Kamis, 29 Januari 2009

Wawancara Gubernur Jawa Barat

PRIBADI SANTUN DAN RAMAH ITU BERNAMA
AHMAD HERYAWAN
"Belajarlah sampai ke negeri orang. Dan ambilah semua hal yang didapat dan bermanfaat untuk diterapkan di tanah air." Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat.

Tidak ada niatan sama sekali dalam lawatan saya ke Bandung untuk bertemu seorang Ahmad Heryawan. Bahkan bertemu di gedung sate--gedung kebanggaan, dan “gedung putihnya” Jawa Barat. Sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya bertemu dengan orang nomor wahid di Jawa Barat ini. Hanya niatan silaturahmi ke teman-teman saya yang sedang kuliah di Bandunglah yang menjadi niatan awal saya bermusafir ke kota kembang.

Selasa (27/1) yang sejuk dan cerah menghiasi kota Bandung. Sosok berkaca mata tegap dan wibawa berjalan ke luar gedung sate diikuti ajudan dan para tamu dari Arab Saudi. Tebar senyum dan sapa kepada setiap orang yang ada di sekitarnya menjadi pemandangan yang rupawan. "Assalamualaikum," sapanya kepada setiap orang yang dilewati. Sosok itu tidak lain adalah Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat pertama plihan rakyat. Rupanya beliau telah menerima tamu dari Arab Saudi.

Pemprov Jabar tengah menjalin kerja sama dengan Arab Saudi dalam berbagai bidang. Bidang pendidikan, perdagangan serta kesenian. Kerja sama terutama diarahkan dalam bentuk pertukaran pelajar. Sehingga pelajar dari Jawa Barat bisa berkesempatan merasakan bagaimana belajar di luar negeri.

Naluri jurnalis saya muncul, saya kontan langsung ingin sekedar berbincang dengan beliau. Namun, saya menunggu momen yang tepat. Saya menunggu beliau melepas tamunya dari Arab Saudi terlebih dahulu. Dan momen itu pun datang, dengan gaya "penodongan" saya langsung mendatangi Gubernur yang sedang sendiri melihat tamunya meninggalkan gedung sate.

Kesan pertama berbincang dengan mantan anggota Komisi E Bidang Kesejahteraan Rakyat DPRD DKI 2002-2004 ini begitu menyenangkan. Ahmad Heryawan begitu welcome. "Gimana-gimana, mau wawancara. Silahkan!"ungkapnya sambil merangkul pundak saya layaknya seorang sahabat.

Karena mendadak dan tidak ada outline sebelumnya, maka saya berimprovisasi. Pertanyaannya pun sekitar tentang apa yang telah saya lihat. Yakni tentang kerjasama dengan Arab Saudi terutama di bidang pendidikan. Heryawan mengatakan hal itu terkait dengan banyaknya perguruan tinggi terkenal terutama yang bergerak dalam bidang agama Islam. "Mereka justru sangat terbuka untuk menyediakan beasiswa bagi pelajar Indonesia yang ingin belajar ke sana," ujar Gubernur kelahiran Sukabumi, 19 Juni 1966 ini.

Pemerintah sendiri berusaha untuk memberikan dukungan sepenuhnya kepada para pelajar di Jawa Barat yang nantinya berkesempatan mendapat program ini. "Yah semestinya pemerintah harus memberikan dukungan terutama finansial. Kalau tidak begitu, bagaimana mereka bisa hidup nanti di sana,"ujarnya.

Harapannya dengan program seperti ini, hasil dari yang didapat dapat diaplikasikan di Indonesia. "Belajarlah sampai ke negeri orang. Dan ambilah semua hal yang didapat dan bermanfaat untuk diterapkan di tanah air," ujar mantan ketua umum DPW PKS DKI Jakarta 2003-2006 ini.

Pemimpin Merakyat, Ramah, dan Sederhana

Berbicara tentang sosok Ahmad Heryawan bisa dikata seorang yang fenomenal. Tidak diprediksi dan diunggulkan dalam pilkada Jabar oleh banyak kalangan tahun lalu. Akan tetapi predkasi hanyalah prediksi. Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf menuju gedung sate terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2008-2013.

Banyak orang yang memuji kinerja dan sikap Heryawan yang sederhana, arif, sopan, dan santun. Pun saya menyetujui 100% atas pujian orang yang diajukan kepada suami dari Netty Prasetyani ini.

Bagamana tidak, sikap ramah, bersahabat, dan tidak sombong karena memangku jabatan sebagai orang terdepan di Jawa Barat diperlihatkan di depan mata saya. Auranya pun begitu terasa sampai ke hati. Damai, tenang, dan nyaman saya rasakan tatkala berada di dekatnya.

Kinerja sebagai Gubernur pun tidak main-main. Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan sangat getol diperjuangkan. Mulai dari kunjungan ke sekolah-sekolah yang terpencil dan memberikan bantuan dana langsung. Bahkan suatu ketika sedang berkunjung melihat sekolah yang roboh, bantuan yang tadinya berjumlah 50 juta rupiah dirubah menjadi 200 juta rupiah oleh Heryawan. Subhanallah, jarang saya menemukan pemimpin seperti ini di tengah krisis kepemimpinan.

Keseharian bersama keluarganya sangat sederhana. Pergi ke pasar untuk sekedar berbelanja kebutuhan sehari-hari tetap dilakoni. Seperti berbelanja bersama dengan istrinya di Pasar Cihaur Geulis Kota Bandung belum lama setelah dilantik. Sebelum menjadi Gubernur pun Heryawan sering pergi ke pasar bada shubuh membantu istrinya.

Heryawan merupakan jawaban dari pertanyaan pesimistis, "masih adakah pemimpin yang benar-benar pemimpin?" Religius, dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan berahlak yang baik adalah pemimpin yang kita idam-idamkan. Harapan itu masih ada, masih banyak Heryawan yang lainnya menjadi pemimpin yang insyaAllah amanah. Jawa Barat benar-benar tidak salah memilih pemimpin.

Yogi dan Ihsan berfoto bersama Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan seusai wawancara

Minggu, 25 Januari 2009

Narsis

NARIS=EKSIS
Narsis tampakya kata yang akrab di telinga kita dewasa ini. Entah siapa yang mencetuskan nama ini. Namun, setelah saya search engine, katanya sih narsis berasal dari cerita Yunani, tentang seorang pemuda bernama Narcissus. Dia sangat ganteng dan suka memuji dirinya sendiri, menolak cinta banyak gadis (dan janda?), tidak mudah tunduk pada rayuan beracun para wanita. Sampai suatu saat dia menolak cinta Echo, yang menyebabkan Echo patah hati, dan Narcissus dikutuk sehingga jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air kolam. Katanya!!

Apapun latar belakang ceritanya, bisa kita generelasikan bahwa narsis adalah sebuah sikap yang membanggakan dan memuji dirinya sendiri. Sikap ini bisa terlihat dengan mendeteksinya dengan melihat seseorang tatkala berhadapan dengan kamera. Loh kenapa? Orang yang narsis jika dalam momen jeprat-jepret selalu ingin ada. Maka tak heran, orang narsis diidentikan dengan banyak photo dirinya terpampang baik di kameranya maupun kamera teman-temannya. Sikap narsis bisa kita lihat pula seperti di friendster, facebook, blog, dan situs pribadi lainnya. Banyak orang yang memampang photo dirinya sendiri dengan berbagai gaya (termasuk saya).

Eksistensi diri
Salahkah bersikap narsis? Hal ini mencuat karena ada beberapa orang--tidak semua--yang acapkali mengatakan, "Idih..narsis loh!" ketika menemukan temannya dilanda sikap narsis. Sebagai black in news saja, orang yang berkata seperti itu sebenarnya narsis juga. Mereka hanya kalah start duluan untuk bernarsis. Bahkan bisa dikatakan yang berkata, "Idih narsis loh" lebih narsis dari orang yang diolok-oloknya. Oleh karena itu, sesama narsis dilarang berkata"idih narsis loh!" Biarkanlah, mengalirlah seperti rombongan black car community yang menghiasi jalan raya.

Bersyukurlah orang yang memiliki sikap narsis. Yang tidak boleh adalah sikap narsis yang berlebihan. Sampai menghina orang, sombong, dan merendahkan yang lain. Narsis yang proporsional adalah narsis yang wajar-wajar saja. Narsis adalah tanda syukur atas pemberian Sang Maha Pencipta. Tanda syukur tersebut salah satunya dengan merawat diri dan menyayangi diri sendiri. Selain orang lain, siapa lagi yang menyayangi dan mencintai diri kita kecuali diri kita sendiri.

Isu eksistensi kerap muncul jika berbicara mengenai hal satu ini. Dengan narsis berarti kita ada. Ungkapan itu setalah dipikir-pikir benar juga adanya. Bisa kita bayangkan, jika kita sudah tua, ketika saat muda tidak bernarsis ria--dalam hal ini adanya photo ketika muda--tidak ada sesuatu yang bisa dikenang lewat album photo. Setidaknya bisa bernostalgia ria mengenang masa-masa muda lewat photo. Seperti halnya saya, saya ketika masa SMP dulu tidak terlalu eksis dengan bernarsis ria di depan kamera. Disamping dulu kamera digital belum sebooming sekarang ditambah lagi saya tidak PDan. Sehingga kenangan masa SMP lewat photo hanya sedikit. Intinya, eksistensi pun bisa dilihat dengan sikap narsis yang kita tonjolkan.

Jadi, jangan takut untuk bernarsis. Jika ingin tetap eksis maka salah satu jalannya adalah bernarsis. Eksis itu penting. Eksis berarti kita dianggap. Dianggap berarti kita ada. Dengan ada berarti kita hidup. Dengan hidup berarti bisa beramal dan beribadah.

Selasa, 20 Januari 2009

Logo Black

BUKAN SEKEDAR LOGO

Melihat logo, icon, atau nama lainnya brand dari Djarum Black sepintas terasa biasa-biasa saja. Namun logo dengan dasar huruf bertipe Arial Black berwarna putih, berlatar warna hitam dengan huruf a diganti dengan segita merah ini, tulisan “BLACK” menjadi sebuah karya inovasi yang mahal.

Siapapun orang yang mencetuskan ide dan membuat logo ini, kita patut mengapresiasi. Simple, jauh dari kesan neko-neko tetapi elegan adalah kesan yang didapat ketika melihatnya. Suatu pembelajaran penting bisa kita petik bahwa sebuah karya yang bagus tidak harus ribet dan rumit. Justru yang dianggap biasa diubah dengan sedikit sentuhan, bisa menjadi sesuatu yang tidak biasa. Perlu thinking out of the box untuk mencapai proses kreatif ini.

Alhasil, begitu banyak orang yang rela mencatumkan logo ini di beberapa benda khususnya kendaraan: baik motor ataupun mobil. Mereka merasa gagah bila logo Black terpampang di kendaraan mereka. Dengan dalih kembali kepada kesan logo tadi: mahal, elegan, dan inovatif. Imilah yang membuat logo black tidak hanya sekedar logo dari sebuah merek rokok.

Autoblackthrough yang merupakan the hottest hi-tech modified motorshow di negeri ini menjadi sebuah bukti. Di ajang ini bisa dilihat mobil-mobil dengan modifikasi gila-gilaan hasil para creator yang proporsional. Mobil-mobil hasil modifikasi menjadi lebih fantastis dan wah ketika “Black” terpampang di body mobil. Benar adanya, ide itu lebih mahal dari sebuah proses kreatifitas. Jadilah gudang ide cemerlang, maka anda akan menjadi “mahal”.

Sabtu, 17 Januari 2009

Sedikit Tentang Nilai

SEDIKIT TENTANG NILAI

"SEGALA-GALANYA (BANYAK) DIMULAI DARI NILAI TAPI NILAI BUKAN SEGALA-GALANYA"

Seiring dengan masa ujian akhir semester mahasiswa yang telah usai dan cukup menguras tenaga karena mesti "bermesraan" dengan soal-soal—khususnya saya, mahasiswa yang notabene baru menjadi mahasiswa—alangkah indahnya berbicara mengenai sebuah kata yang mau-tidak mau, enak-tidak enak, sedikit-banyak, setuju-tidak setuju, akan terlontar kata yang terdiri dari lima huruf, N-I-L-A-I. Memang, sedikit melulu dan tidak up to date. Tapi sayangnya selalu menjadi Black In News yang ditunggu-tunggu bagi orang-orang yang masih berkutat dengan masalah itu (baca: siswa dan mahasiswa).

Dari zaman saya ingusan (sekolah dasar), mimpi basah, mulai pacaran, putus, nyambung, putus, nyambung dan sampai sekarang jadi mahasiswa yang katanya berbau idealis—padahal idealis tidak hanya milik mahasiswa—nilai pastinya sudah akrab. Bahkan, ada beberapa orang yang berani mengeluarkan kocek sebanyak-banyaknya untuk sekedar mendapat sebuah nilai yang tinggi. Apapun caranya, menghalalkan yang haram, membenarkan yang salah, dan melegalkan yang legal.

Ada beberapa pertanyaan mendasar sekaligus menggelitik. Apa sebenarnya esensi dari nilai itu sendiri? Apakah nilai itu penting? Dan seputar pertanyaan mengenai nilai lainnya. Dalam tulisan ini, nilai dibahas bukan dalam ranah general, akan tetapi nilai dalam artian sempit berkenaan dengan urusan akademik. Akan sangat meluas jika saya membahas nilai dalam konteks general.

Persepsi Umum
"Nilai loe berapa Gie?"

Selalu dan selalu pertanyaan itu muncul dari mulut teman saya (dari SD sampai kuliah) ketika pengumuman nilai hasil ujian. Ada yang salah dengan pertanyaan itu? Tentu tidak, namun jawaban saya yang terkadang agak menjengkelkan. Namun terkadang juga mengenakkan sebagai respon akan pertanyaan mereka. Sebelum saya jawab, saya selalu mengajukan pertanyaan serupa.

"Nah, nilai loe dulu donk berapa?"

Dan anehnya, mereka yang bertanya terlebih dahulu, mereka juga yang menjawab terlebih dahulu. Dengan tahu nilai mereka terlebih dahulu akan mempengaruhi jawaban saya yang akan dilontarkan. Jika teman saya nilainya besar dan lebih besar dibanding saya, maka dengan tegar dan optimis saya menjawab.

"Oh baguslah, nilai gue biasa aja. Tapi nilai BUKAN SEGALA-GALANYA Bos!!"

Jawaban yang terkesan membela diri. Namun di sisi lain, jika teman saya nilainya tidak lebih besar dari nilai yang saya punya. Jawaban yang keluar dari mulut manis saya akan seperti ini.

"Syukur Alhamdulillah nilai saya A+/100. SEGALA-GALANYA dilihat dari nilai, tapi tenang Boss! Nilai BUKAN SEGALA-GALANYA."

Hampir sama, namun jauh berbeda dengan jawaban sebelumnya. Kata segala-galanya dilihat dari nilai adalah sebuah bentuk optimisme. Kontra akan terlihat setelah mata menggeser ke kata selanjutnya. Ditambah embel-embel kata tapi nilai bukan segala-galanya sesudah kata segala-galanya dilihat dari nilai merupakan sebuah bentuk motivasi untuk teman yang nilainya misalkan, (maaf) kurang memuaskan. Memberi harapan bahwa hidup ini toh tidak hanya berkutat dengan masalah nilai.

Dari penggalan pengalaman dialog yang acapkali saya alami, membuat saya sadar ataupun tidak, berakibat rubahnya mind set selama ini tentang hakikat (ontologi) nilai. Sehingga tidak terlalu memusingkan diri untuk sekedar mendapat nilai yang "wah". Ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekedar nilai.

Umumnya, kebanyakan dari kita menganggap bahwa orang yang memiliki nilai yang tinggi adalah orang yang pintar dan pastinya orang hebat. IP 4.00 atau selalu mendapat nilai 10 setiap ujian adalah legitimasi bahwa orang yang menyandang nilai-nilai itu adalah best of the best. Betulkah seperti itu?

Saya punya sepupu yang menjadi santri di Pesantren Gontor. Pondok pesantren yang terkenal di antero negeri ini. Terkenal karena kualitas pendidikan dan kurikulum yang diterapkan di sana. Menurut cerita yang saya dengar dari sepupu, bahwa saat ujian banyak santri yang nilainya kurang memuaskan. Contohnya bahasa Inggris, secara test banyak yang nilainya di bawah garis standar. Entah karena soalnya sulit atau faktor yang lain.

Namun jangan dikira, kemampuan berbicaranya hampir bisa dan bahkan ada yang menyamai seorang native. Speak english fluently adalah kemampuan yang dimiliki. Ini dikarenakan selama hidup di pondok diwajibkan menggunakan bahasa Inggris atau Arab sebagai bahasa sehari-hari. Alasan yang sangat logis.

Dengan demikian, dalam contoh kasus ini ukuran nilai bukan apa-apa. Aplikasi materi yang didapat adalah jauh lebih diprioritaskan. Untuk apa nilai tinggi secara tertulis, namun aplikasi nothing. Tapi jauh lebih penting, nilai OK aplikasi OK pula. Dan yang jangan sampai terjadi adalah nilai ke mana aplikasi ke mana.

Hard skill dan Soft Skill
Nilai adalah sebuah konsekuensi logis dari sebuah proses ujian. Konsekuensi berupa baik atau kurang baik. Nilai biasanya berhubungan dengan kemampuan akademik atau kata lainnya hard skill.

Bukti kongkretnya adalah ijazah. Ijazah adalah sebuah cermin diri atau simbol terhadap nilai hard skill. Tak heran, bila perusahan-perusahaan dan instansi lain yang sedang menerima lowongan umumnya akan melihat ijazah pelamar sebagai bahan pertimbangan diterima atau tidak.

Kadang yang terlupakan adalah keberadaan soft skill. Instansi-instansi tadi sering melupakan unsur yang satu ini. Padahal, soft skill ini adalah penting, sama pentingnya dengan hard skill. Nilai 100, tapi attitude 0 sama saja dengan omong kosong. Pintar, tetapi sosialisasi kurang buat apa. Keseimbangan memainkan kedua unsur inilah yang diharapkan untuk menjadi "orang" yang sesungguhnya.

Mengapa soft skill kadang diabaikan? Karena kita sebagai manusia juga sering memendamnya dan kurang memoles potensi yang ada dalam soft skill. Ditambah lagi soft skill tidak diajarkan di sebuah ruangan yang bernama kelas. Soft skill bukan sebuah kurikulum, apalagi sebuah pelajaran. Tidak ada sebuah nilai sebagai ukuran dalam soft skill.

Adalah problem solving, manajemen stress, kreatifitas, berjiwa kepemimpinan, organisator beberapa hal bagian dari soft skill. Ada salah satu pemikiran yang berbunyi thiking out of the box. Sebuah pemikiran yang mengajak kita untuk "keluar" dari pemikiran konvensional yang biasa. Thinking out of the box menuntut kita agar mencari hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Yang biasa menjadi tidak biasa.

Iklan Djraum Black salah satunya menyinggung soal ini. Ada salah satu iklannya yang mengedepankan kata think black! Membuat kita mesti berpikir kritis, beda, peka, dan tentunya thinking out of the box.

Akhirnya kita tahu sebagai seorang pembelajar dan belum menjadi manusia seutuhnya (orang sukses), hidup itu bukan berawal dari nilai. Nilai gampang didapat, dicari, bahkan dimanipulasi. Kemampuan sesungguhnya yang tidak bisa dilihat dengan nilai adalah yang bisa menjadi modal.

Kualitas bisa teruji dengan sejauh mana aplikasi kemampuan yang dimiliki dalam kehidupan. Sejauh kualitas aplikasi itu proporsional, sejauh itu pula hasil yang diraih dalam berbagai hal memuaskan. Determinasi, kerja keras, tak kenal lelah, kekuatan mimpi, doa, dan berpikir positif menjadi bahan bakar yang mau tidak mau mesti ada dalam kendaran yang bernama semangat. Teringat kata bijak dari seorang Thomas Alfa Edison, bahwa kecerdasan hanyalah 1%, sedangkan 99% adalah kerja keras.

Sabtu, 13 Desember 2008

IT’S KOREAN DAY
Annyong Haseyo!


Wangi harum aroma masakan enak tercium di kawasan Fakultas Ilmu Budaya. Wangi masakan yang menarik hati orang banyak untuk berkunjung ke pelataran gedung utama FIB.

Rupanya ada demo masak! Bukan! Lantas apa?” Pertama melihat anggapan terlintas adanya sebuah demo masak. Ternyata itu bukan demo masak apalagi demo mahasiswa. Adalah stand makanan yang merupakan salah satu stand dari rangkaian acara Korean Day.


Acara yang dilaksanakan tangal 10-12 Desember 2008 ini terlaksana atas kerja sama Jurusan Korea FIB UGM dengan KOICA (Korea International Cooperation Agency) dan pusat studi korea UGM. Korean day merupakan program tahunan yang kepanitiaanya diserahkan penuh kepada HIMAHARA (Himpunan Mahasiswa Bahasa Korea).



Korean Day ini adalah program tahunan bagi anak-anak korea (mahasiswa jurusan korea, -red) UGM. Dan kita sendirilah yang menjadi panitianya,” terang Lusyana ketua panitia Korean Day 2008.


Lusyana menambahkan tujuan dari adanya Korean Day adalah untuk memperkenalkan budaya Korea kepada seluruh masyarakat di Yogyakarta khsususnya. “Kami mengundang dan mengajak seluruh masyarakat yang ada untuk mengenal
negara Korea plus kebudayaannya melalui Korean Day ini,” cetus mahahasiswa S1 jurusan bahasa korea ‘07 ini.


Senada dengan Lusyana, Suray Agung Nugroho, M.A., selaku ketua jurusan Bahasa Korea UGM harapannya atas pengenalan Korea tidak hanya sekedar bahasanya. “Dari hal-hal kecil seperti Korean Day ini semoga hubungan Korea-Indonesia semakin dekat. Masyarakat luas bisa mengenal Korea bukan hanya bahasanya saja tetapi juga kebudayaannya,” harap Suray.


Mengenal lebih dekat dengan Korea
Banyak acara yang disuguhkan panitia bagi pengunjung untuk mengenal negara yang dijuluki setenang pagi ini. Bagi yang ingin mencoba seperti apa makanan Korea itu, bagaimana rasanya, dan bagaimana bentuknya. Stand makanan adalah jawabannya. Pengunjung bisa menyicipi dan membeli berbagai ragam makanan Korea di stand makanan yang berada di pelataran lantai satu gedung C.

Kimichi, Tokboki, Bibimbab adalah beberapa makanan yang bisa dinikmati. Selama acara berlangsung, makanan yang dijajakan selalu habis terjual. “Rame sekali stand makanan ini. Kita selaku yang masaknya sampai cape,” Ucap Son Young A, koordinator stand makanan yang juga salah satu Dosen Bahasa Korea.



Pengunjung yang ingin memakai pakaian khas Korea, di lantai dua gedung C tersedia stand Hanbok. Banyak pilihan warna hanbok untuk dipakai, baik untuk pria maupun perempuan. Dengan hanya membayar dua ribu rupiah saja, pengunjung bisa puas menyewa dan berfoto-foto ria dengan pakaian adat Korea yang terkenal itu.




Korea terkenal salah satunya karena drama dan film-filmnya yang bagus serta menyentuh. Banyak orang Indonesia yang menyukai film-film Korea. Oleh karena itu, panitia menghadirkan bioskop film Korea. Auditorium FIB pun disulap menjadi sebuah bioskop bak studio 21. Film yang disuguhkan pun beragam, dari kisah percintaan, komedi, horor, serta tentang kemanusiaan. Bioskop film Korea ini tak kalah banyak diminati oleh para pengunjung. Pengunjung hanya membeli tiket seribu rupiah saja dan bisa menonton film Korea seperti di studio bioskop sebenarnya.


Masih ada lagi, pertunjukan seni dari mahasiswa jurusan Korea pun tidak terlewatkan. Seni tari, drama, serta alat musik Korea ditampilkan secara apik. Samulnori dan tari hansam adalah contohnya. Semua kesenian yang ada ditampilkan oleh mahasiswa prodi jurusan bahasa Korea.





GALERI PHOTO




TESTIMONI

Suray Agung Nugroho, M.A.
Ketua Program Studi Bahasa Korea UGM

Dari hal-hal kecil seperti Korean Day ini semoga hubungan Korea-Indonesia semakin dekat. Masyarakat luas bisa mengenal Korea bukan hanya bahasanya saja tetapi juga kebudayaannya.”


Son Young A
Dosen Program Studi Bahasa Korea UGM

Orang Indonesia sangat ramah, terbuka, dan antusias sekali dengan adanya Korean Day ini.”

Zahrani Balqis
Ketua Himahara (Himpunan Mahasiswa Bahasa Korea) 2008-2009

Sebagai wadah untuk menyatukan seluruh angkatan adalah salah satu tujuannya. Juga sebagai wadah untuk berorganisasi dan bekerja tim.”



Lusyana Widyastuti
Ketua Panitia Korean Day 2008

Budaya Korea mudah-mudahan bisa dikenal oleh khalayak ramai.”



Amoy
Mahasiswi FK UMY

Stand makanannya dibanyakin dunk! Tapi seru! Pokoknya besok lagi mesti lebih seru!”


Arif
Mahasiswa FISIP UGM

Bagus sekali adanya Korean Day ini. Saya jadi bisa mengenakan pakaian Korea dan tahu kebudayaannya.”


Ira
Mahasiswi FH UGM

Seru abis…”





Haidar
Mahasiswa F Psikologi UGM

Suka sekali melihat kerja panitianya. Lucu-lucu plus gokil. Sukses buat Korean Day.”


Tika
Ibu Rumah Tangga

Warna hanboknya kurang banyak. Tambahkan lagi warnanya. Supaya banyak pilihan. Tapi mengasyikan!”


Faisal
Mahasiswa UNY

Lebih menarik kalo benda-benda yang menunjukkan kebudayaan Koreanya diperbanyak.”


Ninin
Mahasiswi F Psikologi UGM

Mungkin bisa ditambahin ada permainan Koreanya. Trus, stand hanboknya di tempat yang tertutup, semisal ruangan.”




Nur
Mahasiswi Farmasi UAD

Seru banget acaranya. Semoga tiap tahun terus ada kemajuan. Ntar saya bisa maen-maen lagi ke Korean Day.”

Minggu, 23 November 2008

MENEMUKAN KEMBALI JATI DIRI MAHASISWA

Pengantar
Perjalanan historis telah mengantarkan kita pada sebuah perspektif perubahan yang memberikan sinyal secercah harapan dari semangat kemajuan dan kebebasan atas tirani penjajah. Perubahan yang senantiasa dinantikan menjadi realitet dari mimpi yang diidam-idamkan masyarakat pribumi saat itu. Berawal dari mimpi itulah, para pejuang tak kenal lelah memberikan sebuah penetrasi yang tak henti-hentinya dengan berbekal spirit optimisme yang terpatri dalam hati sanubari. Hasil pun berbuah manis dan ekuivalen dengan usaha dan kerja keras yang begitu besar. Pikiran, tenaga, harta dan darah pun menjadi kontribusi yang tak pelak menjadi harga mati.

Kita tidak bisa memungkiri, dalam setiap episode perjuangan bangsa Indonesia tidak akan terlepas dari sosok pemuda. Pemuda sebagai seorang kaum terpelajar—mahasiswa—yang notabene akrab dengan idealismenya yang acap kali bertentangan dengan elite eksekutif dalam hal ini pemerintah. Tidak semata-semata menentang tanpa ada alasan yang relevan. Ironisnya, semua itu dilakukan sebagai bentuk perhatian mereka terhadap kondisi bangsa. Kita tentu masih ingat ketika persiapan kemerdekaan Indonesia, golongan muda dan golongan tua berselisih pendapat mengenai proklamasi kemerdekaan. Sehingga menyeret golongan muda dan golongan tua kedalam konflik intern. Golongan muda yang dimotori oleh Adam Malik dan rekan pemuda lainnya, menginginkan agar proklamasi kemerdekaan segera diproklamasikan. Di sisi lain, golongan tua yaitu Soekarno, Hatta dan rekan yang lainnya justru terkesan menunda-nunda kemerdekaan. Dengan dalih proklamasi kemerdekaan RI mesti dilakukan pada momen yang tepat.

Konflik tersebut berlanjut dengan dibawanya Soekarno, Hatta, dan golongan tua lainnya ke Rengasdengklok oleh golongan muda. Dibawanya golongan tua oleh golongan muda ke Rengasdengklok untuk segera merumuskan kemerdekaan RI. Setelah dirumuskan, maka pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamasikanlah kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan Hatta. Sejak itulah RI memproklamasikan kemerdekaannya.

Konflik antara golongan muda dan golongan tua tersebut menghasilkan suatu konflik yang konstruktif. Di mana dengan adanya konflik dari kedua belah pihak tersebut menghasilkan sesuatu yang mengubah nasib bangsa Indonesia. Bisa kita bayangkan, jika golongan muda tidak memberikan “tekanan” kepada golongan tua untuk untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI. Mungkin kemerdekaan RI diproklamasikan tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 atau mungkin akan ditunda-ditunda.

Mahasiswa sebagai agent of change
Jiwa yang menggebu-gebu menjadi denyut nadi dalam setiap langkah hidup pemuda. “Darah muda” yang mengalir menjadi bensin bahan bakar utama pergerakan kepemudaan Indonesia. Pemuda sendiri memiliki tempat strategis yang tidak bisa dianggap sebelah mata oleh siapapun bahkan oleh pemuda itu sendiri. Sejatinya modal tersebut menjadi manifestasi atas kepercayaan bagi pemuda menemukan perannya yang penting dalam dinamika tatanan kehidupan sosial, politik, dan budaya.

Di tengah keterpurukan bangsa yang sedang acak marut ini, sejumlah pemuda memberikan andil yang besar terhadap kemajuan bangsa. Hal ini dibuktikan dengan berbagai prestasi yang gemilang yang telah ditoreh. Baik itu dalam bidang politik, pendidikan, olahraga, serta bidang yang lainnya. Bidang poltik misalnya. Panggung poltik Indonesia saat ini dihiasi dengan pemuda yang turut aktif memberikan gagasan yang segar bagi bangsa. Keikutsertaan pemuda terjun ke dalam politik praktis mengindikasikan bahwa pemuda juga bisa berkarya, berdedikasi, serta berkontribusi. Rasa bertanggung jawab dan semangat sense of belonging yang besar terhadap bangsa menjadi motif tersendiri di balik semua itu. Akseptabilitas politik pemuda pun menjadi sesuatu yang tidak semestinya diperdebatkan.

Adapun opini publik dewasa ini mencuat mengenai peran pemuda yang terjun ke dunia politik merupakan sebuah trend baru yang hanya sepintas dan tidak akan betahan lama adalah keliru. Opini tersebut akan terbantahkan dengan sendirinya tatkala kita kembali menengok sejarah. Isu kepemimpinan yang menjadi tolak ukur bagi peran pemuda saat ini dalam konteks kenegaraan menjadi sesuatu yang realistis. Fakta berbicara ketika dominasi pemuda relatif mewarnai jagat panggung politik masa lalu. Budi Utomo yang menjadi benih kebangkitan nasional tidak lain dimotori oleh mahasiswa yang notabene adalah pemuda. Tahun 1942 ketika menentang penindasan Jepang di Base Camp Asrama Prapatan 10 tak luput dari peran mahasiswa. The founding fathers negara kita pun seperti Soerkarno dan Hatta saat diambil sumpahnya sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia saat berumur relatif muda yakni 44 dan 43 tahun. Soeharto menjadi Presiden pun tergolong muda yakni saat berumur 46 tahun.

Satu lagi sebuah peristiwa yang begitu fenomenal dan menjadi catatan tak terlupakan adalah reformasi pada tahun 1998. Puluhan ribu mahasiswa bahkan lebih limpah ruah turun ke jalan dengan tujuan yang sama bertekad menjatuhkan rezim orde baru. Rezim yang telah berkuasa 32 tahun, 7 bulan, 3 minggu ini pun akhirnya tumbang. “Saya menyatakan berhenti”, adalah ucapan yang terlontar dari mulut Bapak Pembangunan ketika mengumumkan pengunduran dirinya sebagai penguasa orde baru. Pernyataan tersebut adalah misi utama yang memang dari awal diperjuangkan oleh mahasiswa. Meskipun semua itu mesti dibayar mahal dengan adanya mahasiswa yang ditembak mati oleh pasukan keamanan pada saat perjuangan para mahasiswa dalam rentetan kronologi reformasi.

Sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Adalah pernyataan dari Benedict Anderson seorang Indonesianist. Pernyataan Ben merupakan optimisme eksistensi pemuda dalam alur dan tatanan kenegaraan Indonesia. Sehingga keberadaan pemuda dari awal perjuangan bangsa hingga sekarang dan seterusnya akan menghiasi dinamika konstalasi kepemimpinan. Titik awal dari semua itu adalah sebuah kesadaran yang mesti selalu dijaga keutuhannya.

Pemuda (baca: mahasiswa) dalam kaitannya dengan perubahan memang layak menyandang peran agent of change. Peran yang sudah seharusnya tertanam dalam lubuk hati paling dalam seluruh pemuda Indonesia. Sudah cukup hanya berkomentar, mengeluh, dan mengkritik tanpa ada real action di lapangan. Pemuda mesti bangkit dan tidak ada lagi kata malas dalam menjalani kehidupan yang sayang untuk dilewatkan tanpa makna. Eksistensi pun menjadi wacana yang penting setiap alur perjuangan.

Tantangan Mahasiswa
Seiring dengan peran pemuda dalam isu kepemimpinan, tak pelak menemui berbagai halang rintang. Globalisasi yang tengah menyelimuti tatanan kehidupan di berbagai aspek masyarakat adalah salah satu tantangan kongkret bagi para pemuda. Eksistensi dan idealisme akan dipertaruhkan. Sejuah mana akan bertahan, sejauh mana akan kokoh dalam kemurnian yang berlandaskan semangat kebangsaan.

Tidak semudah mengembalikan telapak tangan pemuda melawati berbagai proses idealisme yang acap kali menemui berbagai hambatan. Idealisme sejatinya memberikan keunggulan. Namun, di sisi lain idealisme bisa menjadi sebuah bumerang yang justru menyerang balik tatanan pribadi. Hati sanubarilah yang dapat menjawab akan semua itu. Kejujuran adalah salah satu kunci pokok dan tolak ukur yang valid. Kejujuran terhadap sikap, kenyataan, dan kondisi sosial yang ada di sekitar.

Belajar dari analogi idealisme seorang siswa SMA yang memiliki mimpi rasanya patut kita tengok. Seperti yang diketahui, masa SMA yakni masa remaja merupakan sebuah masa penuh dengan harapan dan cita. Berbagai keinginan muncul dan terkadang irasional. Dokter, ilmuan, psikolog, salah satu contoh dari banyaknya keinginan—menjadi sesuatu—seorang siswa SMA. Namun semua itu bohong besar tatkala tidak sesuai apa yang diinginkan dengan usaha yang telah dilakukan. Adalah bohong besar bercita-cita menjadi seorang dokter tetapi pelajaran biologi, kimia, matematika tidak ditekuni dan digemari. Dari fenomena tersebut kita melihat sebuah idealisme yang tidak kontras dengan kejujuran hari sanubari.

Begitu pun idealisme yang kaitannya mengenai semangat kepemimpinan dalam konteks kebangsaan. Pemikiran-pemikiran yang kritis namun tetap etis belum sepenuhnya berjalan efekif tatkala sisi emosional masih menolak dalam diri. Emosi terkadang bisa membuyarkan mana yang benar dan mana yang salah. Hasrat akan nafsu menjadi sebuah tantangan tersendiri. Tidak sedikit pejabat yang korupsi dan melakukan sebuah tindakan penyelewengan saat ini, dulunya adalah seorang aktivis mahasiswa di kampus. Seorang aktivis yang begitu getol dalam menyuarakan keadilan dan kritik atas pemerintah yang menjabat saat itu. Namun sangat ironis, mereka sekarang menjadi pejabat yang tidak sesuai dengan apa yang diperjuangkan dulu ketika menjadi mahasiswa. Korupsi, suap, mark up, dan kebobrokan yang lainnya adalah contoh nyata.

Seseorang yang tengah duduk di bangku yang bernama kekuasaan memang rawan terhadap tindakan yang tidak terpuji. Praktek-praktek yang bisa menyeret ke ranah hukum berpeluang sangat besar. Ujian sesungguhnya dari pemuda terhadap konsistensi terhadap perjuangan dan idealisme mereka yang berlandaskan kepentingan rakyat dan bangsa.

Muncul pertanyaan yang besar. Akankah ke-idealisme-an tentang perjuangan pemuda (mahasiswa) bisa tetap terjaga sampai kapanpun bahkan ketika mendapatkan kedudukan di level eksekutif ataupun legislatif? Semua ini hanya bisa dijawab dengan meluruskan niat dan mengingat kembali apa niatan awal.

Tidak akan pernah habis untuk dibahas jika berbicara tentang kepemudaan di Indonesia. Pemuda dengan semangat keberaniannya menjadi salah satu modal utama. Tidak hanya itu, rasa tidak apatis terhadap kondisi sosial ekonomi di masyarakat yang masih belum menyentuh level sejahtera menjadi bahan pemikiran dan mesti mencari solusi atas semua itu. Tidak ingin membuat anak cucunya nanti merasakan kesulitan hari ini. Tidak ingin anak cucunya di masa depan menyalahkan diri mereka atas warisan yang diberikan bukan sesuatu yang membanggakan melainkan keterpurukan. Tidak ingin semua itu terjadi. Berpikir jauh ke depan mengenai kondisi bangsa sepuluh, dua puluh, bahkan seratus tahun ke depan menjadi bahan pemikiran pemuda.

Selasa, 04 November 2008

Jurusan Universitas

KENALI DULU BARU PAHAMI
Studi Pengenalan Jurusan Universitas Untuk Siswa SMA dari Perspektif Karakteristik Kehidupan Kampus
Oleh:
Yogi Achmad Fajar
Benar adanya bahwa suatu lingkungan atau tempat memiliki sebuah ciri khas tersendiri. Minimal dari tampilan luar yang diperlihatkan dengan sendirinya. Inilah yang menjadi ke-bhinneka-an indah kehidupan.

Puspa ragam akan kita temui dari spesifikasi orang atau komunitas yang menempati suatu lingkungan yang satu dengan yang lainnya. Jangan jauh-jauh, lingkungan di sebuah kampus yang menjadi miniatur kehidupan sebuah negara bisa dikaji tingkah pola, dan ciri khas dari masing-masing fakultas atau rumpun pelajaran.

Adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Padjadjaran yang dijuluki kampus rakyat tetapi faktanya tidak merakyat ini kita jadikan sample kajian karakteristik orang tiap tempat yang berbeda. Tentunya kita amati dari karakteristik orang (baca: mahasiswa) dari tiap fakultas di masing-masing kampus. Dan anehnya, setiap kampus memiliki kesamaan karakter tiap fakultasnya.

Penulis melakukan penelitan kecil-kecilan mengkaji hal di atas saat SMA tingkat akhir dan sekarang menjadi mahasiswa. Menginjakkan kaki dari satu fakultas ke fakultas yang lainnya. Berbaur bersama dan bersilaturahmi. Sambil mengamati pola kehidupan sosial dan karakteristik mayoritas mahasiswa fakultas bersangkutan masing-masing kampus. Sambil menyelam minum air.

Namun yang mesti digarisbawahi di sini adalah tidak semua apa yang digambarkan dari masing-masing sifat atau karakter dari mahasiswa per fakultas menjadi hal yang mutlak. Mungkin hanya 75 %. Karena, sesuai dengan filosofi jeruk. Tidak semua jeruk yang ada dalam sebuah karung manis rasanya, beberapa pasti ada yang masam.

Semoga bisa memberikan tambahan informasi—khususnya siswa SMA—tentang sebuah jurusan di Universitas dari sudut pandang yang jarang dilirik.

FE (Fakultas Ekonomi)
Berada di Fakultas Ekonomi atau akrab disingkat FE atau ada juga yang menyebut FEB (Faklutas Ekonimi dan Bisnis) kita tidak akan melihat mahasiswa menggunkan tipe HP jadul—layar berwarna hijau, monophonic, sering ngedrop, dan tipe sejenis lainnya—tetapi HP tipe N series, 3G, walkman, dan tipe wah lainnya yang setia menemani digenggaman tangan.

FE terkenal dengan mahasiswinya yang super cantik, menawan, plus seksi. Tidak ada yang menyangsikan akan fakta ini. Tidak hanya di UI, UGM, dan UNPAD yang terkenal mahasiswi FEnya yang cantik-cantik, bahkan di seluruh FE di kampus manapun seantero Indonesia terkenal akan mahasiswinya bak artis ibu kota. Bahkan ada jargon, jika ingin cuci mata bagi kaum laki-laki, sering-seringlah lewat dan makan di kantin FE. Kebanyakan mahasiswa FE adalah anak dari orang-orang tajir dan kaum borjuis. Direktur perusahaan, pemilik saham terbesar, pengusaha sukses adalah contohnya. Tidak heran jika Jazz, Yaris, Estilo dan merek lainnya berjejer di parkiran mahasiswa.

Kehidupan sosial dan ekonomi mahasiswa FE pun sebanding dengan latar belakangnya. Tampilan yang trendy, gaul, up to date, konsumtif, dan glamor mewarnai pribadi mahasiswanya.

FIB (Fakultas Ilmu Budaya)
Berbeda dengan FE, FIB (Fakultas Ilmu Budaya) atau sastra terkesan lebih cuek. Mahasiswa yang memakai sandal, kaos, dan celana pendek akan menjadi sesuatu yang tidak dianggap tabu lagi. Sedikit ndeso akan tampilan dan kurang up to date tehadap fashion.

Apabila kita melakukan obrolan dengan mahasiswanya, sedikit banyak akan mengeluarkan sebuah pernyataan yang bermajas, dan pendekatan personifikasi dalam setiap pembicaraannya. “Apa adanya” menjadi sajian yang ditawarkan jika kita masuk lingkungan calon sastrawan ini.

Mahasiswa sastra terkenal akan keromantisannya (apalagi sastra prancis). Pintar merayu, menggombal, dan merangkai kata dalam untaian karya sastra seperti dalam puisi. Tak heran, banyak mahasiswa dari fakultas lain “menyewa” jasa mereka untuk sekedar memberi saran bahkan pembuatan puisi romantis untuk kekasih tercinta.

FIB kaya akan bahasa. Mulai dari bahasa Indonesia, daerah (Sunda dan Jawa), Inggris, Prancis, Belanda, Rusia, Arab, Korea, Jepang, dan China. Mahasiswanya pun acap kali berbincang dengan bahasa-bahasa yang sedang mereka pelajari.

Tidak hanya berbagai adat dari Indonesia saja yang berbaur, tetapi juga adat luar negeri pun ikut berdialektika dalam konstalasi kehidupan kampus. FIB terkenal dengan banyak mahasiswa asing. Mahasiswa asing yang sedang mempelajari budaya dan bahasa Indonesia.

Hampir mahasiswa asing dari seluruh penjuru dunia hadir mengenyam pendidikan di FIB. Amerika, Australia, Eropa, Afrika, Asia seperti Korea, Jepang, China, India, dan mahasiswa dari negara lainnya.

Fakultas Psikologi
Tentram, damai, tenang, kalem, dan sejuk adalah kesan pertama masuk lingkungan calon psikolog ini. Melihat wajah-wajah mahasiswanya seakan tenang dan emosinya yang stabil membuat “tamu” yang masuk menjadi ikut stabil hanyut dalam aura mereka. Keibuan bagi mahasiswinya dan kebapakan bagi mahasiswanya adalah sifat yang tepat disandang mereka.

Objek kajian mereka yang mempelajari kejiwaan manusia menjadi alasan utama mereka begitu tenang. Mengetahui dirinya adalah termasuk objek kajian yang dipelajari, menjadi lebih bijak menyikapi pribadi sendiri. Setidaknya asumsi tersebut bisa menjadi acuan yang relevan.

Mahasiswa psikologi terkenal sebagai tempat curahan hati (curhat). Baik sesama anak psikologi ataupun di luar fakultas psikologi. Wajar, karena mahasiswa psikolog nantinya bekerja tidak jauh dari menghimpun, menerima curhat dan memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi kliennya.

Fakultas Filsafat
Melakukan pembicaraan dengan mahasiswa filsafat jangan heran jika kita mendengar kata-kata seperti yang dilontarkan plato, aristoteles, dan kawan-kawan filsuf lainnya.

Filsafat adalah dasar dari semua ilmu. Apapun jurusan atau prodi (program studi) kita baik itu kedokteran, sastra, ekonomi, ilmu sosial, teknik dan disiplin ilmu lainnya pasti akan menemui mata kuliah filsafat. Meskipun hanya pengantar saja atau pengenalan dasar. Dan itu pun hanya sekali dan biasanya hanya 2 SKS (Satuan Kredit Semester).

Lebih menitikberatkan mengenai pemikiran, logika, dan logika. Segala sesuatu diambil dari sudut logika. Maka tak heran, karena orientasinya logika mayoritas mahasiswa filsafat bersikap nyeleneh, baik dalam ucapan maupun tindakan. Namun, mahasiswa filsafat cenderung “bijak” dalam menyikapi sesuatu.

Paradoks akan kita temui. Seperti ada mahasiswa yang tidak beragama (atheis) di fakultas filsafat. Ada jargon juga, jika menjadi mahasiswa filsafat ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Seperti diungkap salah seorang teman penulis yang kuliah di filsafat UI. Pertama, iman akan semakin tebal dan kuat. Atau pilihan kedua yang lebih dramatis, akan menjadi “kurang waras”.

FK (Fakultas Kedokteran)
Seperti halnya FE, mahasiswa FK berpenampilan pede. Rasa percaya diri itu bisa terlihat dari tampilan luar seperti mahasiswa FE. Biaya awal masuk kuliah, biasanya mahasiswa mengeluarkan kocek minimal 75 juta rupiah. Bagi yang kelebihan uang, ada yang mencapai seperempat milyar ketika awal masuk. Bukunya saja ada yang sampai harga satu juta rupiah.

Tidak ada kata santai bagi mahasiswa FK. Kehidupan yang rasanya bisa dianggap terlalu memforsir otak. Bayangkan, waktu istirahat seperti makan siang di kantin mereka gunakan untuk mengerjakan tugas dan diskusi dengan mahasiswa FK lainnya mengenai bahasan yang disampaikan dosen di kelas. Seperti pemandangan rutin di kantin kampus FK Salemba UI. Ke sana kemari menenteng buku-buku setebal kamus John M. Echol bila ditumpuk tiga sebanyak lebih dari dua buah.

Teman dalam perjalanan adalah buku, buku, dan buku bagi mahasiswa FK. Meskipun memang setiap mahasiswa fakultas manapun membawa buku juga, akan tetapi mahasiswa FK lebih “menyayangi” buku-buku. Tidak tanggung-tanggung bahasa inggris dan bahasa ilmiah sebagai bahasa pengantarnya sampai menempel di setiap benak mahasiswa.

Memakai jas berwarna putih menjadi kebanggan anak FK. Karena dengan jas itu lah yang menjadi simbol identitas mahasiswa FK. Strata lebih tinggi seakan ingin diperlihatkan melalui simbol jas putih tersebut.

FH (Fakultas Hukum)
Kebanyakan mahasiswa hukum berasal dari Batak. Bukan fakultas hukum namanya jika tidak mendengar logat bicara dari salah seorang mahasiswanya seperti pengacara kondang Ruhut Sitompul.

Lingkungan sesuai dengan tujuan kuliah, yakni HUKUM. Didesain mirip dengan pengadilan, LP, dsb. Ciri khas mahasiswanya adalah perdebatan dan perdebatan. Topik pembicaraan apapun bisa menjadi sebuah debat. Karena kerjaan yang akan diemban nantinya adalah berdebat. “Saya yang benar, anda yang salah,” kira-kira seperti itulah.

Sebuah obrolan ringan yang rileks tentang suatu kolom di koran dapat berubah menjadi sebuah perdebatan sengit antara pro dan kontra terhadap sebuah wacana. Penuh analisis dan saling menjatuhkan.

Tahu dirinya akan menjadi orang yang kelak membuat peraturan-peraturan di negeri ini membuat mahasiswa FH lebih “berani”. Hal yang paling menarik dari mayoritas mahasiswa FH adalah motto perjuangan mereka, “Maju tak gentar membela yang bayar”.

FT (Fakultas Teknik)
Jika mahasiswa FK terkenal dengan banyak tugasnya, hal senada pun dialami mahasiswa FT. Melihat segerombolan mahasiswa berkumpul di suatu tempat—bahkan di kantin seperti mahasiswa FK—adalah untuk memahami materi kuliah dengan tugas dari dosen.

Manajemen stress di FT bisa dianggap berada diurutan kedua setelah FK. Tidak ada kata santai dalam hidup seorang mahasiswa FT. Penulis mempunyai teman FT di lingkungan kost, tidurnya mahasiswa FT jika kebanjiran tugas tulis, atau tugas praktikum adalah setelah subuh. Yang lebih menyedihkan lagi, setelah semalaman kurang tidur bahkan ada yang tidak tidur dan paginya—biasanya jam 7 pagi—mereka mesti berangkat kuliah.

Kehidupan yang “keras” sering terlihat di FT. Mahasiswa baru diberi tugas ospek yang merepotkan. Perlu diketahui, FT berbeda dengan fakultas yang lainnya. Ospek yang biasanya hanya seminggu ketika awal masuk, di FT bisa satu semester bahkan setahun.

Lebih banyak mahasiswa dari pada mahasiswi di FT. Penjelasannya sangat jelas. Teknik identik dengan hal-hal yang berbau laki-laki.

FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
Tidak jauh berbeda dengan rumpun humaniora lainnya seperi ilmu budaya, hukum, dan psikologi, FISIP tidak terlalu memforsir otak dan tenaga seperti FK dan FT.

Sejalan dengan FIB, FISIP sedikit longgar terhadap tata aturan mahasiswanya. Memakai kaos dan sandal merupakan pemandangan yang biasa. Ciri anak FISIP adalah mahasiswanya terkenal kritis. Berbincang dengan mahasiswa FISIP sangat nyambung. Gayanya yang komunikatif, jelas, namun sedikit meluas menjadi daya tarik tersendiri.

Sedikit “heboh” dan over confidence dalam bersikap. Patut dibanggakan dari FISIP adalah mahasiswanya langganan menjadi pembicara dalam seminar-seminar antar mahasiswa.