Senin, 12 November 2007

Sehari di MP

UNFORGETABLE MOMENT IN MAYASARI PLAZA

Em....rasanya ini bakal menjadi salah satu kenangan yang indah dari sekian banyak kenangan indah selama Gie sekolah di SMA Al Muttaqin Tasikmalaya. Kenapa bisa begitu? Tanya kenapa??? He...he...Coz, Gie mendapatkan suatu pengalaman yang berharga dan menyenangkan. Pengalaman yang insyaAllah menjadi pelajaran yang berharga bagi diri Gie khususnya. Lagi-lagi ini karena Gie aktif dalam organisasi di SMA AMQ. Alhamdulillah, bisa dibilang Gie menjadi salah seorang aktifis kampus di SMA Al Muttaqin yang tercinta.

Panitia LAC 3 Lomba Mading
Cape tapi menyenangkan. Itulah kata yang bisa menggambarkan suasana ketika Gie menjadi panitia LAC 3 kerja selama menjadi panitia. Seperti yang diketahui, LAC 3 merupakan salah satu program kerja OSIS SMA Al Muttaqin masa jihad 2006-2007. LAC merupakan program tahunan yang didalamnya terdapat berbagai macam lomba, yaitu LCT B. Inggris, Khitobah Arobiyah, Scrable, Band, dan yang terbaru adalah Lomba Mading. And, Gie dapet tugas buat menjadi koordinator Lomba Mading. Sebenernya bukan Gie sih yang jadi koordinatornya, tapi Adel, adik kelas Gie yang masih kelas X. Entah kenapa, seakan temen-temen mempercayakan tugas itu ke Gie. Makasih yah temen-temenku!!! So, Gie jadi komandan divisi mading deh. Alhamdulillah Gie diberi kepercayaan buat tugas yang satu ini.

Prajuirt-prajurit (Sory yah disebut prajurit) Gie di divisi mading mayoritas cewe. Tapi ada juga yang cowo. Ok deh di sini Gie bakal nyebutin nama-namanya.Buat yang cowo dulu aja, Ijonk (Moh), Alex (Gilang), Agri, trus additonal prajurit Uphenk (Arif), Bangke (Fariz), Fuad, Dery, Hasby, en Dew. Nah sekarang yang cewe, Adel, Dwie, Lulu, Faridah, Fitri, Ismi, Afifah, Azizah, Mutiara, Syifatul, Irni, dan Devania.

Temen-temen panitia di mading bisa dibilang kerja ekstra. Mulai dari persiapannya ampe pas acara puncaknya. Panitia yang cowo sibuk buat menjaring peserta en nyiapain peralatan buat lomba. Trus, kalo yang cewe sibuk bikin mading panitia buat contoh, bikin surat-surat, en kerja administrasi gitu deh. Pokoknya semuanya kerja. Selama kurang lebih 2 minggu kita bekerja. Peserta lomba mading Alhamdulillah banyak. Teritung berjumlah 32 group. Kayaknya hukum Fisika mengenai hukum aksi reaksi bekerja di sini. Mungkin ini karena aksi kita sebagai panitia yang sungguh-sungguh dalam bekerja berimbas reaksi yang memunculkan peserta banyak. Duhh....kok Gie bisa yah bicara soal exact, padahal kan Gie kelas Social bukan exact. He.....he...

Menjadi komandan divisi lomba mading bisa dibilang gak terlalu pusing en stress. Coz, prajurit-prajurit Gie di divisi ini kerjanya profesional banget istilahnya mah. Mereka kerjanya bagus, cekatan, aktif, en gak ngecewain deh pokoknya. Kalo Gie nyuruh gini, mereka langsung kerja, Gie suruh itu, mereka langsung laksanain. Bangga deh punya anak buah di divisi mading. Kalo Gie nilai dari 10 ampe 100, Gie bakal ngasih nila 95.

Mayasari Plaza
Sebelumnya ada sedikit bingung milih tempat buat lomba mading. Antara di sekolah dan di Mayasari Plaza. Setelah menghitung-hitung plus minus diantara dua tempat itu. Akhirnya panitia memilih Mayasari Plaza untuk dijadikan tempat buat lomba mading tepatnya di ballroom lantai 3. Alasanya supaya meriah, trus suapaya gak ribet lagi. Coz kalo di sekolah takutnya hujan, trus hasil mading peserta kan mesti dibawa, nah pastinya ribet bawa madingnya dari skul ke MP (nama beken Mayasari Plaza). Dengan asumsi jika di MP gak ribet en lancar. Terbukti bener, di MP malah lebih meriah, sukses, lancar, en menyenagkan tentunya.

Kita panitia kerja super sibuk pas hari Kamis, Jumat, en Sabtu. Hari Kamisnya kita beli segala peralatan buat lomba mading. Besoknya kita ngadain technical meating buat para peserta. Alhamdulillah di sini lancar-lancar aja. Kayaknya semua peserta menerima dengan jelas tentang peraturan dan informasi mengenai lomba mading yang bakal digelar besoknya hari Sabtu di MP. malemnya kita ke MP lagi buat persiapan akhir. Kita bawa peralatan diantaranya tiang besi penyangga buat pameran, en kertas duplex ukuran plano yang banyaknya kurang lebih 30 kertas. Kerja keras buat temen-temen cowo. Gie, Ijonk, Alex, en Agri bawa besi itu dari skul ke MP. Berat banget...Coz, liftnya gak jalan so kita pake tangga darurat. Leuleus deh pokonya.

Inilah hari yang ditunggu-tunggu. Hari H di mana lomba mading digelar di MP. Acara dimulai kurang lebih pukul 10 pagi. Meskipun agak sedikit ngaret. Sebelumnya Gie briefing dulu bareng temen-temen panitia. Ngasih intruksi buat kerja mereka nanti gimana. Trus, juri udah pada dateng yaitu Bu Enden, Kang Dudi R.S, dan Kang Agus Ponda. Gie langsung mulai acaranya.

Acara dimulai dengan waktu membuat mading bagi peserta 3 jam 30 menit. Selama peserta buat mading, panitia mengontrol para peserta dan melayani peserta apabila ada yan meminta bantuan. Alhamdulillah respon para guru pembina dan peserta terhadap panitia positif. Ini terlihat dari mimik muka mereka, dan sikap terhadap peserta yang baik. Alhamdulillah Ya Allah... Mungkin karena tempatnya di MP kali yah mereka jadi seneng en bahagia. Jelas lah, ini merupakan lomba mading pertama yang diadakan di Mall dan di salah satu Mall terbesar di Priangan Timur.
Di sela-sela peserta bekerja, ada aja ulah panitia yang bikin rame en gokil. Narsis-narsisan lah, photo-photoan lah, en lucu-lucuan tentunya. Semua panitia jadi pada narsis, termasuk Gie. He...he.. Kita photo-photan, jajan, tapi gak lupa ama tugas kita sebagai panitia. Trus malemnya kerja nempelin mading buat dipamerkan. En Alhamdulillah secara keseluruhan Lomba berjalan lancar. Di sini Gie ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan kepada panitia LAC 3 khusunya lomba mading. Trus makasih juga kepada seluruh panitia, en yang di divisi mading mohon maaf jika Gie banyak salah ama kalian, kadang suka marah kalo nyuruh. Maafin yah!!! Seneng punya temen en adik kelas seperti kalian. Ini pastinya menjadi kenangan yang tak bisa terlupakan begitu saja.


Album panitia






















































































Sabtu, 03 November 2007

Dinamika Hidup Insan Sosial

DINAMIKA HIDUP INSAN SOSIAL
Kita terlahir di dunia sebagai mahluk sosial. Hal ini tidak dapat kita elakkan. Mau tidak mau kita akan menjalani hidup ini tidak mungkin tanpa bantuan orang lain. Non sense apabila ada seseorang yang memproklamirkan dirinya tidak memerlukan bantuan orang lain.
Insan sosial, istilah lain yang bisa menjabarkan manusia sebagai mahluk sosial. Fenomena di masyarakat sangat jelas menggambarkan manusia sebagai insan sosial. Ini bisa kita tengok dari berbagai sudut pandang.

Secara ekonomi saja, sangat jelas manusia tidak bisa hidup sendiri. Bisa dibayangkan, mungkin aktifitas jual beli tidak akan ada. Ini mengindikasikan bahwasannya memang benar, jika manusia memang insan sosial. Apalagi dalam dunia politik. Dunia yang bisa dibilang, dunianya para konseptor suatu negara. Dunia di mana selalu dinamis. Dunia di mana sesorang bisa menghalalkan segala cara. Dunia di mana bisa membuat seseorang tambah imannya atau malah sebaliknya.

Terlepas dari semua tetek bengek dunia politik. Sadar atau tidak, seseorang yang masuk dalam dunia politik, tentunya membutuhkan kawan. Contoh kecil, seseorang yang membuat partai. Bukan suatu partai namanya jika hanya terdiri dari seorang individu tanpa memiliki masa.

Berbicara mengenai politik, disamping memerlukan kawan ternyata juga memerlukan rival. Mungkin kita akan bertanya-tanya. Inilah yang disebut dengan peta konflik. Dunia politik justru membawa kita dalam suatu kompetisi. Akan tetapi kompetisi dengan cara sehat tentunya. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Karena melalui suatu konflik tersebut, diharapkan nantinya akan muncul konflik yang konstruktif (membangun).

Artinya, dengan konflik tersebut menghasilkan sesuatu yang membangun kedua belah pihak. Kemerdekaan negara kita saja mesti melalui konflik terlebih dahulu. Sejarah mencatat bahwasannya negara yang kita cintai Republik Indonesia ini dihadapkan dengan konflik internal.

Kita tentu masih ingat ketika persiapan kemerdekaan Indonesia, kaum muda dan kaum tua berselisih pendapat mengenai proklamasi kemerdekaan. Kaum muda yang dimotori oleh Adam Malik dan rekan pemuda lainnya, menginginkan agar proklamasi kemerdekaan segera diproklamasikan.

Di sisi lain, kaum tua yaitu Soekarno dan rekan yang lainnya justru terkesan menunda-nunda kemerdekaan. Dengan dalih proklamasi kemerdekaan RI mesti dilakukan pada moment yang tepat. Konflik tersebut berlanjut dengan dibawanya Soekarnao, Hatta, dan kaum tua lainnya ke Rengasdengklok oleh kaum muda. Dibawanya kaum tua oleh kaum muda ke Rengasdengklok untuk segera merumuskan kemerdekaan RI.

Setelah dirumuskan, maka pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamasikanlah kemerdekaan Indonesia oleh Soekarnao dan Hatta. Sejak itulah RI memproklamasikan kemerdekaannya secara de facto. Konflik antara kaum muda dan kaum tua tersebut menghasilkan suatu konflik yang konstruktif. Di mana dengan adanya konflik dari kedua belah pihak tersebut menghasilkan sesuatu yang mengubah nasib bangsa Indonesia.

Bisa kita bayangkan, jika kaum muda tidak memberikan “tekanan” kepada kaum tua untuk untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI. Mungkin kemerdekaan RI diproklamasikan tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 atau mungkin akan ditunda-ditunda.

Konflik tidak selamanya menimbulkan efek yang negatif (destruktif). Konflik juga bisa menghasilkan sesuatu yang positif apabila kita menyikapi konflik tersebut dengan dewasa dan proporsional. Dengan kepala dingin, kedewasaan bisa membuahkan konsensus yang bermanfaat bagi penyelesaian konflik tersebut.

Kamis, 01 November 2007

Lebih Dekat Dengan Nasyid PUTIH

BERNYANYI SAMBIL BERDAKWAH
"Assalamualaikum….Assalamualaikum! Walaikum salam….” Itulah sebagian lirik lagu opening yang dilantukan tim nasyid PUTIH SMA Al Muttaqin saat mereka manggung. Tim nasyid yang beranggotakan tujuh orang siswi SMA Al Muttaqin ini memang bisa dibilang sedang naik daun.

Job untuk manggung di sana-sini sudah menjadi salah satu rutinitas mereka di samping tugas utamanya belajar. Siapa sangka tim nasyid yang berdiri 11 Agustus 2006 ini menjadi salah satu tim nasyid yang diperhitungkan keberadaanya. “Gak nyangka banget kita bisa dapet job di sana-sani." Cetus Dara salah seorang personil PUTIH.

Tim nasyid PUTIH yang digawangi Dara Rizki (XI. Social), Dine Dian (XI. Exact), Cici Pratiwi (XI. Exact), Teni Krisdiani (XI. Exact), Susanti Silvia (XI. Social), Alifah Aulia (XI. Exact), dan Wini Anggraeni (XI. Exact) ini selalu memberikan penampilan yang menarik setiap penampilannya.

Nama PUTIH sendiri dipilih dengan memiliki arti tersendiri. Hal tersebut dibenarkan Susan yang memberi nama PUTIH. “PUTIH itu artinya Penyejuk Untuk Indahnya Hati.” Terangnya. Uchan panggilan akrabnya, menambahkan harapannya dengan nama PUTIH tersebut bisa menyejukkan hati orang dari lagu yang mereka nyanyikan.

PUTIH sendiri dalam mempersiapkan penampilannya senantiasa berlatih dengan rutin. Meskipun sekarang berlatih sendiri karena pelatih yang dulu yaitu Bu Susan salah seorang guru SMA Al Muttaqin mesti ikut suaminya di Bandung. Menjadikan mereka mesti berlatih sendiri.

Akan tetapi tanpa pelatih bukan berarti menurunkan semangat dalam berlatih. “Meskipun udah gak ada Bu Susan, kami tetap latihan sendiri. Dan rencananya kami bakal mendatangkan pelatih yang baru." Tegas Teni.

Dalam setiap penampilannya tim nasyid yang mempunyai motto “Innalloha Ma’ashobirin” ini mempunyai lagu andalan. Seperti Alhamdulillah yang dibawakan Opik. Juga lagu nasyid lain seperti yang dipopolerkan oleh Raihan, Sakha, Snada, dan Justice Voice.

Suka duka pun menghaiasi kehidupan para personil PUTIH. Seperti pernah dikecewakan dengan tidak diberi bayaran setelah manggung. “Kami pernah gak dibayar pas udah manggung. Sedih sih tapi gak apa-apa lah, kami jadikan pengalaman yang berharga.” Kata Wini.

Bahkan suatu ketika akan manggung. Mereka pernah 15 menit sebelum manggung mengaransemen sebuah lagu. Dan hasilnya sukses menghibur para penonton. Sedangkan pengalaman suka bagi para personil PUTIH dengan mendapat honor dari hasil kerja kerasnya.

Dengan mendapat penghasilan dari setiap manggung mereka bisa meringankan beban orang tuanya. Satu hal lagi yang penting di sini. Mereka bisa berdakwah ke berbagai tempat dengan lagu islami yang dilantunkan.

Banyak harapan yang muncul dari setiap benak personil PUTIH. Salah satunya yaitu menjadi nasyid yang terkemuka dan bisa rekaman. Dengan begitu mereka bisa eksis dan concern dalam menyuarakan dakwah Islam.

KOMENTAR MEREKA!
Dara Rizki
“Masuk tim nasyid putih menambah pengalaman bagi saya dan bisa menjalin kekompakkan dengan teman-teman.”




Teni Krisdiani
“Bisa punya uang hasil keringat sendiri. Bangga deh jadi personil PUTIH.”




Cici Pratiwi
“Ikutan nasyid PUTIH asik! Bisa ngembangin bakat kita dalam hal menyanyi.”





Susanti Silvia
“Pokoknya sejuta rasa, sejuta warna ada di nasyid PUTIH. Dan juga sejuta impian.”





Wini Anggraeni
“Rame banget! bisa ngerasain gimana capenya cari uang sendiri.”




Dine Dian
“Pengalaman dalam hal menyanyi bisa saya ambil dengan masuk PUTIH ini.”




Alfiah Aulia
“Yang pasti kita bisa makan gratis, dapat honor, souvenir dan kebahagiaan yang lainnya.”

Selasa, 30 Oktober 2007

Reuni SMP N 2 Tasikmalaya Angkatan 1966

TEPANG SONO ALUMNI

Sebuah pengalaman yang menarik ketika Saya meliput acara reuni SMP N 2 Kota Tasikmalaya angkatan 1966. Suasana yang kekeluargaan dan persahabatan yang kental bisa dilihat. Saat itu pada tanggal 18 Maret 2007. Ada yang berbeda dengan kampus SMP N 2 Tasikmalaya bertepatan hari Minggu itu. Sekolah yang berlokasi di samping Pendopo Kabupaten Tasikmalaya ini pun terlihat ramai. Hal ini tidak lain karena adanya reuni alumni SMP N 2 angkatan 1966.

Sekolah yang mempunyai panggilan akrab Nedutas ini pun dibanjiri para alumni angkatan 1966. Para alumni yang notabene sudah menjadi Bapak, Ibu bahkan ada yang sudah menjadi Kakek dan Nenek ini sangat antusias mengikuti acara.

Dalam acara ini, mereka saling sosonoan satu sama lain. Mengenang masa-masa dulu ketika di bangku SMP N 2. Banyak cerita-cerita, dan kenangan-kenangan yang dilontarkan para alumni satu sama lain.
Menurut Ketua Pelaksana Reuni Alumni SMPN 2 Tasikmalaya angkatan 1966, Ir. H. Rusdhiana Sulaeman, MM., MBA. Latar belakang acara ini berawal dari satu gagasan, satu kehendak dari seseorang yang bernama H. Djoko Sumaryono. Beliau merupakan Laksamana Madya TNI (Jika di Angkatan Darat Letnan Jendral).
“Beliau begitu merindukan, ingin bertemu dengan teman-teman lamanya ketika di SMP N 2. Karena rasa kangen yang tinggi dan keinginan meningkatkan silaturahmi, maka kami selaku panitia berinisiatif untuk menggagas acara ini.” Ucap Bapak Rusdhiana.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sukabumi ini juga menambahkan. Bahwa maksud dan tujuan dari acara ini salah satunya yaitu untuk meningkatkan tali silaturahmi antara sesama kawan sekaligus temu kangen.

Acara yang dimulai pukul 09.15 WIB ini begitu hidmat. Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Quran oleh salah seorang alumni. Kemudian dilanjut dengan berbagai sambutan.

Dimulai dari sambutan ketua pelaksana, yaitu Ir. H. Rusdhiana Sulaeman, MM., MBA. Kemudian dari pihak alumni yaitu Laksamana Madya TNI H. Djoko Sumaryono. Dalam sambutannya Laksamana Madya TNI H. Djoko Sumaryono berharap. Dengan adanya acara reuni ini bisa mempererat tali silaturahmi diantara para alumni.

Sebagai syukuran, diadakan potong tumpeng. Yang dilakukan oleh Laksamana Madya TNI H. Djoko Sumaryono. Kemudian diberikan kepada guru SMP N 2 angkatan 1966.

Tidak mau ketinggalan. Dalam acara ini, siswa-siswi SMP N 2 memberikan hiburan dengan menampilkan kesenian sunda kacapi. Serta menyanyikan lagu mars SMP N 2 Tasik. Tidak hanya itu, panitia juga menampilkan Reog Bogem Tempo Dulu yang sekarang masih ada. Serta menghadirkan door prize kepada tamu undangan.



Di akhir acara, dibentuklah ikatan alumni SMP N 2 Tasikmalaya angkatan 1966 dengan Ketua Umum Laksamana Madya TNI H. Djoko Sumaryono. Dalam kesempatan itu pula, para alumni memberikan penghargaan bagi siswa-siswi SMP N 2 yang berprestasi.

Wawancara Eksklusif Laksamana Madya TNI H. Djoko Sumaryono Ketua BAKORKAMLA (Badan Koordinasi Keamanan Laut) RI

JURUS AMPUH 4 S
Di sela-sela acara reuni SMP N 2 Tasikmalaya angkatan 1966. Saya berkesempatan mewawancarai salah seorang alumni SMP N 2 Tasikmalaya yang mempunyai andil yang cukup besar di Indonesia khusunya angkatan laut.

Beliau adalah Laksamana Madya TNI H. Djoko Sumaryono. Beliau merupakan Ketua BAKORKAMLA (Badan Koordinasi Keamanan Laut) RI. Berikut petikan wawancaranya.
Gie : Komentar Bapak mengenai acara ini?
Pak Djoko : Acara ini sangat semarak dan mengharukan. Karena kurang lebih empat puluh satu tahun kita tidak bertemu. Alhamdulillah, guru-guru masih ingat kepada kita. Hal ini merupakan satu hal yang konstruktif.
Gie : Harapan Bapak dengan adanya acara ini, khususnya bagi SMP N 2?
Pak Djoko : Tentu SMP N 2 sekarang punya network, punya jaring, ada alumni. Harapannya bisa memberikan motivasi kepada adik-adik almamater. Bahwa kakak-kakaknya bisa berhasil.
Gie : Kenangan manis Bapak ketika di SMP N 2?
Pak Djoko : Ketika aktif di Pramuka. Banyak pengalaman yang bisa diambil dari situ.
Gie : Waktu Bapak SMP, pelajaran apa yang Bapak sukai?
Pak Djoko : Hampir semuanya Bapak sukai. Tapi dalam kegiatan ekstrakurikuler, Bapak paling suka Pramuka.
Gie : Kiat Bapak ketika SMP, sehingga bisa sukses seperti sekarang ini?
Pak Djoko : 4 S. Syukur, senang, sungguh-sungguh, dan sabar. Itu kiat Bapak.
Gie : Pesan Bapak bagi para pelajar di Tasikmalaya?
Pak Djoko : Belajar sungguh-sungguh. Hindari hal-hal yang terlarang, narkotik, diskotik dan segala macam yang negatif. Percayalah bahwa ke depan bangsa kita akan lebih baik lagi. Untuk itu song-songlah masa depan yang lebih bagus.

Demi Waktu

Waktu Oh Waktu.......
Waktu merupakan sesuatu yang krusial dalam hidup ini. Detik demi detik kita jalani hidup ini. Setiap detik yang kita lalui tidak akan pernah kembali. Itulah waktu, saking pentingnya waktu ada pribahasa yang mengatakan time is money.
Yah, waktu amat berharga dalam hidup ini. Orang yang sukses akan me-manage waktunya dengan baik. Mereka tidak akan menyia-siakan waktu satu detik pun untuk hal yang tidak penting.

Ada hal yang menarik, dalam waktu 24 jam. Ada orang yang bisa menyelesaikan satu buku. Dalam waktu 24 jam, ada orang yang mempu membuat 100 produktivitas, 250, 500, 750, bahkan 1000 produktivitas. Namun, dalam 24 jam ada juga orang yang mengurus dirinya sendiri saja tidak bisa.

Remaja, usia di mana seseorang sedang mencari jati dirinya. Usia di mana kata orang merupakan masa yang paling indah dan menyenangkan. Remaja yang secara psikologis, merupakan suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Usia ini merupakan usia yang agak kabur.

Karena berada pada masa peralihan antara anak-anak dan masa dewasa. Bahkan seorang Psikolog mengibaratkan: terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil untuk taplak meja. Unik memang masa remaja. Di satu sisi bukan anak-anak lagi, di sisi lain belum pantas juga disebut dewasa.

Tapi hal tersebut jangan dijadikan alasan untuk tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Jikalau memang asumsi yang mengatakan masa remaja merupakan masa yang paling indah, jadikan masa remaja tersebut lebih indah dengan mengisi hal yang kreatif, inovatif, dan prestatif.

Penyesalan memang tidak akan pernah datang awal-awal, penyesalan pasti datang di akhir. Kita tidak bisa tawar menawar lagi mengenai hal yang satu ini. Untuk itu, hindari hal tersebut dengan tindakan preventif.

Teringat akan sajak Sean Covey yang menggugah kita akan seberapa pentingnya waktu dan memaknainya. Berikut petikannya.
Untuk tahu nilai satu tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kenaikan.
Untuk tahu nilai satu bulan, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Untuk tahu nilai satu minggu, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Untuk tahu nilai satu hari, tanyakan pada buruh harian yang punya enam anak untuk diberi makan.
Untuk tahu nilai satu jam, tanyakan pada kekasih yang menanti saat bertemu.
Untuk tahu nilai satu menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
Untuk tahu nilai satu detik, tanyakan pada orang yang selamat dari kecelakaan.
Untuk tahu nilai satu milidetik, tanyakan pada peraih medali emas olimpiade.


Dari sajak 7 Habits yang diutarakan Sean Covey kita bisa renungkan akan waktu. Betapa pentingnya kita me-manage waktu dengan baik. Hadist juga menerangkan akan pentingnya waktu. Sabda Rasulullah Saw: Ingat lima perkara sebelum lima perkara. Lima perkara tersebut; sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.

Sabtu, 06 Oktober 2007

Liputan Khusus Lebaran

SUKA DUKA PENJAGA PINTU PERLINTASAN KERETA API

Setiap kita melintas suatu perlintasan kereta api, ada satu hal yang rasanya jarang kita perhatikan. Yaitu seseorang yang berjasa kepada para pengendara kendaraan bermotor. Seseorang yang berjasa telah menyelamatkan nyawa kita dari bahaya kereta api. Seseorang tersebut tidak lain adalah penjaga pintu perlentasan kereta api.

Membuka dan menutup palang pintu apabila ada kereta yang lewat adalah tugas pokoknya. Tanda kepada kita selaku pengendara untuk berhenti sejenak menunggu kereta lewat. Mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab.

Seperti halnya Pak Emen (52), seorang penjaga pintu perlintasan kereta api. Pak Emen adalah salah satu dari sekian banyak penjaga pintu perlintasan di Kota Tasikalaya.

Ketika Saya wawancarai di tempat kerjanya, yaitu pos Indihiang. Pak Emen tengah selesai mengejakan tugasnya menutup pintu perlintasan. Bapak tiga anak ini begitu ramah dalam menyambut.

Saya berkesempatan mengetahui lebih jauh mengenai pengalaman dan suka duka Pak Emen sebagai penjaga pintu perlintasan. Sudah hampir 33 tahun Pria berkacamata ini menjalani hidup sebagai penjaga perlintasan kereta api.

Banyak hal yang dilalui, baik itu pengalaman suka maupun pengalaman dukanya. Meskipun bekerja sebagai penjaga pintu perlintasan, kebutuhan keluarganya masih bisa tercukupi. “Alhamdulillah meskipun Bapak bekerja hanya sebagai penjaga pintu perlintasan kereta api selama 33 tahun ini tapi Bapak bisa memenuhi kewajiban Bapak sebagai kepala keluarga dalam menafkahi anak dan istri.” Terangnya.

Pak Emen yang bekerja 6 hari dalam 1 minggu ini mesti konsentrasi dalam bekerja. Karena sedikitnya ada 20 kereta api yang melintas dalam 1 hari 1 malam. Sedikit saja lengah maka akan fatal akibatnya.

Bagi Pak Emen, bisa menejalankan tugas dengan baik dan tanggung jawab sudah merupakan suatu kebahagiaan. Rasa kantuk yang berat mesti dilawan ketika jaga malam. Dan itu merupakan sesuatu yang tidak mengenakkan bagi Pak Emen.

Pak Emen menambahkan terkadang tidak bisa berkumpul bersama keluarga ketika lebaran. Tidak lain karena mendapat tugas ketika hari raya. “Yah Bapak pernah tidak berkumpul dan silaturahmi sama keluarga ketika lebaran karena kebagian jaga. Mau gimana lagi tugas mesti dikerjakan.” Ucapnya.

Hal yang membanggakan dari seorang Pak Emen ini adalah ketika mengisi waktu menunggu datangnya kereta, Pak Emen sering membaca Al Quran. Bahkan tafsirannya pun dibaca.

“Dengan kita membaca Al Quran kita senantiasa ingat kepada Allah SWT. Dan kita jadi tahu tujuan hidup ini. Hati pun jadi terasa tentram dan damai. Tidak ada yang mesti ditakuti, kecuali Allah SWT.” Tegas pria kelahiran 19 Juni 1955 ini.

Hikmah lain yang dirasakannya setelah membaca Al Quran, dalam mengerjakan tugasnya akan khusyu dan tidak ceroboh. Hal yang patut kita tiru, meskipun sedang bekerja senatiasa beribadah dan ingat kepada Allah SWT.

Di ujung perbincangan Pak Emen berpesan agar masyarakat mencintai dan membudidayakan kereta api. Juga, untuk tidak menerobos palang pintu kereta api. “Bapak suka sedih dan jengkel kalo ada yang menerobos. Padahal itu sangat berbahaya bagi keselataman.” Keluhnya.

Masih banyak Pak Emen, Pak Emen lain yang berjasa kepada kita selaku masyarakat. Kita patut berterima kasih kepada mereka. Demi menjalankan tugasnya mereka rela meninggalkan anak dan istri.