Jumat, 21 Maret 2008

Blog Competition of ASC

LIPUTAN BLOG COMPETITION 2008
(by:Gie)



Fantastis! Kata yang tepat untuk lomba blog ASC SMA Al Muttaqin. Bagaimana tidak, “pendatang baru” dalam ASC ini telah menarik perhatian banyak orang. Terbukti sebanyak 50 regu tercatat sebagai peserta. Dengan peserta terjauh yakni SMA N 1 Sindang Indramayu dan SMA N 1 Bogor.



Lomba web blog sendiri muncul dari sebuah gagasan cerdas tentang kesadaran akan teknologi. Seperti yang diketahui, era globalisasi sudah di depan mata. Semakin cepat kemajuan peradaban dunia, semakin cepat pula segala hal yang menghiasi kehidupan manusia.


Dari kesadaran itulah, panitia ASC menggagas adanya lomba ini. “Demi kemajuan IT di kalangan pelajar, kita adain lomba blog ini”, ungkap Haikal, panitia lomba blog ASC. Siswa SMA termuda di Jawa Barat ini juga mengungkapkan, blog merupakan sesuatu yang mesti diketahui oleh pelajar yang ingin memperlajari IT secara intens.


Lomba yang dilaksanakan 19-20 Maret 2008 ini telah mengukir sejarah. Karena, ini merupakan kali pertama diadakannya kompetisi blog se Jawa Barat untuk kalangan pelajar. Dan kali pertamanya pula jumlah pesertanya membludak.


“Alhamdulillah, Kita gak nyangka kalo antusias pelajar Jawa Barat ampe segininya buat ASC khususnya lomba blog”, syukur Ilham, yang notabene adalah Ketua ASC IV. Hal ini benar-benar di luar dugaan panitia, karena asumsinya lomba ini masih dianggap baru dan belum banyak orang yang tahu. Bagi para juri yaitu Kang Iwok dan Kang Duddy, penilaian terhadap hasil karya peserta benar-benar menguras energi mereka. “Wah..kita bingung nih milih siapa juaranya, soalnya pada bagus-bagus sih blognya”, terang Kang Iwok.

Kang Iwok yang merupakan blogger (pengguna blog, red) serta penulis buku “Suster Nengok” ini begitu surprise dengan adanya lomba blog ini. “Asik nih, ntar kita bisa bikin komunitas blog di Kota Tasik”, harapnya. Hal ini bukan tanpa alasan, selama ini Kang Iwok adalah salah satu “aktivis”blogger yang rajin dan keranjingan nge-blog.


Bagi Kang Duddy, redaktur SK. Priangan, lomba blog bisa dijadikan salah satu media jurnalistik. “Karena setiap kita adalah berita”, tegas Kang Dud. Kang Duddy yang selalu mempromosikan citizen journalisem ini menilai karya blog peserta dari sisi content.


Lomba ini memperebutkan piala bergilir Telkom. Dengan juara umum (tingkat SMA dan SMP) diraih SMA N 2 Tasikmalaya. Di samping piala bergilir Telkom, SMANDA mendapat piala Tetap ASC, uang pembinaan, sertifikat Dinas Pendidikan dan cinderamata sponsorship.


Kemudian untuk Kategori juara tingkat SMA diraih oleh SMA N 1 Bogor. Juara tingkat SMP diraih oleh SMP BPK Penabur. Tidak hanya itu, panitia juga memberikan penghargaan sertifikat diknas untuk SMA N 1 Ciamis, SMAN 1 Sindang Indramayu, SMP N 4 Tasikmalaya, dan SMP Al Muttaqin.


Rencanya, selepas lomba blog ini, akan dibentuk komunitas blog Kota Tasikmalaya. Sebagai wahana blogger Tasikmalaya mencurahkan segala kreasinya. “Wacana ini bagus sekali buat para blogger Tasik, untuk teknisnya InsyaAllah sedang kita rundingkan”, cetus Kang Iwok dan Kang Dud.

Photo Dewan Juri

Kamis, 20 Maret 2008

Bikin Film

BIKIN FILM?
"Gampang-Gampang Susah"

Akhir-akhir ini seperti yang udah kita ketahui, lagi booming-boomingnya film Ayat-ayat Cinta ato yang akrab dipanggil AAC. Yap, film yang udah ditonton lebih dari 2 juta penonton dalam waktu 4 hari pemutarannya ini bener-bener fenomenal. Gimana gak, film yang diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El-Shirazy dengan judul yang sama ini bener-bener udah nyedot perhatian publik.



Berawal dari ketertarikan Gie about film en termotivasi dari AAC. Gie nyoba-nyoba bikin film (heee...he....obsesi dari dulu). En Gie jadi sutradara dalam pembuatan nih film. Filmnya sih simple-simple aja. Namanya juga nyoba-nyoba bikin film. About seseorang yang sedang belajar motor. Standar banget kan? Kenapa eh kenapa Gie milih tema itu? The Answer is, karena eh karena temen Gie ada yang blom bisa naek motor (Ihsan Beer). En yang jadi pemeran utamanya Ihsan Beer tentunya yang blom bisa naek motor. Yah, Gie nyoba dari hal yang kecil-kecil dulu lah. Kan sesuatu yang gede juga berawal dari yang kecil. Tul gak? Loh kok jadi ceramah gini. hee..Ok lanjut ke pemain yang lain. Aktor lain yang memeriahkan film ini yaitu Pupu, yang punya Handycam.Doi jadi pemain utama juga di film ini yang menjadi trainer motor. Sory bahasanya agak berat, biar kesannya berat juga. Hwa...hwa..Opo....ikii,,,

Siap...., Action!!!!



Well, ternyata bikin film itu bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampangnya kita tinggal take doang. Ngambil gambar udah deh. But, susahnya itu, gak sembarangan ngambil gambar. Mesti gimana gitu biar hasilnya gak ngecewain. Trus, editingnya juga mesti rapih. Nyambung-nyambungin scene-scene yang beda. So, kita jangan anggap mudah film toh masih banyak hal-hal yang mesti diperhatikan. Trus, jangan anggap bikin film tuh susah. Toh pada dasarnya sederhana. Gitu lah bikin film mah.


But, ada pengalaman yang menarik dari bikin film ini. Ternyata kita jangan gampang kritik karya orang. Coz, kerasa banget oleh Gie bikin film tuh ternyata CAPE. Apalagi pas ngatur-ngaturnya(Ngatur orang terutama). Beuh....kalo gak sabar mah bisa bikin emosi meledak-ledak kaya bom bali. But, Alhamdulillah semuanya bisa terkondisikan.

Jumat, 07 Maret 2008

Curhat (4)

Husnudon Kepada Allah SWT

Tidak selamanya apa yang kita impi-impikan dan cita-citakan sesuai dengan harapan kita. Tak jarang, kita mendapatkan hasil yang bisa dibilang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Bahkan acap kali lebih buruk dari yang kita bayangkan.

Sebelumnya telah kita bahas mengenai mimpi dan harapan. Yang menjadi tanda tanya besar? Apakah kita siap dengan segala kemungkinan yang ada? Baik itu kemungkinan baik ataupun buruk yang akan menimpa mimpi kita tersebut?

Apakah kita siap apabila mimpi dan cita-cita yang selama ini dimiliki terwujud? Begitu indahnya apabila semua yang kita idam-idamkan terwujud. Bak mendapat durian runtuh, hati ini tak dapat tergambarkan. Kesiapan kita apabila dalam kondisi ini tak lain adalah siap untuk bersyukur.

Lalu, bagaimana jika keadaan yang terjadi sebaliknya? Mimpi yang kita miliki ternyata tidak terwujud? Inilah kondisi yang kurang mengenakkan bahkan menyakitkan. Apalagi jika impian tersebut telah menjadi “label” orang tersebut. Artinya, orang tersebut memilki ambisi yang besar terhadap mimpinya sehingga mimpinya menjadi ciri dari orang tersebut.

Tarolah seorang siswa tingkat akhir sekolah menengah atas. Dia berkeinginan kuliah di universitas yang diidam-idamkan. Akan tetapi dia mesti menelan pil pahit ketika dia belum bisa mewujudkan mimpinya karena masalah administrasi.

Nasi telah menjadi bubur. Harapan untuk masuk perguruan tinggi favorit sirna melalui jalur PMDK. Memang, masih ada jalur lain yakni SPMB. Akan tetapi SPMB merupakan “peluru” terakhir dan peluang yang dimiliki bisa dibilang fifty fifty.

Berdasarkan contoh masalah di atas, sebagai seorang manusia biasa, sulit rasanya untuk menerima kondisi ini. Rasa sedih pastinya menghiasi relung hati yang paling dalam. Tidak semudah mengembalikkan telapak tangan nrimo kenyataan yang ada.

Namun, sebagai seorang insan Tuhan kita harus belajar ilmu ikhlas dan membaca hikmah di balik semua itu. Apalagi bagi seorang muslim, seorang muslim mesti senantiasa berbaik sangka kepada Sang Khaliq (Husnudon).

Ilmu ikhlas, ilmu yang sulit untuk didefinisikan bahkan dipraktikan. Ilmu yang tidak bisa kita pelajari di sekolah. Perlu proses yang panjang dan intens untuk meraihnya. Sulit memang jika berbicara mengenai ilmu ikhlas.

Allah SWT tidak semata-mata memberikan keputusan kepada umatnya tanpa ada hikmah di balik semua itu. Pasti ada hikmah yang besar bagi kita dalam setiap alur kehidupan dan peristiwa yang kita alami.

Bisa jadi suatu perkara menurut kita baik belum tentu menurut Allah baik bagi kita. Bisa jadi pula suatu perkara menurut kita buruk belum tentu menurut Allah buruk bagi kita.

Intinya, positif thinking langkah yang kita tempuh mengahadapi semua itu. Al Ilmu, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui. Sedangkan kita tidak tahu apa-apa. Allah Maha Mengetahui apa yang baik bagi kita dan apa yang buruk bagi kita.

Rabu, 27 Februari 2008

Curhat (3)

Curhat lagi!!!

Well, Untuk kesekian kalinya diri ini mencoba mencurahkan segala unek-unek yang ada dalam pikiran ini ke dalam sebuah tulisan. Tapi bentar, Gie mo bilang sesuatu. Tulisan ini pake bahasa yang bisa dibilang agak gaul dikit. Bahasa anak remaja gitu deh. Gaya tulisan ketika Gie pertama kali bisa nulis artikel.

And Gie nyoba lagi buat nulis gaya tulisan ini setelah 2 tahun cenderung serius gaya tulisannya. Habisnya, terbawa arus konstalasi media massa en sering tuker pikiran ama sahabat jurnalis senior. Jadi, agak gimana gitu. Tapi asik juga bisa nulis dengan gaya tulisan ini lagi.

Ok deh kita mulai curhatan Gie. Rasanya kalo ditanya siapa orang yang paling dag dig dug derrr saat ini? Mungkin Gie bisa jawab seluruh siswa kelas XII SMA/SMK/MA atau sederajat se Indonesia.

Kenapa eh kenapa? Coz, mereka bakal ngehadapin dua “hajatan” besar. UN dan masuk perguruan tinggi, kaya PMDK, UM, UTUL, USM, en SPMB (bagi yang mo ngelanjutin kuliah). Sebuah ujian yang menguji eksistensi siswa.

Bak diujung tanduk, siswa kelas XII SMA merupakan masa transisi dan masa pen entuan. Mimpi, di kelas XII banyak mimpi bermunculan dan sejuta ambisi. Ada yang pengen kuliah ke sini lah, kuliah ke situ lah, kuliah ke sono lah. Pokonya sejuta impian.

Gak beda jauh ama di sekolah Gie. Temen-temen Gie di kelas XII punya banyak mimpi. Terutama sahabat-sahabat Gie yang berjumlah dua belas orang. Sebutlah Goez, Beer, Ham, Zie, Zai, Aby, Dew, Hanoi, Pupu, Vick, Qimy, dan Hore. Mereka punya impian yang berbeda-beda.

Kaya Beer, sahabat Gie di kelas XII Exact. Juara pertama olimpiade fisika se kota Tasik ini punya cita-cita masuk Teknik Perminyakan ITB. Ada juga Goez, mantan Presiden OSIS SMA AMQ 2006-2007 ini punya impian masuk Ilmu Kelautan UNDIP.

Hal senada juga menimmpa Gie, banyak mimpi yang dimiliki. Bahkan Gie ampe nulis 27 impian di blog ini. Diantaranya bisa masuk Psikologi UI dan bisa membuka rumah konseling bagi anak-anak. Amin Ya Allah!

Gak bisa kita pungkiri, setiap orang mempunyai mimpi. Mimpi, mimpi, dan mimpi. Orang bijak berkata, “Orang yang besar memiliki mimpi yang besar.”

But wait, ada dua kategori pemimpi. First, pemimpi yang jika telah bermimpi doi langsung bangun dan mewujudkan mimpinya. Inilah pemimpi ideal dan calon pemimpin. Doi langsung real action di lapangan. Satu lagi, pemimpi yang hanya sekedar mimpi tanpa ada realisasinya di lapangan. So, doi just dream tanpa usaha.

Tahu akan hal ini, Gie ngerasa was-was. Was-was dalam artian Gie takut termasuk kategori kedua, just dreamer. Naudzubillah!!! Tapi InsyaAllah dengan “DUIT” yakni Doa Usaha Ikhtiar dan Tawakal semuanya bisa terwujud.

Motivasi dari diri sendiri dan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Jangan salah, pengaruh yang signifikan bisa kita rasakan. Alhamdulillah, di sekolah para Guru terus memotivasi anak didiknya agar optimis dan percaya diri dalam menghadapi segala ujian. Thank you so much my beloved teachers.

Gie sadari untuk menggapai mimpi tersebut kita mesti perih, sakit, dan kerja keras. Dan tidak lupa berdoa kepada Allah SWT. Coz, orang yang berusaha dan tidak berdoa, doi adalah orang yang sombong. Dan orang yang berdoa tapi tidak berusaha, doi adalah orang yang malas.

Intinya kita memang mesti menempatkan ikhtiar, doa, dan tawakal dengan seimbang. Tentunya dengan cara yang proporsional.

Last, Gie akhiri goresan tinta ini dengan sebuah ayat dalam Al Quran. Yakni surat Ar-Rad ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Selasa, 26 Februari 2008

How Addicted to Blogging Are You?

82%How Addicted to Blogging Are You?



Em...rasanya widget ini pas buat kamu yang pengen ngetes seberapa besar kamu yang punya hobi ngeblog dan yang ngaku blogger sejati ngebuktiin "demam" ngebloging. Like me, Gie nyoba masuk ngeklik widget ini dari temen baru yang juga sama-sama "demam" blog.

And the result, i've got 82% buat jadi seorang blogger. Pas banget deh wadget ini buat nunjukkin seberapa besar dedikasi kamu terhadap blog yang kamu miliki (ha...ha...) dedikasi? Ooopooo ikiii? he...he....Yah seperti like that lah.

Ntar kita bakalan disuguhi 14 pertanyaan menyangkut blog. Pokonya everything about blog. Cobain deh, klik aja gambar di atas!!! And how addicted to blogging are you????

Sabtu, 26 Januari 2008

Curhat (2)

ANDAIKAN UMUR KITA KETAHUI

Saya pernah ditanya oleh Guru Agama ketika proses KBM berjalan di kelas. Guru saya bertanya kepada saya dan teman-teman sekelas. “Gie, seandainya kamu diberi tahu bahwa umur kamu tinggal 1 bulan lagi, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Guru saya.

Begitu kagetnya ketika mendengar pertanyaan itu. Mungkin hal senada juga dirasakan teman-teman saya yang kedapatan pertanyaan yang sama. “Em….Saya akan beribadah terus menerus Pak dan bertaubat atas segala dosa yang pernah diperbuat”, jawab saya.

Jawaban yang bervariatif pun muncul dari teman-teman saya. “Saya akan meminta maaf kepada semua orang yang pernah saya sakiti Pak”, ucap Pupu. Ada pula yang menjawab akan meminta kepada orang yang meminjamkan uang untuk menganggap lunas hutang yang belum dibayar.

Guru saya pun menjawab jika hal itu terjadi, ada hal terpenting ketika kita menghadapi maut, yaitu membaca syahadat. “Baca lah syahadat dalam menghadapi syakaratul maut nanti, insyaAllah dijamin masuk surga”, ucap Pak Ilam.

Namun hal tersebut tidak semudah mengembalikkan tangan. Semua itu tergantung amal-amalan semasa hidup. Apabila banyak melakukan ama shaleh, tentunya akan mudah mengucapkan syahadat. Akan tetapi jika yang banyak adalah maksiat, tentunya akan kebalikkannya.

Kontan kami sekelas termenung dan ter-ngiang akan pertanyaan tadi. Betapa hidup kita ini hanya sebentar dan tidak akan abadi. Bak seseorang menjalani sebuah perjalanan dan sedang berhenti sejenak di persinggahan tempat istirahat. Itulah anolgi kehidupan. Tidak akan lama, seseorang tersebut akan terus melanjutkan perjalanan.

Pantas saja Imam Al-Ghazali mengatakan hal yang paling dekat dengan diri kita adalah sebuah kematian. Semua yang hidup pasti akan mengalamai kematian. Hal tersebut tidak bisa kita tawar.

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kita dalam mensikapi kematian? Pertanyaan yang sederhana, akan tetapi sulit untuk dijawab bahkan untuk dipahami esensinya.

Seseorang yang beriman akan mensikapinya dengan proporsional. Kematian tidak akan ditakutinya akan tetapi terus diingat bahkan ditunggu-tunggu. Karena apa? Saking kuat keimanannya sehingga ingin berjumpa dengan Rabbnya. Subhanallah!!

Seorang ulama pernah berpesan. Kematian tidak usah kita takuti dan hindari, toh kita akan mati juga pada akhirnya. Yang terpenting adalah bagaimana mengerjakan amal sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat kelak.

Selasa, 22 Januari 2008

Curhat

CURAHAN HATI SEORANG PELAJAR
Sejatinya apabila kita telah mempunyai suatu kebiasaan yang baik, mesti kita pertahankan bahkan ditingkatkan lebih dalam. Baik dari segi kuantitasnya ataupun kualitasnya.

Dalam kesempatan ini saya menyampaikan curahan hati (curhat). Curahan hati seorang siswa yang notabene adalah insan yang tengah mencari ilmu dan “berpetualang” mencari arti hidup dari pembelajaran yang ternyata tidak terpaku dalam sebuah ruangan yang lazim disebut kelas. Masih banyak “kelas” lain yang kebanyakan orang belum diikuti mata pelajarannya.

Katakan saja saya adalah seorang pelajar yang beruntung. Beruntung dalam artian diberi kekuatan dan kesempatan untuk mengekspresikan segala unek-unek dalam pikiran melalui sebuah goresan tulisan. Buah pikiran saya acap kali dituangkan secara gamblang, bebas, murni, orisinil, kritis namun terkadang agak blak-blakkan.

Aktif berkiprah menulis sejak menginjak sebuah masa di mana kata orang banyak masa-masa yang paling indah (SMA). Entah apa yang mendasari ada jargon yang berbunyi seperti itu. Mungkin “darah muda” yang menggebu-gebu mengenai percintaan yang pastinya menjadi sorotan. Tapi di sini kita tidak akan membahas mengenai itu.

Bersyukur saya dibimbing oleh seorang guru yang begitu concern membimbing dalam hal tulis-menulis. Kebetulan guru pembimbing saya itu adalah seorang jurnalis. Di bawah bimbingannya alhamdulillah saya bisa menulis banyak hal. Meskipun tulisan saya masih jauh dari kesempurnaan. Satu hal yang saya yakini, hal tersebut adalah sebuah proses.

Dengan seringnya berlatih, belajar dan belajar tanpa henti. InsyaAllah segala sesuatu akan mencapai sebuah kesempurnaan dan keberhasilan. Akan tetapi waktu terus berlanjut sampai saya menginjak kelas 3. Di mana ketakutan saya muncul. Ketakutan di mana apabila kebiasaan dam hobi saya (menulis) sedikit demi sedikit menurun produktivitasnya.

Terbukti dengan jarangnya saya menghasilkan sebuah tulisan. Baik tulisan yang dimuat di media ataupun tidak. Dengan alasan, sibuknya aktifitas saya di kelas 3 dalam persiapan menghadapi UN dan SPMB.

Akan tetapi setelah dipikir-pikir dan direnungkan, alasan itu tidak realistis dan terkesan agak naif. Begitu mudahnya kita menyalahkan status kita sebagai kelas 3 untuk berhenti menulis. Toh kita masih bisa memanage waktu. Misalnya di waktu senggang, kita manfaatkan untuk menulis.

Kenapa bangsa kita belum bisa maju? Ternyata salah satu faktornya adalah budaya baca dan menulis masih dianggap tabu dan jarang orang melakukannya.

Tidak seperti negara-negara maju seperti Jepang. Di Jepang orang begitu “lahap” membaca buku dan mengembangkan budaya menulis. Bahkan ada survei yang mengatakan rata-rata orang Jepang dalam sehari membaca lebih dari 5 buku yang berbeda.

Artikel, opini, berita, essay, dan masih banyak lagi berbagai jenis tulisan. Diary pun bisa menjadi ajang yang baik dalam hal menulis. Bahkan dari sebuah diary atau catatan harian pun bisa menghasilkan uang. Seperti Radhitya Dika yang menjadikan diary dalam blognya sebuah buku, bahkan sampai 3 buku dihasilkan (Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, dan Radhitya Makan Kakus).