Jumat, 07 Maret 2008

Curhat (4)

Husnudon Kepada Allah SWT

Tidak selamanya apa yang kita impi-impikan dan cita-citakan sesuai dengan harapan kita. Tak jarang, kita mendapatkan hasil yang bisa dibilang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Bahkan acap kali lebih buruk dari yang kita bayangkan.

Sebelumnya telah kita bahas mengenai mimpi dan harapan. Yang menjadi tanda tanya besar? Apakah kita siap dengan segala kemungkinan yang ada? Baik itu kemungkinan baik ataupun buruk yang akan menimpa mimpi kita tersebut?

Apakah kita siap apabila mimpi dan cita-cita yang selama ini dimiliki terwujud? Begitu indahnya apabila semua yang kita idam-idamkan terwujud. Bak mendapat durian runtuh, hati ini tak dapat tergambarkan. Kesiapan kita apabila dalam kondisi ini tak lain adalah siap untuk bersyukur.

Lalu, bagaimana jika keadaan yang terjadi sebaliknya? Mimpi yang kita miliki ternyata tidak terwujud? Inilah kondisi yang kurang mengenakkan bahkan menyakitkan. Apalagi jika impian tersebut telah menjadi “label” orang tersebut. Artinya, orang tersebut memilki ambisi yang besar terhadap mimpinya sehingga mimpinya menjadi ciri dari orang tersebut.

Tarolah seorang siswa tingkat akhir sekolah menengah atas. Dia berkeinginan kuliah di universitas yang diidam-idamkan. Akan tetapi dia mesti menelan pil pahit ketika dia belum bisa mewujudkan mimpinya karena masalah administrasi.

Nasi telah menjadi bubur. Harapan untuk masuk perguruan tinggi favorit sirna melalui jalur PMDK. Memang, masih ada jalur lain yakni SPMB. Akan tetapi SPMB merupakan “peluru” terakhir dan peluang yang dimiliki bisa dibilang fifty fifty.

Berdasarkan contoh masalah di atas, sebagai seorang manusia biasa, sulit rasanya untuk menerima kondisi ini. Rasa sedih pastinya menghiasi relung hati yang paling dalam. Tidak semudah mengembalikkan telapak tangan nrimo kenyataan yang ada.

Namun, sebagai seorang insan Tuhan kita harus belajar ilmu ikhlas dan membaca hikmah di balik semua itu. Apalagi bagi seorang muslim, seorang muslim mesti senantiasa berbaik sangka kepada Sang Khaliq (Husnudon).

Ilmu ikhlas, ilmu yang sulit untuk didefinisikan bahkan dipraktikan. Ilmu yang tidak bisa kita pelajari di sekolah. Perlu proses yang panjang dan intens untuk meraihnya. Sulit memang jika berbicara mengenai ilmu ikhlas.

Allah SWT tidak semata-mata memberikan keputusan kepada umatnya tanpa ada hikmah di balik semua itu. Pasti ada hikmah yang besar bagi kita dalam setiap alur kehidupan dan peristiwa yang kita alami.

Bisa jadi suatu perkara menurut kita baik belum tentu menurut Allah baik bagi kita. Bisa jadi pula suatu perkara menurut kita buruk belum tentu menurut Allah buruk bagi kita.

Intinya, positif thinking langkah yang kita tempuh mengahadapi semua itu. Al Ilmu, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui. Sedangkan kita tidak tahu apa-apa. Allah Maha Mengetahui apa yang baik bagi kita dan apa yang buruk bagi kita.

Rabu, 27 Februari 2008

Curhat (3)

Curhat lagi!!!

Well, Untuk kesekian kalinya diri ini mencoba mencurahkan segala unek-unek yang ada dalam pikiran ini ke dalam sebuah tulisan. Tapi bentar, Gie mo bilang sesuatu. Tulisan ini pake bahasa yang bisa dibilang agak gaul dikit. Bahasa anak remaja gitu deh. Gaya tulisan ketika Gie pertama kali bisa nulis artikel.

And Gie nyoba lagi buat nulis gaya tulisan ini setelah 2 tahun cenderung serius gaya tulisannya. Habisnya, terbawa arus konstalasi media massa en sering tuker pikiran ama sahabat jurnalis senior. Jadi, agak gimana gitu. Tapi asik juga bisa nulis dengan gaya tulisan ini lagi.

Ok deh kita mulai curhatan Gie. Rasanya kalo ditanya siapa orang yang paling dag dig dug derrr saat ini? Mungkin Gie bisa jawab seluruh siswa kelas XII SMA/SMK/MA atau sederajat se Indonesia.

Kenapa eh kenapa? Coz, mereka bakal ngehadapin dua “hajatan” besar. UN dan masuk perguruan tinggi, kaya PMDK, UM, UTUL, USM, en SPMB (bagi yang mo ngelanjutin kuliah). Sebuah ujian yang menguji eksistensi siswa.

Bak diujung tanduk, siswa kelas XII SMA merupakan masa transisi dan masa pen entuan. Mimpi, di kelas XII banyak mimpi bermunculan dan sejuta ambisi. Ada yang pengen kuliah ke sini lah, kuliah ke situ lah, kuliah ke sono lah. Pokonya sejuta impian.

Gak beda jauh ama di sekolah Gie. Temen-temen Gie di kelas XII punya banyak mimpi. Terutama sahabat-sahabat Gie yang berjumlah dua belas orang. Sebutlah Goez, Beer, Ham, Zie, Zai, Aby, Dew, Hanoi, Pupu, Vick, Qimy, dan Hore. Mereka punya impian yang berbeda-beda.

Kaya Beer, sahabat Gie di kelas XII Exact. Juara pertama olimpiade fisika se kota Tasik ini punya cita-cita masuk Teknik Perminyakan ITB. Ada juga Goez, mantan Presiden OSIS SMA AMQ 2006-2007 ini punya impian masuk Ilmu Kelautan UNDIP.

Hal senada juga menimmpa Gie, banyak mimpi yang dimiliki. Bahkan Gie ampe nulis 27 impian di blog ini. Diantaranya bisa masuk Psikologi UI dan bisa membuka rumah konseling bagi anak-anak. Amin Ya Allah!

Gak bisa kita pungkiri, setiap orang mempunyai mimpi. Mimpi, mimpi, dan mimpi. Orang bijak berkata, “Orang yang besar memiliki mimpi yang besar.”

But wait, ada dua kategori pemimpi. First, pemimpi yang jika telah bermimpi doi langsung bangun dan mewujudkan mimpinya. Inilah pemimpi ideal dan calon pemimpin. Doi langsung real action di lapangan. Satu lagi, pemimpi yang hanya sekedar mimpi tanpa ada realisasinya di lapangan. So, doi just dream tanpa usaha.

Tahu akan hal ini, Gie ngerasa was-was. Was-was dalam artian Gie takut termasuk kategori kedua, just dreamer. Naudzubillah!!! Tapi InsyaAllah dengan “DUIT” yakni Doa Usaha Ikhtiar dan Tawakal semuanya bisa terwujud.

Motivasi dari diri sendiri dan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Jangan salah, pengaruh yang signifikan bisa kita rasakan. Alhamdulillah, di sekolah para Guru terus memotivasi anak didiknya agar optimis dan percaya diri dalam menghadapi segala ujian. Thank you so much my beloved teachers.

Gie sadari untuk menggapai mimpi tersebut kita mesti perih, sakit, dan kerja keras. Dan tidak lupa berdoa kepada Allah SWT. Coz, orang yang berusaha dan tidak berdoa, doi adalah orang yang sombong. Dan orang yang berdoa tapi tidak berusaha, doi adalah orang yang malas.

Intinya kita memang mesti menempatkan ikhtiar, doa, dan tawakal dengan seimbang. Tentunya dengan cara yang proporsional.

Last, Gie akhiri goresan tinta ini dengan sebuah ayat dalam Al Quran. Yakni surat Ar-Rad ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Selasa, 26 Februari 2008

How Addicted to Blogging Are You?

82%How Addicted to Blogging Are You?



Em...rasanya widget ini pas buat kamu yang pengen ngetes seberapa besar kamu yang punya hobi ngeblog dan yang ngaku blogger sejati ngebuktiin "demam" ngebloging. Like me, Gie nyoba masuk ngeklik widget ini dari temen baru yang juga sama-sama "demam" blog.

And the result, i've got 82% buat jadi seorang blogger. Pas banget deh wadget ini buat nunjukkin seberapa besar dedikasi kamu terhadap blog yang kamu miliki (ha...ha...) dedikasi? Ooopooo ikiii? he...he....Yah seperti like that lah.

Ntar kita bakalan disuguhi 14 pertanyaan menyangkut blog. Pokonya everything about blog. Cobain deh, klik aja gambar di atas!!! And how addicted to blogging are you????

Sabtu, 26 Januari 2008

Curhat (2)

ANDAIKAN UMUR KITA KETAHUI

Saya pernah ditanya oleh Guru Agama ketika proses KBM berjalan di kelas. Guru saya bertanya kepada saya dan teman-teman sekelas. “Gie, seandainya kamu diberi tahu bahwa umur kamu tinggal 1 bulan lagi, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Guru saya.

Begitu kagetnya ketika mendengar pertanyaan itu. Mungkin hal senada juga dirasakan teman-teman saya yang kedapatan pertanyaan yang sama. “Em….Saya akan beribadah terus menerus Pak dan bertaubat atas segala dosa yang pernah diperbuat”, jawab saya.

Jawaban yang bervariatif pun muncul dari teman-teman saya. “Saya akan meminta maaf kepada semua orang yang pernah saya sakiti Pak”, ucap Pupu. Ada pula yang menjawab akan meminta kepada orang yang meminjamkan uang untuk menganggap lunas hutang yang belum dibayar.

Guru saya pun menjawab jika hal itu terjadi, ada hal terpenting ketika kita menghadapi maut, yaitu membaca syahadat. “Baca lah syahadat dalam menghadapi syakaratul maut nanti, insyaAllah dijamin masuk surga”, ucap Pak Ilam.

Namun hal tersebut tidak semudah mengembalikkan tangan. Semua itu tergantung amal-amalan semasa hidup. Apabila banyak melakukan ama shaleh, tentunya akan mudah mengucapkan syahadat. Akan tetapi jika yang banyak adalah maksiat, tentunya akan kebalikkannya.

Kontan kami sekelas termenung dan ter-ngiang akan pertanyaan tadi. Betapa hidup kita ini hanya sebentar dan tidak akan abadi. Bak seseorang menjalani sebuah perjalanan dan sedang berhenti sejenak di persinggahan tempat istirahat. Itulah anolgi kehidupan. Tidak akan lama, seseorang tersebut akan terus melanjutkan perjalanan.

Pantas saja Imam Al-Ghazali mengatakan hal yang paling dekat dengan diri kita adalah sebuah kematian. Semua yang hidup pasti akan mengalamai kematian. Hal tersebut tidak bisa kita tawar.

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kita dalam mensikapi kematian? Pertanyaan yang sederhana, akan tetapi sulit untuk dijawab bahkan untuk dipahami esensinya.

Seseorang yang beriman akan mensikapinya dengan proporsional. Kematian tidak akan ditakutinya akan tetapi terus diingat bahkan ditunggu-tunggu. Karena apa? Saking kuat keimanannya sehingga ingin berjumpa dengan Rabbnya. Subhanallah!!

Seorang ulama pernah berpesan. Kematian tidak usah kita takuti dan hindari, toh kita akan mati juga pada akhirnya. Yang terpenting adalah bagaimana mengerjakan amal sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat kelak.

Selasa, 22 Januari 2008

Curhat

CURAHAN HATI SEORANG PELAJAR
Sejatinya apabila kita telah mempunyai suatu kebiasaan yang baik, mesti kita pertahankan bahkan ditingkatkan lebih dalam. Baik dari segi kuantitasnya ataupun kualitasnya.

Dalam kesempatan ini saya menyampaikan curahan hati (curhat). Curahan hati seorang siswa yang notabene adalah insan yang tengah mencari ilmu dan “berpetualang” mencari arti hidup dari pembelajaran yang ternyata tidak terpaku dalam sebuah ruangan yang lazim disebut kelas. Masih banyak “kelas” lain yang kebanyakan orang belum diikuti mata pelajarannya.

Katakan saja saya adalah seorang pelajar yang beruntung. Beruntung dalam artian diberi kekuatan dan kesempatan untuk mengekspresikan segala unek-unek dalam pikiran melalui sebuah goresan tulisan. Buah pikiran saya acap kali dituangkan secara gamblang, bebas, murni, orisinil, kritis namun terkadang agak blak-blakkan.

Aktif berkiprah menulis sejak menginjak sebuah masa di mana kata orang banyak masa-masa yang paling indah (SMA). Entah apa yang mendasari ada jargon yang berbunyi seperti itu. Mungkin “darah muda” yang menggebu-gebu mengenai percintaan yang pastinya menjadi sorotan. Tapi di sini kita tidak akan membahas mengenai itu.

Bersyukur saya dibimbing oleh seorang guru yang begitu concern membimbing dalam hal tulis-menulis. Kebetulan guru pembimbing saya itu adalah seorang jurnalis. Di bawah bimbingannya alhamdulillah saya bisa menulis banyak hal. Meskipun tulisan saya masih jauh dari kesempurnaan. Satu hal yang saya yakini, hal tersebut adalah sebuah proses.

Dengan seringnya berlatih, belajar dan belajar tanpa henti. InsyaAllah segala sesuatu akan mencapai sebuah kesempurnaan dan keberhasilan. Akan tetapi waktu terus berlanjut sampai saya menginjak kelas 3. Di mana ketakutan saya muncul. Ketakutan di mana apabila kebiasaan dam hobi saya (menulis) sedikit demi sedikit menurun produktivitasnya.

Terbukti dengan jarangnya saya menghasilkan sebuah tulisan. Baik tulisan yang dimuat di media ataupun tidak. Dengan alasan, sibuknya aktifitas saya di kelas 3 dalam persiapan menghadapi UN dan SPMB.

Akan tetapi setelah dipikir-pikir dan direnungkan, alasan itu tidak realistis dan terkesan agak naif. Begitu mudahnya kita menyalahkan status kita sebagai kelas 3 untuk berhenti menulis. Toh kita masih bisa memanage waktu. Misalnya di waktu senggang, kita manfaatkan untuk menulis.

Kenapa bangsa kita belum bisa maju? Ternyata salah satu faktornya adalah budaya baca dan menulis masih dianggap tabu dan jarang orang melakukannya.

Tidak seperti negara-negara maju seperti Jepang. Di Jepang orang begitu “lahap” membaca buku dan mengembangkan budaya menulis. Bahkan ada survei yang mengatakan rata-rata orang Jepang dalam sehari membaca lebih dari 5 buku yang berbeda.

Artikel, opini, berita, essay, dan masih banyak lagi berbagai jenis tulisan. Diary pun bisa menjadi ajang yang baik dalam hal menulis. Bahkan dari sebuah diary atau catatan harian pun bisa menghasilkan uang. Seperti Radhitya Dika yang menjadikan diary dalam blognya sebuah buku, bahkan sampai 3 buku dihasilkan (Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, dan Radhitya Makan Kakus).

Jumat, 21 Desember 2007

Resensi Film Sejarah

"LEBIH BAIK DIASINGKAN DARIPADA MENYERAH PADA KEMUNAFIKAN."SOE HOK GIE
Gie (2005) adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza. Gie mengisahkan seorang tokoh bernama Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam.

Film ini diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya Gie sendiri, namun ditambahkan beberapa tokoh fiktif agar ceritanya lebih dramatis. Menurut Riri Riza, hingga Desember 2005, 350.000 orang telah menonton film ini. Pada Festival Film Indonesia 2005, Gie memenangkan tiga penghargaan, masing-masing dalam kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Nicholas Saputra), dan Penata Sinematografi Terbaik (Yudi Datau).
Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang tidak begitu kaya dan berdomisili di Jakarta. Sejak remaja, Hok Gie sudah mengembangkan minat terhadap konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Semangat pejuangnya, setiakawannya, dan hatinya yang dipenuhi kepedulian sejati akan orang lain dan tanah airnya membaur di dalam diri Hok Gie kecil dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Hok Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya "Untuk apa semua perlawanan ini?". Pertanyaan ini dengan kalem dijawab Soe dengan penjelasan akan kesadarannya bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Semboyan Soe Hok Gie yang mengesankan berbunyi, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."

Masa remaja dan kuliah Hok Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI. Soe dan teman-temannya bersikeras bahwa mereka tidak memihak golongan manapun. Meskipun Hok Gie menghormati Sukarno sebagai founding father negara Indonesia, Hok Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak. Hok Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Soe juga sangat membenci bagaimana banyak mahasiswa berkedudukan senat janji-janji manisnya hanya omong kosong belaka yang mengedoki usaha mereka memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi. Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Hok Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Soe untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh-musuh Hok Gie bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.

Tan Tjin Han, teman kecil Hok Gie, sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Soe Hok Gie, namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam usia berkepala dua, kedua lelaki dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Hok Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Hok Gie mendesak Tan untuk menanggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut.

Hok Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta. Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai.

Kamis, 13 Desember 2007

Gumilar Say

RECTOR SPEECH
As one of the oldest universities in Indonesia, the University of Indonesia (UI) has pride its reputation which is established by its outstanding learning in 12 faculties, one graduate school and qualified graduates who have been very influential in the country’s history. Since its establishment in 1950, UI has continued to grow and flourish. Today UI remains a dynamic centre of excellence for research and learning, attracting more than 30.000 Indonesian and international students. Most international students come from Korea, Japan, China, ASEAN countries, Taiwan, Turkey, India, Canada, USA, Australia and other countries. As one of Indonesia’s leading universities, students are at the centre of the latest knowledge and method, taught by staff at the forefront of their disciplines.

As part of international community, UI has actively cooperated with other international universities and instititutions in the areas of teaching, research, consultations and exchange of students and staff. It also has a strong link with embassies and industry.

This prospectus (which is also available in electronic form at http://www.ui.edu) describes the range of taught programmes offered at UI and the areas of research which we can offer supervision, admission procedures, and living in UI and Indonesia. It also provides contact details and the address of the faculty’s website if you need further information or would like to discuss your study with a member or staff.

I hope you will find the programme you are looking for, be it degree programmes or short courses. If you would like to apply, please refer to the application procedures section which explains the application in more detail. If you need more information, please contact our International Office staff. We look forward to hearing from you. Sampai jumpa.


Prof.Dr. der Soz. Drs Gumilar Rusliwa Somantri
Rector,
University of Indonesia

Taken from: http://www.ui.edu/