Minggu, 29 Juni 2008
Sabtu, 03 Mei 2008
Kekuatan Mimpi
"Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu."Andrea Hirata.
Laskar Pelangi adalah salah satu buku yang paling bayak dibicarakan sepanjang tahun 2005 – 2008. Penulisnya – Andrea Hirata – menjadi terkenal dan disebut-sebut sebagai Pramoedya baru. Dari segi penjualan, novel ini menjadi berst seller, telah naik cetak sebanyak 14 kali.
Tentu banyak faktor yang memicu kesuksesan Laskar Pelangi (LP). Dari segi tema, buku ini menawarkan sesuatu yang belum pernah ada dalam bacaan sastra Indonesia. Kisah tentang anak-anak yang tetap bersemangat untuk belajar meski dengan kondisi ekonomi dan sekolah serba terbatas, para guru yang ikhlas mengajar meski dengan fasilitas dan gaji yang sangat minim, merupakan poin-poin penggugah dan menimbulkan kesan memdalam di hati pembaca.
LP adalah novel yang sangat inspiratif. Di saat kita dijejali berita dan fakta tentang generasi muda yang hanya bisa hura-hura, lebih memilih tawuran atau jalan-jalan di mal ketimbang belajar, Laskar Pelangi mengingatkan kita, ternyata masih banyak generasi muda kita yang penuh semangat dalam menimba ilmu, walau hidup mereka penuh dengan keterbatasan.

Laskar Pelangi pun berhasil memikat hati ribuan pembacanya. Berikut beberapa komentar dari berbagai pihak dan tokoh.
Majalah Tempo:Kemelaratan yang Indah, Novel Laskar Pelangi adalah memoar masa kecil penulisnya, Andrea Hirata Seman. Sebagai sebuah cerita fiksi yang berdasarkan kisah nyata, Andrea berhasil menyajikan kenangannya menjadi cerita yang menarik. Apalagi dibalut sejumlah metafora dan deskripsi yang kuat, filmis saat memotret lanskap atau budaya masyarakat Kampung Belitong yang menjadi setting utama cerita. Terlepas dari itu, kehadiran Laskar Pelangi di tengah booming novel chick-lit menjadi media alternatif dan ditunggu. Setidaknya terbaca dari penjualan novel ini. Cetakan pertama novel yang diterbitkan oleh Bentang ini ludes dalam sebulan…."
Harian Pikiran Rakyat:Laskar Pelangi tak menyajikan kesulitan mengakses pendidikan karena faktor kemiskinan, dengan cara yang menghiba-hiba. Sebaliknya, kita diajak untuk pantang berputus asa pada keadaan. Kita diajak untuk tidak menangisi kemiskinan, namun melihat sisi lain dari kemiskinan tersebut. Sebuah kisah tentang anak-anak yang luar biasa, yang mampu melahirkan semangat serta kreativitas yang mencengangkan.
Prof.DR. Ahmad Syafi’i Maarif, cendikiawan, mantan ketua PP Muhammadiyah, Founder Maarif Institute:Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Seandainya novel ini difilmkan akan dapat membangkitkan ruh bangsa yang sedang mati suri.
Arwin Rasyid, CEO PT Telkom:Cerita Laskar pelangi sangat inspiratif. Andrea akan megobarkan semangat siapa saja yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan.
Korrie Layun Rampan, Sastrawan:Inilah kisah yang sangat mengharukan tentang duania pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, gigih, penuh dedikasi.
Garin Nugroho, Sutradara:Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh.
Riri Riza, Sutradara:Andrea Hirata memberi kisah syair indah tentang keragaman dan kekayaan tanah air, sekaligus memberi sebuah pernyataan keras tentang realita politik, ekonomi, dan situasi pendidikan kita. Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia...a must read!!"
Akmal Nasery Basral, Jurnalis-Penulis Imperia:Sebuah memoar dalam bentuk novel yang sulit dicari tandingannya dalam khazanah kontemporer penulis kita.
Herni Kusyari, Guru SD di daerah terpencil:Buku ini membuatku sangat bangga menjadi seorang guru.
Photo kedua diambil dari: fraithzone.blogspot.com
Kamis, 01 Mei 2008
Mirip gak yah??


Elsa Mayori & Cut Tari



Matt Damon & Ballack


Aa Gym & Aa Jimi


Tengku Riyan & Yossi "Project Pop"


Selasa, 15 April 2008
Minggu, 30 Maret 2008
Ayat-Ayat Cinta The Movie
Film Fenomal Itu Bernama "Ayat-Ayat Cinta"Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) telah memesona banyak orang. Jadi pembicaraan di mana-mana. Ditonton lebih dari 3,5 juta orang. Bahkan Presiden SBY, Wapres JK, dan Mantan Presiden Habibie pun menyempatkan untuk menonton film yang bernafaskan Islam ini.
Film yang diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul yang sama ini telah menjadi film yang fenomenal. Bagaimana tidak, dalam empat hari pemutaran film produksi MD Pictures ini sudah ditonton 700 orang. Dan sekarang, telah menembus angka 3,5 juta lebih penonton. Sejarah baru dalam dunia perfilman Indonesia.
Hanung Bramantyo selaku sutradara mengaku kaget karyanya menjadi box office. Padahal sebelumnya, pihak produser sempat ragu akan meledaknya film yang diputar serentak 28 Februari 2008 ini. Target awalnya pun hanya mencapai 1 juta penonton.
Film ini pun menjadi buah bibir di mana-mana. Media cetak maupun elektronik. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan sampai Ibu-ibu pengajian. Hal ini bisa dibilang sebuah prestasi yang membanggakan. Karena, asumsinya film yang bernafaskan Islam biasanya tidak begitu laku. Akan tetapi AAC merubah paradigma yang ada selama ini.
Rahasia Sukses
Ada banyak faktor yang bisa mengejawantahkan suksesnya film yang digarap 1,5 tahun ini. Selain didukung pemain yang berkualitas yakni Fedi Nuril (Fahri), Rianty Cartwright (Aisha), dan Carissa Putri (Maria), tentunya sang sutradara yakni Hanung Bramantyo. Pria kelahiran Yogyakarta, 1 Oktober 1975 ini memang handal dalam membuat film yang berkualitas. Pantaslah Gelar sutradara terbaik (diantaranya) lewat Festival Film Indonesia tahun 2005 (Brownies) dan 2007 (Get Married) Ia peroleh.
Faktor lain yang pantas disebut sebagai ramuan jitu suksesnya film ini adalah sang penulis novel AAC, Habbiburahman El Sirazy. Kang Abik, panggilan akrabnya telah menghasilkan karya yang begitu menyentuh hati. Aura kesukesan novelnya seakan menjadi magnet tersendiri bagi kesuksesan film AAC.
Satu hal lagi yang menjadi "bumbu" yang rasanya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Bagaikan sayur tanpa garam, satu faktor lagi yang membuat film AAC mendapatkan gregetnya. Apa lagi jika bukan OST Ayat-ayat Cinta. Lagu yang dilantunkan penyanyi asal Sumedang, Rossa ini laris direquest di mana-mana. Sang pencipta lagu, yakni Melly Goeslaw bisa dibilang ahli dalam menciptakan lagu sound track sebuah film.
Ditonton Pejabat Hingga Presiden
Presiden pun menonton film yang berdurasi 2 jam ini. Tepatnya Jumat Malam (28/3) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu dan dan sekitar 60 Duta Besar negara-negara sahabat, menonton bareng Ayat Ayat Cinta (AAC), di Studio 21 Plaza Ex, di Jl. MH Thamrin,Jakarta. Kebanggan tersendiri bagi prouduser, penulis, sutradara, artis, serta kru pendukung film AAC. Jarang-jarang bahkan (mungkin) baru pertama orang nomor wahid di Indonesia menonoton film di bioskop.
Menonton AAC, Presiden mesti meneteskan air matanya beberapa kali. Presiden dalam kesempatan yang sama menyampaikan rasa bangganya atas film ini, sebagai sebuah karya anak bangsa dan berharap menjadi tonggak baru bagi kebangkitan dunia perfilman nasional.
Tidak hanya Presiden Yudhoyono, tetapi juga Wapres Jusuf Kalla serta mantan Presiden B. J. Habibie turut menonton AAC. Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid dan Din Syamsudin sampai merekomendasikan masyarakat untuk menonton film yang sarat akan dakwah ini.
AAC telah mengubah paradigma tentang sebuah karya film. Membuat film yang bernafaskan Islam ternyata bisa menjanjikan. Hal ini bisa menjadi tonggak baru dalam dunia perfilman Indonesia. Yang sedang mencari jati dirinya. Dengan demikian, membuat film Islami tidak mematikan kreatifitas, justru sebaliknya mendorong untuk berpikir lebih kreatif dan inovatif. Ayat-ayat Cinta telah menjawabnya.
Jumat, 21 Maret 2008
Blog Competition of ASC
Lomba web blog sendiri muncul dari sebuah gagasan cerdas tentang kesadaran akan teknologi. Seperti yang diketahui, era globalisasi sudah di depan mata. Semakin cepat kemajuan peradaban dunia, semakin cepat pula segala hal yang menghiasi kehidupan manusia.
Kang Iwok yang merupakan blogger (pengguna blog, red) serta penulis buku “Suster Nengok” ini begitu surprise dengan adanya lomba blog ini. “Asik nih, ntar kita bisa bikin komunitas blog di Kota Tasik”, harapnya. Hal ini bukan tanpa alasan, selama ini Kang Iwok adalah salah satu “aktivis”blogger yang rajin dan keranjingan nge-blog.
Kemudian untuk Kategori juara tingkat SMA diraih oleh SMA N 1 Bogor. Juara tingkat SMP diraih oleh SMP BPK Penabur. Tidak hanya itu, panitia juga memberikan penghargaan sertifikat diknas untuk SMA N 1 Ciamis, SMAN 1 Sindang Indramayu, SMP N 4 Tasikmalaya, dan SMP Al Muttaqin.
Kamis, 20 Maret 2008
Bikin Film
Akhir-akhir ini seperti yang udah kita ketahui, lagi booming-boomingnya film Ayat-ayat Cinta ato yang akrab dipanggil AAC. Yap, film yang udah ditonton lebih dari 2 juta penonton dalam waktu 4 hari pemutarannya ini bener-bener fenomenal. Gimana gak, film yang diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El-Shirazy dengan judul yang sama ini bener-bener udah nyedot perhatian publik.
Berawal dari ketertarikan Gie about film en termotivasi dari AAC. Gie nyoba-nyoba bikin film (heee...he....obsesi dari dulu). En Gie jadi sutradara dalam pembuatan nih film. Filmnya sih simple-simple aja. Namanya juga nyoba-nyoba bikin film. About seseorang yang sedang belajar motor. Standar banget kan? Kenapa eh kenapa Gie milih tema itu? The Answer is, karena eh karena temen Gie ada yang blom bisa naek motor (Ihsan Beer). En yang jadi pemeran utamanya Ihsan Beer tentunya yang blom bisa naek motor. Yah, Gie nyoba dari hal yang kecil-kecil dulu lah. Kan sesuatu yang gede juga berawal dari yang kecil. Tul gak? Loh kok jadi ceramah gini. hee..Ok lanjut ke pemain yang lain. Aktor lain yang memeriahkan film ini yaitu Pupu, yang punya Handycam.Doi jadi pemain utama juga di film ini yang menjadi trainer motor. Sory bahasanya agak berat, biar kesannya berat juga. Hwa...hwa..Opo....ikii,,,
Siap...., Action!!!!
Well, ternyata bikin film itu bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampangnya kita tinggal take doang. Ngambil gambar udah deh. But, susahnya itu, gak sembarangan ngambil gambar. Mesti gimana gitu biar hasilnya gak ngecewain. Trus, editingnya juga mesti rapih. Nyambung-nyambungin scene-scene yang beda. So, kita jangan anggap mudah film toh masih banyak hal-hal yang mesti diperhatikan. Trus, jangan anggap bikin film tuh susah. Toh pada dasarnya sederhana. Gitu lah bikin film mah.
