanya naik kereta di bawah tanah sedalam kurang-lebih 5 tingkat ke bawah dan setiap tingkatnya ada yang 3, 4, ampe 5 meter (setiap tingkat ada jalur relnya masing-masing).

Berbasis IT
Kali ini saya bakal jelasin bus dan kereta bawah tanah sebagai sampel transportasi Korea berdasarkan kriteria di atas. Aman, selama saya naik bus dan subway alhamdulillah dompet saya gak beralih tempat ke orang lain tanpa seizin saya (baca: dicopet). Katanya sih copet jarang ada di Korea.

Nyaman dan bersih, kendaraan di Korea semuanya ber-AC dan bersih. Nah, bus di Korea sama kayak bus way di Jakarta, turun-naik penumpang hanya boleh di halte bus. Jadi, gak ada istilah ngetem cari penumpang.

Cepat, kalo pergi ke kantor dan sekolah bisa dijamin gak bakal telat (kalo bangunnya gak telat juga). Apalagi kereta, tepat waktu dan sesuai jadwal. Naik subway dari satu stasiun ke stasiun lain rata-rata waktu perjalanan adalah satu-dua menitan.

Oh iyah, di jalanan Korea jarang terjadi macet. Kalo ada macet pun sebab-musababnya gara-gara ada sesuatu yang tidak diinginkan (kecelakaan) atau perbaikan jalan. Hal ini dikarenakan volume kendaraan diisi kendaraan roda empat atau lebih. So, keberadaan kendaraan roda dua (sepeda motor) jarang bahkan sulit kita temui di Korea (hanya sekitar 2%). Kalo ada orang yang pake motor, itu pun pegawai makanan cepat saji yang sedang mengirimkan pesanan.

Murah, ongkos kendaraan bisa dibilang ekonomis. Kalo Anda pakai kartu (transportasi) maka untuk 10 km pertama hanya 900 won (sekitar 9000 rupiah). Kalo gak pake kartu, bayar dengan uang 1000 won dan hanya ditambah 100 won untuk setiap penambahan jarak 5 km.

Pemakaian kartu kendaraan yang bernama T-money ini sangat praktis. Kalo kita punya kartu ini, gak usah repot-repot ngeluarin uang dari dompet. Kalo depositnya abis tinggal diisi ulang lagi di toko terdekat. Pemakaiannya tinggal ditempel di mesin bayar yang ada di sebelah sopir dan di dalam stasiun kalo subway.

Gimana kalo belum punya tuh kartu? Bayar secara tunai juga bisa, namun yang mesti diperhatikan bayar ongkos secara langsung harus dengan uang pas. Kalo kita ngasih lebih pun gak bakal dikasih kembalian. Loh, kok gitu sih? Soalnya, di Korea gak ada kondektur dan sopir tugasnya cuman nyetir. Uang kita langsung dimasukkan ke dalam mesin. Maka dari itu, bawalah selalu uang pas saat naik kendaraan umum di Korea.

*Ket. Photo: Bus Korea yang futuristik.

Minggu, 06 September 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (4)

Istana Gyeongbok

Jika suatu saat nanti Anda pergi ke Korea terutama Seoul, tempat yang jangan sampai terlewat untuk dikunjungi adalah Istana Gyeongbok atau dalam bahasa Korea, Gyeongbok gung. Ke Korea tapi gak ke Istana Gyeongbok ibaratnya kayak ke Mekkah tapi gak ke Madinah katanya. Uluh...segitunya yah!?

Emang ada apa sih di Istana Gyeongbok? Namanya juga Istana Gyeongbok, yah pasti ada istana bukan mall. Meskipun cuman istana, tapi di sana kita bisa melihat bagaimana istana khas Korea secara langsung. Berkunjung ke istana yang berada di sebelah utara Seoul ini kita akan serasa dibawa ke kondisi kehidupan masyarakat Korea abad ke-14. Djadoel (Djaman doeloe) gituu!

Sebelum masuk Istana kita akan melihat bangunan besar yakni pintu gerbang komplek istana. Di pintu gerbang ini ternyata ada penjaganya lho! Penjaga istana memakai pakaian khas layaknya penjaga istana zaman kerajaan dahulu. Kita juga bisa berphoto bareng ama tuh penjaga. Pengen nyoba pakaian penjaga istana? Bisa, soalnya ada penyewaan pakaian penjaga istana juga di luar gerbang, tapi mesti bayar. Pengen yang gratisan aja! Hihihi..

Setelah melewati pintu gerbang, kita akan melihat sebuah bangunan di depan kita. Bangunan itu bernama Keunjeong-jeon yaitu bangunan utama. Bangunan tersebut adalah singgasana raja di mana tempat raja melakukan tugas-tugas kenegaraan, ngasih perintah, dan menerima tamu-tamu dari luar.

Sempat Hancur
Istana yang mempunyai arti pancaran kegembiraan ini dibangun pada masa dinasti Chosun (Josoen) ketika dinasti Yi memindahkan ibu kota kerajaan ke Seoul. Istana Gyeongbok dijadikan sebagai istana utama kerajaan Chosun saat kekuasaan berada di tangan Raja Taejo, (tahun ke-4 masa pemerintahannya, 1394).

Kondisi istana sempat hancur lebur karena sengaja dihancurkan oleh Jepang saat menginvasi Korea tahun 1592-1598. Kondisi tersebut dibiarkan selama 250 tahun. Nah, tahun 1865 baru deh orang Korea kembali membangun Istana Gyeongbok seperti aslinya (renovasi). Namun, saat invasi Jepang datang lagi ke Korea tahun 1910 sebagian besar dari 200 bangunan istana dihancurkan kembali oleh imperialis Jepang, hingga tersisa hanya beberapa bangunan. Yah..begitulah efek destruktif penjajahan.

Kalo ngomongin sejarah emang gak ada habisnya. Sebenarnya saya masih mau ceritain sejarah Istana Gyeongbok dan jelasin beberapa bangunannya, tapi kalo diceritain semuanya durasinya bisa kayak film India. So, sampai di sini aja yah tentang Istana Gyeongboknya.
Oh iyah mau ngasih saran nih. Kalo nanti Anda ke Korea pas musim panas (kayak saya kemarin), siapkanlah kacamata hitam, payung, atau topi untuk dipakai saat kelilling melihat-lihat istana. Cuaca musim panas di Korea yang gak bisa diajak kompromi adalah alasannya (panas bangeeett!).

*Ket. Photo: Saya di Istana Gyeongbok.

Sabtu, 05 September 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (3)

Si Asam-Asam Pedas

Berkunjung ke luar negeri, belum afdol rasanya jika belum merasakan makanan khas negara tersebut. Belum dapat taste-nya kalo kata sebuah iklan. Meskipun pernah merasakan makanan Korea di Indonesia, tetapi rasaya beda banget kalo makan di negara asalnya. Buatan asli emang selalu lebih punya greget.

Kali ini kayaknya saya bakal kayak Bondan Winarso, menjelaskan makanan kuliner, tapi tanpa ada embel-embel “Ma’nyos!” he..he.. Dari sekian makanan Korea yang ada, yang paling terkenal adalah kimchi. Bisa dibilang kimchi adalah makanan wajib yang harus ada dalam setiap jamuan makanan orang Korea.

Kimchi adalah makanan yang difermentasikan. Bahan dasarnya terdiri dari sawi atau lobak. Sawi dan lobak tersebut dibersihkan terlebih dahulu (ya iyalah masa gak dibersihin), selanjutnya dibaluri garam dan bumbu cabe yang sudah disiapkan. Setelah itu disimpan dalam guci dan dikubur di dalam tanah selama beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Proses pembuatannya persis seperti dalam drama Jewel in the palace: Dae Jang-Geum. Kalo yang pernah nonton tuh drama pasti tahu.

Bagaimana dengan rasanya? Em...pertama kali saya makan kimchi saya berkata seperti ini, “Yang bener aja..! Orang Korea makan makanan kaya gini tiap hari?” Bisa Anda tebak kesan pertama makan kimchi. “Ada juga ternyata makanan kaya gini!?”

Bukannya apa-apa, rasanya yang super asam-asam pedas begitu meresap saat gigitan pertama (udah mulai nih saya berlaga kayak Pak Bondan). Silahkan kapan-kapan coba dan mungkin Anda juga akan berkata sama seperti saya, “Yang bener aja..! Orang Korea makan makanan kaya gini tiap hari?” dengan improvisasi kata-kata sendiri mungkin.

Kimchi biasanya dihidangkan bersama nasi, sup, dan saus. Saus yang terkenal adalah saus “jang”. Saya tidak tahu kenapa sausnya bernama “jang”. Apakah karena orang yang pertama buat adalah pria atau orang Korea turunan Sunda (Ujang maksudnya)? Entah apalah itu saya tidak tahu. Orang Korea juga sering menggunakan bumbu seperti daun bawang dan bawang putih dalam setiap makanan.

Katanya nih, saat musim panas sebagian orang Korea (tidak semua loh) keringatnya beraroma kimchi. Biasanya sering tercium dari tubuh kaum pria. Konon karena saking seringnya makan kimchi. Betulkah itu? Saat saya di sana, saya bisa katakan kabar itu benar adanya. Bayangkan saudara-saudara gimana aroma asam-asam pedas tercium dari tubuh seorang manusia? Ho..ho..

Jumat, 28 Agustus 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (2)

Masjid Raya Seoul

Salah satu unsur dari tujuh budaya universal adalah sistem religi atau kepercayaan. Berbicara mengenai religi (agama), terbersit dalam pikiran adalah apa sih mayoritas agama atau kepercayaan yang dianut orang Korea? Menurut kabar dan data nih, mayoritas orang Korea adalah menganut kepercayaan Confuissisme.

Nah, gimana dengan Islam di Korea? Apa ada orang Islam di sana? Jawabannya tentu ada donk..., hanya saja jumlahnya sedikit. Agama Islam memang menjadi minoritas di Korea. Orang Korea yang beragama Islam diperkirakan sebanyak 45.000 jiwa. Kalo ada orang Islam, masjidnya juga ada donk? So pasti... Don’t worry! Alhamdulillah...

Kurang-lebih sebanyak 7 masjid ada di negara berjuluk setenang pagi ini. Keberadaanya tersebar di berbagai kota. Nah, kali ini saya hanya bakal ngejelasin salah satu masjid yang terbesar dan tertua di Korea. Adalah Masjid Raya Seoul satu-satunya masjid yang ada di ibu kota Korea, Seoul. Masjid yang dibangun sekitar tahun 1976 ini terletak di daerah Itaewon, Seoul.

Itaewon terkenal dengan pusat komunitas muslim di Korea. Tak heran, kita gampang nyari orang Indonesia di sana. Makanan khas Indonesia kayak nasi goreng dan yang halal banyak dijual di daerah ini. Hanya saja harganya yang cukup mahal. Wajar aja, nyari makanan halal di Korea susahnya minta ampun, jadi sekali ada tentu harganya selangit.

Saat hari jumat, Masjid Raya Seoul banyak dikunjungi untuk shalat jumat. Orang yang datang ke masjid berasal dari Seoul dan sekitarnya. Apalagi saat bulan Ramadhan, banyak orang yang ngabuburit di masjid ini. Menurut kenalan saya, orang Indonesia yang kerja di KBS (Korean Broadcasting System) Korea, masjid ini selalu ramai saat sahur dan buka puasa. Kebiasaan orang mengaji dan i’tikaf di masjid seperti di Indonesia ternyata masih bisa ditemui di sana.

Alhamdulillah, kita yang tinggal di Indonesia notabene negara terbanyak penduduk muslimnya sepatutnya bersyukur karena keberadaan masjid begitu pabalatak (banyak). Jaraknya pun dekat dan bisa didatengi dengan hanya berjalan kaki. Tinggal gimana kita bisa mensyukuri hal tersebut dengan selalu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah (terutama pria). Jangan kalah sama muslim di Korea yang jumlah masjidnya sedikit (di Ibu kotanya hanya ada satu) bahkan harus menempuh perjalanan satu jam, tetap semangat beribadah pergi ke masjid. Hayya alasholah....!

Minggu, 23 Agustus 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (1)

Nama Saya ”Di sini”

“Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu,” begitulah Arai berucap dalam novel ketiga Andrea Hirata—Endensor. Berawal dari mimpi, saya mendapat kesempatan untuk bisa menginjakkan kaki dan berpetualang di Korea Selatan. Negara yang pada tahun 1950 adalah salah satu negara termiskin di dunia. Ekonominya hancur akibat penjajahan Jepang dan Perang Korea. Sekarang, berubah cepat menjadi salah satu negara yang paling kaya dan tercanggih di dunia dengan nilai ekonomi trilyunan dollar (Semoga Indonesia bisa mengikuti jejak. AMIN).

Saya pernah bermimpi (baca: bertekad) bahwa suatu saat saya harus bisa menginjakkan kaki di negeri orang. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT mimpi tersebut menjadi kenyataan saat masih duduk di bangku kuliah semester dua. Saya terpilih menjadi duta bangsa Indonesia untuk berpartisipasi dalam acara Youth Camp For Asia’s Future 2009. Program tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Korea Selatan, mengundang pemuda se-Asia untuk berdiskusi mengenai Asia, saling memperkenalkan budaya negara masing-masing, mengenal pariwisata, dan budaya Korea selama dua minggu.

Berkenalan
Tak kenal, maka tak sayang. Bagaimana mau sayang kalau kita belum kenal. Bagaimana mau mendoakan kalau belum kenal. Berkenalan, hal yang klasik tapi sangat penting ini begitu memberikan kesan pertama dengan orang yang belum kita kenal sama sekali. Apalagi berkenalan dengan orang yang berbeda bangsa, negara, adat, dan budaya. Tentu menjadi cerita tersendiri.

Seperti berkenalan dengan orang Korea. Jangan heran kalau berkenalan dengan orang Korea. Loh, kenapa? Setelah memperkenalkan nama, kita akan ditanya umur. “Myeoch sariyeyo?” “Berapa umur Anda?”

Bagi orang Indonesia, menanyakan umur adalah sesuatu yang kurang sopan. “Nih apa sih orang, nanya-nanya umur segala. Mau tau aje,” begitulah kira-kira di Indonesia, orang akan bicara dalam hatinya ketika ditanya umur. Tetapi budaya di Korea, menanyakan umur saat berkenalan adalah penting. Dengan menanyakan umur, mereka bisa mengetahui lawan bicaranya lebih tua atau lebih muda dari mereka.

Orang Korea terkenal dengan orang yang menjunjung tinggi nila-nilai kesopanan (Kalau soal ini, orang Indonesia juga sama. Satuju?). Jika mengetahui lawan bicaranya adalah lebih tua dari mereka, cara bicara dan sikapnya akan sangat sopan. Jika mengetahui lawan bicaranya lebih muda, akan menganggap adik, membimbing, dan memanjakan.

So, kalau suatu saat bertemu dan kenalan dengan orang Korea jangan serta merta marah ditanya umur. Yah, namanya juga beda negara yah pasti beda juga budayanya.

Orang Korea juga mempunyai tingkatan bahasa seperti orang Sunda. Ada bahasa buat sendiri, teman, dan orang yang lebih tua. Seperti dahar, neda, dan tuang di Sunda yang berarti makan. Dahar untuk nonformal, neda untuk diri sendiri, dan tuang untuk orang yang lebih tua. Pola seperti itu juga ada dan diterapkan Korea.

Saya dan orang Korea kayaknya akan selalu aneh dan ketawa jika berkenalan. Ini dikarenakan nama yang saya emban. Nama yang diberikan oleh orang tua saya tercinta dengan harapan bisa menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara seperti Gubernur Jawa Barat era 1989, ayo siapa yah? (syukur-syukur bisa jadi gubernur suatu saat nanti. AMIN.) dan memberikan cahaya terang seperti fajar menerangi bumi setiap pagi, fajar adalah moment saya lahir ke dunia. Itulah Yogi Achmad Fajar. Tak heran, ucapan William Shakespeare yang menyatakan apalah artinya sebuah nama tidak berlaku pada mayoritas masyarakat Indonesia. Maaf, sedikit cerita asal usul dan arti nama saya.

Kembali ke topik pembahasan, nama saya (Yogi) ternyata dalam bahasa Korea berarti “di sini”. Maka, setiap saya memperkenalkan diri “Je ireumeun Yogi imnida.” “Nama saya Yogi”. Respon mereka akan seperti ini, “Yogi? Yogi?” Di sini? Di sini?” sambil diiringi senyum dan kadang tertawa kecil. “Nama kamu lucu dan gampang diingat,” ucap salah seorang teman Korea saya.

Oleh karena itu, saya menjadi orang yang GRan (Gede Rasa) di Korea. Bagaimana tidak, setiap orang serasa memanggil nama saya. Padahal kenal saya juga tidak.he,,he,, “Yogi..yogi...”

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah mengecek nama Anda dalam bahasa Korea? Siapa tahu suatu saat dapat rezeki pergi ke Korea dan berkenalan dengan orang sana Anda bisa bersiap diri. AMIN. Keep dreaming!!!!

Jumat, 17 Juli 2009

Berpose

Kota Tua Jakarta

Pertama lihat nih photo, gila...kayak poster film. Nih photo gw ambil bareng sepupu gw, Robi, pas gw lagi di Jakarta. Kayak rutinitas, kalo gw da di Jakarta gw selalu mengabadikan diri gw di sudut-sudut yang bisa memanjakan kenarsisan. Ha...ha...

Others..