Sabtu, 29 Mei 2010

Komentar Cerpen Senja

Sepotong Senja Untuk Pacarku


Karya:
Seno Gumira Ajidarma
Alina tercinta, bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Kamis, 27 Mei 2010

Resensi Film IP MAN

IP Man, Lika-Liku Hidup Sang Master Wing Chun

Pemain : Donnie Yen, Simon Yam, Lam Ka-Tung, Hiroyuki Ikeuchi, Xing Yu, Fan Siu-Wong, Lynn Hung, Wong You-Nam
Sutradara : Wilson Yip
Penulis : Edmond Wong
Produser : Raymond Wong
Produksi : Mandarin Films Distribution
Homepage : www.ipman-movie.com

Dalam dunia martial art (seni bela diri) nama IP Man sudah tidak asing lagi. Guru bela diri dari aktor laga kawakan Brucee Lee ini memang seorang yang fenomenal di negeri tirai bambu. IP Man adalah seorang master seni bela diri Wing Chun yang khas dengan mengandalkan bela diri jarak dekat dan kecepatan tangan.

Film IP Man mengisahkan perjalanan hidup sang master. Cerita film diadaptasi dari kisah nyata IP Man saat masa penjajahan Jepang di China sekitar tahun 30-an. Kisah dimulai dengan penggambaran bagaimana saat itu banyak orang mendirikan perguruan silat sebagai salah satu bentuk usaha. Namun IP Man mempunyai sikap berbeda dengan kebanyakan orang. Meskipun terkenal dan dihormati banyak orang, IP Man tidak begitu ngotot dan menonjolkan perguruan dan kemampuan bela dirinya.

Masa penjajahan mengharuskan IP Man bersinggungan dengan orang Jepang. Hal ini dikarenakan kesewenang-wenangan Jepang sehingga membuat IP Man tidak bisa tinggal diam. Perjuangan dan pergolakan IP Man dalam menghadapi semua itu menjadi garis besar cerita film.

Perpaduan aksi aktor laga Donie Yen selaku IP Man dan Sammo Hung selaku penata laga menghasilkan sebuah tontonan laga yang apik. Tontonan laga yang bisa dibilang tidak biasa ditampilkan dari film aksi laga China lainnya. Hal ini lantaran berani menyajikan pertarungan jarak dekat yang biasanya dihindari film silat China karena dianggap kurang menarik ditampilkan pada layar lebar. Namun hal tersebut justru dibantahkan dengan sendirinya karena sajian indah seni bela diri Wing Chun digambarkan begitu realistis dan natural. Pukulan dan tendangan begitu nyata dan tidak dibuat-buat. Bahkan adegan kaki, tangan, dan hidung patah ditampilkan begitu mirip dengan aslinya.

Selain itu, dipilihnya Donie Yen menjadi IP Man menjadi unsur yang menarik dari film ini. Sosok Donie Yen yang kalem dan menawan bisa mempresentasikan sosok IP Man dengan sempurna. Mungkin hasilnya akan berbeda misalkan dilakoni oleh aktor laga lainnya semisal Cho Yun Fat.

Hal yang selalu bisa terlihat dari setiap film berlatar jaman dulu adalah bagaimana latar tempat, pakaian, dan budaya ketika itu dibuat semirip jaman tersebut. Semua itu pun tersaji dengan apik d film IP Man. Unsur sinematografis dan properti film ini seakan membawa penonoton kembali ke masa China tahun 30-an.

Wing Chun sebagai salah satu bela diri asal China yang mentitikberatkan pada keahlian kecepatan tangan memang kalah pamor dari seni bela diri lain semisal kungfu, judo, atau taekwondo di kancah internasional. Tidak banyak yang tahu akan adanya seni bela diri tersebut. Sayangnya film ini tidak begitu eksplisit mendeskripsikan atau “mempresentasikan” seni bela diri yang dipopulerkan oleh IP Man ini.

Kekurangan lain film ini adalah tidak begitu mendalam sisi lain dari seorang IP Man selaku suami dan ayah. Meskipun ada beberapa adegan yang menggambarkan kebersamaan IP Man dengan istri dan anaknya, tetapi kurang cukup untuk melihat sisi humanistik sang master. Peran istri IP Man pun seakan tidak memberikan andil yang besar terhadap sikap dan pribadi sang suami. Sehingga sosok istri IP Man di dalam film terkesan sebagai pelengkap saja.

Terlepas dari kekurangan yang ada, film ini berani mendobrak pakem tentang film aksi. Sajian tidak monoton, baru, aksi, dan akting menawan Donie Yen adalah kombinasi yang digarap secara matang. Menjadi alternatif tontonan bagi pecinta film laga sebagai hiburan yang layak ditonton.

Rabu, 26 Mei 2010

Meresensi Resensi

'MERANTAU', Saatnya Aksi Lokal Unjuk Gigi

KapanLagi.com - Pemain: Iko Uwais, Siska Jesika, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yusuf Aulia, Laurent Buson, Alex Abbad, Mads Koudal.

Merantau adalah sebuah tradisi yang ada di Minangkabau, Sumatra Barat yang wajib dijalankan bagi setiap laki-laki yang tinggal di Minangkabau untuk pembelajaran diri. Tak terkecuali bagi Yuda (Iko Uwais), seorang pesilat Harimau. Ia harus merantau ke Jakarta, dan meninggalkan Minangkabau. Meski sang ibu, Wulan (Christine Hakim) melarangnya, tapi karena sudah bagian dari tradisi, maka Yuda tetap pergi meninggalkan ibunya, dan kakaknya Yayan (Donny Alamsyah) dengan tujuan menjadi guru silat.

Dari Minangkabau yang tenang dan penuh kenyamanan, Yuda harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan di Jakarta. Tak kunjung menjadi guru silat, nasib pun mempertemukan dirinya dengan Adit (Yusuf Aulia) dan Astri (Siska Jesika), kakak beradik yang akhirnya menjadi korban sebuah organisasi human trafficking, pimpinan Ratger (Mads Koudal). Yuda pun tergerak hatinya untuk membantu Astri dan adiknya.

Yuda pun harus berhadapan dengan organisasi mafia, dan ia harus melawan kaki tangan Ratger, Luc (Laurent Buson) dan Johni (Alex Abbad) dan anak buahnya. Demi sebuah kebebasan, Yuda bersama Astri dan Adit melarikan diri dari para preman-preman dan mucikari yang terus mengejar mereka.

MERANTAU bisa menjadi jawaban atas 'kekekeringan' film-film Indonesia yang bermutu tapi juga tidak meninggalkan unsur entertainment di dalamnya. Film yang disutradarai oleh Gareth Evans, sutradara asal Inggris berusaha mengangkat salah satu kebudayaan asli Indonesia, yakni pencak silat ke dunia internasional.

Sebelum menggarap MERANTAU, Gareth terlebih dahulu melakukan research ke seluruh Indonesia mengenai pencak silat, dan pilihannya jatuh kepada pencak silat Harimau asal Minangkabau. Sebagai film dengan genre drama action, MERANTAU menyuguhkan adegan-adegan penuh action yang belum pernah ditayangkan di film laga lokal.

Dari sisi sinematografi, Gareth mampu menampilkan tontonan yang apik meski dengan budget 'terbatas', sekitar 15 miliar rupiah. Alhasil, adegan kejar-kejaran dan perkelahian melewati gang-gang sempit dan bahkan adegan ketika Yuda berkelahi di atas tumpukan-tumpukan bambu, terlihat sangat apik. Tak heran jika sebelum premier di Tanah Air, film ini telah mendapatkan standing applaus saat diputar di ajang film internasional di Korea dan Jogya beberapa waktu lalu.
Selain untuk mengangkat pencak silat, yang merupakan budaya asli Indonesia ke dunia internasional, MERANTAU ingin mengajak semua generasi muda Indonesia lebih mencintai dan bangga terhadap budaya asli Indonesia. Karena sesungguhnya, budaya asli Indonesia harus dipertahankan. Jika orang luar saja tertarik untuk membuat film dengan latar belakang budaya Tanah Air, kenapa kita yang lahir di Indonesia justru tidak bangga dengan budaya milik kita sendiri? (kpl/riz)

Komentar
Resensi film MERANTAU berjudul ‘MERANTAU’, Saatnya aksi lokal unjuk gigi yang ditulis salah seorang redaksi portal www.kapanlagi.com dengan nama pena riz ini dari segi judul berhasil menggambarkan isi film tersebut seperti apa. Pasalnya, film yang dibintangi artis kawakan Indonesia, Christine Hakim, ini memang menampilkan suguhan aksi laga. Harus diakui, judul yang tepat memudahkan pembaca memahami keseluruhan isi resensi.

Dari segi sistematika penulisan, riz telah mengerjakan tugasnya dengan menuliskan para pemain yang ada dalam film tersebut. Namun ada yang masih kurang seperti tahun produksi, produser, dan sutradara. Memulai dengan sebuah pendefinisian dari kata merantau itu sendiri serta langsung masuk kepada awal cerita adalah lead yang menarik pembaca. Resensi riz yang membawa pembaca mengetahui cerita secara keseluruhan dengan padat cukup berhasil. Terlihat riz tidak terjebak dalam alur ceritanya dengan to the point. Salah satunya bisa dilihat dari kalimat Yuda pun tergerak hatinya untuk membantu Astri dan adiknya. Padahal, bisa saja riz menceritakan terlebih dahulu awal mula Yuda bisa bertemu Adit dan Astri yang disebabkan Adit mencopet dompet Yuda kemudian ingin membantu karena kondisi dari Adit dan Astri.

Namun sayangnya, membaca resensi riz ini terkesan ”melindungi” film yang dibuat dengan budget sekitar 15 miliar rupiah ini. Hal ini terlihat dari resensi riz yang tidak menyinggung sama sekali kekurangan film ini. Padahal, film ini banyak kekurangannya terlepas dari mendapatkan standing applaus saat diputar di ajang film internasional di Korea dan menunjukkan pencak silat di dunia internasional lewat film. Segi cerita saja film ini tidak matang. Konflik yang ada hanya berkisar pada satu masalah. Menjadikan film ini terkurung pada satu konflik tersebut sehingga berdampak pada latarnya yang tidak bervariasi. Kritik yang semacam itu tidak ada dalam resensi riz untuk film ini. Bagaimanapun, namanya resensi harus memiliki cover both side yakni berimbangnya antara kelebihan dan kekurangan yang ada dalam film tersebut.

Memang boleh diakui jika film ini memiliki aksi laga yang tidak kalah dengan aksi laga film luar, tetapi penjelasan riz kurang memberikan gambaran dengan detail sehebat apa aksi laga yang ditampilkan. Padahal banyak yang bisa digali dari aksi laga tersebut misalkan betapa natural aksi yang dilakukan sehingga tidak seperti film-film Indonesia lainnya terlihat sekali dibuat-buatnya.

Satu hal lagi terlewat dari penulisan resensi ini yaitu penekanan persuasifnya yang kurang. Dalam alinea terakhir riz malah menyinggung bagaimana budaya Indonesia harus dipertahankan dan mencintainya. Bukan memberikan kalimat persuasif atau memberikan saran untuk menonton film ini dengan semua kelebihan yang ia tulis di alinea-alinea sebelumnya.

Ketok Mejik Lokomotif Jogja

Jika motor dan mobil yang rusak dibawa ke bengkel. Maka lokomotif kereta yang rusak dibawa ke Balai Yasa.

Penjajahan tidak selamanya menghasilkan sebuah kesengsaraan dan kerugian. Beberapa warisan kolonial di Indonesia bahkan sangat bermanfaat kehadirannya. Balai Yasa adalah salah satu warisan kolonial Belanda di Indonesia yang keberadaannya sangat dibutuhkan. Balai Yasa merupakan sebuah tempat memperbaiki lokomotif kereta api yang ada di Yogyakarta. ”Bisa dibilang rumah sakitnya lokomotif,” ucap Amirudin, staf pelaksana Bagian Umum Balai Yasa.
Memiliki sekitar 470 lebih teknisi menjadikan Balai Yasa salah satu bengkel lokomotif terbesar di pulau Jawa. Berdiri di atas tanah seluas 12,88 hektar dan memiliki luas bangunan 4.37 hektar ini, Balai Yasa telah banyak memperbaiki lokomotif rusak yang beroperasi di pulau Jawa.

Layanan lokomotif
Balai Yasa berdiri tahun 1914 dengan nama Central Werkplaats dengan tugas pokoknya melaksanakan perbaikan lokomotif, gerbong, dan kereta. Balai Yasa sempat diambil alih oleh Jepang tahun 1942. Lalu diambil alih pemerintah Indonesia setelah proklamasi pada 28 Septemper 1945 dengan nama Balai Karya. Berubah nama menjadi Balai Yasa tahun 1959 dengan tugas pokok melaksanakan layanan untuk lokomotif terutama perbaikan.

Diakui Amirudin, layanan yang sering dikerjakan adalah perbaikan lokomotif. ”Mayoritas di sini kita memperbaiki lokomotif yang rusak,” terangnya. Amirudin menambahkan kerusakan yang terjadi kebanyakan akibat umur lokomotif yang sudah tua. Hal ini dikarenakan lokomotif yang beroperasi di Indonesia mayoritas produk-produk lama. ”Bahkan sudah ada yang gak layak pakai lagi,” aku Amirudin.

Kerusakan akibat ulah manusia seperti kecelakaan bukan tidak ada. ”Bisa juga kecelakaan kereta dan ulah manusia seperti bonek,” ungkap Wawik, staf bagian Kelangsungan Kerja (KK) Balai Yasa. Namun presentasinya lebih kecil. ”Cuman gak banyak,” tambahnya.

Lingkup dan alur kerja Balai Yasa bisa dikategorikan kompleks. Terlihat dari banyaknya layanan yang diberikan untuk lokomotif. “Tidak hanya perbaikan lokomotif, tapi pemaksimalan kerja lokomotif juga kita lakukan seperti modifikasi,” kata Wawik. Pemeriksaaan berkala, pengetesan, dan pencucian lokomotif adalah layanan lain yang ada di Bala Yasa.

Selama empat tahun sekali Balai Yasa melakukan pemeriksaan akhir terhadap semua lokomotif yang beredar di pulau Jawa. Ini dimaksudkan untuk mengevaluasi secara besar-besaran terhadap kualitas lokomotif. “Selain itu kita juga ada program yang dua tahunan. Namanya SPA singkatan dari Semi Pemerikasaan Akhir sebagai persiapan untuk yang empat tahunan,” imbuh Wawik.

Mengusung motto keselamatan dan kelayakan, Balai Yasa peduli terhadap keselamatan para pegawainya. Keselamatan memang hal yang sangat dijaga di Balai Yasa. Pasalnya, barang-barang yang dikerjakan tidak sembarangan. Ditambah alat-alatnya pun tergolong berat dan berbahaya. Risiko kecelakaan saat bekerja sangat rentan terjadi. Sehingga para teknisi dilindungi dengan perlengkapan keselamatan kerja. Helm industri dan seragam yang memenuhi standar keselamatan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Ketat
Tidak semua orang bisa memasuki kawasan Balai Yasa yang berada sebelah timur stasiun Lempuyangan ini. Jika hanya ingin melihat-lihat dan tidak ada urusan yang penting, jangan harap bisa diizinkan masuk. “Kalau tidak ada kepentingan seperti magang, penelitian, dan reportase kami tidak mengizinkan untuk masuk,” tutur Amirudin. Alasan keselamatan dan kelancaran produktivitas kerja di Balai Yasa menjadi pertimbangannya.

Balai Yasa memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan magang. Menurut Amirudin, mahasiswa jurusan teknik kerap magang dan mengadakan penelitian di Balai Yasa. Fasilitas perpustakaan yang dimiliki Balai Yasa ikut memperkaya dan mempermudah referensi terutama tentang perkeretaapian. Tidak hanya mahasiswa, masinis dan teknisi pun sering mengadakan pelatihan seperti workshop.

Lokasinya yang representatif tergolong jauh dari perumahan warga tidak menimbulkan keluhan warga. Suara-suara mesin, bangkai lokomotif, dan limbah mesin tidak menjadi masalah. Bagaimanapun, bengkel warisan Belanda ini telah turut menjaga kualitas moda transportasi khususnya kereta api sehingga layak beroperasi.

Selasa, 25 Mei 2010

Balada Bis Jogja

“Kampus…Kampus.….Sarjito…Sarjito..,” teriakan keras itu adalah suara kenek bis jalur 7. Bis yang telah lama saya tunggu. Suaranya panjang dan tentunya dengan logat jawa yang amat kental. Melegakkan memang, tapi agak menjengkelkan. Menanti bis di bawah terik matahari yang sedang menujukkan merahnya bukanlah pekerjaan menyenangkan. Bis jalur 7 atau nama lainnya bis Aspada ini memang rata-rata waktu kedatangnya lama. Atau hanya di sebrang pom bensin Jakal KM.5 saja tempat saya menanti bis jalur 7 kedatangannya lama?

Tangan saya yang sedikit basah bercucuran keringat melambai pertanda menyambut sahutan kenek. ”Yo...kiri...yo...,” teriak si kenek memberi tahu supir ada penumpang naik. Saya sering berpikir, rasanya daya tahan suara penyanyi kalah oleh seorang kenek. Bagaimana tidak, setiap hari, tikungan, perempatan terus beteriak mempersuasi orang naik bis. Dengan tidak mengurangi rasa sama beratnya pekerjaan, tanpa kenek supir bakal kewalahan. Namun, ada juga kenek yang pelit perihal suara. Hanya menujukkan jari ke arah calon penumpang dan menggerak-gerakannya sebagai bahasa tubuh untuk menggaet penumpang.

Tidak di dalam bis tidak di luar, satu kata: panas. Sabtu itu memang tidak bedanya dengan hari-hari biasanya di Jogja. Di dalam bis, saya duduk di depan persis sebelah supir. Kepulan asap rokok yang tebal dari supir seakan menyambut kedatangan saya. Sebuah sambutan yang kurang ramah. Kapan Jogja ada perda melarang merokok di kendaraan umum? Tanya saya dalam hati. Habis panas, sesak pun datang.

Penumpang bis memang tidak seramai biasanya pada hari sabtu. Maklum, kebanyakan orang libur kerja dan kuliah. Tidak banyak saya menemukan berbagai lapisan sosial individu di dalam bis. Berkisar antara mahasiswa, ibu-ibu, pelajar, dan pedagang yang menikmati jasa angkutan ini. Saat asik mengamati para penumpang lainnya, kenek menghampiri saya menagih ongkos. Bunyi gemerincing recehan dari tangan si kenek tanda saya harus bayar. “Masih 2.500 kan, Mas?” tanya saya sambil tesenyum.

Fenomena menarik terjadi saat bis berada di perempatan Magister Manajamen (MM) UGM. Bak pertandingan sepak bola, pergantian “pemain” dilakukan. Supir dan kenek turun dari bis. Beberapa detik, saya dan penumpang lain tidak mempunyai seorang supir. Kami layaknya kumpulan anak ayam kecil kehilangan induknya, bingung dan diam saja. Beberapa detik itu pula saya lega karena kepulan asap rokok tebal dari sang supir tadi akhirnya lenyap dari hadapan muka. Namun hanya sesaat, supir dan kenek pengganti naik. Dan asap rokok dari supir pun kembali menemani perjalanan di bis. Benar adanya, data yang mengatakan angka konsumsi rokok di Indonesia sangat tinggi.

Terlepas dari semua itu, supir pengganti terlihat lebih supel dari sebelumnya. Wajahnya yang murah senyum menjadi alasanya. Untuk membuktikannya saya mulai bertanya dengan pertanyaan ringan. “Setiap di perempatan MM UGM, gantian toh Mas?” tanya saya penasaran. “Iyo Mas. Di situ kita gantian. Bisa istirahat, makan dan minum,” jawabnya. Perkiraan saya benar, supir tersebut adalah orang yang enak untuk diajak ngobrol. Bahkan pria sedikit beruban itu balik bertanya, “Mau ke mana Mas?”

Sang supir itu bernama Juarno (47). Juarno mengawali pekerjaan sebagai supir bis sejak tahun 1990. Bapak tiga anak ini menghidupi keluarganya dengan mengandalkan hanya dengan pekerjaan ini. “Yah kalo dibilang cukup sih gak mas. Daripada gak punya pekerjaan,” ungkapnya. Setiap hari Juarno bekerja dari jam 5 subuh sampai jam 6 sore dengan penghasilan kurang-lebih lima puluh sampai tujuh puluh ribu per hari. “Gak tentu juga. Kadang lebih malah bisa kurang,” tambahnya.

Juarno selaku supir pun ikut merasakan panasnya hawa bis. Handuk putih kusam di atas pundaknya ia usapkan di wajahnya yang kebanjiran keringat. Seakan handuk kecil menjadi barang wajib yang harus dibawa seorang supir dalam tugasnya. Seragam biru laut yang ia kenakkan dihiasi keringat. Seragam biru laut itu pun terlihat lusuh dan kotor. Sebuah seragam supir dan kenek bis Aspada. “Sebenarnya memakai seragam ini diajurkan. Tapi ada juga supir dan kenek yang gak mau pake,” kata Juarno. Melihat Juarno dan keneknya yang memakai seragam biru laut yang sama-sama kotor dan lusuh, setidaknya mereka orang yang taat aturan perusahaan.

Bis jalur 7 yang saya naiki ditemukan berbagai kekurangan. Masih ada bangku yang reyot dan tidak nyaman untuk diduduki. Alas yang sobek sehingga busanya terlihat jelas. Dari segi kenyamanan, jarak kursi yang satu dengan yang lain bagi saya kurang lebar dan representatif. Dengan kata lain ruang penumpang untuk duduk sempit. Sehingga dengkul kaki selalu mencium bangku penumpang depan. Hal tersebut diakui Juarno, “Kebanyakan bis Aspada memang bis lama,” katanya.

Melihat fasilitas bis di Jogja khususnya, Indonesia umumnya memang masih jauh dari yang namanya ideal. Memang sudah ada Trans Jakarta dan Trans Jogja yang menjadi prototipe transportasi iedal di Indonesia, tapi sayangnya hanya itu saja. Di Jogja saja, selain Trans Jogja bis umumnya belum ideal. Padahal salah satu indikator sebuah negara dikatakan maju adalah mempunyai public transportation¬-nya yang unggul.

Saat bis sudah berada di depan Perpustakan Pusat UGM, supir memberhentikan bis setelah tanda bunyi koin yang dipantulkan berkali-kali oleh kenek ke besi. Tek...tek..tek... Bunyi koin lima ratus rupiah berwarna kuning emas terdengar lumayan nyaring. Menyusul bunyi tersebut, Beberapa penumpang pun trurun dari bis. “Kiri dulu!” saran kenek untuk mendahulukan kaki kiri kepada para penumpang yang turun. Patut diapresiasi apa yang dilakukan kenek. Sepintas hal yang kecil, tapi saran dari kenek membantu keselamatan penumpang. Dengan kaki kiri sebagai pijakan, meminimalisasi orang agar tidak terjatuh saat turun dari bis. Tek...tek...tek... Bunyi koin kembali berbunyi. Kali ini meminta supir melaju kembali.

Sisi Lain Lampu Merah

Kedapatan lampu merah di perempatan—apalagi waktunya yang lama—tidaklah mengenakkan. Setidaknya itulah mayoritas orang rasakan. Untuk sebagian orang yang sedang diburu waktu, lampu merah adalah musuh. Terlepas dari semua itu, sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan saat lampu merah menghadang laju kendaraan kita. Saya sendiri kerap mematikan mesin kendaraan motor. Alasannya sederhana, di samping menghemat bahan bakar yang mahal, juga untuk mengurangi polusi udara. Setidaknya untuk beberapa menit. Hitung-hitung ikut berkontribusi stop global warming. Jika ada SMS yang masuk, lampu merah juga bisa menjadi timming tepat untuk membalas karena waktunya relatif lama. Apalagi jika SMS tersebut sangat penting utuk dibalas. Mengamati plat nomor kendaraan lain adalah kerjaan yang tidak luput saya lakukan saat lampu merah. Sebelum tinggal di Jogja untuk kuliah, pengetahuan saya tentang nomor kendaraan dan asal kotanya bisa dibilang ”miskin”. Hanya plat nomor kendaraan Z, B, D, A lah yang saya tahu dari mana asal kotanya. Setelah tinggal di Jogja, pengetahuan tentang plat nomor pun meningkat. Ini dikarenakan begitu beragamnya plat nomor yang ada. Sehingga tidak hanya didominasi oleh plat AB selaku tuan rumah, tetapi plat nomor kendaraan luar Jogja pun ikut meramaikan wajah lalu lintas Jogja.

Dengan melihat banyaknya plat nomor kendaraan begitu majemuk berkeliaran di Jogja, hal ini semakin memperkuat Jogja sebagai kota yang multikultur. Ada yang bilang juga sebagai miniatur Indonesia. Tidak berlebihan karena banyak orang dari berbagai latar belakang, kota, etnis, dan suku tinggal bersama. Bahkan ada orang yang pernah berkata, “Merasakan hidup dengan multikultur yang tinggi, datanglah ke Jogja!” Ucapan persuasif yang kerap orang bilang untuk menggambarkan bagaimana corak kehidupan plural di tanah bekas kerajaan Mataram ini. Banyak beredarnya kampus dan UGM sebagai kampus ternama Indonesia di Jogja menjadi daya tarik orang luar daerah untuk menjadikan Jogja tujuan untuk menimba ilmu (kuliah). Berawal dari lampu merah, ke-plural-an yang menghiasi ranah kehidupan Jogja terlihat. Kembali menyadarkan kita bahwa betapa kayanya budaya dan suku di Indonesia. Tentunya tidak sampai di situ. Menjaga keutuhan keberagaman inilah yang harus kita lakoni. Lampu merah, tidak sekedar menghadang laju kendaraan kita untuk kelancaran lalu lintas. Dari sana, banyak hal yang bisa kita dapat.

Kamis, 05 November 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (8, Habis)

Cerita Home Stay

Di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung. Berada di tempat orang lain, kita dituntut beradaptasi, menghormati, menjunjung tinggi nilai, kebiasaan, dan adat tempat tersebut. Begitulah peribahasa mengajarkan kita harus menyesuaikan diri di “daerah kekuasaan orang lain.”

Peribahasa yang sudah kita kenal sejak pendidikan dasar ini (benar-benar) saya aplikasikan saat saya melakukan home stay (tinggal) di rumah salah seorang teman Korea saya, Kim Dong-Sun.

Home stay adalah kegiatan terakhir dari rangkaian program Youth Camp for Asia’s Future 2009 yang saya ikuti. Tujuannya adalah untuk merasakan pengalaman dan berinteraksi secara langsung tentang kehidupan orang Korea secara lebih dekat.

Bersyukur saya ditempatkan bersama keluarga yang sangat baik. Kim Dong-Sun adalah teman saya yang juga merupakan partisipan dalam program Youth Camp for Asia’s Future 2009. Ayahnya, Kim In-Ho, adalah seorang insinyur dan ibunya bernama Lee Myung-Suk. Kim Dong-Sun adalah anak semata wayang dari pasangan tersebut.

Keluarga yang saya tinggali bisa dibilang adalah keluarga yang kaya raya. Bukan tanpa alasan saya mengatakan hal tersebut karena terlihat dari penampilan luarnya. Rumah mereka adalah apartemen dan berada di kawasan yang elit, memiliki perabotan rumah yang serba high-tech dan mahal, kendaraan yang mewah, dll. Saya sangat bersyukur bisa ditempatkan bersama keluarga yang plus-plus (sangat baik dan kaya pula).

Tamu adalah raja
Orang korea begitu memanjakan tamu. Itulah kesan pertama saat saya berada di rumah Kim Dong-Sun. Saya seakan dianggap keluarga mereka sendiri, bukan sebagai orang asing.

Selama tinggal di rumahnya banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat tentang adat-kebiasaan orang Korea. Salah satunya adalah adat ketika makan. Seperti orang yang lebih tua belum memulai untuk makan, orang yang lebih muda harus menunggu.

Orang yang lebih muda pun jangan berhenti makan sebelum orang yang lebih tua berhenti makan. Dan kalo perlu, kita makan sebanyak-banyaknya makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah. Meskpiun terlihat maruk, tapi orang Korea justru sangat senang.

Kita juga jangan kagok kalo ingin bersendawa. Malah dengan bersendawa berarti kita sangat menerima dan menganggap makanan yang dimakan adalah enak. Mereka biasanya akan merespon seperti ini, “Masissjyo?” “Enak kan?”

Hal yang sangat mengejutkan dan tabu bagi saya adalah ketika malam hari akan tidur. Orang tua Kim Dong-Sun menyuruh saya tidur di kamar mereka. Bagaimana tidak tabu, tidur di kamar orang yang punya rumah dan orang yang punya rumah sendiri tidur di kamar tamu. Bayangkan kawan! Saya sangat kaget saat Ayahnya, Kim In-Ho, menyuruh saya segera ke kamarnya untuk tidur.

Posisi dilematis saya alami saat itu. Menolak tidak enak, takutnya dianggap tidak menghargai tuan rumah. Menerima permintaan juga tidak enak karena menurut saya hal tersebut kelewatan.

Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, “Apa begini yah kalo setiap tamu yang nginep di rumah orang Korea?” Akhirnya terpaksa dengan rasa tidak enak demi menghargai tuan rumah, saya pun tidur di kamar sang tuan rumah. Sebuah peristiwa yang sangat aneh dan langka terjadi.

Tidak sampai di situ, saya juga diberi fasilitas “anggaplah rumah sendiri”. Saya bebas mengakses internet, masak, makan, menelepon semaunya. Termasuk menelepon orang tua saya di Indonesia. Kebetulan sebelum home stay saya belum menelepon ke Indonesia. “Gwenchana Yogi. Bumonimhante jonhwahaseyo!” “Tenang, gak-apa Yogi. Teleponlah orang tuamu sana!” ucap Kim Dong-Sun.

Saat kegiatan home stay berakhir keluarga Kim memberikan kenang-kenangan dan hadiah untuk saya dan orang tua saya di Indonesia. Saya pun tak mau kalah, saya memberi mereka kenang-kenangan berupa sebuah wayang golek yaitu cepot. Tidak disangka mereka sangat senang dengan cepot. “Gwiwoyo!” “Lucu!” ucap Ibu Lee Myung-Suk.

Perpisahan, sebuah kata yang sangat tak enak untuk didengar. Begitu pula sama tak enaknya saat dialami. Tinggal bersama keluarga Kim Dong-Sun meskipun singkat telah memberikan pelajaran yang banyak bagi saya. Terutama dalam hal bagaimana menjamu tamu dengan baik. Salah satu keluarga yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya.

Petualangan dua minggu saya di negara kelahiran gelandang MU Park Ji-Sung ini adalah rezeki yang luar biasa besar diberikan Allah kepada saya. Semua biaya (pesawat pergi-pulang, hotel bintang lima, resort, akomodasi, transportasi, dll) selama di sana ditanggung pemerintah Korea. Demi mempromosikan Korea ke seluruh penjuru dunia, biaya yang dikeluarkan sangat besar sekali pun dilakoni pemerintah.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani bermimpi dan tak segan untuk belajar dari bangsa lain yang maju. Korea Selatan telah melakukan semua itu. Saya optimis, ke depan cahaya kemajuan bersinar menerangi bumi Indonesia. Amin!

Selasa, 03 November 2009

Catatan Perjalan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (7)

Aa dan Teteh di Korea

Kata “aa” dan “teteh” sudah tak asing lagi bagi orang Sunda. Kedua kata panggilan tersebut biasa digunakan untuk memanggil kakak dalam anggota keluarga atau orang yang lebih tua. Kata “aa” diperuntukkan untuk laki-laki dan “teteh” untuk perempuan.

Satu hal yang menarik dari bahasa Korea berbicara mengenai kata panggilan ini adalah beragam. Kata panggilan di Korea berbeda-beda tergantung dari siapa yang memanggil dan siapa yang dipanggil.

Yang dimaksud dengan “siapa yang memanggil” adalah apakah dia itu “laki-laki atau perempuan”. Berawal dari sini, kata panggilan akan berbeda. Inilah satu sisi keunikan dari bahasa Korea. Penggunaannya pun jangan sampai tertukar karena akan menimbulkan keanehan bahkan kelucuan.

Kalo sang pemanggil adalah seorang (adik) laki-laki, untuk memanggil kakak laki-laki harus menggunakan kata “hyong”. Masih dari sang pemanggil adalah laki-laki, untuk memanggil kakak perempuan adalah “nuna”.

Nah, kalo pihak dari sang pemanggil adalah seorang adik perempuan beda lagi aturannya. Untuk memanggil kakak laki-laki menggunakan kata “oppa”. Sedangkan untuk memanggil kakak perempuan menggunakan kata “onni”.

Kata “hyong, oppa, nuna, dan onni” pun seperti kata “aa dan teteh” di Sunda. Penggunaannya tidak hanya untuk anggota keluarga saja, tetapi juga bisa digunakan untuk bukan anggota keluarga.

Saya ada cerita tentang penggunaan kata panggilan ini di Korea. Ketika teman saya orang Indonesia (laki-laki) sedang berbelanja di pasar Namdaemun (pasar terkenal kebersihannya di Seoul). Saat itu teman saya berbelanja sebuah pakaian dan pedagangnya adalah seorang abang-abang (Akang).

Tanpa ragu teman saya menanyakan harga pakaian seperti ini, "Oppa, igo olma yeyo?" "Kang...ini harganya berapa?". Reaksi si pedagang tadi bukannya menjawab pertanyaan, tapi melihat teman saya dengan sinis dan mencibir.

Anda tahu kenapa si pedagang sampai hati sinis dan mencibir teman saya? Tahu kan alasannya? Tepat, teman saya salah menggunakan kata panggilan. Seharusnya teman saya menggunakan kata “hyong” bukannya “oppa”. Seperti penjelasan di atas, “oppa” adalah panggilan dari seorang perempuan kepada laki-laki yang lebih tua. Jelas si pedagang begitu sinis dan mencibir teman saya. Dianggapnya teman saya itu adalah seorang “hombreng alias bencong”. Nah lho!

Saya hanya bisa berkata, berhati-hatilah menggunakan kata “aa dan teteh”nya orang Korea. Penggunaannya tertukar, maka jenis kelamin Anda akan dipertanyakan oleh orang Korea.

*Ket. Photo: Saya dan teman Korea saya Kim Su-Sy saat acara pakaian tradisional negara.

Senin, 02 November 2009

Catatan Perjalan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (6)

Pelepas penat itu bernama “Hangang”

Kalo kata sejarah, suatu peradaban yang makmur itu adalah peradaban yang lokasinya berada dekat sungai. Logis memang, suatu masyarakat yang hidup dekat sungai bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan mudah karena kebutuhan hidup yang pokok (air) sangat mudah diperoleh. Kalo air udah gampang didapat makan, minum, mandi, dan nyuci gak jadi pikiran. Waktu SMA, guru sejarah kita selalu mencontohkan peradaban Sungai Nil, Hindus, Kuning, Eufrat, Tigris, dll.

Dari mukadimah tadi, sangat beralasan masyarakat kota Seoul begitu bangga tanah yang ditinggalinya mempunyai sungai yang panjang dan lebar. Tidak cukup dengan bangga, mereka sangat menjaga dan merawat sungai yang mempunyai panjang 68,75 km ini. Tidak lain sungai yang dimaksud adalah Sungai Han.

Nama Han sendiri berasal dari kata "Hangaram" (baca: Hang Garam) yang berarti panjang, luas serta lebar (han), dan "garam" berarti "sungai" dalam bahasa Korea kuno. Kalo sekarang orang Korea menyebut sungai terpanjang di Korea ini yakni “Hangang” (baca: Hang Gang).

Karena keberadaan sungai ini, Korea juga mendapat julukan “Miracle of the Han river.” Sungai yang membelah jantung kota Seoul ini airnya bisa dikatakan lumayan bersih (menurut saya lho) dan gak tercium bau yang kurang sedap. Juga gak ada sampah yang terlihat “berenang” di atas permukaan sungai. Overall, kondisi sungai yang melewati 12 distrik di kota Seoul ini oke punya. Salah satu tempat yang sayang kalo dikecualikan untuk dikunjugi saat berada di Korea.

Anehnya, teman saya orang Korea gak sependapat, “Mwo? Kkekkeutheyo? Anniyo Yogi ssi! Hankangeun dorowoyo!” “Apa? Bersih? Tidak Yogi! Sungai Han kotor!” Sungai Han yang saya anggap bersih mereka anggap kotor. Gimana jadinya kalo mereka datang ke Indonesia terus lihat sungai kita (ciliwung misalnya)?

Fasilitas memanjakan
Masyarakat kota Seoul sering datang ke bantaran Sungai Han untuk sekedar melepas stress, membaca buku, menulis, melukis, berolahraga, atau kalo orang yang lagi kasmaran suka dijadiin tempat apel (romantis abis dah).

Area wisata sungai ini memiliki 12 tempat olah raga, area sepeda (biking trails), area hiking, dan 169 fasilitas olah raga. Dan tentu saja juga memiliki taman-taman keluarga, dimana masuk dan semua fasilitasnya tanpa dipungut biaya, alias gratis (catet: gratisss)!

Pilihan yang tepat menurut saya masyarakat kota Seoul memanfaatkan keberadaan sungai ini untuk penghilang rasa penat. Di samping bisa melihat pemandangan sungai, kita juga menghindari sejenak dari kebisingan dan polusi udara jalan raya. Pohon, rumput, bunga tumbuh dengan manisnya menjadi penambah keindahan.

Baik siang maupun malam apalagi akhir pekan banyak masyarakat menikmati keindahan sungai. Disediakan juga jasa angkutan kapal (ferry) untuk berkeliling melihat keindahan sungai. Ada 2 macam tiket untuk naik ferry yakni one way course dan round trip course. Harga tiket one way course untuk dewasa adalah 9000 won (sekitar 90.000 rupiah), durasi 1 jam dengan panjang lintasan 15,5 km.
Lapar atau haus? Gak usah khawatir, banyak warung penjual makanan dan minuman tersedia. Meskipun banyak warung, yang saya salut adalah kebersihan lingkungan sepanjang area sangat terjaga. Apa yah resepnya? Kesadaran dan kerja sama yang apik antara pemerintah dan masyarakat adalah salah satu kuncinya.

*Ket. Photo: Saya saat di bantaran sungai Han.

Minggu, 01 November 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (5)

Transportasi Idaman

Salah satu ukuran sebuah negara dikatakan maju adalah mempunyai fasilitas public transportation-nya yang bagus dan unggul. Ukuran transportasi yang unggul dan bagus itu seperti apa sih? Apakah yang aman, nyaman, bersih, cepat, dan murah? Pastinya kriteria yang telah saya sebutkan sudah cukup mewakili sekaligus idaman kita semua selaku warga negara pengguna kendaraan umum.

Bagaimana dengan di Seoul? Di Korea bisa dibilang semua kriteria yang kita idam-idamkan tadi sudah terpenuhi. Meskipun belum sempurna 100%, tapi sudah jauh banget lebih baik dibanding ama Jakarta. Jakarta saya jadikan perbandingan karena ibu kota negara.

Secara umum bus, taksi, kereta api bawah tanah (subway), kereta api listrik, dan lainnya dapat dikategorikan sebagai kendaraan umum di Korea. Ketika saya di sana, saya jajal tuh semua jenis transportasi. Apalagi pas hari pertama datang ke Korea, hal yang pertama saya cari adalah kereta bawah tanah. Saya penasaran gimana sih rasanya naik kereta di bawah tanah sedalam kurang-lebih 5 tingkat ke bawah dan setiap tingkatnya ada yang 3, 4, ampe 5 meter (setiap tingkat ada jalur relnya masing-masing).

Berbasis IT
Kali ini saya bakal jelasin bus dan kereta bawah tanah sebagai sampel transportasi Korea berdasarkan kriteria di atas. Aman, selama saya naik bus dan subway alhamdulillah dompet saya gak beralih tempat ke orang lain tanpa seizin saya (baca: dicopet). Katanya sih copet jarang ada di Korea.

Nyaman dan bersih, kendaraan di Korea semuanya ber-AC dan bersih. Nah, bus di Korea sama kayak bus way di Jakarta, turun-naik penumpang hanya boleh di halte bus. Jadi, gak ada istilah ngetem cari penumpang.

Cepat, kalo pergi ke kantor dan sekolah bisa dijamin gak bakal telat (kalo bangunnya gak telat juga). Apalagi kereta, tepat waktu dan sesuai jadwal. Naik subway dari satu stasiun ke stasiun lain rata-rata waktu perjalanan adalah satu-dua menitan.

Oh iyah, di jalanan Korea jarang terjadi macet. Kalo ada macet pun sebab-musababnya gara-gara ada sesuatu yang tidak diinginkan (kecelakaan) atau perbaikan jalan. Hal ini dikarenakan volume kendaraan diisi kendaraan roda empat atau lebih. So, keberadaan kendaraan roda dua (sepeda motor) jarang bahkan sulit kita temui di Korea (hanya sekitar 2%). Kalo ada orang yang pake motor, itu pun pegawai makanan cepat saji yang sedang mengirimkan pesanan.

Murah, ongkos kendaraan bisa dibilang ekonomis. Kalo Anda pakai kartu (transportasi) maka untuk 10 km pertama hanya 900 won (sekitar 9000 rupiah). Kalo gak pake kartu, bayar dengan uang 1000 won dan hanya ditambah 100 won untuk setiap penambahan jarak 5 km.

Pemakaian kartu kendaraan yang bernama T-money ini sangat praktis. Kalo kita punya kartu ini, gak usah repot-repot ngeluarin uang dari dompet. Kalo depositnya abis tinggal diisi ulang lagi di toko terdekat. Pemakaiannya tinggal ditempel di mesin bayar yang ada di sebelah sopir dan di dalam stasiun kalo subway.

Gimana kalo belum punya tuh kartu? Bayar secara tunai juga bisa, namun yang mesti diperhatikan bayar ongkos secara langsung harus dengan uang pas. Kalo kita ngasih lebih pun gak bakal dikasih kembalian. Loh, kok gitu sih? Soalnya, di Korea gak ada kondektur dan sopir tugasnya cuman nyetir. Uang kita langsung dimasukkan ke dalam mesin. Maka dari itu, bawalah selalu uang pas saat naik kendaraan umum di Korea.

*Ket. Photo: Bus Korea yang futuristik.

Minggu, 06 September 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (4)

Istana Gyeongbok

Jika suatu saat nanti Anda pergi ke Korea terutama Seoul, tempat yang jangan sampai terlewat untuk dikunjungi adalah Istana Gyeongbok atau dalam bahasa Korea, Gyeongbok gung. Ke Korea tapi gak ke Istana Gyeongbok ibaratnya kayak ke Mekkah tapi gak ke Madinah katanya. Uluh...segitunya yah!?

Emang ada apa sih di Istana Gyeongbok? Namanya juga Istana Gyeongbok, yah pasti ada istana bukan mall. Meskipun cuman istana, tapi di sana kita bisa melihat bagaimana istana khas Korea secara langsung. Berkunjung ke istana yang berada di sebelah utara Seoul ini kita akan serasa dibawa ke kondisi kehidupan masyarakat Korea abad ke-14. Djadoel (Djaman doeloe) gituu!

Sebelum masuk Istana kita akan melihat bangunan besar yakni pintu gerbang komplek istana. Di pintu gerbang ini ternyata ada penjaganya lho! Penjaga istana memakai pakaian khas layaknya penjaga istana zaman kerajaan dahulu. Kita juga bisa berphoto bareng ama tuh penjaga. Pengen nyoba pakaian penjaga istana? Bisa, soalnya ada penyewaan pakaian penjaga istana juga di luar gerbang, tapi mesti bayar. Pengen yang gratisan aja! Hihihi..

Setelah melewati pintu gerbang, kita akan melihat sebuah bangunan di depan kita. Bangunan itu bernama Keunjeong-jeon yaitu bangunan utama. Bangunan tersebut adalah singgasana raja di mana tempat raja melakukan tugas-tugas kenegaraan, ngasih perintah, dan menerima tamu-tamu dari luar.

Sempat Hancur
Istana yang mempunyai arti pancaran kegembiraan ini dibangun pada masa dinasti Chosun (Josoen) ketika dinasti Yi memindahkan ibu kota kerajaan ke Seoul. Istana Gyeongbok dijadikan sebagai istana utama kerajaan Chosun saat kekuasaan berada di tangan Raja Taejo, (tahun ke-4 masa pemerintahannya, 1394).

Kondisi istana sempat hancur lebur karena sengaja dihancurkan oleh Jepang saat menginvasi Korea tahun 1592-1598. Kondisi tersebut dibiarkan selama 250 tahun. Nah, tahun 1865 baru deh orang Korea kembali membangun Istana Gyeongbok seperti aslinya (renovasi). Namun, saat invasi Jepang datang lagi ke Korea tahun 1910 sebagian besar dari 200 bangunan istana dihancurkan kembali oleh imperialis Jepang, hingga tersisa hanya beberapa bangunan. Yah..begitulah efek destruktif penjajahan.

Kalo ngomongin sejarah emang gak ada habisnya. Sebenarnya saya masih mau ceritain sejarah Istana Gyeongbok dan jelasin beberapa bangunannya, tapi kalo diceritain semuanya durasinya bisa kayak film India. So, sampai di sini aja yah tentang Istana Gyeongboknya.
Oh iyah mau ngasih saran nih. Kalo nanti Anda ke Korea pas musim panas (kayak saya kemarin), siapkanlah kacamata hitam, payung, atau topi untuk dipakai saat kelilling melihat-lihat istana. Cuaca musim panas di Korea yang gak bisa diajak kompromi adalah alasannya (panas bangeeett!).

*Ket. Photo: Saya di Istana Gyeongbok.

Sabtu, 05 September 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (3)

Si Asam-Asam Pedas

Berkunjung ke luar negeri, belum afdol rasanya jika belum merasakan makanan khas negara tersebut. Belum dapat taste-nya kalo kata sebuah iklan. Meskipun pernah merasakan makanan Korea di Indonesia, tetapi rasaya beda banget kalo makan di negara asalnya. Buatan asli emang selalu lebih punya greget.

Kali ini kayaknya saya bakal kayak Bondan Winarso, menjelaskan makanan kuliner, tapi tanpa ada embel-embel “Ma’nyos!” he..he.. Dari sekian makanan Korea yang ada, yang paling terkenal adalah kimchi. Bisa dibilang kimchi adalah makanan wajib yang harus ada dalam setiap jamuan makanan orang Korea.

Kimchi adalah makanan yang difermentasikan. Bahan dasarnya terdiri dari sawi atau lobak. Sawi dan lobak tersebut dibersihkan terlebih dahulu (ya iyalah masa gak dibersihin), selanjutnya dibaluri garam dan bumbu cabe yang sudah disiapkan. Setelah itu disimpan dalam guci dan dikubur di dalam tanah selama beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Proses pembuatannya persis seperti dalam drama Jewel in the palace: Dae Jang-Geum. Kalo yang pernah nonton tuh drama pasti tahu.

Bagaimana dengan rasanya? Em...pertama kali saya makan kimchi saya berkata seperti ini, “Yang bener aja..! Orang Korea makan makanan kaya gini tiap hari?” Bisa Anda tebak kesan pertama makan kimchi. “Ada juga ternyata makanan kaya gini!?”

Bukannya apa-apa, rasanya yang super asam-asam pedas begitu meresap saat gigitan pertama (udah mulai nih saya berlaga kayak Pak Bondan). Silahkan kapan-kapan coba dan mungkin Anda juga akan berkata sama seperti saya, “Yang bener aja..! Orang Korea makan makanan kaya gini tiap hari?” dengan improvisasi kata-kata sendiri mungkin.

Kimchi biasanya dihidangkan bersama nasi, sup, dan saus. Saus yang terkenal adalah saus “jang”. Saya tidak tahu kenapa sausnya bernama “jang”. Apakah karena orang yang pertama buat adalah pria atau orang Korea turunan Sunda (Ujang maksudnya)? Entah apalah itu saya tidak tahu. Orang Korea juga sering menggunakan bumbu seperti daun bawang dan bawang putih dalam setiap makanan.

Katanya nih, saat musim panas sebagian orang Korea (tidak semua loh) keringatnya beraroma kimchi. Biasanya sering tercium dari tubuh kaum pria. Konon karena saking seringnya makan kimchi. Betulkah itu? Saat saya di sana, saya bisa katakan kabar itu benar adanya. Bayangkan saudara-saudara gimana aroma asam-asam pedas tercium dari tubuh seorang manusia? Ho..ho..

Jumat, 28 Agustus 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (2)

Masjid Raya Seoul

Salah satu unsur dari tujuh budaya universal adalah sistem religi atau kepercayaan. Berbicara mengenai religi (agama), terbersit dalam pikiran adalah apa sih mayoritas agama atau kepercayaan yang dianut orang Korea? Menurut kabar dan data nih, mayoritas orang Korea adalah menganut kepercayaan Confuissisme.

Nah, gimana dengan Islam di Korea? Apa ada orang Islam di sana? Jawabannya tentu ada donk..., hanya saja jumlahnya sedikit. Agama Islam memang menjadi minoritas di Korea. Orang Korea yang beragama Islam diperkirakan sebanyak 45.000 jiwa. Kalo ada orang Islam, masjidnya juga ada donk? So pasti... Don’t worry! Alhamdulillah...

Kurang-lebih sebanyak 7 masjid ada di negara berjuluk setenang pagi ini. Keberadaanya tersebar di berbagai kota. Nah, kali ini saya hanya bakal ngejelasin salah satu masjid yang terbesar dan tertua di Korea. Adalah Masjid Raya Seoul satu-satunya masjid yang ada di ibu kota Korea, Seoul. Masjid yang dibangun sekitar tahun 1976 ini terletak di daerah Itaewon, Seoul.

Itaewon terkenal dengan pusat komunitas muslim di Korea. Tak heran, kita gampang nyari orang Indonesia di sana. Makanan khas Indonesia kayak nasi goreng dan yang halal banyak dijual di daerah ini. Hanya saja harganya yang cukup mahal. Wajar aja, nyari makanan halal di Korea susahnya minta ampun, jadi sekali ada tentu harganya selangit.

Saat hari jumat, Masjid Raya Seoul banyak dikunjungi untuk shalat jumat. Orang yang datang ke masjid berasal dari Seoul dan sekitarnya. Apalagi saat bulan Ramadhan, banyak orang yang ngabuburit di masjid ini. Menurut kenalan saya, orang Indonesia yang kerja di KBS (Korean Broadcasting System) Korea, masjid ini selalu ramai saat sahur dan buka puasa. Kebiasaan orang mengaji dan i’tikaf di masjid seperti di Indonesia ternyata masih bisa ditemui di sana.

Alhamdulillah, kita yang tinggal di Indonesia notabene negara terbanyak penduduk muslimnya sepatutnya bersyukur karena keberadaan masjid begitu pabalatak (banyak). Jaraknya pun dekat dan bisa didatengi dengan hanya berjalan kaki. Tinggal gimana kita bisa mensyukuri hal tersebut dengan selalu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah (terutama pria). Jangan kalah sama muslim di Korea yang jumlah masjidnya sedikit (di Ibu kotanya hanya ada satu) bahkan harus menempuh perjalanan satu jam, tetap semangat beribadah pergi ke masjid. Hayya alasholah....!

Minggu, 23 Agustus 2009

Catatan Perjalanan di Negeri Ginseng, Korea Selatan (1)

Nama Saya ”Di sini”

“Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu,” begitulah Arai berucap dalam novel ketiga Andrea Hirata—Endensor. Berawal dari mimpi, saya mendapat kesempatan untuk bisa menginjakkan kaki dan berpetualang di Korea Selatan. Negara yang pada tahun 1950 adalah salah satu negara termiskin di dunia. Ekonominya hancur akibat penjajahan Jepang dan Perang Korea. Sekarang, berubah cepat menjadi salah satu negara yang paling kaya dan tercanggih di dunia dengan nilai ekonomi trilyunan dollar (Semoga Indonesia bisa mengikuti jejak. AMIN).

Saya pernah bermimpi (baca: bertekad) bahwa suatu saat saya harus bisa menginjakkan kaki di negeri orang. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT mimpi tersebut menjadi kenyataan saat masih duduk di bangku kuliah semester dua. Saya terpilih menjadi duta bangsa Indonesia untuk berpartisipasi dalam acara Youth Camp For Asia’s Future 2009. Program tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Korea Selatan, mengundang pemuda se-Asia untuk berdiskusi mengenai Asia, saling memperkenalkan budaya negara masing-masing, mengenal pariwisata, dan budaya Korea selama dua minggu.

Berkenalan
Tak kenal, maka tak sayang. Bagaimana mau sayang kalau kita belum kenal. Bagaimana mau mendoakan kalau belum kenal. Berkenalan, hal yang klasik tapi sangat penting ini begitu memberikan kesan pertama dengan orang yang belum kita kenal sama sekali. Apalagi berkenalan dengan orang yang berbeda bangsa, negara, adat, dan budaya. Tentu menjadi cerita tersendiri.

Seperti berkenalan dengan orang Korea. Jangan heran kalau berkenalan dengan orang Korea. Loh, kenapa? Setelah memperkenalkan nama, kita akan ditanya umur. “Myeoch sariyeyo?” “Berapa umur Anda?”

Bagi orang Indonesia, menanyakan umur adalah sesuatu yang kurang sopan. “Nih apa sih orang, nanya-nanya umur segala. Mau tau aje,” begitulah kira-kira di Indonesia, orang akan bicara dalam hatinya ketika ditanya umur. Tetapi budaya di Korea, menanyakan umur saat berkenalan adalah penting. Dengan menanyakan umur, mereka bisa mengetahui lawan bicaranya lebih tua atau lebih muda dari mereka.

Orang Korea terkenal dengan orang yang menjunjung tinggi nila-nilai kesopanan (Kalau soal ini, orang Indonesia juga sama. Satuju?). Jika mengetahui lawan bicaranya adalah lebih tua dari mereka, cara bicara dan sikapnya akan sangat sopan. Jika mengetahui lawan bicaranya lebih muda, akan menganggap adik, membimbing, dan memanjakan.

So, kalau suatu saat bertemu dan kenalan dengan orang Korea jangan serta merta marah ditanya umur. Yah, namanya juga beda negara yah pasti beda juga budayanya.

Orang Korea juga mempunyai tingkatan bahasa seperti orang Sunda. Ada bahasa buat sendiri, teman, dan orang yang lebih tua. Seperti dahar, neda, dan tuang di Sunda yang berarti makan. Dahar untuk nonformal, neda untuk diri sendiri, dan tuang untuk orang yang lebih tua. Pola seperti itu juga ada dan diterapkan Korea.

Saya dan orang Korea kayaknya akan selalu aneh dan ketawa jika berkenalan. Ini dikarenakan nama yang saya emban. Nama yang diberikan oleh orang tua saya tercinta dengan harapan bisa menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara seperti Gubernur Jawa Barat era 1989, ayo siapa yah? (syukur-syukur bisa jadi gubernur suatu saat nanti. AMIN.) dan memberikan cahaya terang seperti fajar menerangi bumi setiap pagi, fajar adalah moment saya lahir ke dunia. Itulah Yogi Achmad Fajar. Tak heran, ucapan William Shakespeare yang menyatakan apalah artinya sebuah nama tidak berlaku pada mayoritas masyarakat Indonesia. Maaf, sedikit cerita asal usul dan arti nama saya.

Kembali ke topik pembahasan, nama saya (Yogi) ternyata dalam bahasa Korea berarti “di sini”. Maka, setiap saya memperkenalkan diri “Je ireumeun Yogi imnida.” “Nama saya Yogi”. Respon mereka akan seperti ini, “Yogi? Yogi?” Di sini? Di sini?” sambil diiringi senyum dan kadang tertawa kecil. “Nama kamu lucu dan gampang diingat,” ucap salah seorang teman Korea saya.

Oleh karena itu, saya menjadi orang yang GRan (Gede Rasa) di Korea. Bagaimana tidak, setiap orang serasa memanggil nama saya. Padahal kenal saya juga tidak.he,,he,, “Yogi..yogi...”

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah mengecek nama Anda dalam bahasa Korea? Siapa tahu suatu saat dapat rezeki pergi ke Korea dan berkenalan dengan orang sana Anda bisa bersiap diri. AMIN. Keep dreaming!!!!

Jumat, 17 Juli 2009

Berpose

Kota Tua Jakarta

Pertama lihat nih photo, gila...kayak poster film. Nih photo gw ambil bareng sepupu gw, Robi, pas gw lagi di Jakarta. Kayak rutinitas, kalo gw da di Jakarta gw selalu mengabadikan diri gw di sudut-sudut yang bisa memanjakan kenarsisan. Ha...ha...

Others..




Minggu, 26 April 2009

Setelah Kejadian Itu

Setelah Kejadian Itu....

Ah, ke mana saja saya ini? Sudah lama tidak berkontemplasi untuk sekedar mengeluarkan sebuah sampah yang ada di otak untuk dimuat di blog ini. Kawan, sudah pernah saya bilang, kan? lebih baik menulis jadi sampah daripada tidak menulis jadi sampah di pikiran. Yah, mudah-mudahan saja tidak sekedar menjadi sampah yang dibuang begitu saja. Harapannya, meskipun tetap menjadi sampah bisa didaur ulang dan berguna untuk kawan-kawan semua. Kawan pasti bisa, jelas karena saya yakin Kawan adalah orang-orang yang cerdas, makannya berkunjung ke blog saya ini. Betul kan? Anggungkan kepala Kawan jika saya benar! Terima kasih!

Ini berawal dari peristiwa awal bulan April lalu yang membuat saya sempat vakum untuk memposting sebuah tulisan di blog ini. Sudah Kawan ketahui bahwa saya mengikuti sebuah lomba blog selama empat bulan terakhir ini. Saya ikut lomba blog yang bertajuk Black Blog Competition yang diikuti oleh 441 peserta se-Indonesia. Jika belum tahu, Kawan sudah tahu sekarang, kan? Barusan saya beritahu. Hi..hi.. Aduh..maaf yah saya jadi sedikit bercanda. Biar hidup sedikit lebih enjoy gitu.

Begini, pengumuman hasil lomba tanggal 13 April lalu menyatakan bahwa nama saya Yogi Achmad Fajar tidak terpampang sebagai juara 3, 2, ataupun 1. Saya sempat melihat-lihat hasil pengumuman sampai 20 kali, tetapi tetap saja hasilnya sama, bukan nama saya yang tercantum sebagai juara. Inilah kelakuan orang yang berharap ada keajaiban dengan melihat berkali-kali sampai namanya ada sebagai juara, padahal sesuatu yang tidak mungkin terjadi—Don’t try this at home! Sedihkah saya? Pertama, saya akui, IYA. Itulah salah satu faktor yang membuat saya sempat tidak menulis di blog sampai akhirnya saya menulis lagi sekarang ini. Dipikir-pikir untuk apa saya melakukan hal kekanak-kanakan membiarkan potensi menulis saya terabaikan—terlepas dari ada-tidaknya inspirasi dalam menulis. Seharusnya saya tetap fight mengahadapi kenyataan. Mungkin ini pelajaran bahwa saya harus mengasah lagi kemampuan menulis saya, banyak bertanya, dan berlatih. Terlontarlah sebuah kalimat dari saya waktu itu, “Saya bukannya TIDAK MENANG, tetapi BELUM MENANG.”

Pemenang adalah orang yang tidak pernah menyerah dan selalu bangkit tatkala ia mengalami jatuh. Pemenang adalah orang yang menjadikan kekalahan sebagai pelajaran yang berharga untuk meraih kemenangan yang tertunda. Pemenang adalah tidak pernah berkata TIDAK MENANG, tetapi selalu berkata BELUM MENANG ketika menghadapi kekalahan. Itulah pemenang sejati.

Lantas, apa yang saya lakukan saat vakum menulis itu—akibat pernah down. Tentunya saya masih membuka blog dan hanya melihat apakah ada komentar pada shout mix atau kolom komentar tulisan. Salah satu kegiatan yang membuat saya bersemangat menulis lagi di blog adalah chatting dengan juara 1 lomba blog yang saya ikuti, namanya Ariel—nama panggilannya. Secara sengaja dan niat, saya melihat blognya(www.ikomumm.blogspot.com). Saya menganalisis bagaimanakah tampilan blog dan isi blog sang Jawara itu. Pelajaran untuk kita semua, belajarlah dari orang yang menjadi juara, supaya bisa termotivasi.

Saat itu kebetulan icon YMnya berstatus online, dengan tidak berpikir dua kali saya langsung chatting dengan Ariel. Alhamdulillah, Ariel orangnya baik dan bersedia menularkan ilmunya kepada saya, terutama tentang desain grafis. Saya akui, dia HEBAT dan TOP BGT tentang desain grafis dan lay out. Terlihat dari desain blognya yang cool. Sebuah skill yang belum saya maksimalkan. Sungguh mengasyikan chatting dengan Ariel.

Banyak ilmu yang saya dapat dari Ariel demi kemajuan blog saya. Kami berdua pun saling menganalisis tentang mengapa Ariel bisa menang dalam lomba blog itu. Tidak luput pula kami saling mengomentari blog satu sama lain. Ariel sempat sedikit merendah bahwa tulisan saya jauh lebih bagus daripada dia. Bahkan, dia ingin belajar menulis yang baik seperti saya. Saya jadi bersyukur saat itu. Saya baru sadar bahwa ada orang yang mengapresiasi tulisan saya dengan komentar yang bagus seperti Ariel. Thanks Riel! Tulisan saya belum seberapa, Kamu malah yang jauh lebih ahli dalam urusan blog daripada saya. Setelah kurang lebih satu jam chatting dengan Ariel, akhirnya saya mengetahui apa-apa yang harus saya koreksi dan tambahkan dalam blog saya bila ada lomba lagi. Harapannya, tentu saja memenangi lomba. Sekali lagi, arigato, gomawoyo, thanks, nuhun Riel atas sarannya.

Soal Alamat Blog
Begitulah Kawan, saat tidak ngeblog, alhamdulillah masih bisa melakukan aktivitas yang menurut saya masih bisa menambah ilmu seperti chatting dengan Ariel. Sebuah refleksi bagi blog saya yang alamatnya(www.gie-insanmuttaqin.blogspot.com) ingin saya ganti. Sedikit berbicara mengenai alamat blog saya ini yang sudah berumur 1 tahun 6 bulan ini. Ibarat bayi, lagi lutu-lutunya dan masih nenen. Begitupun blog saya ini, masih kurang pengalaman dan masih butuh “nenen” banyak berbagai ilmu.

Alamat blog saya yang saya namai ketika awal membuat blog, terasa berat bagi saya. Bukan tanpa alasan, setelah nick name saya (baca: gie) selanjutnya ada terusan insanmuttaqin. Inilah yang saya anggap berat. Jika diartikan adalah “gie orang yang bertakwa”. Kesan pertama adalah adanya ketakutan dalam diri saya, nantinya muncul asumsi pengunjung yang mengunjungi blog saya ini bahwa saya adalah orang yang SOK ALIM. Kedua, jika asumsi itu memang ada dalam beberapa benak pengunjung (mudah-mudahan tidak ada), maka sangat keliru. Saya tidak bermaksud utuk SOK, SOMBONG, atau apalah itu. Saya juga masih perlu banyak belajar tentang agama dan masih jauh dari ranah ketakwan yang paripurna. Masih banyak melakukan dosa, dosa, dosa, dan dosa. Bermaksud klarifikasi—bisa dikatakan demikan—dalam kesempatan ini saya ingin menceritakan sejarah proses penamaan alamat blog saya. Singkat saja, SMA saya dulu SMA Al Muttaqin. Jadi, untuk menunjukkan saya anak SMA itu maka saya kasih embel-embel insanmuttaqin. Begitu!

InsyaAllah, jika saya punya rezeki, saya akan ganti alamat blog saya ini dan berganti domainnya menjadi .com tanpa ada embel-mbel blogspot-nya juga. Doakan saya yah Kawan!

Kamis, 02 April 2009

Gerbang Global, Studi Di Negeri Kincir Angin

Gerbang Global, Studi Di Negeri Kincir Angin


Sebagai seorang calon pemimpin masa depan bagi negara kita tercinta Republik Indonesia, kita—saya dan anda yang masih berstatus sebagai seorang pelajar dan mahasiswa—harus melakukan “investasi” besar-besaran dari sekarang. Investasi berupa kompetensi-kompetensi unggul yang akan menjadi modal kita sebagai pemimpin di masa depan yang begitu kompleks.

Tantangan masa depan mulai terasa oleh kita saat ini. Kata “global” dan “globalisasi” menjadi keywords yang selalu muncul dalam tema peradaban. Seiring dengan globalisasi, seiring itu pula mau tidak mau kita mesti berpikir global. Kita dituntut untuk menempatkan diri tidak hanya melihat pada tataran lokal saja, tetapi juga pada tataran global.

Salah satu cara untuk mengejawantahkan wacana tersebut adalah dengan kita menempuh pendidikan (baca: kuliah) di luar negeri. Orientasi kuliah di luar negeri adalah harapan bagi siapa saja yang memiliki semangat keilmuan dan mewujudkan memiliki komunitas global sebagai salah satu kompetensi yang mesti dimiliki calon pemimpin masa depan. Harapan saya dan anda juga, bukan?

Berbicara soal kuliah di luar negeri, Belanda adalah tujuan yang tepat untuk merealisasikannya. Bukan tanpa alasan saya mengatakan tepat karena negara yang terkenal akan damnya ini memiliki keunggulan tersendiri jika kita menempuh pendidikan di sana.

Belanda yang memiliki julukan negara kincir angin ini menjadi magnet tersendiri bagi para pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan di sana. Tidak sedikit teman-teman pelajar Indonesia yang kuliah di sana. Terhitung sebanyak 500 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Belanda tahun 2008 (NESO). Bahkan, sejarah mencatat sang Proklamator negara kita Mohammad Hatta pernah menempuh pendidikan di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam, Belanda tahun 1921.

Belanda yang multikultur
Belanda adalah negara di benua Eropa yang terkenal karena penduduknya tidak hanya asli orang Belanda saja, tetapi juga banyak penduduk dari berbagai penjuru dunia yang tinggal di sana—kebanyakan mereka sedang menempuh pendidikan. Hal itulah yang membuat Belanda menjadi negara yang multikultur.

Keunggulan Belanda sebagai negara multikultur merupakan kesempatan yang besar bagi kita untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara lain yang tentunya memiliki perbedaan latar belakang, historis, adat, sifat, ideologi, dan bahasa. Tinjauan sosiologi, bahwasannya seseorang yang berada di sebuah kawasan di mana terdiri dari orang-orang yang berbeda adat, bahasa, suku, dan bangsa akan menjadikan seseorang tersebut memiliki kedewasaan, pola pikir yang jauh ke depan, dan lebih toleran.

Kuliah di Belanda, kita tidak hanya mendapat ilmu semata dari perkuliahan, tetapi juga wawasan yang luas lewat pergaulan dengan orang-orang dari negara lain. Kita akan mengetahui bagaimana karakteristik dan pemikiran orang Belanda, mengetahui bagaimana cara menghadapi orang Inggris, menghadapi orang Jerman, dan pastinya mengetahui pola pikir orang-orang dari belahan penjuru negara lain. Pembelajaran tentang psikologis orang asing pun akan kita dapatkan.

Berkontribusi
Letak geografis Belanda yang strategis di tengah benua Eropa menjadikan negara yang memiliki sistem pemerintahan monarki konstitusional ini menjadi akses poin berbagai negara Eropa lainnya untuk melakukan sebuah interaksi satu sama lain. Indikasi untuk membentuk komunitas global pun semakin terbuka lebar. Sesuatu yang sarat pengalaman dan mendapat jejaring internasional akan kita dapatkan tatkala bisa masuk dalam komunitas tersebut.

Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan komunitas global ini. Salah satunya adalah ikut berpikir dan memberikan gagasan-gagasan segar terhadap isu-isu yang sedang melanda dunia internasional. Contohnya isu yang sedang headline dan populer dewasa ini seperti global warming. Dengan isu tersebut, komunitas global yang terdiri dari orang-orang dari berbagai negara tentu saja—termasuk kita—bisa sharing dan berbagi argumen untuk memecahkan masalah tersebut.

Lebih lanjut, kita bisa menjadikan komunitas global tersebut menjadi sebuah komunitas yang lebih terorganisasi. Kita bisa menjadikan komunitas global menjadi sebuah organisasi, perhimpunan pelajar antarnegara misalnya. Dengan lebih terorganisasi, maka eksistensi dan tujuannya pun menjadi lebih terarah. Isu global warming tadi misalnya, kontribusi yang nanti diberikan oleh komunitas global tidak hanya dalam bentuk sebuah gagasan saja, tetapi juga bisa memberikan kontribusi berupa aksi nyata di lapangan seperti mengkampanyekan, mensosialisasikan, memberi contoh hidup hemat, dan hal lain yang bisa dilakukan. Kita yang mempunyai rencana (plan), kita juga yang merealisasikannya (action plan).

Betapa indahnya jika kita yang masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa bisa berkontribusi bagi umat manusia di muka bumi ini. Kita bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat bersama orang-orang dari penjuru negara lain, saling berbagi pengetahuan, dan belajar untuk saling menghormati satu sama lain.

Impian tersebut bisa terwujud salah satu caranya adalah dengan kita menempuh studi di Belanda. Negara yang memberikan kesempatan bagi kita untuk masuk dalam sebuah komunitas yang luas dan mendunia. Memberikan kesempatan bagi kita untuk membuka mata dan hati bahwa kita bisa berkontribusi nyata bagi umat manusia di seluruh dunia.

Kamis, 26 Maret 2009

Gap Dalam Percaturan Politik

Gap Dalam Percaturan Politik

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia disuguhi sebuah perbendaharaan kata yang baru. Perbendaharaan kata (baca: istilah) yang terlontar dari para politisi yang sedang getol-getolnya berkampanye. Memang, di samping membuat keuntungan yang melimpah bagi para pengrajin seperti pengrajin yang membuat famplet, stiker, dan sablon karena banyak orderan, pemilu juga membuat orang menjadi pintar membuat istilah-istilah.

Jika anda terus mengikuti alur konstelasi perpolitikan dan berita tentang pemilu negara kita tercinta Indonesia, maka pasti akan mengetahui istilah “Segitiga Emas” (Golden Triangle) dan “Jembatan Emas” (Golden Bridge Politics). Saat saya pertama mengetahui istilah ini, saya kira sebuah judul film atau judul buku. Ternyata, sebuah nama kubu-kubu politik yang sedang membuat peta persaingan.

“Segitiga emas” adalah istilah yang dicetuskan oleh tiga partai politik (PDIP, PPP, dan P. Golkar) yang dimotori oleh partai oposisi yakni PDIP. Seakan tidak mau ketinggalan dan kalah saing, kubu status quo yang notabene partai yang sedang memerintah mencetuskan istilah “Jembatan Emas”. Adalah Anas Urbaningrum selaku Ketua DPP PD yang mencetuskan istilah tersebut. Saya pun masih belum tahu jelas apa yang menjadi tujuan dengan hadirnya kubu-kubu ini.

Apapun tujuannya, istilah yang baru ini menurut saya sedikit lebih berkelas daripada istilah yang dulu-dulu seperti, “yoyo” dan “gasing” yang sempat mencuat dan memanas. Setidaknya, kali ini kedua kubu menggunakan kata “emas” (golden) yang identik dengan konotasi yang baik seperti, kemajuan, kebahagiaan, kejayaan, dan kemakmuran. Semoga saja kedua-duanya bisa merealisasikannya bukan sekedar “apalah artinya sebuah nama” seperti kata William Shakespeare.

Hakikat Manusia
Melihat tingkah laku para politisi kita yang kerjaannya tidak jauh dari saling menghujat satu sama lain, membuat geng (kubu) masing-masing, dan merasa paling benar, tidak jauh seperti halnya anak-anak sekolahan. Bukan Black In News yang baru lagi, anak sekolahan sukanya adalah bergerombol, membentuk geng, dan aktivitas lain yang menunjukkan adanya gap.

Tidak hanya anak sekolahan, semua kalangan pun—termasuk politisi—akan menjalani hidup dengan adanya sebuah perbedaan dan berimbas kepada adanya gap. Sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa hakikat manusia lahir berbeda-beda, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa. Setiap manusia lahir dengan berbagai perbedaan yang ada, bahkan seorang yang kembar identik pun akan terdapat perbedaan.

Lantas, apakah perbedaan itu hanya akan menjadikan adanya gap di antara sesama manusia? Tentu tidak hanya itu saja, perbedaan adalah anugerah dan rahmat yang diberikan Tuhan. Dengan perbedaan kita bisa saling mengenal, memahami, menghargai, dan saling melengkapi. Perbedaan itu indah, bisa kita bayangkan jika wajah kita hanya terdiri dari satu pancaindera saja hidung misalnya, keindahan pun tidak akan terlihat. Pluralitas adalah indah seindah berbagai macam bunga yang menyatu seikat menjadi rangkaian berbagai macam bunga yang indah.

Hadirnya perbedaan juga menjadi kekayaan inovasi dan ide bagi kehidupan. Contohnya bisa dilihat dalam sebuah ajang modifikasi mobil seperti Autoblackthrough dan modifikasi motor seperti Djarum Black Motodify. Karena adanya perbedaan, selera, dan ide dari para peserta modifikator, kita bisa melihat karya-karya unik dan menarik yang memiliki kelebihan masing-masing.

Efek Konstruktif
Baiknya para politisi menyikapi perbedaan yang ada menjadi sebuah keunggulan dan kekayaan yang dimiliki bangsa. Sehingga, jangan salah menyikapi dengan menganggap orang yang berbeda visi, partai, ideologi, dan perbedaan lainnya adalah sebagai musuh.

Kesejahteraan dan kemakmuran rakyat adalah tujuan dari para elite partai (semoga niatnya masih seperti itu), karena niatnya sudah sama sehingga tidak ada kata selain saling mengisi dan membangun bersama dengan tidak melihat perbedaan yang ada. Utamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan sentimen pribadi, kelompok, dan partai adalah hal yang mesti dilakukan.

Perbedaan dan adanya gap tidak bisa dihilangkan karena itu adalah sifat alami manusia. Namun, seperti yang dibahas di atas bahwa banyak hal yang berbuah positif dari perbedaan. Sosiologi menyatakan bahwa ada sebuah dampak konstruktif (membangun) dari perbedaan dan fenomena konflik. Efek yang membangun dan memberikan kedewasaan bagi masing-masing yang berkonflik untuk memetik hikmah dan pelajaran untuk kemajuan bersama.

Jika para politisi belum bisa bersikap dewasa dan menemukan esensi dari makna pluralitas itu sendiri, saya hanya bisa kembali berkomentar, “Apa bedanya dengan anak sekolahan!” Anak sekolahan yang mayoritas mengartikan perbedaan dan gap dengan membuat geng yang tindak lanjutnya bisa mengarah kepada tawuran.

Rabu, 18 Maret 2009

Catatan Seorang Jurnalis

Catatan Seorang Jurnalis

Rapat tema hari Sabtu (14/3) menyeret nama saya dan rekan saya Nindi dari Fakultas Ekonomi untuk menulis Rubrik cover edisi 163 Bul Pos. Hak istimewa sang pemred Bul Pos, Dina Maretihaq Sari yang cantik dan kadang gokil ini lah saat rapat tema menunjuk saya dan Nindi untuk menjadi reporter rubrik cover—rubrik yang banyak diinginkan reporter Bul Pos dan bergengsi di Bul Pos.

Di tengah kesibukkan kuliah yang super padat dan membuat lelah otak dan fisik, alhamdulillah masih ada tenaga yang tersisa untuk reportase. Tentunya masih bisa pula think black seperti jargon iklan Djarum Black. Hari Selasa, saya kuliah dari jam tujuh pagi sampai jam satu siang. Selasa siang setelah kuliah (17/3) adalah giliran saya melakukan reportase sendirian, karena hari Senin (16/3) rekan saya Nindi telah reportase terlebih dahulu. Di samping itu, hari Selasa Nindi mendapat jadwal kuliah yang lebih "gila" lagi dari saya, yakni dari jam delapan pagi sampai jam enam sore.

Rubrik Cover edisi 163 memberitakan tentang sebuah rumah sakit hewan UGM yang baru. Saya dan Nindi mengambil angle tentang bagaimana latar belakang, fungsi, pokoknya segala tetek bengek dari rumah sakit hewan tersebut. Intinya berita yang dihasilkan nanti berupa straight news (berita langsung).

Singkat cerita saya berada di RSH tersebut. Alhamdulillah, saya bisa bertemu langsung dengan kepala rumah sakit hewan tersebut di sana, namanya Prof. Dr. drh. Ida Tjahajati, MP.

Kepala RSH itu begitu ramah, welcome, dan terbuka saat saya wawancarai. Saking asiknya, wawancara memakan waktu satu jam lebih. Segala informasi tentang RSH itu sudah memenuhi outline yang saya buat, bahkan mungkin informasi yang didapat kelebihan. Uniknya, selama wawancara, Prof. Ida juga curhat dan bercerita tentang dirinya selama masih menjadi mahasiswa.

Entah kenapa, saat itu saya merasa nyaman mewawancarai kepala RSH tersebut. Dan mungkin Prof. Ida juga merasa nyaman diwawancarai oleh saya. Bukan tanpa alasan saya berasumsi seperti itu, karena bisa terlihat dari raut mukanya yang berseri-seri dan sampai hati curhat kepada saya. Sesuatu yang jarang terjadi saat saya mewawancarai seorang narasumber.

Sekedar Black In News saja, rupanya Prof. Ida lahir pada tanggal 28 Desember. Tanggal lahir yang hampir sama dengan saya, yakni 27 Desember. Mungkin karena sama-sama lahir pada bulan Desember membuat saya dan Prof. Ida menjadi nyambung dan nyaman saat berkomunikasi. Entahlah, apakah akseptabilitas asumsi itu dapat diterima atau tidak.

Setelah reportase di RSH, saya dan Nindi bertemu di salah satu tempat makan di bilangan Kopma (Koperasi Mahasiswa) UGM ba’da magrib untuk menyelesaikan berita tersebut. Karena deadline besok harinya, hari Rabu (18/3). Sesuai dugaan saya, saking banyaknya informasi yang didapat membuat saya dan Nindi bingung. Bingung mau menulis dari mana awalnya. Tapi saya mesti bersyukur, sebagai seorang jurnalis lebih baik kelebihan informasi daripada kekurangan informasi.

Saya dan Nindi akhirnya menyelesaikan tulisan Selasa malam itu juga. Melihat jam di HP Nokia 2300 saya ternyata sudah jam 11 malam. Anehnya, rasa lelah saya tidak terasa dan justru saya merasa mendapat sari pati jiwa seorang jurnalis. Yah, seorang yang bekerja tak kenal waktu dan selalu dinamis. Meskipun begitu, saya ingin melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Ucapan Dahlan Iskan
Saat tanggal 9 Februari kemarin, dalam rangka memperingati hari Pers Nasional sebuah program talk show terkenal di TV swasta menghadirkan tamu-tamu yang berkompeten di bidang jurnalistik. Salah satunya adalah Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos—salah satu perusahaan media terbesar yang ada di Indonesia.

Saat itu, pembawa acara bertanya kepada Dahlan Iskan tentang bagaimana kiat Dahlan Iskan bisa berkecimpung di dunia jurnalistik dan menjadi orang yang sukses di bidang tersebut. Saya sangat termotivasi dengan jawaban yang dilontarkan Dahlan Iskan.

"Yah...karena saya cinta dan suka pada bidang ini. Karena cinta dan suka, maka saya sungguh-sungguh total, belajar dan belajar terus menerus. Alhamdulillah hasilnya pun bisa terasa sekarang," jawab Dahlan Iskan. Intisari yang bisa saya ambil dari jawaban inspiratif tersebut adalah kecintaan, totalitas dan kemauan untuk terus belajar dan belajar. Bidang apapun itu, selama dijalankan dengan totalitas dan tidak ada kata selain terus belajar, menggali, dan mencari berkenaan dengan ilmunya, niscaya hasilnya pun akan maksimal.

Selasa, 10 Maret 2009

Realitas Pemilu Indonesia

Realitas Pemilu Indonesia

Wajar bila muncul rasa takut pada masyarakat setiap pemilu—legislatif dan presiden—digelar di negeri yang sudah 10 tahun reformasi ini. Takut jika pemilu yang dilaksanakan hanya menghambur-hamburkan uang negara tanpa ada perubahan dan perbaikan nyata dan dirasa secara signifikan. Memang sedikit klise, namun tetap saja selalu muncul karena memang hasil yang ditampilkan klise pula.

Rakyat hanya dibutuhkan saat pemilu saja, setelah mendapat apa yang diinginkan yakni kekuasaan, lupa begitu saja seperti terkena amnesia. Kalangan grass root seperti halnya peribahasa "Habis manis sepah dibuang", dimanfaatkan dan dijadikan alat semata oleh orang-orang yang haus kekuasaan demi kekayaan pribadi, setelah itu Lupa tuh! Orang-orang yang duduk di gedung dewan, bukannya memperhatikan dan menyuarakan aspirasi konstituen yang mendukungnya, malah hanya mementingkan urusan perut sendiri dan kepentingan kelompok.

Saya masih teringat akan sebuah ucapan dari almarhum Harry Roesli yang mengingatkan atas posisi kita sebagai rakyat yang sebenarnya. Saat persiapan pemilu 2004 seperti sekarang ini, di salah satu program talk show TV swasta, almarhum dengan gaya humornya berkata, "Gubernur dengan Wakil Gubernur, tinggian mana (jabatannya)? Gubernur kan? Presiden dengan Wakil Presiden? Presiden kan? Nah, Rakyat dengan Wakil Rakyat? Tinggian siapa?" Semua audiens talk show tersebut kontan berfikir sejenak, setelah itu akhirnya tertawa. Adanya respon telmi (baca: lambat) dari audiens pertanda bahwa masyarakat sudah lupa bahwa mereka sebagai rakyat lebih tinggi kedudukannya daripada wakil rakyat. Secara implisit ucapan cerdas yang dikeluarkan Harry Roesli tidak lain menyindir para wakil rakyat yang seharusnya patuh pada apa yang rakyat inginkan. Bukan patuh pada nafsu kekuasaan. Namanya juga wakil rakyat, berarti harus mewakili rakyat untuk menyuarakan aspirasi kesejahteraan rakyat.

Machiavellian
Bukan Black In News dan rahasia umum lagi, para calon anggota dewan dan calon presiden mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk "hajatan" lima tahunan ini. Kocek yang lebih besar dari sekedar memodifikasi mobil seperti di Autoblackthrough. Bukan rahasia umum juga, segala cara dilakukan bahkan menghalalkan segala cara pun ditempuh.

The ends justify the means yang merupakan teori dari seorang Niccolo Machiavelli sudah mendarah daging bagi orang yang haus akan kekuasaan dan kekayaan, khususnya para politisi. Machiavelli adalah seorang pakar politik yang menulis buku II Principe (Sang Pangeran). Dalam bukunya tersebut, Ia mengemukakan teori yang mengajarkan bahwa dalam melaksanakan kekuasaannya seorang raja (pemimpin) tidak perlu menghiraukan kesusilaan dan norma. Berbuat licik, curang bahkan menghalalkan segala cara adalah mesti dilakukan untuk memuluskan eksistensi kekuasaan.

Teori Machiavelli yang mengharuskan seseorang menyatukan kekuatan manusia dan hewan ini menerima hujatan. Tidak saja ketika di masa lalu saat ia masih hidup, sampai sekarang pun ia masih dicerca dan dikutuk semua negara, tokoh-tokoh politik, negarawan, dan masyarakat.

Anehnya, banyak yang mengutuk banyak pula yang mempraktikkan teori tersebut dalam realitas kehidupan. Tampaknya kutukan dan cercaan hanya dalam sebuah konsep belaka. Hampir di semua negara apalagi Indonesia, sadar atau tidak Machiavellian (orang yang menggunakan teori Machiavelli) nyata keberadaanya, seperti para politisi busuk dan pejabat yang menipu rakyat.