Kamis, 19 Februari 2009

Ajang Bercermin

AJANG TEPAT UNTUK BERCERMIN


Tidak ada habisnya bila mengulas pemilu 2009. Banyak hal yang bisa dibicarakan, diperdebatkan, dikupas, dan dianalisis segala seluk beluknya. Momen tepat bagi para pengamat politik, dosen dan mahasiswa ilmu politik untuk melihat pemilu sebagai referensi dan bahan kajian yang nyata.



Pesta demokrasi, ungkapan yang akrab dengan pemilu. Sebuah pesta? Apakah bisa dikatakan pesta jika kondisi bangsa saat ini belum bisa dikatakan sejahtera? Apakah pantas bagi kita masih tetap berpesta? Tepatnya, momen pemilu mesti kita anggap sebagai ajang koreksi diri atau bercermin terutama para politisi yang berkompetisi di panggung perpolitikan.



Sudah bukan Black In News yang baru lagi bagi kita semua, indikasi akan banyaknya masyarakat yang akan golput alias tidak memilih atau tidak menggunakan hak pilihnya. Bukan tanpa alasan, karena mereka sudah muak, bosan, antipati, dan kecewa dengan tingkah laku dan kinerja anggota dewan di senayan sana empat tahun terakhir.



Bagaimana tidak, fakta berbicara banyak kebobrokan merajalela di kursi dewan seperti korupsi, suap, skandal seks, narkoba, dan perbuatan hina lainnya yang dilakukan anggota dewan. Ironisnya, mereka semua adalah yang dulu menjanjikan angin surga dan janji-janji manis saat kampanye pemilu 2004. Adalah wajar dan memang sangat wajar bila masyarakat tidak terpengaruh dengan janji-janji palsu para caleg saat ini. Mereka merasa dikhianati dan dibohongi. Rakyat hanya alat untuk mendapat sebuah kursi.



Rakyat Indonesia semakin kreatif dan cerdas. Kreatif terbukti dengan diadakannya Blackinnovationawards sebagai apresiasi bagi insan yang kreatif. Cerdas tebukti dengan mereka tidak lagi gampang dibohongi. Sekarang zamannya informasi. Segala informasi berkenaan dengan apapun, termasuk background para politisi bisa diketahui. Seiring dengan globalisasi, masyarakat pun semakin melek dan cerdas dalam bersikap.



Alangkah baiknya jika pemilu ini dijadikan benar-benar suatu masa di mana seluruh elemen masyarakat terutama pemerintah dan yang mau lagi jadi pemerintah untuk evaluasi diri. Evaluasi diri dan berkaca pada diri sendiri. Niatan apakah gerangan? Apakah atas nama rakyat? Mensejahterakan rakyat? Syukur-syukur seperti itu. Alangkah sialnya nasib bangsa, jika mereka (para caleg dan capres) hanya memikirkan kepentingan kelompok bahkan pribadi demi sesuatu yang bernama kekuasaan. Kapan bisa maju bangsa ini jika masih seperti itu?

Senin, 16 Februari 2009

Gaya Rambut

Gaya Rambut
Selera masing-masing
“Wah pangling yah sekarang rambutnya panjang! Gaya jadi mahasiswa mah, rambutnya sekarang gondrong!” ucap saudara, teman, dan guru ketika melihat ada perubahan dalam penampilan saya setelah jadi mahasiswa. Saya patut bersyukur, karena saudara dan teman-teman saya normal. Normal karena bisa melihat ada perubahan dalam diri saya. Intinya saya bersyukur masih diperhatikan.

Talk about rambut, sebenarnya berambut gondrong memang sudah menjadi niatan saya saat siswa SMA. Sejak SMA, saya bosan dengan gaya rambut yang sudah-sudah. Mulai dari gaya tentara, botak, 3 cm, dan potongan anak baik-baik (potongan siswa). Namun niatan berambut gondrong baru bisa terealisasikan saat menjadi mahasiswa. Jelas, mahasiswa yang maha- siswa yang harusnya sudah dewasa bukan siswa yang selalu dicekoki oleh peraturan-peraturan sekolah yang sebenarnya sedikit mengekang. Salah satunya berkenaan dengan masalah yang akan kita bahas ini, yakni rambut.

Kebanyakan SMA (termasuk SMA saya) mempunyai peraturan atau lebih dikenal dengan tata tertib. Salah satu poin dari tata tertib itu pastinya ada yang berkenaan dengan rambut. Salah satu isinya berbunyi seperti ini, “Siswa laki-laki dilarang berambut panjang”. Bagi siswa yang berambut panjang pasti dirazia dan akan diberi hukuman dengan dicukur gratis oleh guru. Dicukur gratis oleh guru berarti siap-siap potongan rambut tidak seperti yang diinginkan. Bisa botak, tidak rapih, ataupun tidak merata (sebelah kanan botak, sebelah kiri panjang). Mengenaskan!

Saya berargumen, seharusnya siswa difokuskan untuk belajar dan belajar. Jangan direpotkan dengan masalah rambut. Jika ketakutan siswa berambut panjang akan tidak mencerminkan siswa. Loh? Apa hubungannya, yang penting mental dan sikap harus mencerminkan jati diri siswa. Don’t just a book by cover pepatah berucap.

Black In News saja, tidak semua orang cocok dengan rambut yang pendek. Ada juga orang yang cocok dan pantasnya berambut panjang atau gondrong. Masalah rambut adalah masalah selera. Tidak bisa dipaksakan. Seperti ada yang seleranya Djarum Black ada juga yang Djarum Black Slimz. Tergantung masing-masing pribadi.

Minggu, 15 Februari 2009

Pemilu 2009

Mencentang yang Kontroversi


Tahun ini ada yang berbeda dengan pemilu. Sebuah hajatan besar yang katanya pesta demokrasi rakyat. Ajang di mana rakyat memilih langsung wakil rakyatnya di parlemen juga presidennya. 2009 ini tata cara pemilihannya agak sedikit aneh dan membingungkan. Tidak seperti yang dulu-dulu yakni dengan mencoblos, sekarang dengan mencentang.



Entah kenapa KPU selaku event organizer pemilu merubah tata cara pemilihan yang tadinya mencoblos jadi mencentang. Bagi saya ini sedikit agak kontroversi. Takutnya rakyat belum mengerti betul tata cara yang baru ini. Takutnya lagi, nantinya akan banyak salah paham tentang tata cara pemilihan. Logikanya, rakyat Indonesia sudah akrab dengan sistem konvensional, mencoblos. Sehingga rakyat ditakutkan akan tetap menggunakan sistem lama—mencoblos—karena sudah terprogram dalam pikirannya jika pemilu itu mencoblos meskipun perintahnya mencentang. Ini kan bahaya!



Jujur saja, saya salah seorang yang tidak setuju dengan sistem mencentang ini. Alasannya karena adanya kekhawatiran-kekhawatiran berupa teknis pada saat nanti hajatan berlangsung. Sistem mencoblos saja yang dari tahun 1955 sampai 2004 kemarin masih banyak ditemukan kesalahan, apalagi mencentang yang sosialisasinya belum maksimal dan gencar dilakukan. Sosialisasi memang sangat penting seperti Blackinnovationawards goes to campus dan Autoblackthrough goes to campus. Sehingga rakyat bisa mengenal, tahu, dan akrab dengan sistem mencentang.



Mencentang itu memakai bolpion atau spidol. Bayangkan jika alat untuk mencentang itu tintanya habis atau meskipun ada isinya kurang jelas. Tentunya akan repot dan menyusahkan. Susah bagi panitia dan tidak praktis bagi pemilih. Tidak menutup kemungkinan ada peristiwa semacam itu. Kita ambil saja kemungkinan terburuknya seperti itu.



Secara anggaran, sistem mencentang mengeluarkan dana lebih banyak dibandingkan dengan sistem mencoblos. Bolpoin atau spidol lebih mahal daripada paku. Jika berbicara mengenai ekonomis, sistem mencoblos lebih unggul. Anggaran negara semakin terkuras habis demi sebuah pesta demokrasi yang belum tentu menghasilkan pemimpin yang benar-benar memimpin dan mengubah kondisi rakyat menjadi sejahtera.

Rabu, 11 Februari 2009

Kereta Ekonomi

KERETA EKONOMI
Tolak Ukur Kesejahteraan Rakyat


Apa yang terlintas di pikiran kita tatkala mendengar kereta ekonomi? Tentu banyak dari kita yang mengeluarkan pendapat yang beragam berkenaan dengan kereta ekonomi. Murah, penuh, tak terawat, adalah beberapa pendapat yang mungkin saja terlontar dari masing-masing kita. Bagi saya, kereta ekonomi adalah salah satu tolak ukur dari kemajuan suatu negara. Ini menurut teori saya.

Black In News saja, dengan meninjau kondisi dan banyak tidaknya penumpang bisa kita nilai sejauh mana kondisi negara yang memiliki kereta ekonomi. Singkatnya seperti ini, jika jumlah penumpang kereta api ekonomi di suatu negara setiap hari penuh artinya tidak pernah sepi, negara tersebut belum dikatakan maju atau masih berkembang. Sebaliknya, jika jumlah penumpang kereta ekonomi di suatu negara setiap hari sepi bahkan sudah tidak ada lagi kereta ekonomi, negara tersebut bisa dikatakan maju pesat dan rakyatnya sejahtera.

Ulasannya sederhana, kereta ekonomi penuh berarti para penumpang tidak bisa menggunakan kereta eksekutif dan bisnis. Tidak bisa menggunakan kereta eksekutif ataupun bisnis berarti tidak mampu secara finansial. Banyaknya yang tidak mampu secara finansial artinya ada apa dengan rakyat suatu negara? Sejahterakah?

Penilaian ini hanyalah salah satu dari sudut pandang lainnya untuk mengetahui sejauh mana suatu negara dikatakan maju. Bisa saja kita menilai dari banyaknya jumlah anggota dari Black Car Community atau Black Motor Community. Semakin banyak jumlah anggotanya berarti jumlah orang yang mempunyai mobil atau motor semakin banyak. Artinya banyak orang yang sudah mapan dan banyak uang.

Jumat, 06 Februari 2009

Go Blog Indonesia!

Internet Is Our Style

Hidup tanpa internet, hidup terasa hambar. Bagai makan sayur tidak dibumbui garam, pecin, dan penyedap rasa lainnya. Hambar. Pernyataan ini tidak terlalu berlebihan menurut saya. Hal ini dikarenakan internet telah menjadi kebutuhan primer seiring dengan globalisasi yang semakin gencar.

Hampir setiap orang dari berbagai kalangan tidak terlepas dari teknologi satu ini. Pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pegawai, pedagang, dokter, bahkan sampai pejabat. Latar belakangnya pun bervariatif dalam menggunakan layanan internet. Mencari bahan tugas, bisnis, chatting, blogging, adalah beberapa aktivitas pengguna.

Berawal dari fenomena tersebut, mungkin Djarum Black ingin mewadahi boomingnya internet terutama blogger di Indonesia dengan diadakannya Black Blog Competition. Peserta lomba mesti dituntut kreatif. Setiap artikel mesti ada keywords wajib minimal dua. Seperti Djarum Black, Djarum Black Slim, Autoblackthrough, Black In News, dan keywords yang ada kata Black lainnya.

Tujuan dari lomba ini pun untuk memancing para blogger untuk lebih sering memposting tulisan, ide, kreatif, peduli, dan peka terhadap sekitarnya. Cool, stay tune! We’ll be Black In News. Go blogger Indonesia!

Senin, 02 Februari 2009

Bicara Motor

Motorku oh..

Apakah anda punya motor? Jika jawabannya iya, pergunakanlah, rawatlah, dan maksimalkan kegunaan alat transportasi darat satu ini.

Alat transportasi beroda dua ini rasanya menjadi kebutuhan yang primer. Tidak terkecuali bagi mahasiswa perantauan yang di kota asalnya memiliki motor. Sebaiknya dibawa, karena akan sangat diperlukan. Tentunya bagi yang sudah punya motor.

Apalagi bagi mahasiswa yang mobilitasnya tinggi. Dengan menggunakan motor akan mempermudah dan memperlancar jalannya aktivitas.

Rasanya saya harus bersabar dan merasakan dulu hidup tanpa motor. Lantaran, motor Yamaha Vega R saya tahun 2006 yang saya bubuhi sticker Djarum Black di belakangnya mesti saya ikhlaskan terlebih dulu kepada kakak saya yang tertua untuk dipakai usaha. Karena kakak saya jauh lebih membutuhkannya.

Di sinilah kedudukan seorang adik diuji. Menjadi seorang adik, apalagi bungsu di samping mesti menghormati kakak-kakaknya, juga selalu kebagian yang terakhir. Nasib anak bungsu, meskipun memang anak bungsu sedikit dimanja oleh orang tua. Namun tetap saja bungsu harus selalu mengalah kepada kakak-kakaknya.

Intinya sabar, sabar, dan sabar. Tidak ada motorpun masih tetap hidup. Tinggal sekarang bagaimana menjalani "tantangan" tanpa motor ini dalam aktivitas sehari-hari. Selalu berinovasi berblackinnovationawards selalu. Hidup masih tetap indah tanpa motor (tapi jangan lama-lama).

Minggu, 01 Februari 2009

Yogi For President Of West Java 2028

For President Of West Java 2028

Bertemu dengan Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa barat, Selasa lalu (27/1) membuat saya termotivasi dan sense of belonging terhadap negeri ini menggebu-gebu. Ahmad Heryawan telah membuka mata hati saya tentang sebuah sikap dan mental kepemimpinan yang proporsional.

Menyinggung soal kepemimpinan terutama Jawa Barat, nama saya sendiri Yogi Achmad Fajar memiliki nilai historis yang tidak bisa dipisahkan dengan pemimpin yang menghuni gedung sate. Bagi orang Indonesia nama adalah mempunyai makna, cita, doa dan harapan. Sehingga ucapan William Shakespeare yang menyatakan apalah artinya sebuah nama tidak berlaku pada mayoritas masyarakat Indonesia. Pun orang tua saya ketika menamai bayi yang lahir tanggal 27 Desember 1989 (saya) sarat akan doa di dalamnya.

Orang tua saya yang tercinta memberikan nama depan Yogi diharapkan bisa menjadi orang yang berguna dan memberikan kontribusi yang besar bagi negeri seperti halnya Gubernur Jawa Barat era orde baru 1985-1993, Yogie Suardi Memet. Nama Yogi juga dipilih karena nama tersebut identik dengan orang Sunda.

Nama Achmad dalam bahasa Arab berarti terpuji. Ini mempunyai kekuatan doa bahwa segala tingkah laku saya harus berdasarkan nilai-nilai ahlak yang tinggi. Serta Fajar berarti cahaya yang menerangi. Memberikan keterangan bahwa saya dilahirkan ketika fajar menyingsing.

Tidak ada salahnya bagi saya untuk bisa mewujudkan harapan orang tua saya melalui nama yang saya emban sejak 19 tahun lalu ini. Tidak ada salahnya juga bila saya terpanggil untuk menjadi orang yang berkantor di "gedung putih"nya Jawa Barat suatu saat nanti. Oleh karena itu, saya harus melakukan "investasi" besar-besaran terutama soft skill dari sekarang sebagai modal hidup di masa mendatang yang masih menjadi rahasia.

Bukan tidak mungkin Jawa Barat akan mencetak sejarah dengan pernah dipimpin oleh seorang Gubernur yang nama depannya sama. Karena sejarah itu unik, menggemaskan, dan mengesankan. Doa orang tua adalah menembus langit. Begitu dahsyatnya sehingga mengalahkan segala-galanya.

SAHABAT BERKATA

Rohanah
Mahasiswi IPB Bogor
"Merupakan suatu pemikiran yang jauh ke depan. Salut banget. Kalo hal itu baik dan salah satu cita-cita kenapa tidak! Pertahankan itu! Yang rakyat ingingkan bukan janji tapi fakta. Birokrasi yang adil."





Ihsan Budi Rachman
Mahasiswa ITB Bandung
"Bagus kalo mau jadi Gubernur. Dari sekarang perbanyak aktif terutama mengikuti jejak Pak Ahmad Heryawan."






Felysia Nurul
Mahasiswi President University, Cikarang
"Pastinya senang, karena salah seorang teman saya jadi orang nomor 1 di Jabar. Sarannya use your critical thinking in solving social life's problem. Gie emang cocok buat terjun di dunia politik. Yang jelas jangan pake politik kotor."




Ima Amelia
Mahasiswi UPI Bandung
"Gak nyangka banget kalo ntar gie bisa jadi Gubernur Jawa Barat. Mending langsung jadi Presiden aja deh Gie."






Linda Mulandari
Mahasiswi Akbid Bandung
"Nothing impossible. Prepare those thing from now. Buat semua kalangan masuarakat especially komunitas Jabar feel comfort and better by your lead."





Wegantara
Siswa SMA Al Muttaqin Tasikmalaya
"Dukung banget, insyaAllah bisa membawa perubahan dan gairah baru. Seharusnya bisa lebih dari Gubernur, pantasnya jadi Presiden. Karena pemikirannya yang selalu thinking out of the box."





Susanti Sylvia
Siswi SMA Al Muttaqin Tasikmalaya
"Didoakan sangat oleh Uchan. Mudah-mudahan bisa mnjadi sosok yang bisa mengubah Jabar ke arah yang lebih baik. Rakyat sangat mengharapkan dan mengidolakan sosok seperti itu! Kakak pasti bisa! Semua impian kaka insyaallah bisa terkabul, dengan berusaha dan berdoa pasti bisa."





Gilang Maulana Yusuf
Siswa SMA Al Muttaqin Tasikmalaya
"Gak kebayang. Gimana jadinya ntar. InsyaAllah ada dampak perubahan. Teringat ketika di SMA bareng berorganisasi. Yang saya tahu, wawasan A Gie itu waduh, luas. Tapi inget, pokoknya persepakbolaan Jabar terutama Persib harus bisa dioptimalkan. Sip lah!"




Siti Awaliyati Deliabilda
Siswi SMA Al Muttaqin Tasikmalaya
"Tinggal dirancang dari sekarang A Gie. Dengan rencana dan pemikiran yang melompat, insyaAllah bisa."